Search

Sinematografi

Proposal Eagle Award 2010 (REJECTED)
POHON KEHIDUPAN DI TIMOR
(Corypha utan lamarck)
Oleh
Rattahpinusa HH

I. Pengantar
A. Latar Belakang
Iklim semiarida di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah memberi corak bagi kehidupan penduduknya. Istilah NTT sering kali diplesetkan menjadi kalimat bernada pesiminis seperti : Nasib Tak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong. Istilah yang terdengar satire ditengah hingar bingar janji-janji politisi yang menjanjikan pemanfaatan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Kondisi alam yang tidak bersahabat dimana musim kemarau lebih panjang dari musim hujan, curah hujan yang rendah, kontur tanah yang berbatu dan berbukit serta terbatasnya vegetasi yang tumbuh menyebabkan hanya ekosistem savana yang mendominasi kawasan tersebut. Walter dan Gillison dalam B Paul Naiola (2007) mendefisikan savana sebagai :”Suatu komunitas berkayu yang penampilan antar komponen tumbuhan parenial jelas dapat dibedakan dari rumput-rumputan (annual)”.
Kerasnya alam tidak serta merta memusnahkan kehidupan di Pulau Timor. Dengan segala keterbatasannya, penduduk pulau ini coba bertahan hidup dengan memanfaatkan potensi yang ada. Ternyata Tuhan masih bermurah hati dengan memberikan pohon kehidupan kepada mereka. Penduduk Timor menyebut pohon tersebut sebagai Gewang yang nama latinnya Corypha utan lamarck (1783). Secara alami, famili Palmae ini tumbuh di daerah pedalaman perbukitan dengan ketinggian 400 m dpl dan memiliki tinggi 20 m tanpa percabangan. Gewang menempati posisi strategis dalam struktur sosial penduduk Timor. Hampir setiap bagian pohon mulai dari batang maupun daunnya dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. Berbagai produk gewang berupa bahan pangan, minuman, bahan bangunan (atap, dinding, balok) serta barang anyaman (tikar, nyiru). Bahkan turunan produk gewang berupa Sopi (hasil distilasi gula aer) yang mengandung kadar alkohol 30-40 % berpotensi diolah menjadi bio etanol. Serta chip batang gewang dapat diolah menjadi papan partikel.
Namun saat ini, populasi pohon gewang mengalami fluktuasi karena ekspolitasi yang dilakukan penduduk tidak diiringi usaha konservasi. Selain itu, habitat gewang semakin mengalami penyusutan karena desakan pengalihgunaan lahan sebagai kawasan pemukiman dan pengembangan perkotaan/perdesaan. Namun ironisnya, pemerintah daerah setempat seolah tutup mata terhadap permasalahan tersebut. Hal tersebut terlihat dari belum adanya produk hukum yang melindungi habitat gewang sebagai kawasan konservasi. Lambat laun gewang akan menuju kepunahan karena eksploitasi yang dilakukan tidak diiringi usaha konservasi dan budidaya.
Melalui media Eagle Award ini kami mencoba menyadarkan pihak terkait untuk segera mengambil tindakan antisipatif dan strategis untuk mencegah kepunahan gewang. Mengingat tingginya tingkat ketergantungan hidup penduduk Timor yang khususnya di pedalaman terhadap gewang dalam upayanya mempertahankan hidup. Jangan sampai pohon kehidupan ini musnah dan menjadi cerita bagi anak cucu kita.
B. Tujuan Penyusunan Proposal Film Dokumenter.
1. Mendokumentasikan/Memvisualisasikan aktivitas sosial, budaya dan ekonomi penduduk Timor memanfaatkan pohon gewang.
2. Mempersuasi pengambil kebijakan untuk merumuskan kebijakan eksploitasi pohon gewang dengan mempertimbangkan aspek konservasi dan keberlanjutan.

II. Metodologi
A. Waktu dan tempat.
Pengambilan gambar akan mengambil lokasi di desa Usapisonbai, Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang, NTT. Lokasi berjarak 60 Km dari pusat kota Kupang dengan jarak tempuh + 1 jam. Lokasi dapat dicapai dengan kendaraan carteran.
Sedangkan waktu pengambilan gambar bulan April-Juli. Pada periode tersebut pohon Gewang telah berbunga yang menandakan aktivitas penyadapan nira dimulai. Adapun rincian jadwal pra-produksi, produksi dan pasca produksi dilampirkan.
B. Personil
Pembuatan film dokumenter ini membutuhkan setidaknya 3 personil,
yaitu :
1. Sutradara . : ...........................
2. Asisten Sutradara : ...........................
3. Kameramen : ...........................
C. Rancangan Anggaran Belanja
Rancangan anggaran biaya pembuatan film dokumenter terlampir.


III. Pembahasan
Gewang merupakan jenis tumbuhan multiguna, naik sebagi sumber bahan pangan, minuman, bahan bangunan maupun industri sederhana rumah tangga. Berikut akan di sajikan data dan fakta pemanfaatan gewang dari beberapa aspek yaitu :
A. Aspek Ekonomi.
Sadapan perbungaan gewang menghasilkan beberapa ragam minuman olahan yang bernilai ekonomis, yaitu : gula air, gula lempang dan sopi. Ketiga hasil olahan tersebut merupakan komoditi yang laris dipasaran.
B. Aspek Sosial
Pada pemukiman savana maka bahan-bahan konstruksi rumah kebanyakan berasal dari gewang. Penggunaan daun dari tegakan muda dipakai sebagai atap rumah yang membentuk suasana sejuk jika dibandingkan atap dari seng. Dari daun pula diperoleh tali erat yang kuat. Pelepah tegakan muda yang dikeringkan dan disusun dengan cara ditancapkan pada 2 buah rusuk bambu sehingga membentuk lempengan disebut ’bebak’. Lempengan-lempengan ini digunakan sebagai dinding. Sedangkan batangnya digunakan sebagai balok atau tiang rumah.
Selain itu beberapa peralatan rumah tangga dibuat dari daun gewang. Di pedesaan Usapisonbai terdapat sejenis payung tradisional yang disebut ’seuk’ yang terbuat dari pucuk daun yang masih muda. Daun gewang yang telah kering dapat dianyam menjadi tikar, gayung dan bejana tempat air.
C. Aspek Budaya
Dalam budaya Usapisonbai, tumbuhan gewang merupakan satu bagian dari strategi budaya adaptif masyarakat savana dalam menghadapi kekurangan makanan selama paceklik. Riwu Kaho 2007 menyatakan bahwa: ”Gewang merupakan komoditas yang akan digunakan sebagai cadangan sumberdaya ketika terjadi gangguan dalam sistem reproduksi tanaman pangan tradiosional yang bertumpu pada 2 hal yakni: 1.) Perladangan tumpangsari dan tumpang gilir tradisional dan 2.) corak pertanian savana yang bersifat polivalen, yaitu: sumber-sumber pangan bersala dari tanaman, ternak dan hutan. Bahan bahan gewang yang digunakan sebgai bahan ternak (putak) merupakan salah satu praktek polivanensi tersebut. Putak berasal dari empulur batang gewang yang dicacah halus dan langsung dimasak.
D. Potensi bioetanol
Nila hasil sadapan perbunga gewang merupakan salah satu komoditas penting. Nira yang berupa cairan berwarna putih-keruh keabuan mengandung berbagai komponen gula (fruktosa,glukosa, sakarosa) dan beberapa asama oranik. Adanya komponen ini dapat memebrikan gambaran bahwa gewang berpotensi sebagai sumber bahan industri dan bahan pangan baru (Naiola et.all,2004). Nira yang berpotensi diproses menjadi bio etanol berasal dari 2 jenis yakni :
1.) Laru adalah nira yang di fermentasikan secara alami langsung memanfaatkan mikroba, yaitu : Saccharomyces cerevisiae, Shizosaccharomyces pombe dan Pitchia spp. Kandungan etonolnya mencapai : 8-15 %.
2.) Sopi adalah hasil proses distilasi dari hasil fermentasi gula aer yang mengandung etanol sebesar 40 %.
Jumlah sel sacchoromyches sp 107 sel/gram adalah jumlah yang cukup banyak fermentasi gula seperti nira gewang dan dapat dikembangkan dalam sistem biorekator yang efisien untuk alkohol pengganti bahan bakar fosil (Najafpour et.all, 2004).
Saat ini telah dilakukan penelitian tentang penggunaan sopi & laru sebagi bahan bio etanol dalam skala kecil. Penelitian ini telah dilakukan oleh B. Paul Naiola dari LIPI dengan hasil yang memuaskan. Adapun hasilnya sebagai berikut :
Dalam uji kelarutan bensin/premium dalam berbagai konsentrasi botanol gewang dan lontar, menunjukkan bahwa konsentrasi 87 % bioetanol dalam air, maka kelarutan premium dalam bio etanol dapat mencapai 17 %. Sementara itu, penyulingan kembali bio etanol dari bahan baku sopi gewang dan lontar hasil penyulingan rakyat di NTT dapat mencapai konsentrasi kemurnian 87-92%, pada suhu 65-67 C pada tekanan 300 milibar. Selanjutnya dalam studi preliminer ini telah dilakukan ujicoba operasi mesin motor (genset 100 watt) pada konsisi laboratorium, menggunakan rich ethanol biogasoline ketimbang rich preminium biogasoline dengan komposisi 85 % dan 15 % premium (E-85). Dengan modifikasi sederhana pada mesin, penampilannya cukup siginifikan. Sehingga gewang dapat dijadikan sumber energi alternatif ditengah krisis energi saat ini.
E. Ancaman terhadap populasi Gewang.
Tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap gewang setidaknya meninggalkan suatu kekhawatiran, yaitu: Populasi gewang yang semakin fluktuatif. Fakta lapangan menunjukkan bahwa vegetasi gewang di NTT dan khususnya P.Timor tidak dapat lagi dipertahankan status alaminya. Vegetasi gewang telah berubah fungsi menjadi kawasan penggembalaan dan usaha tani dalam berbagai intensitasnya. Tingkat ketergantungan yang tinggi menyebabkan eksploitasi berlebihan terhadap tumbuhan ini. Sementara desakan pengalihgunaan lahan sebagai konsekuensi dari pengembangan kota maupun pedesakan semakin menekan luas kawasan habitat gewang. Kedua ancaman tersebut perlu segera diantisipasi sehingga skala kepunahan gewang dapat segera diminimalisir.

Demikian proposal film dokumenter : Pohon kehidupan. Film yang memuat aspek ekonomi, sosial, budaya dan potensi pohon gewang bagi masyarakat Timor.

Daftar Pustaka.
Najafpour G, H, Younesi, K Syahidah and K Ismail.2004. Ethanol Fermentation in an immobilized cell reactor usin Saccharomyces cerevisae, Bioresource Technology 92.251-26
Naiola, BP.2004. studi awal terhadap potensi gewang (Corpha utan Lamk) savanna NTT sebagai sumber pangan dan minuman baru serta bahan dasar industri alkohol. Berita Biologi. 7 (3). 169-172
Naiola BP, Johanis P Mogea, Subyakto. 2007. Gewang: Biologi, Manfaat, Permasalahan dan Peluang Domestikasi. Jakarta. LIPI
Riwu kaho LM.2007. Studi sosial, Budaya dan Ekonomi Tumbuhan Gewang di desa Usapisonbai, Kecamatan Nekmesa Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Laporan Survai Riset kompetitif DomestikasiKeanekaragaman Hayati Indoensia.Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Indonesia.Tidak dipublikasikan.

comment 0 komentar:

Poskan Komentar

Share it