Search

MAKALAH


MENUMBUHKAN MINAT BACA PELAJAR MELALUI METODE MULTILEVEL READING
Oleh
Rattahpinnusa HH


BAB. I
PENDAHULUAN

A. PENGANTAR.
Membaca merupakan salah satu komponen penilaian indeks pembangunan manusia pada suatu negara. Hampir 99 % penduduk negara Jepang, Inggris, Jerman dan Amerika telah melek huruf. Sedangkan angka melek huruf di Indonesia hanya mencapai 65,5 % dari total jumlah penduduknya. Terlebih laporan Bank Dunia dan Studi Internasional Assosiation for the Evaluation of Education Achievement di Asia Timur merilis bahwa tingkat membaca dan keterpahaman baca anak-anak di Indonesia merupakan yang terendah dengan skor 51,7. Kondisi tersebut muncul karena beberapa faktor antara lain sistem pendidikan, ketersediaan bahan bacaan serta kemajuan teknologi. Sebuah wacana berkembang tentang rendahnya minat baca pelajar, yakni: kemajuan teknologi disinyalir menghambat minat baca para pelajar. Merebaknya penggunaan handphone (Hp) dikalangan pelajar merupakan fenomena yang menarik dicermati. Hal yang wajar jika penggunaan Hp sebatas alat telekomunikasi. Namun merupakan penyimpangan jika penggunaanya bertentangan dengan norma–norma yang berlaku dimasyarakat. Berbagai bentuk penyimpangannya berupa: adegan mesum yang direkam dengan kamera Hp maupun maraknya istilah “Gaul” semisal: Tq (Terima kasih), Aq (Aku) pada penggunaan short message. Istilah-istilah tersebut menyalahi kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Murahnya tarif layanan bicara turut menyubur budaya tutur. Kemajuan teknologi menyebabkan “culture shock” pada pelajar. Sebagian besar pelajar mengidentikkan Hp sebagai simbol sosial bagi komunitasnya. Berdasar kondisi tersebut maka pelajar menempatkan Hp sebagai kebutuhan primer di banding alat penunjang belajar. Mereka rela menyisihkan uang sakunya untuk membeli pulsa daripada buku. Jika kondisi tersebut terus berlarut maka dikhawatirkan lambat laun mereka menjadi pembaca pasif.
Semakin bertambahnya angka pembaca pasif dan buta aksara merupakan ancaman bagi eksistensi suatu negara. Terlebih jikalau kondisi tersebut menjangkiti para pelajar. Sebab populasi remaja usia produktif (pelajar) mendominasi piramida populasi penduduk Indonesia. Buta aksara identik dengan kebodohan dan kebodohan penyebab kemiskinan. Dan meningkatnya jumlah pembaca pasif menyebabkan rendahnya daya saing sumber daya manusia. Kebodohan, kemiskinan dan rendahnya daya saing menjadi gerbang masuknya faham neo-kolonialisme. Yakni menjadikan ekonomi sebagai alat menaklukkan suatu negara atau dengan kata lain menjadikan suatu negara bergantung pada negara lain secara ekonomi, sosial dan politik.
Membudayakan minat baca merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa tak terkecuali perpustakaan. Membaca indentik dengan buku dan tugas perpustakaan adalah memberikan literasi informasi. Sedikit disinggung tentang kendala-kendala menumbuhkan minat baca khususnya dikalangan pelajar. Pada prinsipnya bahwa rendahnya minat baca berkaitan dengan motivasi. Hal inilah yang menggerakkan seseorang melakukan sesuatu. Motivasi dalam dirilah yang mampu mendorong keingintahuan untuk mencari informasi. Demikian halnya dengan motivasi untuk membaca. Dawson dan Bamman (1960) dalam Fundamentals of Basic Reading Instruction menyatakan bahwa: “Seseorang dapat menemukan kebutuhan dasarnya lewat bahan-bahan bacaan jika topik, isi, pokok persoalan, tingkat kesulitan dan cara penyajiannya sesuai dengan kenyataan individunya“. Konsepsi tersebut dapat dipakai oleh pihak terkait untuk menumbuhkan minat baca pada pelajar. Literasi informasi pada pelajar menjadi merupakan lahan garapan perpustakaan sekolah. Hal tersebut berdasarkan pertimbangan efektivitas perpustakaan sekolah dalam meliterasi informasi. Usaha tersebut dapat disinkronkan dengan kegiatan belajar mengajar disekolah.

B. TUJUAN
1. Memberikan alternatif pembinaan minat baca pada siswa melalui konsep pembelajaran kelompok.
2. Menjelaskan fungsi perpustakaan sekolah dalam pembinaan minat baca siswa.

BAB. II
LANDASAN TEORI

KURIKULUM 2004 (KBK) DAN KETRAMPILAN MEMBACA.
Penerapan kurikulum 2004 atau disebut juga Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang merupakan penyempurnaan kurikulum 1994 (Cara Belajar Siswa Aktif), diharapkan membawa perubahan pada sistem pendidikan di Indonesia. KBK bertujuan membekali pelajar dengan kecakapan hidup dan belajar sepanjang hayat melalui pengalaman belajar. Untuk mencapai tujuan tersebut maka perlu strategi pembelajaran yang tepat. Dan pembelajaran tematik mampu menunjang penerapan KBK. Sebab pembelajaran ini memberdayakan kualitas pembelajaran KBK dengan metode pembelajaran yang inovatif dan berdaya guna dengan berorientasi pada siswa. Konsep pembelajaran tematik adalah kegiatan mengajar dan memadukan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap pembelajaran serta pemikiran kreatif dengan menggunakan tema (Sutirjo: 2005). Pembelajaran terpadu ini yang menekankan pada keterlibatan pelajar dalam kegiatan belajar mengajar sehingga membuat pelajar aktif dalam proses belajar, mampu memberdayakan sumber daya yang ada serta memecahkan masalah berdasarkan kreativitas para pelajar. Sehingga guru dan pelajar terkondisikan dengan suasana yang serba inovatif.
Membaca berperan penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Proses ini akan menemui hambatan jika guru dan murid sama-sama melalaikan aktivitas baca. Sebab membaca bermanfaat untuk mengetahui informasi, menimbulkan ide serta membentuk suatu pola pikir terhadap sesuatu hal. Selain itu, membaca merupakan bagian dari bahasa sedangkan bahasa adalah ketrampilan. “Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa maka semakin jelas jalan pikirannya. Ketrampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih ketrampilan berbahasa berarti melatih ketrampilan berpikir” (Tarigan, 1980: 1, 1981: 2, Dawson (et.all), 1963: 27).


BAB. III
PEMBAHASAN

A. MODEL PENGEMBANGAN MINAT BACA
Rendahnya motivasi baca pelajar dan strategi pembelajaran yang tidak tepat menjadi hambatan proses pengajaran. Hal pertama muncul akibat persepsi yang salah tentang membaca. Membaca identik dengan aktivitas individu yang membosankan. Menilik kondisi tersebut maka guru bidang studi Bahasa Indonesia pada jenjang sekolah menengah dapat memanfaatkan KBK untuk merangsang dan meningkatkan ketrampilan membaca para pelajar. Strategi pembelajaran yang sesuai untuk memotivasi pelajar untuk gemar membaca adalah pendekatan pembelajaran kelompok.
Ide pembentukan kelompok belajar (Kejar) ini berdasar atas sifat manusia yang homo social. Manusia saling membutuhkan satu dengan lainnya untuk mencukupi kebutuhannya. Demikian pula dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM), guru akan menghadapi berbagai jenis sifat, karakter, kemampuan serta minat siswa-siswi yang berbeda. KBM menjadi semakin tidak ideal jika melihat rasio antara guru dan siwa-siswi yang tidak berimbang. Kelompok belajar merupakan strategi guru untuk mengelola KBM secara efektif. Pengelompokkan anggota Kelompok Belajar berdasar atas kesamaan minat dan kemampuan. Setelah kelompok belajar terbentuk maka guru menerapkan pembelajaran tematik dengan memberikan serangkaian tugas secara kontinyu, terarah dan terukur. Tugas tersebut dapat berupa permasalahan lintas bidang studi yang tengah terjadi dilingkungan sekitar siswa. Hal tersebut dimaksudkan memotivasi kelompok belajar untuk menemukan akar permasalahan dan solusinya melalui penelusuran pada sumber-sumber informasi dan diskusi. Diharapkan dalam proses tersebut terjadi dinamika kelompok yang merangsang anggota-anggotanya untuk berpikir kritis dan melahirkan ide-ide inovatif. Proses tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:


(Gambar 1. Proses Dinamika kelompok. Sumber: A.Surjadi: 1989)

Peran pemimpin dalam proses tersebut sebagai berikut :
1. Membagi kelompok kedalam sub-sub kelompok dan mengarahkan mereka kepada sumber-sumber material baik berupa buku, majalah atau koleksi audio visual.
2. Membantu menentukan bidang-bidang perhatian yang berhubungan dengan masalah atau isu itu yang dapat menolong kelompok untuk memahami masalah itu lebih baik atau untuk melakukan fungsi yang berhubungan dengannya.
3. Menjelaskan kepada sub-sub kelompok tentang penyelesaian tugas-tugas mereka.
4. Mempersilahkan sub-sub kelompok untuk melaporkan tahap penyelesaian tugas mereka.
5. Menyarankan tindak lanjut, penelitian lebih lanjut atau cara untuk memanfaatkan pengalaman sebagai dasar kegiatan dimasa depan.
6. Mengevaluasi kelompok belajar.

Peran anggota kelompok belajar sebagai berikut :
1. Mendengarkan baik-baik penjelasan tentang proyek penugasan yang akan dikerjakan secara berkelompok
2. Ikut secara aktif mengerjakan tugas yang dipercayakan atau yang mereka pilih itu dengan mempergunakan sumber-sumber yang tersedia
3. Melaporkan penemuan-penemuan daripada tugas-tugas yang telah diselesaikan.
4. Ikut menanggapi penemuan-penemuan kelompok lain
Presentasi merupakan bentuk umpan balik dari penugasan tersebut. Presentasi merupakan interaksi antara kelompok belajar satu dengan lainnya dan kelompok belajar dengan guru. Dari hasil umpan balik tersebut maka guru dapat memberikan penilaian seberapa jauh efektivitas penyampaian sebuah materi dan berapa besar pengayaan materi dari masing-masing kelompok. Belajar kelompok merupakan metode efektif untuk menumbuhkan minat baca. Karena pada metode tersebut akan terbangun suasana kompetisi antar anggota dalam hal menelaah berbagai sumber informasi termasuk buku.

B. PERPUSTAKAAN SEKOLAH DAN SUMBER BELAJAR.
Belajar mengajar merupakan proses transfer informasi yang bermuatan nilai-nilai kepada peserta didik. Dan pola umum interaksi kegiatan belajar mengajar melibatkan unsur tenaga kependidikan, bahan dan alat didik serta siswa. Ketiganya merupakan unsur yang integral. Proses KBM kurang efektif jika tanpa tersedianya sumber belajar yang memadai. Yang menjadi pertanyaan adalah apa itu sumber belajar? Sebenarnya sumber belajar terdapat disekeliling kita. Semisal guru bidang studi biologi hendak menerangkan struktur daun maka guru dapat membawa dedaunan asli. Sehingga daun dapat digolongkan sebagai alat bantu dan pohon sebagai sumber belajar. Sumber belajar dikelompokkan menjadi lima menurut Udin Saripudin Winata Putra (199; 65) dalam Syaiful Bahri Djmarah (2002), yakni: manusia; buku/perpustakaan, media massa, alam lingkungan dan media pendidikan. Sehingga sumber belajar dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk bahan ajar.
Perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar untuk mendukung efektivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) disekolah. Dalam penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) maupun Kurikulum berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah maka pengajaran diarahkan pada pembekalan keterampilan pada siswa dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Sehingga siswa tidak terjebak dalam hutan literasi informasi. Pengelola perpustakaan harus tanggap terhadap hal tersebut. Karena kemampuan siswa dalam mengenali informasi yang dibutuhkan, mencari, menseleksi, mengevaluasi dan menyampaikannya kepada orang lain merupakan kemampuan yang dibutuhkan seumur hidup. Kemampuan tersebut akan mempermudah anak meningkatkan pengetahuannya baik pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun pada saat ia bekerja. Untuk dapat melaksanakan program tersebut perlu ditunjang oleh:
 Pertama,kebijakan kepala sekolah dalam mengkaitkan perpustakaan sekolah dengan program kurikuler maupun ekstra kurikuler.
 Kedua, kompetensi pengelola perpustakaan sekolah.
 Ketiga, koleksi perpustakaan yang memadai.
 Keempat, sarana dan prasarana perpustakaanyang menunjang layanan perpustakaan sekolah termasuk sarana teknologi informasi.
Masalah yang dihadapi oleh sebagian besar perpustakaan sekolah di Indonesia adalah kurang/tiadaannya tenaga perpustakaan sekolah yang memadai baik jumlah maupun kompetensinya, kurangnya koleksi sarana dan prasarana, tidak adanya sarana teknlogi informasi di sekolah. Untuk mengatasi hal itu, sudah ada upaya yang dilakukan pemerintah, diantaranya memberikan pelatihan, block grant dalam pengadaan ruangan perpustakaan, pembelian buku, penyusunan berbagai pedoman dan standar untuk perpustakaan sekolah, serta pengembangan sistem layanan terpadu perpustakaan sekolah.
Terlepas dari segala masalah yang membelit perpustakaan sekolah maka pengelola perpustakaan haruslah inovatif dalam pengembangan literasi informasi. Berkaitan pada pembahasan diatas yakni: metode pembelajaran kelompok sebagai sarana menumbuhkan minat baca maka pengelola perpustakaan dapat memodifikasi konsep multilevel marketing (penjualan berjaringan) dalam menunjang program tersebut. Penjelasan teknisnya sebagai berikut: Guru bidang studi Bahasa Indonesia menugaskan kelompok belajar yang telah terbentuk untuk mendalami sebuah tema tertentu. Guru turut mengarahkan siswa untuk mencari sumber-sumber material pendukungnya diperpustakaan sekolah. Selanjutnya terjadi serah terima antara guru dan pengelola perpustakaan sekolah yang bertugas membimbing kelompok-kelompok tersebut dalam hal literasi informasi yang meliputi: mencari, menseleksi, mengevaluasi dan menyampaikannya. Selama proses ini, pengelola perpustakaan turut menyediakan bahan ajar yang menunjang dan berkoordinasi dengan guru yang bersangkutan untuk menentukan strategi pengayaan. Tiap-tiap anggota kelompok dibebani kewajiban meresume satu buku yang berlainan judul dengan anggota lain. Namun buku-buku tersebut mempunyai kesesuaian topik penugasan. Hasil resume tersebut didiskusikan terlebih dahulu pada tingkat kelompok. Jika diskusi telah selesai maka antar anggota kelompok saling menukarkan buku yang telah dibacanya dan begitu seterusnya. Jika satu kelompok beranggotakan 10 orang maka kesepuluh orang tersebut telah membaca sepuluh buku dengan judul yang berbeda. Selanjutnya hasil diskusi tingkat kelompok tersebut dipresentasikan dalam forum pada waktu yang telah ditentukan. Konsep tersebut disebut juga multilevel reading atau membaca berjaringan. Konsep tersebut dapat dijalankan jika terjalin koordinasi antara guru, murid dan pustakawan. Serta penerapan konsep multilevel reading terintegrasi dengan konsep belajar kelompok.

BAB. IV
PENUTUP
Rendahnya motivasi membaca dan strategi pembelajaran yang tidak tepat merupakan hambatan proses KBM. Membaca identik dengan aktivitas individual yang membosankan. KBK memberikan peluang kepada siswa dan guru bidang studi Bahasa Indonesia untuk meningkatkan ketrampilan membaca. Strategi pembelajaran yang sesuai adalah pendekatan pembelajaran kelompok.
Pembentukan kelompok belajar (Kejar) berdasar atas sifat manusia sebagai mahluk sosial. Selain itu, KBM menjadi tidak ideal jika melihat ketidakseimbangan rasio antara guru dan murid. Kelompok belajar merupakan strategi guru untuk mengelola KBM secara efektif. Pengelompokkan anggota kejar dapat berdasar kesamaan minat dan kemampuan. Setelah kelompok belajar terbentuk maka guru menerapkan pembelajaran tematik dengan memberikan serangkaian tugas secara kontinyu, terarah dan terukur. Tugas tersebut dapat berupa permasalahan lintas bidang studi yang tengah terjadi dilingkungan sekitar siswa. Hal tersebut dimaksudkan memotivasi kelompok belajar untuk menemukan akar permasalahan dan solusinya melalui penelusuran pada sumber-sumber informasi dan diskusi. Diharapkan dalam proses tersebut terjadi dinamika kelompok yang merangsang anggota-anggotanya untuk berpikir kritis dan melahirkan ide-ide inovatif.
Perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar untuk mendukung efektivitas (KBM) disekolah. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Pengelola perpustakaan harus tanggap terhadap hal tersebut dengan cara membimbing penggunanya untuk mengenali informasi yang dibutuhkan, mencari, menseleksi, mengevaluasi dan menyampaikannya. Pengelola perpustakaan haruslah inovatif dalam pengembangan literasi informasi di sekolah. Berkaitan pada pembahasan diatas maka pengelola perpustakaan dapat berkoordinasi dengan guru Bahasa Indonesia untuk mengembangkan minat baca dan keterampilan literasi informasi disekolah.
Metode pembelajaran kelompok dapat diintegrasikan dengan multilevel reading sehingga kedua tujuan tersebut dapat tercapai.
DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri; Aswan Zain (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta.
Sutirjo; Mamik, Sri Istuti. (2005). Tematik: Pembelajaran Efektif dalam Kurikulum 2004. Malang. Bayu Media.
Surjadi, A.(1989.) Membuat siswa aktif Belajar: 65 cara belajar mengajar dalam kelompok.Bandung. Penerbit Mandar Maju.
Tarigan, Henry Guntur. (1986). Menulis: Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung. Angkasa

comment 0 komentar:

Poskan Komentar

Share it