Search

PERAN PERPUSTAKAAN DAERAH KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA BACA
Oleh :
Rattahpinusa HH
Pustakawan Pelaksana Lanjutan
Balai Penelitian Kehutanan Kupang
Jalan Untung Suropati nomor 7 B PO.BOX 69
Abstract
Low illiteracy rate has an impact on the Human Development Index in Timor Tengah Selatan (TTS). This research was carried out to describe public's library role in developing of reading habit. The study was arrange in descriptive kualitatif methods.
The results revealed that public's interest of local community has increased to make use library resources. The results has been shown average visit rate 1.494 person/month and Average loan rate 6.43,5 eksemplar/month. TTS Public Library have several program to developing reading habit. It consist of speeches and reading tale contest also Mobile library service. TTS Public library has been involving public participation. Also cooperation with stakeholder to improving librarian skill and developing collection.
Key words : Developing Reading Habit
Abstrak
Rendahnya tingkat melek huruf di Timor Tengah Selatan (TTS) berdampak rendahnya Indeks Pembangunan Manusia di wilayah tersebut. Tujuan Penelitian ini adalah menggambarkan peran perpustakaan daerah TTS dalam mengembangkan budaya baca. Metode penelitian menggunakan analisis data deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya animo masyarakat TTS memanfaatkan Perpusda. Rata-rata tingkat kunjungan masyarakat ke Perpusda TTS mencapai 1.494 orang/bulan dan tingkat peminjaman mencapai 643,5 eksemplat/bulan. Perpusda TTS memiliki beberapa program pengembangan minat baca meliputi: promosi minat baca melalui berbagai lomba, pelayanan mobil perpustakaan keliling. Dalam menjalankan program tersebut, Perpusda melibatkan peran tokoh masyarakat serta menjalin kerjasama dengan Perpustakaan Nasional/Propinsi dalam meningkatkan kapasitas pustakawan dan mengembangkan koleksi.
Kata Kunci : Pengembangan Minat Baca.

I. PENDAHULUAN
A. Pengantar
Membaca merupakan sarana transfer pengetahuan guna menambah wawasan dan meningkatkan kualitas Sumberdaya Manusia (SDM). Jepang merupakan negara di Asia yang memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2007 mencapai 0,949 (sangat tinggi) dan menempati peringkat ke-10 Dunia memiliki tingkat melek huruf yang tinggi mencapai 99 % pada tahun 2002. Sebaliknya Indonesia hanya memiliki IPM 0,734 (Wikipedia: 2010). Kondisi tersebut merupakan imbas dari rendahnya tingkat melek huruf dan minat baca. Kondisi tersebut diperparah dengan kesenjangan antara wilayah Indonesia Barat dan Timur dalam akses informasi. Belum mengakarnya budaya baca pada masyarakat propinsi Nusa Tenggara Timur khususnya Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) disebabkan oleh keterbatasan akses informasi, isolasi geografi, rendahnya taraf ekonomi dan pendidikan masyarakat di wilayah ini. Tercatat Indeks Pembangunan Manusia TTS menurut Sensus 2006 mencapai 63,6 yang berada jauh dibawah Indeks Pembangunan Manusia Kota Kupang yang mencapai 74,7 (BPS NTT: 2008).
Pengesahan UU nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan merupakan momentum bagi perpustakaan daerah sebagai agen perubahan di daerah. Pemberlakuan otonomi daerah dan penerapan pasal 20 PP 41 tahun 2007 tentang organisasi perangkat daerah memberikan ruang yang sedikit bagi perpustakaan daerah dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya (tupoksinya). Seringkali perpustakaan dilebur dengan instansi lainnya. Sehingga tupoksi perpustakaan dalam menumbuhkan kembangkan budaya baca di daerah terabaikan. Jika mengacu pada pasal 8 (d) UU nomor 43 tahun 2007 yang berbunyi : ”Pemerintah propinsi/kabupaten berkewajiban menggalakkan promosi gemar membaca dengan memanfaatkan perpustakaan.” Mengacu pada UU tersebut maka perpustakaan daerah memiliki peran yang penting dalam mengembangkan budaya baca di daerah.
B. Rumusan Masalah :
1.) Apakah perpustakaan daerah TTS telah menjalankan fungsinya ?
2.) Bagaimana Perpustakaan daerah mengembangkan budaya baca di TTS?.
II. METODOLOGI
A. Lokasi dan Waktu
Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2010 di di Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan (Bapusda TTS) jalan Sudirman, SoE.
B. Metode Penelitian
1. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dengan narasumber kunci (key person). Data yang diperoleh meliputi : kondisi sarana dan prasarana, sebaran pengunjung, sebaran peminjam, sebaran koleksi dan program pengembangan budaya baca.
2. Analisis data
Data yang diperoleh dari wawancara tersebut selanjutnya dianalisis secara kualitatif menggunakan metode analisis studi kasus. Metode ini merupakan strategi analisis data yang menekankan pada kasus-kasus khusus yang terjadi pada objek analisis. (Burhan Bungin: 2007 hal. 229). Hasil analisis data tersebut disajikan secara deskriptif naratif guna memperjelas data.
III. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Pengunjung.
Dalam kurun waktu Januari sampai dengan Desember 2009, Bapusda TTS dikunjungi sebanyak 17.933 orang pemustaka. Rata-rata kunjungan pemustaka tiap bulannya mencapai 1.494 orang. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat TTS untuk datang dan membaca buku di perpustakaan. Pengunjung yang datang tersebut berasal dari latar profesi dan pendidikan yang heterogen. Adapun sebaran pengunjung berdasarkan profesi disajikan dalam tabel 1.
Tabel 1. Pengunjung Perpustakaan Daerah TTS Tahun 2009 Berdasar Profesi
No Latar Belakang Tahun : 2009
Pengunjung 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
A Profesi
1 Guru 45 25 377 41 40 88 26 36 36 21 32 15
2 Pelajar 1060 1442 1808 907 1137 1194 452 1063 778 1124 994 484
3 Mahasiswa 256 266 262 235 160 320 203 155 233 368 302 153
4 PNS 83 70 81 74 48 120 55 58 58 109 108 63
5 TNI/Polri 22 5 7 7 4 9 1 6 5 2 1 1
6 Wiraswasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
7 Petani 183 133 135 172 99 161 73 126 140 192 173 129
Jumlah 1649 1941 2670 1436 1488 1892 810 1444 1250 1816 1610 845
Sumber: Data Primer 2009
Frekuensi kunjungan pelajar dan mahasiswa memiliki intensitas tertinggi. Motif mereka mengunjungi perpustakaan adalah mencari buku atau literatur yang mereka butuhkan. Sebaliknya frekuensi kunjungan terendah adalah TNI/Polri karena terbentur aktivitas mereka yang padat dan terikat waktu secara ketat. Namun ironisnya, wiraswasta yang memiliki waktu relatif longgar bahkan tidak meluangkan waktu sedikitpun guna mengunjungi perpustakaan.
Antusiasme pengunjung Bapusda TTS turut mengalami fluktuasi seiring rutinitas yang mereka jalani. Sepanjang tahun 2009 terdapat periode waktu tertentu yang mengalami frekuensi kunjungan tertinggi dan terendah. Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui data statistik diatas. Frekuensi kunjungan tertinggi terjadi pada bulan Maret yang mencapai 2.670 orang. Pengunjung yang datang pada periode tersebut mayoritas adalah Pelajar dan Mahasiswa. Bulan Maret merupakan fase rehat pasca ujian tengah semester bagi pelajar kelas 1 dan 2. Sehingga mereka memanfaatkan waktu luangnya mendatangi Bapusda TTS sekedar membaca buku yang bersifat menghibur. Sebaliknya, pelajar kelas 3 memasuki fase persiapan ujian akhir yang diadakan pada bulan Mei. Fase tersebut menuntut mereka tekun belajar dan menambah pengetahuan baik mengikuti pelajaran tambahan maupun membaca buku. Sedangkan frekuensi kunjungan terendah terjadi pada bulan Desember. Hal tersebut terkait dengan aktivitas masyarakat TTS yang kesibukan mereka tercurah pada berbagai aktivitas keagamaan menjelang Natal.
B. Sirkulasi
Sepanjang tahun 2009, Bapusda TTS melayani 1.775 orang peminjam dengan jumlah buku yang dipinjam sebanyak 7.722 eksemplar. Pelajar merupakan peminjam terbesar dan jenis buku yang diminati adalah sastra. Fenomena yang menarik adalah tingginya animo siswa dalam memberdayakan sumber informasi perpustakaan. Namun animo tersebut tidak diiringi oleh antusiasme guru. Selama kurun waktu tersebut, hanya tercatat 75 orang guru yang meminjam buku. Hal tersebut terjadi karena pelajar diarahkan mencari litelatur penunjang di perpustakaan daerah setiap kali mendapat tugas dari gurunya. Sepantasnya guru turut meningkatkan kapasitas pribadinya melalui pendidikan formal/informal maupun menambah wawasan dengan membaca. Adapun sebaran peminjam berdasarkan profesi dan jenis buku yang dipinjam pada Perpusda TTS disajikan pada tabel 2.
Tabel 2. Sebaran Peminjam Buku Tahun 2009 Berdasar Profesi
No Latar Belakang Tahun : 2009
Peminjam 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
I. Profesi
Guru 8 1 4 16 5 9 7 10 7 3 3 2
Pelajar 100 88 70 71 65 48 38 68 54 62 61 42
Mahasiswa 10 14 17 11 22 10 14 16 8 14 7 6
PNS 17 20 25 22 33 20 22 21 14 27 15 19
TNI/Polri 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
Wiraswasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Petani 57 61 52 59 53 32 21 45 37 45 42 23
Jumlah 193 184 168 179 178 119 102 160 120 152 128 92
Sumber : Data Primer 2009
Jenis buku yang diminati oleh pemustaka di Bapusda TTS secara berturut-turut meliputi: Sastra sebanyak 2.398 eksemplar; Pertanian/kehutanan sebanyak 1.370 eksemplar dan Ilmu murni sebanyak 1.102 eksemplar. Hal tersebut menunjukkan bahwa fungsi rekreatif dan pendidikan merupakan unsur yang menonjol dari fungsi Bapusda TTS. Karena jenis buku yang dipinjam tersebut terdiri atas: novel, cerita pendek, buku teknis pertanian serta buku pelajaran mulai tingkat SD, SMP dan SMA. Sedangkan buku komputer dan ilmu umum kurang begitu diminati pemustaka Bapusda TTS.
C. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang dimiliki Bapusda TTS meliputi sebuah bangunan seluas 1.285 m2 yang terdiri dari ruang koleksi; ruang baca, ruang administrasi, ruang pelayanan dan fasilitas umum yang masing-masing memiliki luas 257 m2. Ruang baca yang memiliki luas 257 m2 diproyeksikan untuk menampung 100.000 ribu orang/tahun. Hal tersebut bukan rasio yang ideal jika merujuk pada Indian Standard Recommendation Relating to Primary element in The design of Library Building (1977) dalam Sulistyo Basuki (1991). Dalam dokumen tersebut dinyatakan bahwa setidaknya perpustakaan memiliki minimal tiga ruangan yang terbagi atas :
1. Ruangan dokumen/bahan pustaka yang menampung 150 volume/m2.
2. Ruangan staf perpustakaan untuk kegiatan klasifikasi, katalog dan pengadaan memiliki luas minimal 9 m2.
3. Sedangkan ruangan untuk staf administrasi/profesional; yang tidak bertugas dibidang jasa seluas 5 m2.
4. Ruangan pemakai memiliki luas rata-rata per-pembaca seluas 2,33 m2.
Penelusuran informasi pada Bapusda TTS menggunakan metode manual dengan jumlah katalog sebanyak 7.125 entri. Sedangkan penelusuran informasi secara otomasi menggunakan CDS/ISIS dan internet tidak tersedia. Dari aspek koleksi, Bapusda TTS memiliki koleksi pustaka sebanyak 18.714 eksemplar yang terdiri atas 18.461 judul buku, 35 eks majalah, 3 judul koran, 72 eks jurnal dan 143 buletin. Sedangkan koleksi audio visual sebanyak 54 buah yang terdiri atas 18 buah kaset, 10 buah Compact Disk, 4 buah peta, 19 buah foto dan 3 buah globe.
Bapusda TTS merupakan instansi eselon II yang memiliki pegawai sebanyak 41 orang. Adapun sebaran pegawai Bapusda TTS ditampilkan pada tabel 3.
Tabel 3. Sebaran Pegawai Bapusda Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Sumber : Data Primer 2009
Komposisi pegawai Bapusda TTS kurang proporsional. Data diatas menunjukkan ketimpangan antara pegawai non struktural dan pejabat fungsional pustakawan. Dari 31 pegawai non struktural hanya terdapat dua orang pejabat fungsional pustakawan yang masing – masing berpendidikan Sarjana dan SMA. Adapun kedua jabatan pustakawan tersebut merupakan hasil impassing. Kondisi tersebut menyebabkan tidak proporsionalnya distribusi beban kerja dan tanggunjawab kegiatan kepustakawan. Aspek teknis pengelolaan perpustakaan seperti : pengklasifikasian, pengkatalogan, entri data ke database CDS/ISIS, jasa referens membutuhkan tenaga yang berkompeten. Keterbatasan tenaga pustakawan dan penempatan tenaga yang tidak berkompeten untuk melakukan kegiatan teknis tersebut akan mengakibatkan terganggunya operasional pelayanan perpustakaan. Kalaupun operasional perpustakaan dapat berjalan maka hasilnya tidak akan maksimal.
Selain itu perlu dikritisi latar belakang pendidikan pejabat struktural dilingkungan Bapusda TTS. Dari data diatas jenjang pendidikan untuk eselon II dan III sudah memenuhi kualifikasi namun eselon IV masih terdapat pejabat yang memiliki jenjang jenjang SMA. Kondisi tersebut cukup menganggu manajerial Bapusda. Mengingat terjadi ketimpangan antara pengambilan kebijakan tingkat eselon II dengan implementasi kegiatan di eselon IV. Perlu dipertimbangkan dalam pengangkatan atau mutasi pejabat struktural tidak hanya mengacu pada Daftar Urutan Kepangkatan (DUK) semata. Namun turut mengacu pada parameter kompetensi, kapabilitas dan prestasi. Setidaknya pejabat struktural di Bapusda TTS berasal dari pejabat fungsional pustakawan yang berprestasi atau pegawai yang memenuhi kualifikasi manajerial dan mendapatkan kursus pengelolaan perpustakaan. Mengingat pejabat strukural Bapusda TTS harus menguasai aspek teknis dan manajerial pengelolaan perpustaaan dalam memajukan organisasi.
D. Strategi Bapusda TTS dalam mengembangkan budaya baca.
Dalam mengembangkan budaya baca di TTS maka Bapusda TTS memiliki beberapa program. Adapun program tersebut menurut Mahen S. Nevolin, selaku pustakawan Bapusda
TTS : ”Program yang dilakukan Bapusda TTS dalam mengembangkan minat baca meliputi : Promosi, lomba bercerita TK, SD dan berpidato tingkat TK, SMA/SMK; Sosialisasi perpustakan ke TK, Kecamatan/Desa dan disekolah-sekolah; Pelayanan Mobil Perpustakaan Keliling ke titik-titik pelayanan yang telah ditetapkan; Pengembangan koleksi bahan pustaka”.
Program tersebut menjadi agenda tahunan Bapusda TTS dan direspon positif oleh masyarakat. Indikatornya adalah meningkatnya kunjungan masyarakat ke Bapusda TTS. Keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari peran serta tokoh masyarakat, pemuka agama, aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat, Perangkat pemerintah yang berada di kecamatan maupun didesa dalam mendukung program tersebut. Keterlibatan mereka sangat membantu pemasyarakatan minat baca. Mengingat pola patron-klien masih kuat pada masyarakat TTS. Selain itu, Bapusda TTS turut menjalin kerjasama dengan Badan Perpustakaan Propinsi Nusa Tenggara Timur dan Perpustakaan Nasional sebagai bentuk strategi pemasyarakatan minat baca. Bentuk kerjasamanya berupa: 1.) Bantuan penambahan koleksi buku baru untuk perpustakaan sekolah, taman bacaan di desa-desa dan perpustakaan Puskesmas. 2.) Peningkatkan kapasitas pustakawan melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis, Job Training yang rutin dilaksanakan oleh kedua instansi tersebut.
Keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari kekurangan. Hal tersebut terlihat dari pelaksanaan program Mobil Perpustakaan Keliling (MPK) yang kurang optimal. Frekuensi operasionalnya hanya 2 kali dalam setahun yakni : bulan Juli dan September. Dan jangkauan operasionalnya hanya mencakup 18 kecamatan dari 32 kecamatan. Hal tersebut terkait kendala berupa :
1.) Kurangnya dana & fasilitas. Keterbatasan anggaran menjadi persoalan klasik bagi pembiayaan operasional perpustakaan. Hal tersebut berimbas pada terbatasnya alokasi biaya bagi operasional Mobil Perpustakaan Keliling (MPK). Tinggi pengeluaran tersebut terserap pada pembelian bahan bakar dan perawatan kendaraan. Hal tersebut terkait kondisi topografi Kab. TTS yang bergunung-gunung dan fasilitas jalan ke pelosok yang masih terbatas. Faktor-faktor tersebut yang menyebabkan frekuensi MPK terbatas dua kali dalam setahun.
2.) Kurangnya kualitas Sumberdaya Manusia. Terbatasnya kuantitas dan kualitas SDM Bapusda TTS menyebabkan tidak tercapai target pengembangan minat budaya baca. Tenaga pustakawan yang ada telah diberdayakan pada pengolahan bahan pustaka. Sedangkan pengembangan budaya baca perlu tenaga ekstra pustakawan guna turun ke lapangan untuk memberikan penyuluhan. Sehingga peran pro aktif pustakawan diperlukan dalam pengembangan minat baca. Dan hal tersebut tidak terjadi di Bapusda TTS.
3.) Minimnya kesadaran dan minat baca masyarakat. Sasaran program MPK adalah masyarakat yang memiliki keterbatasan akses ke sumber informasi. Mereka kebanyakan tinggal di daerah pedesaan dan mayoritas petani, pedagang dan pelajar. Dan umumnya operasional MPK dimulai pukul 09.00 WITA dan berakhir 14.00 WITA. Operasional MPK pun terbatas pada titik-titik yang ditentukan seperti : Kantor kecamatan, pasar maupun fasilitas umum lainnya. Namun pelaksanaan MPK di TTS kurang efektif karena rendahnya taraf ekonomi masyarakat pedesaan. Mereka lebih memprioritaskan bekerja dan memanfaatkan waktu luangnya untuk kegiatan produktif lainnya yang menghasilkan uang daripada mendatangi lokasi MPK. Hal tersebut menunjukkan minimnya kesadaran & minat baca masyarakat TTS.
IV. KESIMPULAN
Dari pemaparan data tentang sebaran pengunjung dan sebaran peminjam maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Bapusda TTS telah menjalankan fungsinya dengan baik. Indikasinya adalah tingginya antusiasme masyarakat mengunjungi perpustakaan. Adapun fungsi rekreasi dan pendidikan lebih menonjol. Indikasinya terlihat dari latar belakang pemustaka yang mayoritas pelajar dan mahasiswa. Selain itu jenis buku urutan teratas yang diminati peminjam adalah koleksi sastra disusul ilmu pertanian dan ilmu murni.
Sedangkan peran perpustakaan daerah dalam mengembangkan budaya baca belum tercapai secara maksimal. Hal tersebut terjadi karena terdapat kesenjangan antara pemustaka yang bertempat tinggal di kota dan di desa. Kondisi tersebut terlihat dari tingginya kunjungan ke Bapusda yang terletak di kota. Sedangkan program Mobil Perpustakaan Keliling kurang diminati di daerah pedesaan. Adapun kendala pengembangan budaya baca di TTS terdiri dari 3 (tiga) faktor, yaitu : 1.) Kurangnya dana & fasilitas. 2.) Kurangnya kualitas dan kuantitas Sumberdaya Manusia. 3.) Minimnya kesadaran dan minat baca masyarakat.
V. PENUTUP
Pengembangan budaya baca merupakan agenda lintas sektoral. Mengingat kompleksitas masalahnya. Sehingga sinergi antara pemangku kepentingan di daerah sangat diperlukan. Setidaknya terdapat 2 (dua) rekomendasi berdasarkan ketiga masalah pengembangan budaya baca di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Adapun kedua rekomendasi terdiri atas:
1. Menjalin kerjasama dengan stakeholder dalam hal peningkatan kualitas SDM. Kuantitas pustakawan di Bapusda TTS dapat ditingkatkan dengan melakukan impassing bagi pengelola perpustakaan yang memenuhi kualifikasi. Bapusda dapat mengirimkan mereka mengikuti program pustakawan ahli/terampil di Perpustakaan Nasional. Sedangkan bagi pengelola yang berijazah SMA diberikan kebijakan pemberian tugas belajar swadana pada program D-II Perpustakaan Universitas Terbuka. Dan untuk meningkatkan minat baca masyarakat maka Bapusda TTS dapat mengadakan Bimtek Penyuluh minat baca yang pesertanya berasal dari intern Bapusda, perwakilan organisasi massa, LSM, kader PKK maupun lembaga keagamaan.
2. Mensinergikan promosi gemar membaca dengan program pemerintah yang relevan. Tentara Nasional Indonesia memiliki agenda rutin Tentara Masuk Desa sebagai wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat yang sasarannya pembangunan dan bakti sosial di pedesaan. Dinas Pendidikan yang memiliki program pengentasan buta aksara. Dinas Sosial memiliki agenda tahunan memperingati Hari Kesetiakawanan Nasional, Dinas Koperasi memiliki program pemberdayaan masyarakat melalui koperasi dan Bapusda memiliki program pengembangan minat baca melalui Mobil Perpustakaan Kelililing (MPK). Alangkah baiknya jika program Bapusda TTS tersebut bersinergi dengan program pemerintah lainnya. Karena sasaran program pemerintah tersebut yakni pemberdayaan masyarakat desa merupakan domain yang belum tergarap maksimal oleh promosi minat baca. Wujud sinergi dapat pembangunan taman bacaan di pedesaan TTS kerjasama TNI dan Bapusda. Ataupun promosi minat baca melalui kader koperasi pada program pendampingan Kredit Usaha Tani yang difasilitasi Dinas Koperasi. Sekian.
DAFTAR PUSTAKA

---. 2010. 'Jepang'. Website;: http://www. Wikipedia.com. diakses tanggal 3 Juni 2010.
BPS Propinsi NTT. 2008. Nusa Tenggara Timur Dalam Angka 2007. Kupang.
Burhan Bungin. 2009. Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial lainnya. Jakarta.
---. 2007. UU no 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Website: http://www.kelembagaanfiles.pnri.go.id/pdf. Diakses tanggal 4 Juni 2010
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta.

comment 0 komentar:

Poskan Komentar

Share it