Search

Tanaman Nostalgia: Akankah Menjadi Kenangan Semata ?

Rattahpinusa on Juli 25, 2011
Bulan Februari 2011, masyarakat kota Kupang mendapatkan kado istimewa. Bertepatan dengan puncak peringatan Hari Pers Nasional ke 54, pemerintah membangun taman kota. Dan teristimewa, Presiden Republik Indonesia ke-5 berkenan membubuhkan tanda tangannya pada prasasti peresmian gong perdamaian di taman kota ini.
Kehadiran taman kota ini cukup dinanti masyarakat kota Kupang sebagai obat penawar rindu ditengah keterbatasan ruang hijau dan sarana rekreatif. Lokasinya yang strategis, terletak di Jalan El Tari II atau tepat didepan Gedung Keuangan Negara memudahkan warga kota untuk menjangkaunya. Tak mengherankan jika setiap sore atau akhir pekan, taman ini dipenuhi warga kota yang sekedar melepas penat, olah raga maupun berekreasi beserta keluarganya. Harapan warga kota terhadap kehadiran fasilitas public yang representative dan rekreatif terpenuhi juga.
‘Ada gula ada semut’ peribahasa tersebut cukup mencerminkan realitas sosial yang terjadi pasca hadirnya taman kota. Dengan banyaknya warga kota yang menghabiskan waktu untuk bercengkarama bersama keluarga maupun berolahraga membuka peluang ekonomi. Pedagang yang menyediakan makanan kecil seperti bakso, mie ayam, cimol ataupun kudapan lainnya mencoba peruntungannya dengan membuka lapak disekitar taman kota. Mereka berharap cipratan ‘rejeki’ dari para pengunjung taman kota yang memerlukan jasa mereka. Setidaknya aktivitas ekonomi yang terjadi telah mengurangi jumlah pengangguran dikota Kupang.
Pemilihan Nostalgia sebagai nama dari taman kota ini bukan tanpa makna. Nostalgia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Peter Salim 1991) bermakna Kenangan di masa lalu yang indah dan mengesankan. Mungkin pemerintah sebagai inisiator pembangunan dan pengelola fasilitas public tersebut berharap taman ini menjadi ‘saksi sejarah atas dua peristiwa diatas’ dimasa mendatang. Namun melihat kondisi taman nostalgia saat ini, harapan tersebut sulit di realisasikan. Kenapa ? Setidaknya terdapat 3 hal yang perlu dikritisi atas kelangsungan taman kota tersebut.
1. Kulitas bangunan.
Acian semen pada area jogging track yang sudah mengelupas, lantai keramik pada plaza dekat kolam air mancur yang mulai pecah, as pada jungkat-jungkit yang rusak sehingga tidak dipergurnakan lagi. Hal tersebut merupakan sebagian kecil kerusakan yang kasat mata terlihat olah mata awam. Tentunya masih banyak lagi kerusakan teknis yang masih bisa ditemui. Kualitas bahan dan pengerjaan yang buruk merupakan penyebabnya. Hal tersebut terjadi karena proses pengerjaan dengan sistem kejar tayang tanpa diimbangi serta pengawasan teknis yang memadai.

2. Tanggung jawab Pengelolaan
Tanaman hias yang banyak mati karena kurang air, sampah berserakan dibeberapa titik membuat mata ini risih. Bahkan kolam air mancur pun tak ada airnya. Pemerintah selaku pengelola fasilitas public terkesan abai. Dan instansi SKPD saling lempar tanggung jawab tentang pengelolaan taman kota,. Jadi yang bertanggung jawab atas kebersihan dan keindahan taman siapa ? Apakah Dians pertamanan tata kota , satpol PP atau Dinas Pekerjaan Umum kota kupang?

3. Vandalisme
Kaca lampu pecah berserakan, Tulisan nostalgia pun tak utuh lagi. Aksi vandalisme tersebut dilakukan oknum warga kota yang tidak bertanggung jawab. Padahal banyak biaya dan tenaga yang dikeluarkan untuk mewujudkan taman nostalgia. Bahkan mungking uang yang anda bayarkan membayar pajak turut digunakan sebagai sumber dana pembangunan fasilitas public. Jadi apakah kita tega merusak barang public yang sejatinya milik kita juga ?
Berkaca dari ketiga hal tersebut maka dikhawatirkan eksistensi taman nostalgia hanya menjadi cerita saja di masa dating. Bukan tidak mungkin 5 tahun mendatang, taman nostalgia menjadi puing belaka ataupun tempat yang berkonotasi negative dengan munculnya para PSK, Preman dan sejenisnya. Karena warga kota sudah tidak nyaman lagi menggunakan taman nostalgia sebagai tempat bercengkrama bersama keluarga. Sekian.

comment 0 komentar:

Poskan Komentar

Share it