<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264</id><updated>2012-01-16T18:47:56.818-08:00</updated><category term='Kolom'/><category term='Kajian'/><category term='Makalah'/><category term='Opini'/><category term='Catatan'/><category term='Teknologi Informasi'/><category term='artikel'/><title type='text'>.</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>65</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-3273326303788515403</id><published>2011-12-03T21:15:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T21:16:13.132-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>GAHARU UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT</title><content type='html'>Hutan menyediakan segala kebutuhan manusia. Termasuk didalamnya, Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti: madu, rotan, sumber mata air dan gaharu. Pesan tersebut coba disampaikan Kemententerian Kehutanan melalui acara Gelar Teknologi yang bertema: ”Iptek Kehutanan untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Acara yang berlangsung selama 2 (dua) hari tanggal 30 November sampai tanggal 1 Desember 2011 bertempat di aula Bupati Sumba Barat, Jalan Waigero. Kegiatan tersebut terselenggara berkat kerjasama Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi Kehutanan (Puskonser), Balai Penelitian Kehutanan Kupang (BPKK) dan Dinas Kehutanan Kabupaten Sumba Barat. Dan salah satu rangkaian acara tersebut yang berhasil menarik animo peserta adalah Praktek Lapang Inokulasi Gaharu.&lt;br /&gt;Praktek lapang tersebut berlangsung selama 1 (satu) hari (1/12/2011) bertempat di kediaman Bapak Domingus HR Dima Km.3 Sobawai Kelurahan Diratema Kecamatan Loli Sumba Barat. Sebanyak 125 peserta yang berasal dari unsur komisi B DPRD Kabupaten Sumba Barat, muspika, penyuluh kehutanan, kepala desa, tokoh masyarakat dan petani turut berpartisipasi pada kegiatan tersebut. Peserta terlihat antusias menyimak penjelasan Ir. Erdy Santoso, MSc, pakar gaharu dari Puskonser, tentang cara mengidentifikasi tanaman inang gaharu dan cara penularan jamur ke inang gaharu. Menurut Ir. Erdy Santoso, salah ciri mengidentifikasi tanaman inang gaharu dengan melihat tekstur daun. Apabila daun tanaman inang gaharu disobek maka pada penampang daun tersebut akan terlihat serat daun. Ciri tersebut tidak dimiliki oleh tanaman selain inang gaharu. Adapun jenis tanaman inang gaharu yang banyak ditemui di Sumba Barat bernama latin Gyrinops. Dan jenis tanaman yang dijadikan praktek termasuk jenis Gyrinops. Kebanyakan peserta terlihat tersadar bahwa selama ini banyak tanaman inang gaharu yang berada disekelilingnya. Namun selama ini mereka tidak menyadari keberadaannya.&lt;br /&gt;Selanjutnya pakar gaharu tersebut menjelaskan bagaimana cara mempersiapkan bahan penularan gaharu ke tanaman inang. Adapun bahan yang dipersiapkan adalah jamur yang dibawa khusus dari Bogor, Blender dan Mesin bor kayu. Ir. Erdy, M.Sc menjelaskan bahwa jamur perlu diblender terlebih dahulu guna menghancurkan benang jamurnya. Sehingga benang jamur tersebut tidak menyumbat pipet suntik pada saat pengambilan inokulan gaharu. Selanjutnya pada penyiapan lubang inokulan gaharu perlu diperhatikan bahwa kadalaman maksimal lubang 1/3 dari diameter pohon. Dan jarak antar lubang berkisar antara 20 cm untuk tingginya dan 5 cm antar sisi lubang. Setiap lubang disuntikan 1 cc jamur inokulan gaharu. Setidaknya diperlukan waktu sekitar 8 bulan guna memastikan bahwa jamur inokulan gaharu berhasil bersenyawa dengan tanaman inang menghasilkan gaharu. Adapun ciri inokulan gaharu berhasil adalah perubahan warna kecoklatan dan bau harum yang keluar dari lubang-lubang tersebut. Setelah itu, setiap peserta praktek lapang diberikan kesempatan mempraktekkan cara menularkan jamur ke tanaman inang gaharu. &lt;br /&gt;Jika ditilik dari aspek ekonomisnya maka komodiri gaharu memiliki prospek yang bagus. Mengingat saat ini kelas Super King gaharu dihargai 30 juta per-kg untuk pasaran internasional (data Puskonser). Merujuk hal tersebut, Ir. Pella Tode selaku Ka. Dishut Kab. Sumba  Barat disela-sela penutupan kegiatan berhadap peserta guna mensosialisasikan ilmu dan pengalaman yang didapat kepada masyarakat dilingkungan sekitarnya. Dengan pengetahuan yang dimiliki serta potensi HHBK yang terdapat di Sumba Barat, bukan tidak mungkin jika dimasa mendatang daerah ini menjadi daerah penghasil komoditas gaharu diwilayah Nusa Tenggara Timur. (pinusa).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-3273326303788515403?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/3273326303788515403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/12/gaharu-untuk-kesejahteraan-masyarakat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/3273326303788515403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/3273326303788515403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/12/gaharu-untuk-kesejahteraan-masyarakat.html' title='GAHARU UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-1629759948202238142</id><published>2011-11-01T03:22:00.001-07:00</published><updated>2011-11-01T03:22:39.578-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Menjadi Manusia Pemenang</title><content type='html'>Terdapat tiga jenis manusia. Pertama adalah manusia pemenang yakni: mereka yang tahu apa yang mereka inginkan, tahu potensi yang dimiliki dan selalu menyambut tantangan dan peluang yang datang dengan hati, pikiran dan sikap positif. Kedua ialah manusia pecundang, yakni orang-orang yang bahkan tidak cukup tahu siapa diri mereka sendiri, mereka  lebih sering akrab dengan energi negative dan pesimistis, mereka tidak menghidupi, memaknai kehidupan (to live the life) tetapi membiarkan kehidupan memebntuk hidupnya (the life lives upon them).&lt;br /&gt;Selain pemenang dan pecundang, sebenanya masih ada yang ketiga yakni pemenang potensial (Potential winner). Orang-orang ini memiliki potensi menjadi pemenang, mereka selalu mencari dan meyadari meemiliki potensi yang belum termanfaatkan tetapi karena satu dan lain hal belum masuk jalur pemenang. Mungking apa yang mereka butuhkan adalah belajar menjadi pemenang dan lebih pintar mencari peluang. &lt;br /&gt;Sejarah ditulis oleh dan untuk pemenang, Oleh sebab itu, potential winner perlu memupuk karakter pemenang yang sudah terdapat dalam diri kita. Sebuah tulisan menyebutkan beberapa perbedaaan dalam keseharian antara pemenang dan pecundang yang mungkin kita jadikan titik tolak untuk memulai, yaitu:&lt;br /&gt;1. Pemenang selalu menjadi bagian dari solusi, sedangkan pecundang lebih sering menjadi bagian dari masalah,&lt;br /&gt;2. Pemenang selalu memiliki rencana yang terkait dengan pekerjaan, sedangkan pecundang tidak pernah kehabisan alasan untuk tidak bekerja.&lt;br /&gt;3. Pemenang selalu berkata “biar saya yang mengerjakan” sementara pecundang lebih suka berkata”Maaf, itu bukan bagian dari tugas saya”&lt;br /&gt;4. Pemenang selalu melihat ada jawaban dari setiap persoala, sedangkan pecundang selalu melihat ada persoalan dan alas an pada setiap solusi&lt;br /&gt;5. Pemenang selalu melihat adanya peluang pada setiap kesulitan, sementara pecundang selalu melihat adanya kesulitan dari peluang yang paling bagus sekalipun.&lt;br /&gt;6. Pemenang selalu otomatis mencari kekurangan dirinya, dalam menyikapi kegagalan sedangkan pecundang lebih suka mencari kambing hitam diluar dirinya.&lt;br /&gt;7. Pemenang selalu melakukan koreksi atas kesalahan yang dilakukan, sementara pecundang lebih sering mencari pembenaran untuk mengulanginya lagi.&lt;br /&gt;Kita terlahir sebagai pemenang. Pilihan dalam hidup pun sudah sangat gamblang. Hanya kepada diri kita sepenuhnya terpulang. Apakah kita akan menajdi seorang pemenang atau pecundang. Disarikan dari HUMUS: Pemenang. PP.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-1629759948202238142?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/1629759948202238142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/11/menjadi-manusia-pemenang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/1629759948202238142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/1629759948202238142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/11/menjadi-manusia-pemenang.html' title='Menjadi Manusia Pemenang'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-9004706245217035260</id><published>2011-07-24T20:35:00.000-07:00</published><updated>2011-07-24T20:38:19.581-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Tanaman Nostalgia: Akankah Menjadi Kenangan Semata ?</title><content type='html'>Rattahpinusa on Juli 25, 2011 &lt;br /&gt;Bulan Februari 2011, masyarakat kota Kupang mendapatkan kado istimewa. Bertepatan dengan puncak peringatan  Hari Pers Nasional ke 54, pemerintah membangun taman kota. Dan teristimewa, Presiden Republik Indonesia ke-5 berkenan membubuhkan tanda tangannya pada prasasti peresmian gong perdamaian di taman kota ini.&lt;br /&gt;Kehadiran taman kota ini cukup dinanti masyarakat kota Kupang sebagai obat penawar rindu ditengah keterbatasan ruang hijau dan sarana rekreatif. Lokasinya yang strategis, terletak di Jalan El Tari II atau tepat didepan Gedung Keuangan Negara memudahkan warga kota untuk menjangkaunya. Tak mengherankan jika setiap sore atau akhir pekan, taman ini dipenuhi warga kota yang sekedar melepas penat, olah raga maupun berekreasi beserta keluarganya.  Harapan warga kota terhadap kehadiran fasilitas public yang representative dan rekreatif terpenuhi juga.&lt;br /&gt;‘Ada gula ada semut’ peribahasa tersebut cukup mencerminkan realitas sosial yang terjadi pasca hadirnya taman kota. Dengan banyaknya warga kota yang menghabiskan waktu untuk bercengkarama bersama keluarga maupun berolahraga membuka peluang ekonomi. Pedagang yang menyediakan makanan kecil seperti bakso, mie ayam, cimol ataupun kudapan lainnya mencoba peruntungannya dengan membuka lapak disekitar taman kota. Mereka berharap cipratan ‘rejeki’ dari para pengunjung taman kota yang memerlukan jasa mereka.  Setidaknya aktivitas ekonomi yang terjadi telah mengurangi jumlah pengangguran  dikota Kupang. &lt;br /&gt;Pemilihan Nostalgia sebagai nama dari taman kota ini bukan tanpa makna. Nostalgia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  (Peter Salim 1991) bermakna Kenangan di masa lalu yang indah dan mengesankan.  Mungkin pemerintah sebagai inisiator pembangunan dan pengelola fasilitas public tersebut berharap taman ini menjadi ‘saksi sejarah atas dua peristiwa diatas’ dimasa mendatang. Namun melihat kondisi taman nostalgia saat ini, harapan tersebut sulit di realisasikan. Kenapa ? Setidaknya terdapat 3 hal yang perlu dikritisi atas kelangsungan taman kota tersebut.&lt;br /&gt;1. Kulitas bangunan.&lt;br /&gt;Acian semen pada area jogging track yang sudah mengelupas, lantai keramik pada plaza dekat kolam air mancur yang mulai pecah,  as pada jungkat-jungkit yang rusak sehingga tidak dipergurnakan lagi. Hal tersebut merupakan sebagian kecil kerusakan yang kasat mata terlihat olah mata awam. Tentunya masih banyak lagi kerusakan teknis yang masih bisa ditemui. Kualitas bahan dan pengerjaan yang buruk merupakan penyebabnya. Hal tersebut terjadi karena proses pengerjaan dengan sistem kejar tayang tanpa diimbangi serta pengawasan teknis yang memadai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tanggung jawab Pengelolaan&lt;br /&gt;Tanaman hias yang banyak mati karena kurang air, sampah berserakan dibeberapa titik membuat mata ini risih. Bahkan kolam air mancur pun tak ada airnya.  Pemerintah selaku pengelola fasilitas public terkesan abai. Dan instansi SKPD saling lempar tanggung jawab tentang pengelolaan taman kota,. Jadi yang bertanggung jawab atas kebersihan dan keindahan taman siapa ? Apakah Dians pertamanan tata kota , satpol PP atau Dinas Pekerjaan Umum kota kupang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Vandalisme&lt;br /&gt;Kaca lampu pecah berserakan, Tulisan nostalgia pun tak utuh lagi. Aksi vandalisme tersebut dilakukan oknum warga kota yang tidak bertanggung jawab. Padahal banyak biaya dan tenaga yang dikeluarkan untuk mewujudkan taman nostalgia. Bahkan mungking uang yang anda  bayarkan membayar pajak turut digunakan sebagai sumber dana pembangunan fasilitas public. Jadi apakah kita tega merusak barang public yang sejatinya milik kita juga ?&lt;br /&gt;Berkaca dari ketiga hal tersebut maka dikhawatirkan eksistensi taman nostalgia hanya menjadi cerita saja di masa dating. Bukan tidak mungkin  5 tahun mendatang, taman nostalgia menjadi puing belaka ataupun tempat yang berkonotasi negative dengan munculnya para PSK, Preman dan sejenisnya. Karena warga kota sudah tidak nyaman lagi menggunakan taman nostalgia sebagai tempat bercengkrama bersama keluarga. Sekian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-9004706245217035260?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/9004706245217035260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/07/tanaman-nostalgia-akankah-menjadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/9004706245217035260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/9004706245217035260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/07/tanaman-nostalgia-akankah-menjadi.html' title='Tanaman Nostalgia: Akankah Menjadi Kenangan Semata ?'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-3844127231656900957</id><published>2011-06-21T04:55:00.001-07:00</published><updated>2011-06-21T04:55:48.118-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'></title><content type='html'>PENGEMBANGAN KEBERAKSARAAN INFORMASI &lt;br /&gt;(Information Literacy) WIDYAISWARA&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Rattahpinusa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pendahuluan&lt;br /&gt;Widyaiswara berperan memfasilitasi sebuah proses pengajaran, pendidikan dan pelatihan pada sebuah institusi pendidikan dan pelatihan. Sebagai tokoh sentral, widyaiswara bertugas mentransfer ilmu pengetahuan kepada para peserta didik. Sehingga fungsi seorang widyaiswara dapat ibaratkan sebagai ‘suatu sistem pencernaan’. Karena widyaiswara dituntut senantiasa mencari, mengumpulkan berbagai data yang relevan dengan bidang tugasnya. Dan data tersebut diolah dan disaripatikan menjadi sebuah infomasi. Selanjutnya informasi tersebut disampaikan kepada peserta didik melalui metode pengajaran dan pelatihan.&lt;br /&gt;Dinamika perkembangan teknologi informasi menjadi titik awal era ‘revolusi informasi’. Pemanfaatan internet sebagai kanal informasi semakin meningkat saat ini. Setiap orang dapat mencipta, mengakses, menggunakan dan berbagi informasi serta pengetahuan melalui internet. Tidak mengherankan jika jenis media informasi semakin beragam. Disamping media cetak, saat ini kita mengenal berbagai istilah seperti : eletronik book, elektronik journal ataupun audio book. Konsekuensi dari keberagaman media informasi tersebut adalah melimpahnya informasi yang saling tumpang tindih. Kondisi tersebut jika tidak diimbangi literasi informasi (information literacy )menyebabkan pemakainya terjebak kedalam ’belantara informasi’. Merujuk pada Sulistyo Basuki (2004) menyatakan  bahwa :“Ilmuwan di Amerika menghabiskan waktu sekitar 45 % dari waktu kerja mereka untuk menelusur informasi ilmiah dan bisnis, untuk pekerjaan penelitian hanya 36% dan pengolahan hasil hanya menghasilkan 6%”.&lt;br /&gt;Ketidakefisienan dalam penelusuran dan pengumpulan informasi berdampak pada rendahnya tingkat produktivitas pemakai. Waktu akan banyak terbuang pada proses penelusuran dan seleksi terhadap informasi yang dibutuhkan. Kondisi tersebut dapat diantisipasi melalui penguasaan terhadap literasi informasi (Information literacy). Dalam konteks pendidikan, pengembangan literasi informasi bagi wiyaiswara perlu dilakukan. Mengingat seorang widyaswara merupakan fasilitator dan rujukan dalam sebuah proses belajar mengajar. Sehingga seorang widyaiswara dituntut senantiasa menambah pengetahuannya. Berbagai informasi dan pengetahuan dapat diperoleh dengan memperbanyak akses ke berbagai sumber informasi. Dan artikel ini memberikan informasi tentang konsep literasi informasi, model beserta penerapannya disesuaikan kebutuhan pemakainya. Sehingga widyaiswara mampu mengenal konsep tersebut serta mengaplikasikannya guna menunjang tugas pokok dan fungsinya sebagai seorang pengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Pembahasan&lt;br /&gt;A. Definisi Literasi Informasi&lt;br /&gt; Istilah literasi informasi masih terdengar asing bagi kita. Istilah ini berasal dari kata information literacy yang berarti keberaksaraan informasi. Maksudnya, setiap orang yang ‘melek informasi’ adalah orang yang  mampu menemukan dan mengolah informasi sesuai kebutuhannya. Namun tidak semua orang yang memiliki akses terhadap suatu sumber informasi dapat dikatakan memiliki literasi informasi. Karena belum tentu orang tersebut mampu memilah dan memilih informasi yang sesuai dengan kebutuhannya.&lt;br /&gt; Adapun pengertian keberaksaraan informasi menurut The national Forum on Information dalam Retno Sayekti (2007: hal 41-42): “The ability to know when there is a need for information, to be able to identify, locate evaluate and effectively use that information for the issue or problem at a hand”. Berdasar definisi tersebut maka literasi informasi merupakan suatu kemampuan/literasi mengidentifikasi, menseleksi, mengumpulkan, mengolah dan mendiseminasi suatu informasi. Atau dengan kata lain, seorang yang terampil berinformasi dapat diibaratkan sebagai manajer informasi.&lt;br /&gt; Literasi informasi bermanfaat dalam menunjang proses belajar mengajar. Tenaga pengajar/widyaiswara yang mampu menguasai literasi informasi akan memperkaya wawasannya. Sebagai suatu metode penelusuran informasi, literasi informasi akan membantunya mengidentifikasi dan menganalisis berbagai jenis informasi beserta sumber informasinya. Adapun konsep literasi informasi dapat dipahami pada  gambar berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber : Arlinah I.R., 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Model Literasi Informasi &lt;br /&gt; Sebagai suatu kajian baru dalam ilmu informasi maka para ilmuwan informasi mencoba mengembangkan berbagai model literasi informasi. Terdapat berbagai jenis model literasi informasi, yakni: Big 6, Empowering 8 dan The Plus Model. Dan setiap model dikembangkan oleh ilmuwan informasi dengan target sasaran yang berbeda. Namun diantara ketiga model tersebut, The Plus  merupakan  model yang populer digunakan diinstitusi pendidikan. &lt;br /&gt; The Plus Model merupakan salah satu jenis model literasi informasi yang dikembangkan oleh James Herring dari Quen Margareth University College, Eidenburg. PLUS menurut James Herring dalam Blasius Sudarsono (2009) merupakan akronim dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Purpose : Dentifying the purpose of an investigation or assigment.&lt;br /&gt;2. Location : Finding relevant information sources related to the purpose&lt;br /&gt;3. Use : Selecting and rejecting information and ideas, reading for information, note taking and presentation&lt;br /&gt;4. Self evaluation : How pupils evaluate their performance in applying information skills to the assignment and what they learn fo the future.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model tersebut memberikan pedoman bagi tenaga pengajar/widyaiswara dalam menentukan strategi atau tahapan penelusuran informasi. Tahapan yang sistematis dan efisien tersebut akan membantu widyaiswara dalam mengefisienkan waktu penelusuran informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Bagaimana Mengembangkan Literasi Informasi ?&lt;br /&gt;  Uraian diatas telah memberikan bekal teori bagi widyaiswara dalam memahami konsep dan model literasi informasi. Namun hal tersebut tidak cukup tanpa dibarengi dengan motivasi diri yang kuat. Terpenting adalah dorongan diri yang kuat dari widyaiwara guna mempraktekkan metode tersebut secara konsisten. The PLUS merupakan sarana pengembangan diri. Model ini coba memberikan panduan bagi widyaiswara dalam mengembangkan literasi informasinya. Guna mendekati kondisi yang faktual maka model tersebut dapat disimulasikan sebagai berikut. &lt;br /&gt; Semisal : seorang widyaswara yang mendapat tugas memfasilitasi suatu program pendidikan dan pelatihan tentang budidaya cendana. Maka widyaiswara tersebut akan merencanakan dan mencari serta menyusun informasi terkait budidaya cendana sebagai bahan ajar. Tentunya, dia memerlukan informasi yang relevan dengan topic tersebut dari berbagai sumber. Guna efisiensi waktu dalam penelusuran informasi maka tahapan yang perlu dipersiapkan adalah.&lt;br /&gt;1. Purpose : &lt;br /&gt;Pendefinisian informasi yang dibutuhkan. Hal tersebut dapat dirumuskan melalui pertanyaan sebagai berikut: Kegunaan informasi tersebut untuk apa dan target sasarannya siapa? Kemasan informasinya berbentuk apa?. &lt;br /&gt;Fungsi pendefinisian informasi sangat penting sekali. Karena salah mendefinikan maka akan mempersulit penelusuran informasi. Pendefinisian merupakan cara mempersempit cakupan informasi yang dibutuhkan. Hasil pendefinisian tersebut diwujudkan berupa pemilihan kata kunci (keywords). Dan kata kunci merupakan unsur-unsur yang mewakili suatu informasi yang menjadi titik awal penelusuran informasi.&lt;br /&gt;2. Location : &lt;br /&gt;Lokasi yang dimaksud disini tidak merujuk pada lokasi tertentu. Melainkan ditekankan kepada bentuk media informasi. Selain itu, widyaiswara, sebagai pemakai informasi, memerlukan alat bantu dalam menelusur informasi. Hal tersebut bertujuan mengefisienkan waktu. Dapat dibayangkan betapa sulitnya jika harus mencari informasi diantara ribuan tumpukan buku di perpustakaan maupun jutaan record file di internet. &lt;br /&gt;Dalam penelusuran informasi dikenal berbagai jenis alat bantu yang bersifat manual tercetak maupun mekanis elektonis, yakni :&lt;br /&gt;a) Alat penelusuran informasi manual tercetak meliputi : Abstrak yang memuat berbagai informasi secara padat dari suatu artikel dijurnal/bulletin; Indeks memuat kata kunci yang memuat lokasi suatu informasi yang mengandung kata kunci tersebut; Bibliografi memuat informasi kepengarangan dan data fisik dari suatu terbitan. &lt;br /&gt;b) Alat penelusuran secara mekanis elektronis meliputi: Online Public Acces Catalog (OPAC) merupakan software yang didesain bagi penelusuran informasi berdasarkan kata kunci. Cara kerjanya mirip dengan indek namun dilakukan secara elektris. Pemakai tinggal memasukkan kata kunci berdasarkan unsur nama pengarang, judul artikel maupun subjeknya. Dan OPAC secara otomatis akan mengindeks subjek dari informasi yang memuat unsur kata kunci tadi dan menampilkan hasilnya dalam bentuk katalog elektronik. &lt;br /&gt;3. Use : &lt;br /&gt;Setelah menemukan lokasi dari sumber informasi yang dibutuhkan. Maka seorang pemakai perlu menseleksi terlebih dahulu substansi informasi tersebut. Seleksi dilakukan dengan membaca. Saat ini telah dikembangkan tehnik membaca secara efektif. Tehnik tersebut dikenal dengan istilah SQ3R. Metode tersebut dikembangkan oleh Prof. Francis P.Robinson, seorang guru besar psikologi dari The Ohio State University, sejak tahun 1994 dalam Yunus (2004). SQ3R membantu pemakai informasi dalam menentukan apakah buku/bacaan yang akan dibaca sesuai dengan keperluan kita atau tidak. Serta dapat juga membuat anda lebih fleksibel dalam membaca. Metode tersebut akan lebih mudah dipahami dengan uraian sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. ) Survey (penelaahan pendahuluan) :&lt;br /&gt; Sebelum kita membaca buku maka kita harus mengenal anatomi dari buku tersebut. Anatomi buku meliputi: Bagian pendahuluan (sampul luar dan dalam, kata pengantar, tinjauan buku, daftar isi dan simbol-simbol) yang memuat informasi tentang kemutakhiran/ keusangan informasi yang terkandung dalam buku tersebut, gaya penulisan, tujuan buku, gambaran umum isi dan sasaran pemakainya; Bagian isi (judul dan subjudul serta batang tubuh) yang menunjukkan fokus yang khusus serta aspek-aspek yang mengacu pada keseluruhan topik dan Bagian akhir (kesimpulan; saran, daftar pustaka) yang memungkinkan kita menggali gambaran isi buku dan menperdalam pengetahuan kita tentang isi buku tersebut.&lt;br /&gt;2. ) Question (bertanya): &lt;br /&gt;Urutkan bagian-bagian penting yang telah anda tandai berdasarkan tingkat kepentingannya. Pelajari sebentar bagian-bagian itu lalu rumuskan pertanyaan yang sifatnya analitis. Pertanyaan tersebut berguna untuk memotivasi kita segera membaca dan memperoleh informasi dari  bacaan serta kita dapat dengan cepat memperoleh informasi yang cukup.&lt;br /&gt;3. ) Read (membaca) : &lt;br /&gt;Pusatkanlah pikiran untuk mencari jawaban dari rumusan pertanyaan yang telah kita susun selama kita membaca. Proses ini bersifat luwes, maksudnya kita dapat membaca   keseluruhan ataupun memilih bagian-bagian yang kita anggap perlu untuk di baca.&lt;br /&gt;4. )Recite (mengutarakan kembali): &lt;br /&gt; Kegiatan ini kira awali dengan membaca kembali rumusan pertanyaan yang telah kita susun  pada langkah kedua. Kemudian ceritakan kembali jawaban yang telah anda peroleh pada  langkah ketiga dengan bahasa versi kita.&lt;br /&gt;5. ) Review (mengulang kembali): &lt;br /&gt;Pada bagian ini, kita cukup melihat bagian-bagian yang kita anggap penting dari sebuah buku. Hal itu untuk meyakinkan kita apakah ada bagian yang terlewat atau tidak, sebagai sarana pengetesan penguasaan materi. Maka setelah kita merasa yakin bahwa kita sudah menguasai isi bacaan tersebut maka selesailah metode SQ3R. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Self evaluation&lt;br /&gt;Berdasarkan serangkaian tahapan diatas, maka widyaswara dapat menarik kesimpulan atas informasi yang ditemukannya telah sesuai kebutuhan atau tidak?. Adapun evaluasi terhadap seluruh tahapan proses penelusuran informasi dilakukan dengan cara membuat checklist. Apakah proses penelusuran informasi telah sesuai dengan langkah-langkah yang telah ditetapkan sebelumnya? Checklist tersebut akan membantu widyaiswara dalam melatih literasi informasi. Seyogyanya literasi informasi senantiasa dilatih secara konsisten. Guna menginterinternalisasikan literasi tersebut kedalam diri kita. Ada suatu anekdot bahwa kita bisa karena terbiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Penutup&lt;br /&gt; Perkembangan teknologi yang pesat berdampak luas pada berbagai sendi kehidupan. Pemanfaatan internet sebagai kanal informasi telah memicu terjadinya ledakan informasi. Karena setiap orang dapat mencipta, mengakses, menggunakan dan berbagi informasi serta pengetahuan melalui internet. Melimpahnya berbagai jenis informasi menyebabkan pemakai informasi terjebak pada rimba informasi.&lt;br /&gt; Literasi informasi merupakan kemampuan dalam mengidentifikasi, mencari, mengelola dan mendistribusikan informasi. Kemampuan tersebut mutlak dimiliki pengguna informasi baik melalu media cetak maupun non cetak. Dan widyaiswara yang bertugas melatih dan mendidik perlu mengembangkan literasi informasi. Penguasaan literasi informasi akan banyak membantu widyaiswara dalam mencari, mengolah dan menyebarkan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt; Terdapat beberapa model literasi infomasi dan salah satunya adalah The PLUS. Model ini merupakan metode yang popular digunakan dalam melatih literasi informasi. PLUS merupakan akronim dari Purpose, Location, Use and Selection. Suatu model yang sederhana namun efektif digunakan dalam mengembangkan literasi informasi. Terpenting adalah motivasi diri dari widyasiwara dalam melatih dan mengembangkannya melalui metode tersebut. Diharapkan widyaswara semakin meningkat kompetensi dan profesionalitas dengan penguasaan literasi informasi. Peningkatan kompetensi tersebut akan bermuara pada meningkatkan kualitas pendidikan dan latihan yang diampunya. Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arlinah. (Makalah Seminar) : Penelusuran Informasi dalam proses belajar mengajar di sekolah dasar.Surabaya Sekolah Masa Depan Cerah , 16 Oktober 2003 &lt;br /&gt;Blasius sudarsono. Hanna latuputy, Winda FM Habisono, Utami Hariyadi. 2009. Literasi Informasi (Information Literacy):  Pengantar Untuk Perpustakaan Sekolah. Jakarta. Perpustakaan Nasional.&lt;br /&gt;Sulistyo Basuki. (2004). Pengantar dokumentasi. Rekayasa Sains, Bandung.&lt;br /&gt;Retno sayekti. (2007). Analytica Islamica, Vol.9 no.1, 2007 : Pembelajaran Berbasis Pepustakaan: Sebuah Pemikiran Model PEmbelajaran di Pendidikan Agama Islam.&lt;br /&gt;Yunus, Mohammad.(2004). Buku Materi Pokok Bahasa Indonesia. Universitas Terbuka.Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-3844127231656900957?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/3844127231656900957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/pengembangan-keberaksaraan-informasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/3844127231656900957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/3844127231656900957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/pengembangan-keberaksaraan-informasi.html' title=''/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-7286933956207379273</id><published>2011-06-21T04:44:00.001-07:00</published><updated>2011-06-21T04:46:22.283-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>TEHNIK PENELUSURAN INFORMASI BERBASIS SEARCH ENGINE DAN PEMANFAATAN JURNAL ELEKRONIK</title><content type='html'>By Rattahpinusa&lt;br /&gt;I. Pendahuluan&lt;br /&gt;Kontribusi penelitian ilmiah di Indonesia yang termuat pada jurnal ilmiah internasional termasuk rendah diantara Negara berkembang. Suatu studi menunjukkan bahwa prosentase sumbangan ilmuwan Indonesia terhadap artikel majalah Ilmiah pada Science Citation Index tahun 1994 hanya 0,012%. (Gibs (1995) dalam Sulistyo Basuki (2004: 109). Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat produktivitas keilmuan di Indonesia rendah. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas ilmuwan di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah terbatasnya fasilitas penelitian, kurangnya kesejahteraan peneliti serta sedikitnya jurnal/bulletin/majalah ilmiah yang dilanggan oleh perpustakaan di  instansi penelitian. &lt;br /&gt;Kondisi diatas sangat kontras jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat. Pemanfaatan internet yang meluas memicu terjadinya ledakan informasi. Hal tersebut merupakan dampak dari pregeseran pola komunikasi saat ini. Media internet memberikan kebebasan berinformasi kepada pemakainya. Internet memungkinkan penggunanya berperan sebagai pencipta sekaligus pemakai informasi di media internet. &lt;br /&gt;Dalam konteks ilmu pengetahuan, internet sangat membantu sekali dalam hal penyediaan sumber informasi. Para ilmuwan dihadapkan dengan berbagai pilihan sumber informasi di internet. Berbagai informasi ilmiah yang bertebaran dalam wujud jurnal elektornik dapat ditemukan. Ironisnya, peneliti yang bernaung di Balai Peneliti Kehutanan Kupang (BPKK)  belum seluruhnya memanfaatkan sumber informasi tersebut. Dan pustakawan sebagai pengelola informasi berkewajiban memberikan pedoman dalam hal peneluran informasi. Berdasarkan hal tersebut maka disusunlah makalah berjudul: Strategi penelusuran informasi dan tehnik pemanfaatan jurnal elektonik”. Guna memberikan pemahaman dan pedoman bagi peneliti lingkup BPKK dalam mengoptimalkan pemanfaatan internet dan jurnal elektonik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Pembahasan&lt;br /&gt;A. Definisi Search Engine&lt;br /&gt; Pemakai internet tentu tidak asing lagi dengan istilah search engine (mesin pencari). Software ini memudahkan pemakai menemu balik informasi di internet. Adapun pengertian Search engine :Tehnik pencarian informasi di internet dengan memakai perangkat lunak yang secara otomatis akan menelusuri semua isi web. Perangkat lunak ini kemudian akan membangun daftar atau indeks dari seluruh halaman informasi yang tersedia dalam internet. Tujun search engine adalah mempermudah pengguna dalam melakukan suatu informasi diinternet“  Burhan (2003 : hal. 427).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Jenis  search engine&lt;br /&gt;Terdapat beberapa jenis software serach engine. Kita mengenal: yahoo, msn, Google maupun alvista. Namun dari keempat jenis tersebut, Google dan yahoo yang paling popular digunakan. Hal tersebut disebabkan kedua jenis serch engine tersebut memiliki desain yang menarik serta fasilitas yang lengkap. Yahoo yang beralamat url: http: www.yahoo.com mengintegrasikan fungsi hiburan, berita dan informasi dan gaya hidup. Sedangkan google yang beralamat http: www.google.com menawarkan penelusuran informasi pada berbagai media, semisal: penelusuran berdasarkan URL, gambar, foto, buku maupun terjemahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Strategi penelusuran.&lt;br /&gt;Penelusuran informasi berbasis web memerlukan pengetahuan dan ketrampilan tersendiri. Karena alat bantu penelusuran merupakan software yang memiliki karakter tersendiri serta sistem kerja yang berbeda.  Sistem kerja Search engine menerapkan pengindeksan. Setiap informasi yang tersebar diinternet akan diidentifikasi dengan istilah khusus sesuai bahasa pemrograman software tersebut. Selanjutnya hasil penelusuran informasi akan disusun berdasarkan indeks. Sehingga memudahkan pengguna mencari informasi yang memiliki kedekatan istilah dengan kebutuhannya.&lt;br /&gt;Adapun strategi penelusuran informasi yang lazim digunakan pada dunia maya terdiri dari :&lt;br /&gt;1) Key-word based  tidak bisa membedakan kata sama arti beda atau kata beda arti sama. (contoh: google, altavista)&lt;br /&gt;2) Concept based (istilah bisa lain tapi arti sama. Contoh : excite, katalog perpustakaan)&lt;br /&gt;3) Boolean logic strategy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Teknis Cara kerja Search engine berbasis Boolean.&lt;br /&gt; Sistem bolean merupakan bahasa program yang mampu menggabungkan, memisah maupun kombinasi keduanya. Sistem ini merujuk pada pola himpunan pada alogaritma. Detailnya sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) AND ; + -&gt; mempersempit&lt;br /&gt;Advanced search : ALL&lt;br /&gt;Tree improvement AND provenance&lt;br /&gt;Tree improvement + provenance&lt;br /&gt;2) OR -&gt; memperluas&lt;br /&gt;Advanced search : AT LEAST ONE&lt;br /&gt;“wood building” OR bricks&lt;br /&gt;3) AND NOT ; -    -&gt; membatasi &lt;br /&gt;Advanced search : WITHOUT&lt;br /&gt;Wood AND NOT bricks&lt;br /&gt;Wood –bricks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Portal Jurnal  Elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 NAMA : Directory Open Acces Journal&lt;br /&gt; ALAMAT URL : http://www.doaj.org/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DESKRIPSI : Situs ini merupakan pangkalan data bagi situs jurnal elektronik dari berbagai subyek. Pemakai dapat memilih subjek jurnal yang dikehendaki. Berdasarkan penelusuran terdapat 31 alamat open jurnal kehutanan yang dapat diakses. &lt;br /&gt; 1. Agrociencia &lt;br /&gt;ISSN: 14053195 &lt;br /&gt;Subject: Agriculture (General) --- Forestry --- Animal Sciences &lt;br /&gt;Publisher: Colegio de Postgraduados &lt;br /&gt;Country: Mexico &lt;br /&gt;Language: Spanish, English &lt;br /&gt;Keywords: animal science, livestock, agriculture, forestry &lt;br /&gt;Start year: 2000 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bartin Orman Fakultesi Dergisi  &lt;br /&gt;ISSN: 13020943 &lt;br /&gt;EISSN: 13085875 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: University of Bartin &lt;br /&gt;Country: Turkey &lt;br /&gt;Language: Turkish, English, German, French &lt;br /&gt;Keywords: environmental science, forests, landscape planning &lt;br /&gt;Start year: 2001 &lt;br /&gt;License:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. BC Journal of Ecosystems and Management &lt;br /&gt;ISSN: 14884666 &lt;br /&gt;EISSN: 14884674 &lt;br /&gt;Subject: Biology --- Forestry &lt;br /&gt;Publisher: FORREX Forest Research Extension Society &lt;br /&gt;Country: Canada &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: conservation biology, forest dynamics, natural resource extension, science-based information, socio-economics, sustainable ecosystem management, watershed management &lt;br /&gt;Start year: 2001 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bosque (Valdivia) &lt;br /&gt;ISSN: 03048799 &lt;br /&gt;EISSN: 07179200 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Universidad Austral de Chile &lt;br /&gt;Country: Chile &lt;br /&gt;Language: English, Spanish &lt;br /&gt;Keywords: agricultural sciences &lt;br /&gt;Start year: 1975 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;forestry, forest products, forest ecology, silviculture, breeding and genetics, management &lt;br /&gt;Start year: 2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Forest@  &lt;br /&gt;ISSN: 18240119 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Italian Society of Silviculture and Forest Ecology - SISEF &lt;br /&gt;Country: Italy &lt;br /&gt;Language: Italian, English &lt;br /&gt;Keywords: silviculture, forest ecology, ecophysiology, conservation genetics, forest biodiversity, forest management &lt;br /&gt;Start year: 2004 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Forestry Studies &lt;br /&gt;ISSN: 14069954 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Estonian University of Life Sciences &lt;br /&gt;Country: Estonia &lt;br /&gt;Language: English, Estonian &lt;br /&gt;Keywords: silviculture, dendrology, tree physiology, forest products  Start year: 1999 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Forests  &lt;br /&gt;ISSN: 19994907 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: MDPI AG &lt;br /&gt;Country: Switzerland &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forest engineering, forest science, woodlands, forest entomology, forest ecology, forest economics, tropical forest &lt;br /&gt;Start year: 2010 &lt;br /&gt;License:   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Glasnik Šumarskog Fakulteta  &lt;br /&gt;ISSN: 03534537 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Faculty of Forestry, Belgrade &lt;br /&gt;Country: Serbia &lt;br /&gt;Language: Serbian &lt;br /&gt;Keywords: wood processing, landscape architecture &lt;br /&gt;Start year: 2002 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Forest : Biogeosciences and Forestry  &lt;br /&gt;ISSN: 19717458 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Italian Society of Silviculture and Forest Ecology - SISEF &lt;br /&gt;Country: Italy &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forest, biogeoscience, forestry &lt;br /&gt;Start year: 2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. International Journal of Forestry Research  &lt;br /&gt;ISSN: 16879368 &lt;br /&gt;EISSN: 16879376 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Hindawi Publishing Corporation &lt;br /&gt;Country: United States &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forestry research &lt;br /&gt;Start year: 2009 &lt;br /&gt;License:   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Investigación Agraria &lt;br /&gt;ISSN: 11317965 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Instituto Nacional de Investigación y Tecnología Agraria y Alimentaria &lt;br /&gt;Country: Spain &lt;br /&gt;Language: English, Spanish &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Keywords: forest, plant production, plant health, breeding and genetics &lt;br /&gt;Start year: 1998 &lt;br /&gt;End year: 2009 Continued by Forest Systems &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Mathematical and Computational Forestry &amp; Natural-Resource Sciences &lt;br /&gt;ISSN: 19467664 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: University of Georgia &lt;br /&gt;Country: United States &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forest biometrics, modeling, growth and yield, mensuration, simulations &lt;br /&gt;Start year: 2009 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Nova Mehanizacija Sumarstva &lt;br /&gt;ISSN: 18458815 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: University of Zagreb &lt;br /&gt;Country: Croatia &lt;br /&gt;Language: Croatian &lt;br /&gt;Keywords: forestry, forest engineering, timber harvesting, forest operations &lt;br /&gt;Start year: 2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Open Forest Science Journal &lt;br /&gt;ISSN: 18743986 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Bentham open &lt;br /&gt;Country: United States &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forest ecology, tree genetics, wood quality, wood production, silviculture &lt;br /&gt;Start year: 2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Revista Árvore  &lt;br /&gt;ISSN: 01006762 &lt;br /&gt;EISSN: 18069088 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Sociedade de Investigações Florestais &lt;br /&gt;Country: Brazil &lt;br /&gt;Language: Portuguese, English, Spanish &lt;br /&gt;Keywords: agricultural sciences &lt;br /&gt;Start year: 2002 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Revista Forestal Venezolana &lt;br /&gt;ISSN: 05566606 &lt;br /&gt;Subject: Forestry --- Environmental Sciences &lt;br /&gt;Publisher: Universidad de Los Andes (Venezuela) &lt;br /&gt;Country: Venezuela &lt;br /&gt;Language: Spanish &lt;br /&gt;Keywords: forest sciences, vegetal physiology, forest pathology, entomology, plantations, genetics, forest improvement, river basins &lt;br /&gt;Start year: 1997 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Revista Geografica Venezolana &lt;br /&gt;ISSN: 10121617 &lt;br /&gt;Subject: Environmental Sciences --- Geography --- Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Universidad de Los Andes (Venezuela) &lt;br /&gt;Country: Venezuela &lt;br /&gt;Language: Spanish, English, French, Portuguese &lt;br /&gt;Keywords: forest sciences, geographic sciences, conservation of natural resources &lt;br /&gt;Start year: 1999 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Revista Quebracho &lt;br /&gt;ISSN: 03280543 &lt;br /&gt;EISSN: 18513026 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Universidad Nacional de Santiago del Estero &lt;br /&gt;Country: Argentina &lt;br /&gt;Language: Spanish &lt;br /&gt;Keywords: forestry, environment, Latin America region &lt;br /&gt;Start year: 1994 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Rocznik Dendrologiczny  &lt;br /&gt;ISSN: 08602646 &lt;br /&gt;Subject: Forestry --- Biology &lt;br /&gt;Publisher: Polish Botanical Society &lt;br /&gt;Country: Poland &lt;br /&gt;Language: English, Polish &lt;br /&gt;Keywords: dendrobiology, trees, dendrological collections, horticultural taxonomy &lt;br /&gt;Start year: 2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Silva Fennica &lt;br /&gt;ISSN: 00375330 &lt;br /&gt;Subject: Forestry --- Ecology --- Botany &lt;br /&gt;Publisher: Finnish Society of Forest Science, Finnish Forest Research Institute &lt;br /&gt;Country: Finland &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forest science &lt;br /&gt;Start year: 1998 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Silva Lusitana &lt;br /&gt;ISSN: 08706352 &lt;br /&gt;Subject: Forestry --- Environmental Sciences &lt;br /&gt;Publisher: Estação Florestal Nacional &lt;br /&gt;Country: Portugal &lt;br /&gt;Language: Portuguese, English, Spanish &lt;br /&gt;Keywords: forestry, environmental sciences &lt;br /&gt;Start year: 2001 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Studia Universitatis Vasile Goldis Arad : Seria Stiinte Ingineresti si Agroturism  &lt;br /&gt;ISSN: 18420508 &lt;br /&gt;EISSN: 20676034 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Vasile Goldis Western University, Arad &lt;br /&gt;Country: Romania &lt;br /&gt;Language: Romanian, English &lt;br /&gt;Keywords: enviromental sciences, agrotourism &lt;br /&gt;Start year: 2009 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Turkish Journal of Agriculture and Forestry Sciences &lt;br /&gt;ISSN: 1300011X &lt;br /&gt;EISSN: 13036173 &lt;br /&gt;Subject: Agriculture (General) --- Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Scientific and Technical Research Council of Turkey &lt;br /&gt;Country: Turkey &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: agriculture, forestry &lt;br /&gt;Start year: 1998 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Zbornik gozdarstva in lesarstva &lt;br /&gt;ISSN: 03513114 &lt;br /&gt;EISSN: 1581162X &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Slovenian Forestry Institute &lt;br /&gt;Country: Slovenia &lt;br /&gt;Language: Slovenian, English &lt;br /&gt;Keywords: wood science, wood technology Start year: 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Jurnal Elektronik Kehutanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 NAMA : Forests - Open Access Journal&lt;br /&gt; ALAMAT URL : http://recyt.fecyt.es/index.php/IA/index&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DESKRIPSI : Forests (ISSN 1999-4907), an open access journal of forestry and forest ecology, is published by MDPI online quarterly. Manuscripts can be submitted to forests@mdpi.com now.&lt;br /&gt; PEMAKAIAN  1. Ketikkan : ‘alamat url pada kolom Addres&lt;br /&gt;2.  Ketikkan kata kunci (keyword)  berdasarkan subjek pada kolom Penelusuran. Klik Telusur.&lt;br /&gt;3. Jika kata kunci tersebut ‘Hit’  Maka tampilan hasil penelusuran akan Nampak. &lt;br /&gt;4. Klik Full Texk Pdf untuk  menampilkan informasi lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Hacking terhadap ID/Password Pada Beberapa Jurnal Elektronik&lt;br /&gt;Seorang peneliti tentu sangat membutuhkan berbagai publikasi dari berbagai jurnal ilmiah. Semestinya Jurnal tersebut dapat diperoleh melalui perpustakaan, namun karena berbagai keterbatasan perpustakaan maka peneliti dituntut proaktif menelusur informasi secara mandiri melalui internet. Saat ini terdapat jurnal ilmiah online yang melimpah di internet. Kendalanya adalah sebagian besar peneliti kesulitan mengakses jurnal online tersebut. Salah satu tehnik mengakses jurnal ilmiah online adalah menggunakan Ezproxy.&lt;br /&gt;Ezproxy adalah script yg membuat kita seakan akan ada di jaringan networks suatu kampus. Contoh journal sciencedirect bisa kita akses hanya jika pake jaringan salah satu perpustakaan yang melanggan jurnal online. Dan Kita dapat mengakses jurnal tersebut dari luar (tentu untuk kampus or library yg memiliki ezproxy). Apalagi yg diperlukan? Tentu username dan password yg bisa mengakses ezproxy tsb. Tapi tenang di internet banyak orang ‘baik hati’ yang bisa menghack mendapatkan username dan password lalu berbagi di internet.&lt;br /&gt;bagaimana mencari nya?                                                                                                                       &lt;br /&gt;Yang dibutuhkan hanya keyword yang tepat di google, berikut contoh keywordnya:&lt;br /&gt;———————————————–&lt;br /&gt;ezproxy inurl :bbs&lt;br /&gt;allinurl  :ezproxy edu login&lt;br /&gt;allinurl  :login +edu ezproxy OR proxy&lt;br /&gt;allinurl  : login ezproxy OR proxy OR lib OR library OR 2048&lt;br /&gt;———————————————–&lt;br /&gt;Hasil pencarian mungkin memperoleh situs berbagai bahasa, paling sering biasanya China. Oops bagaimana dong? Jangan khawatir, gunakan Peralatan Bahasa/Language Tool pada google untuk menterjemahkan website itu. Nah di web ‘berbagi gratis’ itu kita akan dapat url ezproxy berikut username dan password.&lt;br /&gt;Coba buka satu-satu untuk mencari ezproxy yang tepat (tentunya memiliki akses ke banyak jurnal).&lt;br /&gt;Catatan PENTING:&lt;br /&gt;1. Sebelum mencari ezproxy, tentukan dulu target anda (jurnal apa yang akan dicari) sehingga kita terarah untuk memilih ezproxy yg tepat.&lt;br /&gt;2. Karena kita menggunakan username dan password punya orang. Jangan lama-lama berada didalam ezproxy. Lakukan HIT AND RUN, langsung logout begitu dapat apa yg kita cari.&lt;br /&gt;3. Gunakan setting proxy.&lt;br /&gt;Beberapa proxy-proxy dibawah ini sudah ada yg tidak valid. Anda juga bisa searching di Google untuk mendapatkan proxy lainnya.&lt;br /&gt;sciencedirect&lt;br /&gt;gunakan proxi: 128.42.142.43:3124&lt;br /&gt;target/open : http://science.servepics.com&lt;br /&gt;Sciencedirect, Springerlink, Wileyinterscience&lt;br /&gt;proxi Code: ns1.kmu.edu.tw:3128&lt;br /&gt;username/pass : 960499/960499&lt;br /&gt;Target:&lt;br /&gt;For Sciencedirect&lt;br /&gt;http://www.sciencedirectatpassfans.cjb.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingenta&lt;br /&gt;anand.mooo.com&lt;br /&gt;netlibrary&lt;br /&gt;http://www.netlibraryatpassfans.cjb.net&lt;br /&gt;thieme publishing&lt;br /&gt;http://www.thiemec.cjb.net/ejournals/home.html&lt;br /&gt;Emerald Group Publishing Limited&lt;br /&gt;http://emerald2010.cjb.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menggunakan Bugmenot&lt;br /&gt;http://www.bugmenot.com&lt;br /&gt;Yang udah dites bisa untuk login emeraldinsight. Catatan: tidak semua situs bisa ditembus oleh Bugmenot.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;a) masuk ke http://www.bugmenot.com&lt;br /&gt;b) masukin http://www.emeraldinsight.com/&lt;br /&gt;c) klik Get Logins&lt;br /&gt;d) A lot of ezproxy password&lt;br /&gt;e) Cari diwebsite:&lt;br /&gt;f) http://www.booko.org/a/Password/&lt;br /&gt;Website ini semacam portal ke semua link website yang menyediakan password ezproxy. Jika website pada link yang ada tidak berbahasa Inggris, gunakan Google Translate. Disini Anda harus bersabar mencoba satu-satu link yang ada untuk mendapatkan password yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PENUTUP&lt;br /&gt;Internet sebagai kanal informasi menyediakan berbagai jenis informasi. Namun pemakainya tidak serta merta dapat menemukan informasi yang mereka butuhkan. Karena search engine sebagai alat penelusuran informasi di internet memiliki keterbatasan. Tidak semua informasi di internet dapat diindeks oleh search engine. Solusinya adalah kita mengetahui karakteristik dan cara kerja dari search engine tersebut.&lt;br /&gt;Internet juga menyediakan informasi bagi para ilmuwan. Saat ini, jurnal dalam bentuk non cetak dapat dengan mudah diketemukan diinternet. Guna mengoptimalkan pemanfaatan internet maka kita perlu mengetahui beberapa pangkalan data jurnal elektronik. Adapun pangkalan data tersebut meliputi : Garuda (garba rujukan digital); doaj dan emerald. Ketiganya merupakan basis jurnal ilmiah yang dapat diakses secara gratis. &lt;br /&gt;Pengetahuan terhadap strategi penelusuran berbasis search engine dan portal jurnal elektornik akan membantu para peneliti. Efisiensi waktu penelusuran dan peningkatan produktivitas penelitian merupakan tujuan dari penyusunan makalah ini. Dan seminar menjadi saluran distribusi informasinya. Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;-- .Garba Rujukan Digital. http: jurnal dikti.go.id. Diakses tanggal 1 Februari 2011.&lt;br /&gt;Anis Hariri. Trial Akses Proquest untuk Warga Negara Indonesia.&lt;br /&gt;–. jurnal, password, sciencedirect, springer, JSTOR, ilmiah, proxy, ezproxy. http://jual-jurnal.blogspot.com/2010/01/iptek-dan-media-online.html. Diakses 1 Februari 2011&lt;br /&gt;http://rahab.blog.unsoed.ac.id/kumpulan-pasword-dan-username-jurnal-jurnal-internasional-terbaru/ diakses tanggal 30 Maret 2011&lt;br /&gt;Sulistyo-Basuki. 2004. Pengantar Dokumentasi. Rekayasa Sains. Bandung&lt;br /&gt;Burhanudin. 2003. Kamus Komputer. Penerbit Indah. Surabaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-7286933956207379273?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/7286933956207379273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/tehnik-penelusuran-informasi-berbasis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/7286933956207379273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/7286933956207379273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/tehnik-penelusuran-informasi-berbasis.html' title='TEHNIK PENELUSURAN INFORMASI BERBASIS SEARCH ENGINE DAN PEMANFAATAN JURNAL ELEKRONIK'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-4663674317091530308</id><published>2011-06-21T04:43:00.000-07:00</published><updated>2011-06-21T04:44:20.884-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi Informasi'/><title type='text'>Layanan Selective Dissemination Infromation berbasis social networking</title><content type='html'>I. Pengantar&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi informasi berpengaruh terhadap pola komunikasi. Jika dahulu komunikasi bersifat langsung dengan tatap muka. Namun saat ini, pola tersebut mengalami pergeseran. Terjadi kecenderungan bahwa generasi yang lahir di era 90-an lebih menyukai berinteraksi dengan lingkungannya menggunakan internet dan telepon selular. Ketergantungan yang besar terhadap perangkat telekomunikasi menyebabkan munculnya istilah generasi millenia. Ciri-ciri generasi tersebut adalah : dinamis, terbuka terhadap perubahan, melek teknologi dan soliter. Tak heran jika traffick pengguna internet dan ponsel di Indonesia mengalami peningkatan. Bahkan survei Global Monitor yang dilakukan pada november 2009 menempatkan Indonesia sebagai negara penguna FB terbesar ke-1 di Asia dengan jumlah 12.189.100 (techo.ekozone.com). Situs jejaring sosial tersebut diminati karena memperluas networking (jejaring). &lt;br /&gt;Perpustakaan Penelitian dan Pengembangan (litbang), sebagai jantungnya lembaga riset, harus adaptif terhadap kemajuan teknologi informasi. Teknologi akan mempermudah dan mengefisienkan waktu, tenaga dan biaya pada pengelolaan perpustakaan. Bisa dibayangkan betapa sulit dan lamanya menemukan sebuah buku diantara ribuan koleksi tanpa adanya bantuan teknologi. Introduksi teknologi berawal dari dikembangkannya CDS/ISIS oleh Unesco pada tahun 1985. Dalam kurun waktu dua dekade ini bermunculan inovasi-inovasi dari para pengelola perpustakaan. Sebut saja Senayan, Ganesha Digital Library maupun berbagai website perpustakaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi dibutuhkan oleh perpustakaan dan pustakawan dalam menunjang kinerjanya. &lt;br /&gt;Balai Penelitian Kehutanan Kupang (BPKK) ,yang menaungi perpustakaan khusus, telah memiliki websit yang beralamat pada www.foristkupang.go.id dirancang dan diimplementasikan secara fungsional, informatif dan nyaris tanpa cela. Keunggulan tersebut jangan sampai mematikan ide-ide kreatif untuk terus berinovasi mencapai kesempurnaan. Namun, alangkah baiknya jika website tersebut dilengkapi dengan fasilitas yang memudahkan penggunya untuk mengakses informasi di perpustakaan BPKK. Aksestabilitas akan memudahkan pemustaka BPKK guna mengakses informasi yang dibutuhkannya. Salah satu cara yang diinisiasi oleh pengelola perpustakaan BPKK adalah layanan pemencaran informasi terseleksi berbasis jejaring sosial. Layanan perlu dirintis karena pemustaka perpustakaan BPKK terklasifikasi berdasarkan beberapa kategori yaitu: berdasarkan status kepegawaian (staf, teknisisi, peneliti) dan kepakaran (silvikultur, sosial ekonomi kehutanan dan konservasi). Masing-masing kategori tersebut membutuhkan informasi yang spesifik dan perpustakaan wajib menyediakan dan menyebarkan informasi tersebut secara cepat dan tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Pembahasan&lt;br /&gt;A. Face Book sebagai  situs jejaring sosial terpopuler.&lt;br /&gt;Face Book merupakan situs jejaring sosial yang populer banyak digunakan saat ini. Situs ini memungkinkan penggunanya menambahkan teman dan mengirimkan pesan kepada mereka serta memperbarui statusnya. Para pengguna dapat bergabung dengan jaringan sosialnya berdasarkan kota, tempat kerja dan sekolah. Adalah Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa Harvard University, bersama Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes kali mengembangkan Face Book pada tahun 2003 Pada awalnya situs ini digunakan terbatas pada lingkungan mahasiswa Harvard. Namun berkembang dan meluas sampai ke universitas lainnya di Boston. Dan saat ini populasi pengguna Face Book seluruh dunia mencapai 350 juta orang (Wikipedia, 2010). &lt;br /&gt;Facebook dapat dimodifikasi sesuai keperluan penggunanya. Saat ini, Facebook mengalami perluasan peran tidak hanya sebagai media pergaulan. Namun beberapa perusahaan yang bergerak dibidang jasa penerbangan, keuangan dan produk konsumsi telah mempergunakan facebook untuk membina komunikasi dengan pelanggannya. Mereka menyadari bahwa komunikasi yang terjalin baik antara produsen dan konsumen akan meningkatkan loyalitas pelanggan kepada perusahaan. Karena umpan balik dari konsumen yang segera ditangani oleh pihak manajemen perusahaan akan memberikan kepuasan kepada pengguna. Jika pengguna puas maka mereka tidak akan segan mereferensikan produk tersebut kepada sanak saudara maupun kenalan lainnya. &lt;br /&gt;Selain itu, pengguna facebook dikalangan remaja/pemuda mengalami peningkatan. Hal tersebut disebabkan karena penggunaan ponsel bagi pelajar/mahasiswa sudah menjadi sebuah kebutuhan. Fasilitas berupa radio, Mp3/4, koneksi internet untuk chatting dan browsing serta harga ponsel yang terjangkau telah memenuhi harapan para remaja/pemuda dalam berkomunikasi dengan komunitasnya. Dan facebook menangkap peluang tersebut dengan mengeluarkan versi mobile. Sehingga Facebook dapat  diakses melalui ponsel. Ternyata hal tersebut membuat situs jejaring sosial ini semakin populer dikalangan remaja dan dewasa. Beberapa faktor tersebut yang membuat facebook menjadi situs jejaring sosial terpopuler.&lt;br /&gt;B. Jasa Pemencaran Informasi Terpilih. &lt;br /&gt; Salah satu jenis pelayanan yang lazim ditemui pada perpustakaan adalah jasa pemencaran informasi terpilih (Selective Dissemination Information/SDI). Pelayanan ini bertujuan menyebarluaskan informasi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Adapun Sulistyo Basuki mendefinisikan Selective Dissemination Information sebagai ”Suatu prosedur untuk memberikan kepada pemakai atau kelompok pemakai acuan dari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan bidang yang diminatinya”(2004). Ilustrasinya, pemustaka dari kelompok peneliti (kelti) silvikultur yang membutuhkan informasi terkait patologi tanaman, germination seedling tidak akan mendapatkan informasi tentang ilmu neraca keuangan, sistem ketatanegaraan dan lain sebagainya. Dengan demikian banjir informasi dapat dihindari.&lt;br /&gt; Proses kerja SDI adalah: perpustakaan BPKK mengidentifikasi dan mengklasifikasikan pemustaka berdasarkan status kepegawaian. Selanjutnya masing-masing pemustaka dibuatkan deskripsi profil yang terdiri dari kata kunci peminatannya. Data tersebut kemudian dimasukkan kedalam database untuk mempermudah temu balik. Hendaknya data base profil pemustaka terhubung dengan  database koleksi. Sehingga pada saat input cantuman informasi terbaru. Data profil pemustaka dapat dibandingkan dengan cantuman informasi tersebut berdasarkan kesesuaian kata kunci. Jika profil pemustaka dan cantuman sesuai (dikenal dengan istilah ’HIT’) maka pemustaka tersebut dapat dikirimi abstraksi dari cantuman tersebut.  Pembuatan grup peminatan (group profiles) merupakan cara yang lebih efektif dalam pemencaran informasi terpilih ini.&lt;br /&gt;C. Sinergi antara Selective Disemination Information dan Facebook&lt;br /&gt;Dalam konteks pemencaran informasi terpilih, Face book (FB) dapat dimanfaatkan sebagai media distribusinya. Perpustakaan dapat membuat grup peminatan menggunakan fasilitas Grup pada FB. Hal ini untuk memudahkan untuk mendistribusikan informasi kepada pemustaka sesuai minatnya. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Pastikan jika kita telah memiliki akun FB. Jika belum maka kita harus mendaftarkan                  e-mail dan password pada account FB. Ketikkan www.facebook.com untuk mengakses FB. Lalu klik  pilihan Register untuk mendapatkan form pendaftaran online. Isilah form tersebut dan setelah semuanya selesai, tunggulah beberapa saat untuk memperoleh verifikasi akun yang dikirimkan FB ke email kita. &lt;br /&gt;2. Setelah kita memiliki akun maka kita dapat mengoperasikan FB melalui Log in. Kita tinggal masukkan nama email dan password yang telah kita buat sebelumnya. Jika Log In berhasil maka pada FB versi mobile akan menampilkan fitur sebagai berikut : Beranda, Profil, Teman, Kotak Masuk, Pencarian Teman, Pengaturan, Bantuan, Keluar. Pada fitur Beranda terdiri dari komponen : Kabar Terkini; Status, Foto, Penanda (Pemberitahuan, Foto, Catatan, Grup, Acara, SMS). Adapun nama dan fungsi fitur dapat dilihat pada tabel di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1. Fitur Pada Jejaring Sosial dan Fungsinya&lt;br /&gt;No. Nama Fitur Fungsi&lt;br /&gt;1. Beranda Memuat informasi tentang status terbaru, pemberitahuan terhadap komentar yang masuk dan tempat menulis serta menyebarkan pesan.&lt;br /&gt;2. Profil Memuat informasi diri pemilik akun FB&lt;br /&gt;3. Teman Berisi daftar nama-nama teman yang terkait dengan jaringan sosial pemilik akun FB&lt;br /&gt;4. Kotak Masuk Berisi daftar pesan yang dikirimkan teman kepada pemilik akun FB&lt;br /&gt;5. Pencarian Menelusuri teman pemilik akun FB berdasarkan email, asal sekolah, tempat kerja dan lokasi geografis&lt;br /&gt;6. Pengaturan Mengatur akses terhadap akun pemilik FB&lt;br /&gt;7. Bantuan Panduan menggunakan fasilitas FB beserta troubleshootingnya&lt;br /&gt;8. Keluar Mengakhiri penggunakaan FB&lt;br /&gt;(sumber : www. Facebook.com)&lt;br /&gt;3. Fitur FB yang dimanfaatkan untuk membuat grup peminatan adalah Grup. Fitur ini memuat informasi berupa:  ukuran, jenis (minat bersama, Bisnis, Regional), status terakhir. Grup peminatan diklasifikasikan berdasarkan kepakaran/kelompok peneliti Selanjutnya perpustakaan BPKK menunjuk pustakawan yang bertanggungjawab atas kelancaran suplai  informasi ke masing-masing grup peminatan dan menangani umpan baliknya. Sehingga komunikasi yang dibangun antara moderator dengan grup peminatan bersifat 2 (dua) arah. Hubungan yang dinamis dan berkesinambungan  secara psikologis akan menimbulkan respon positif kepada mahasiswa. Diharapkan pemanfaatan facebook sebagai media Selective Dissemination Information akan efektif menjangkau seluruh lapisan karyawan/i BPKK. Mengingat berkomunikasi melalui ponsel dan facebook menjadi sebuah kebutuhan bagi staf, teknisi dan peneliti di Balai Penelitian Kupang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Penutup&lt;br /&gt;Facebook merupakan situs jejaring sosial yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Salah satu pemanfaatannya sebagai media Selective Dissemination Information. Perpustakaan dapat membuat grup peminatan menggunakan fitur Grup pada Facebook. Grup ini dibuat berdasarkan kepakaran/kelompok penelitian. Perpustakaan secara periodik membandingkan profil pemustaka dengan cantuman infomasi terbaru. Jika terjadi kesesuaian maka perpustakaan dapat mengirimkan abstrak ke grup peminatan melalui Grup di facebook. Diharapkan pemanfaatan facebook efektif untuk mendistribusikan informasi terpilih kepada grup peminatan. Sekian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;--.Techno.okezone.com/read/2009/11/13/55/275309/pengguna-facebook-indonesia-terbesar di asia diunduh tanggal 3 Februari 2010.&lt;br /&gt;--. Wikipedia diunduh pada tanggal 25 Januari 2010.&lt;br /&gt;Sulistyo Basuki. Pengantar dokumentasi. Rekayasa Sains. Bandung. 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-4663674317091530308?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/4663674317091530308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/layanan-selective-dissemination.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/4663674317091530308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/4663674317091530308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/layanan-selective-dissemination.html' title='Layanan Selective Dissemination Infromation berbasis social networking'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-3716061801475284939</id><published>2011-06-21T04:41:00.002-07:00</published><updated>2011-06-21T04:43:09.938-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi Informasi'/><title type='text'>Membuat mobile website</title><content type='html'>I. Pengantar&lt;br /&gt;Penemuan internet mengawali revolusi informasi. Berbagai informasi dari seluruh penjuru dunia dengan mudah kita dapatkan melalui internet. Tak salah jika dunia ini diibaratkan sebagai sebuah desa global. Penggunaan internet saat ini tidak terbatas pada kepentingan militer saja. Namun secara ekspansif, internet berfungsi sebagai media hiburan, informasi, pendidikan dan pergaulan serta bisnis. Sebut saja istilah-istilah e-banking,                    e-learning, Youtube, Myspace, Twitter, Face book maupun Blogspot yang begitu familiar bagi kita. &lt;br /&gt;Karena bersifat multifungsi dan multimedia maka penggunaan internet mengalami peningkatan. Internet dapat di akses melalui warung internet, Local Area Network, Wide Area Network maupun Hotspot. Bahkan telepon selular (ponsel) pun dapat digunakan  untuk mengakses internet. Sebuah survei dari e-marketer menunjukkan bahwa lebih dari 70 juta pengguna ponsel  (di Indonesia) mengakses internet dari peringkat dinamis pada tahun 2009 (Infokom, Januari 2010). &lt;br /&gt;Sebagai penyedia jasa layanan informasi, berkewajiban memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat. Penyebaran informasi merupakan salah satu fungsi melekat pada perpustakaan. Salah satu media penyebaran informasi yang digunakan perpustakaan adalah website. Media ini memungkinkan pengguna perpustakaan untuk mengakses informasi tanpa terbatas ruang dan waktu. Namun disaat semakin meningkatnya penggunaan ponsel untuk mengakses internet, perpustakaan perlu mengantisipasi hal tersebut dengan merintis layanan informasi berbasis teknologi mobile. Bukan tidak  mungkin jika suatu saat website perpustakaan dapat diakses penggunanya melalui ponsel. Tentunya tampilan website versi Personal Computer (PC) tidak optimal jika diakses melalui ponsel yang  memiliki layar berukuran 3 inchi. Sudah saatnya perpustakaan yang membuat websitenya berbasis teknologi mobile. Tulisan ini akan memberikan pengetahuan tentang pembuatan Mobile Web yang fungsional dan praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Pembahasan&lt;br /&gt;Mobile Web merupakan versi website yang khusus dioperasionalkan pada perangkat mobile seperti : ponsel dan Personal digital Asisistance (PDA). Tujuan Mobile Web adalah menampilkan website secara ergonomis tanpa mengesampingkan aspek kepraktisan dan fungsionalnya. Pembuatan Mobile Web memerlukan aplikasi dari pihak ketiga yang bersifat shareware maupun free ware. Aplikasi yang bebas lisensi adalah MobisiteGalore yang menyediakan domain secara gratis dan pembuatannya sangat mudah. Adapun cara pembuatannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Langkah pertama adalah mengakses situs MobisiteGalore yang beralamat pada www.mobisitegalore.com. Pada halaman situs tersebut akan muncul fitur : Sign Up for free, BuildWith Mobile, Frequently Asked Question (FAQ), Features, News, Media Buss dan Disclaimer. Pada saat ini kita akan membuat Mobile Web maka klik fitur Sign Up for free maka akan tampil halaman seperti gambar 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar 1. Tampilan Sign Up for Free)&lt;br /&gt;Data diri pada kolom yang telah tersedia wajib terisi untuk mendapatkan Akun Mobisite Galore. Pada Contact Information tersedia kolom yang meliputi : First Name (nama awal), Last Name (nama akhir), Country (Pilih Asal Negara), Email Addres (Alamat Email), What Is your Line Of Bussines (Jenis  profesi), Why You Building a Mobile Website (alasan membuat Mobile Web), How Did You Find Us? (Pilih internet). Sedangkan pada Account Information terdiri dari kolom : User name (Isi dengan nama yang hendak kita gunakan pada proses aktivasi Mobile Web), Choose language (Pilihlah English), Beri tanda centang (V) pada kolom I Agree To The Term &amp; Condition. Pastikan semua kolom telah terisi dengan benar. Selanjutnya Klik Submit untuk mengirimkan data diri tersebut ke server mobilesitegalore. Tunggu beberapa saat hingga muncul pemberitahuan bahwa proses registrasi berhasil. &lt;br /&gt;2. Selanjutnya Klik hiperlink Start Building Your Mobile Website yang terletak di pojok bawah. Maka akan muncul berbagai pilihan Template Mobile Web. Pilih template yang sesuai dengan kebutuhan. Klik Next maka akan tampil halaman Customize Design. Template tersebut dapat dimodifikasi sehingga tampilannya sesuai dengan kebutuhan. Terdapat tiga pilihan, yakni :&lt;br /&gt;a) Change Color yang berfungsi mengganti warna header.&lt;br /&gt;b) Edit Header yang berfungsi merubah tulisan header pada template. Dapat  pula ditambahkan gambar atau logo dengan cara meng-uploadnya. Apabila tulisan header telah berubah maka klik Apply Change untuk menampilkan perubahan tersebut. Sedangkan untuk mengganti hasil perubahan tersebut maka klik Remove Text.&lt;br /&gt;c) Edit Title &amp; Footer yang berfungsi merubah tulisan pada Judul dan catatan kaki pada Mobile Web. &lt;br /&gt;Tampilan template setelah mengalami perubahan tampak pada gambar 2. Selanjutnya Klik Next.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar 2. Tampilan Customize Design)&lt;br /&gt;3. Proses selanjutnya adalah menambahkan fitur-fitur pada Mobile Web. Di halaman Add Pages To Your Mobile Website hanya dapat memodifikasi fitur-fitur pada template yang telah pilih sebelumnya. Fitur tersebut dapat dirubah sesuai dengan kebutuhan. Caranya cukup mudah yakni : Klik fitur About Us lalu klik tanda &gt;&gt; maka secara otomatis fitur tersebut akan berpindah ke kolom Pages Name.  Rubahlah Pages Name About Us menjadi Tentang Kami. Hal yang sama dilakukan untuk memodifikasi fitur-fitur lainnya. Selanjutnya Klik Submit untuk menampilkan perubahan tersebut.  &lt;br /&gt;4. Proses berikutnya adalah memberikan conten pada Mobile Web yang telah kita buat. Pada halaman Add Content Home Page yang ditampilkan pada gambar 3 terdapat komponen taskbar yang berfungsi sebagai berikut :&lt;br /&gt;No Komponen Taskbar Fungsi&lt;br /&gt;1 . Clear Menghapus teks, karakter, angka pada proses input&lt;br /&gt;2. Cut Menggandakan text, karakter, angka&lt;br /&gt;3. Copy Menggandakan text, karakter, angka&lt;br /&gt;4. Paste Menggandakan text, karakter, angka&lt;br /&gt;5. Undo Membatalkan perintah dan kembali ke perintah sebelumnya&lt;br /&gt;6. Redo Membatalakan perintah Undo&lt;br /&gt;7. Link Menghubungkan teks, karakter, angka dengan sebuah file.&lt;br /&gt;8. Image Meng-upload gambar.&lt;br /&gt;9. Goodies Menambahkan gambar emosi&lt;br /&gt;10. Upload File Meng-upload file&lt;br /&gt;11. E-Commerce Aktivasi  e-commerce&lt;br /&gt;12. Advertising Aplikasi untuk memberikan space iklan&lt;br /&gt;13. Audio Video Meng-upload file audio dan video&lt;br /&gt;14. Text Style Menata tampilan paragraf&lt;br /&gt;15. T Size Merubah ukuran Karakter&lt;br /&gt;16. Bold Menebalkan karater&lt;br /&gt;17. Italic Memiringkan karakter&lt;br /&gt;18. Underline Memberikan garis bawah pada karakter&lt;br /&gt;19. Align Left Rata Kiri&lt;br /&gt;20. Center Memposisikan teks ke tengah&lt;br /&gt;21. Align Right Rata kanan&lt;br /&gt;22. Numbering Memberikan penomoran&lt;br /&gt;23. Bullet Memberikan simbol/tanda&lt;br /&gt;24. Decrease Indent Indensi Keluar&lt;br /&gt;25. Increase Indent Indensi Masuk&lt;br /&gt;26. Spell Check Mengecek ejaan&lt;br /&gt;27. Edit HTML Mengedit rumus HTML&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Cara Mengedit Isi Konten :&lt;br /&gt;Halaman Home page  pada template yang telah kita rubah sebelumnya akan menampilkan 7 (tujuh) fitur yang diantaranya : &lt;br /&gt;a) Tentang kami : berisi informasi pelayanan yang diberikan perpustakaan&lt;br /&gt;b) Info Sirkulasi : berisi informasi transaksi peminjaman&lt;br /&gt;c) Info buku  : berisi daftar buku koleksi terbaru&lt;br /&gt;d) Info Penelitian : berisi informasi penelitian yang menjadi koleksi&lt;br /&gt;e) Kontak Kami : berisi alamat kontak administrator web perpustakaan&lt;br /&gt;f) Jasa Rujukan : berisi informasi jasa rujukan yang dilayani&lt;br /&gt;g) Kritik dan Saran : Berisi umpan balik dari pengguna kepada perpustakaan&lt;br /&gt;Konten pada fitur tersebut dapat ditambah, dirubah, dikurangi menggunakan komponen taskbar. Semisal kita ingin memperbarui konten Info Sirkulasi maka double klik konten tersebut sehingga muncul form input. Selanjutnya perbarui informasi yang diperlukan. Setelah selesai Klik Submit Changes yang akan menampilkan hasil perubahannya. Lakukan hal yang sama untuk memperbarui konten fitur lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar 3. Tampilan Add Content to Homepage) &lt;br /&gt;5. Langkah Kelima adalah mempublikasikan Mobile Web. MobisiteGalore menawarkan 3 (tiga) pilihan kepada pengunanya untuk mempublikasikan Mobile Webnya. Pilihan pertama apabila pengguna tidak memiliki hosting dan domain. Pilihan Kedua apabila pengguna memiliki Domain namun tidak memiliki Hosting dan Pilihan terakhir apabila pengguna memiliki domain dan hosting. Disarankan bagi perpustakaan yang belum memiliki website ataupun hanya memiliki anggaran yang kecil. Maka pilihan pertama merupakan pilihan yang tepat. Karena MobisiteGalore akan memberikan domain dan hosting secara gratis. Untuk mendapatkannya maka Klik Options pada pilihan pertama. Tunggu sampai muncul perintah : Type in your choice of Name for your Free website Addres. Masukkan alamat Mobile Web yang dikehendaki, semisal : Fordalib. Sehingga alamat lengkap Mobile Web kita adalah : www. Fordalib.param.mobi. Selanjutnya Klik Submit untuk menyimpan alamat tersebut diserver MobisiteGalore.&lt;br /&gt;6. Langkah terakhir adalah mendaftarkan Mobile Web pada Mesin Pencari. Adapun Form yang ditawarkan MobisiteGalore seperti tampilan gambar 4. Isikan data pada kolom yang tersedia meliputi : Title, Description dan Website Addres. Selanjutnya pilihlah kategori yang mencerminkan isi web/instansi. Pada  pilihan kategori setidaknya terdapat 2 (dua) pilihan berdasarkan prioritas. Seteleh selesai Klik Submit. Tunggulah beberapa saat sampai muncul pemberitahuan dari server mobisiteGalore bahwa Mobile Web yang dibuat telah berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar 4. Tampilan Seacrh Engine Submission &amp; Directory Listing)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Untuk memastikan Mobile Web telah berfungsi maka cobalah mengaksesnya melalui ponsel yang terkoneksi internet. Aktifkan GPRS pada ponsel untuk koneksi ke internet.  Format aktivasi tergantung pada kebijakan masing-masing operator seluler. Format GPRS_Merk Hp_Tipe Ponsel kirim ke 9667 untuk operator XL, GPRS_Nomor kartu kirim ke 6616 untuk operator Telkomsel. Selanjutnya browser opera mini untuk mengakses alamat Mobile Web yang telah dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Penutup&lt;br /&gt; Pemanfaatan teknologi secara adaptif dan inovatif akan memberikan nilai tambah bagi suatu instansi. Kemajuan teknologi merupakan peluang sekaligus tantangan bagi perpustakaan dalam menyebarkan informasi. Penyebaran informasi merupakan salah satu fungsi melekat pada perpustakaan. Salah satu media penyebaran informasi yang digunakan perpustakaan adalah website. Media ini memungkinkan pengguna perpustakaan untuk mengakses informasi tanpa terbatas ruang dan waktu. Namun disaat semakin meningkatnya penggunaan ponsel untuk mengakses internet, perpustakaan perlu mengantisipasi hal tersebut dengan merintis layanan informasi berbasis teknologi mobile. &lt;br /&gt;Sudah saatnya perpustakaan yang membuat websitenya berbasis teknologi mobile. Saat ini telah beredar luas aplikasi berbasis teknologi mobile yang dapat dimanfaatkan perpustakaan dalam menyebarkan informasi. Aplikasi tersebut bersifat shareware dan freeware, salah satunya adalah MobisiteGalore. Situs ini menawarkan aplikasi pembuat mobile situs sekaligus doman dan hosting secara free ware. Langkah pembuatannya pun mudah karena situs ini memberikan template yang dapat dimodifikasi penggunanya. Diharapkan penggunaan Mobile Web dapat menunjang pelayanan perpustakaan dalam menyebarkan informasi berbasis teknologi mobile. Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;--. Infokomputer edisi Januari 2010.&lt;br /&gt;--. www.Mobsiteforge.com diunduh 25 Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-3716061801475284939?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/3716061801475284939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/membuat-mobile-website.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/3716061801475284939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/3716061801475284939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/membuat-mobile-website.html' title='Membuat mobile website'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-1174580060497051885</id><published>2011-06-21T04:41:00.001-07:00</published><updated>2011-06-21T04:41:52.047-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'></title><content type='html'>Pengembangan Jabatan Fungsional Pustakawan di Badan Litbang Kehutanan :&lt;br /&gt; Hambatan dan Tantangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rattahpinusa&lt;br /&gt;I. Pengantar.&lt;br /&gt; Eksistensi jabatan fungsional (jabfung) pustakawan mungkin belum begitu dikenal di Kementerian Kehutanan. Namun eksistensinya telah mendapat pengakuan dari pemerintah dengan memasukkan Pustakawan kedalam rumpun jabatan fungsional. PP No 16/1994 tentang jabatan fungsional PNS. Pustakawan merupakan pegawai negeri sipil yang diberikan tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit-unit  perpustakaan dokumentasi dan informasi (pusdokinfo) diinstansi pemerintah dan atau unit tertentu lainya. Secara organik jabfung pustakawan lingkup Kementerian Kehutanan berada pada Badan Litbang Kehutanan (Balitbanghut). Dalam kegiatan penelitian, pustakawan berperan membantu menyediakan data dan literatur kepada peneliti serta mengelola publikasi hasil-hasil  penelitian.&lt;br /&gt; Sudah satu dasawarsa jabfung pustakawan di Balitbanghut, namun perkembangannya sangat lambat. Data statistik Balitbanghut tahun 2009 menunjukkan bahwa : jumlah keseluruhan pustakawan berjumlah 15 (lima belas) orang yang terdiri dari 7 pustakawan dan 8 calon pustakawan. Persebarannya pun tidak merata karena hampir separuh pustakawan bertugas di Perpustakaan Sekretariat Balitbanghut. Jumlah tersebut juga jauh dari kondisi ideal karena  Peneliti : Teknisi : pustakawan rasionya berbanding 32 orang : 22 orang : 1 orang. Keterbatasan jumlah pustakawan berakibat pada tidak maksimalnya pelayanan informasi kepada peneliti dan teknisi. Karena seorang pustakawan yang bertugas di Unit Pelaksana Teknis (UPT)  harus bekerja ekstra mulai dari : mencari sumber informasi, mengolahnya, mengelola serta menjalankan tugas teknis administrarif yang diberikan atasannya. Idealnya, perpustakaan di UPT dikelola oleh 2 (dua) orang pustakawan, yakni: seorang pustakawan ahli dan seorang pustakawan terampil. Keduanya memiliki tugas yang berbeda karena pustakawan ahli lebih menekankan pada pengembangan konsep pengelolaan dan pelayanan jasa informasi. Sedangkan pustakawan terampil lebih ke aspek teknis. Sedangkan dari aspek kualitas dapat diukur dari jenjang jabatan pustakawan. Dari 15 orang tersebut baru 2 (dua) orang yang memiliki jenjang jabatan pustakawan ahli tingkat pertama sedangkan sisanya berstatus pustakawan terampil dan calon pustakawan ahli. Setidaknya, uraian ini dapat memberikan selintas gambaran terhadap kondisi perkembangan jabfung pustakawan  di Balitbanghut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Pembahasan&lt;br /&gt;A. Hambatan   pengembangan jabfung pustakawan di Balitbanghut.&lt;br /&gt; Terdapat 8 (delapan) orang dari 15 (limabelas) orang yang saat ini berstatus sebagai calon pustakawan.  Hal tersebut terkendala pada kurang tersosialisasinya dengan baik jabatan fungsional pustakawan. Kedelapan orang tersebut berasal dari formasi pustakawan tahun 2005 sebanyak 2  dan tahun 2007 sebanyak 6 orang. Jika merujuk pada petunjuk teknis pustakawan tentang pengangkatan pertama pustakawan maka sejak 2 tahun masa pengangkatan PNS maka seorang calon pustakawan dapat mengajukan usulan untuk diangkat menjadi pustakawan. Hambatan tersebut berasal dari ekstern dan intern seorang calon pustakawan. Faktor ekstern:  Setiap kali diadakan bimbingan teknis (Bimtek) pustakawan oleh Sekretarian Balitbanghut selalu diselipkan materi jabfung pustakawan. Namun informasi yang relatif terbatas tersebut  masih belum mampu memotivasi seorang calon pustakawan menjadi seorang pustakawan. Faktor Intern :  Calon pustakawan kurang proaktif mencari informasi terkait bagaimana prosedur pengajuan jabfung pustakawan?  Apa kelengkapan yang perlu disertakan? Bagaimana kiat agar produktif dalam memperoleh angka kredit?.&lt;br /&gt; Dan secara kualitas, Balitbanghut baru memiliki 2 (dua) orang pustakawan tingkat ahli.    Jika ditinjau dari tinjau produktivitas termasuk kategori rendah. Karena jabfung pustakawan memungkinkan seorang pustakawan naik jabatan dalam kurun waktu 1 (satu) tahun dan pangkat 2 (dua) tahun dengan catatan angka kreditnya memenuhi syarat.  Padahal rentang kenaikan jabatan selisih rata-rata 50 – 100 poin. Jika diasumsikan seorang pustakawan minimal memperoleh 2 poin/perbulan secara konstan maka selama 10 tahun minimal seorang pustakawan mampu mengumpulkan 200 poin. Bukan suatu hal yang mustahil mengingat pustakawan diinstansi lain dapat mengumpulkan angka kredit yang lebih besar lagi. Hambatan tersebut berasal dari minimnya kreativitas pustakawan dalam mengumpulkan angka kredit. Mungkin dia terpaku pada kegiatan rutin teknis yang menghasilkan angka kredit yang rendah. Padahal ada beberapa item kegiatan seperti pengembangan dan pengkajian profesi yang menawarkan hasil angka kredit yang besar. Selain itu, ketiadaan Tim penilai Jabatan Instansi Pustakawan di Balitbanghut turut menghambat laju kenaikan jabatan/pangkat. Karena selama ini, DUPAK Pustakawan Balitbanghut dinilai oleh Tim Penilai Jabatan Nasional dari Perpustakaan Nasioanl. Panjangnya rantai birokrasi dan proses yang berbelit seringkali merugikan pustakawan dalam memperoleh hak-haknya, seperti : periode kenaikan pangkat/jabatan yang mundur akibat lambatnya salinan PAK diterima.&lt;br /&gt;B. Tantangan pengembangan Jabfung Pustakawan &lt;br /&gt; Disyahkannya Undang-Undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan telah memberikan ruang bagi pengembangan perpustakaan dan profesi pustakawan di Indonesia. UU tersebut mensyaratkan jabfung pustakawan merupakan profesional yang memiliki kompetensi dibidang jasa layanan informasi. Profesionalitas tersebut diperoleh dari pendidikan dan pendidikan lanjutan. Maka setiap unit Pudokinfo harus dikelola pustakawan yang telah memenuhi standar kualifikasi yang telah ditentukan. Sejalan dengan hal tersebut maka sepantasnya Balitbanghut mulai menata kembali personelnya yang mengelola  unit pudokinfonya agar sesuai dengan amanat UU tersebut. Kebutuhan Sumberdaya Manusia Pustakawan dapat dipenuhi dengan mendorong calon pustakawan agar segera mengajukan pengangkatan menjadi pustakawan. Maupun merekrut pustakawan melalui jalur Impassing. Maksudnya pegawai yang menimimal berpendidikan Sarjana bidang non perpustakaan yang berminat menjadi pustakawan dapat diikutkan diklat pembentukan pustakawan tingkat ahli yang setiap tahun diadakan Perpustakaan Nasional.&lt;br /&gt; Selain itu, Balitbanghut perlu senantiasa memfasilitasi dan membina pustakawan yang telah ada. Pustakawan lingkup Balitbanghut perlu dibuka wawasanya dan dikembangkan kreativitas menulisnya. Kultur menulis perlu ditularkan kepada pustakawan. Hal tersebut akan membawa dampak positif baik kepada pustakawan maupun instansinya. Pustakawan yang kreatif menulis akan membentuk pola pikir kritis dan sistematis. Selain itu mereka akan jeli menangkap masalah dan memberikan solusi penanganannya dalam konteks pelayanan informasi. Tentunya instansi akan memperoleh input yang positif. Keberadaan media publikasi yang memuat hasil  ide, gagasan dan inovasi yang lahir dari pemikiran pustakawan lingkup  Balitbanghut perlu segera dirintis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Penutup.&lt;br /&gt;Keberadaan pustakawan dilingkungan riset masih diperlukan kontribusinya dalam hal pelayanan informasi. Perkembangan jabfung pustakawan yang relatif lambat di Balitbanghut disebabkan oleh faktor ekstern, yakni : Sosialasi jabfung pustakawan yang masih terbatas cakupannya serta ketiadaan Tim Penilai jabatan dalam instansi. Dan faktor intern seorang pustakawan, yakni: kurang proaktif, kreatif dalam mengembangkan karir.&lt;br /&gt;Keterbatasan  kuantitas pustakawan pada Balitbanghut dapat diatasi dengan mengangkat pustakawan melalui jalur impassing. Sedangkan keberadaan media publikasi dibidang pusdokinfo serta menularkan budaya menulis diyakini mampu meretas kebuntuan produktivitas pustakawan dalam memperoleh angka kredit. Disamping itu, seorang pustakawan disarankan menjadi sosok yang kreatif, inovatif dan proaktif dalam profesinya dengan manajemen waktu yang baik. Sekian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-1174580060497051885?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/1174580060497051885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/pengembangan-jabatan-fungsional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/1174580060497051885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/1174580060497051885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/pengembangan-jabatan-fungsional.html' title=''/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-5693336041284055908</id><published>2011-06-21T04:39:00.000-07:00</published><updated>2011-06-21T04:40:28.572-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'></title><content type='html'>TINJAUAN DALAM MENATA RUANGAN PERPUSTAKAAN&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;Rattahpinusa HH&lt;br /&gt;I. Latar Belakang.&lt;br /&gt; Tugas perpustakaan adalah mengumpulkan, mengolah dan menyebarluaskan informasi tercetak dan non cetak kepada pengguna. Perpustakaan sebagai pusat informasi dituntut selalu siap memberikan pelayanan kepada pengguna. Hal tersebut tercapai jika perpustakaan memiliki sarana berupa: gedung, peralatan, tenaga dan biaya yang memadai. Dalam konteks pelayanan prima maka perpustakaan mutlak memberikan kepuasan kepada penggunanya. Karena produk dari perpustakaan adalah jasa. Kepuasan pengguna merupakan hal yang abstrak namun dapat diukur melalui indikator pengukur kepuasan. Salah satu indikatornya adalah minimnya keluhan pengguna terhadap pelayanan perpustakaan. &lt;br /&gt; Infrastruktur yang representatif, aman dan nyaman menjadi kriteria ideal bagi terciptanya kepuasan pengguna. Dapat dibayangkan betapa sulitnya menciptakan suasana yang nyaman untuk membaca jika ruangan perpustakaan memiliki tingkat pencahayaan yang kurang dan tingkat kelembapan yang tinggi serta penataan ruangan yang semrawut. Kondisi tersebut tidak menunjang pengguna dalam membangun konsentrasi membaca. Sebaliknya, apabila ruangan tertata secara rapi dan sistematis dengan pencahayaan dan kelembapan yang cukup sehingga pengguna merasa nyaman. Maka dengan sendirinya kepuasan tersebut tercipta. Untuk mewujudkan hal tersebut maka diperlukan tinjauan yang menelaah beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam menata ruangan perpustakaan.&lt;br /&gt;II. Pembahasan&lt;br /&gt;A. Prinsip Penataan Ruangan Perpustakaan.&lt;br /&gt; Membangun konsentrasi membaca dipengaruhi oleh beberapa aspek baik internal maupun eksternal. Aspek eksternal seperti : ruangan yang nyaman dan suasana yang lengang dapat mempercepat proses terbangunnya konsentrasi membaca. Aspek tersebut terkait erat dengan kepiawaian pustakawan mengelola ruangan perpustakaan yang mencakup desain interior dan eksteriornya. Untuk mencapai tujuan tersebut maka perlu memperhatikan beberapa prinsip dasar penataan ruangan peprustakaan sebagai berikut : &lt;br /&gt;1. Aspek Efisiensi  : &lt;br /&gt;Dalam mendesain interior dan eksterior ruangan perpustakaan maka pustakawan harus mempertinbangkan aspek efisiensi. Hal tersebut akan bermanfaat untuk menekan operasional perpustakaan di masa mendatang. Kita mahfum bahwa perpustakaan merupakan unit pelayanan yang bersifat non profit. Dan anggaran perpustakaan di beberapa organisasi mendapat porsi yang kecil. Sementara beban daya listrik untuk penerangan dan pendinginan menyedot anggaran yang signifikan. Padahal perpustakaan dituntut senantiasa menyisihkan anggarannya untuk pengadaan buku-buku baru.&lt;br /&gt;Maka aspek efisiensi daya akan membantu perpustakaan dalam menekan biaya operasionalnya. Langkah efisensi daya adalah: memperbanyak jendela yang berfungsi mengatur sirkulasi udara sekaligus menambah sumber pencahayaan alami yang bersumber dari matahari. Keuntungan lain dari efisiensi daya dengan memanfaatkan sumber alami adalah lebih ramah lingkungan.&lt;br /&gt;2. Aspek Fungsional :&lt;br /&gt;Hendaknya perabotan yang digunakan dalam perpustakaan mempunyai fungsi menunjang kinerja pelayanan perpustakaan. Hindari barang-barang yang tidak terkait erat dengan kinerja perpustakaan karena akan menyita tempat. Dan disarankan memakai peralatan yang multifungsi seperti : komputer yang dapat digunakan sebagai alat adminstrasi pengelolaan perpustakaan sekaligus difungsikan sebagai sarana penelusuran elektronis. Dan printer yang memiliki fungsi printer, scanner, kopier dan fax.&lt;br /&gt;3. Aspek Ekonomis  :&lt;br /&gt;Hendaknya dalam memilih perabotan perpustakaan mengacu pada aspek ekonomis yang merujuk pada kualitas, aksesbilitas dan perawatanya. Semisal dalam pembuatan rak buku. Secara kualitas bahan baku besi lebih kuat dari pada kayu jati. Namun jika perolehannya (aksesbilitas) dan perawatanya lebih ekonomis bahan baku dari kayu. Maka pilihan rak buku yang terbuat dari kayu merupakan pilihan yan tepat.&lt;br /&gt;B. Standar penataan ruangan perpustakaan.&lt;br /&gt;     Standarisasi diperlukan pada berbagai aspek termasuk pelayanan perpustakaan. Hal ini penting untuk menjamin keseragaman mutu pelayanan perpustakaan. Ilmu perpustakaan memiliki standar minimal pada aspek tata ruang perpustakaan. Standarisasi dalam penataan ruangan perpustakaan mengacu pada Indian Standard Recommendation Relating to Primary element in The design of Library Building (1977) dalam Sulistyo Basuki (1991). Hal ini untuk menjamin ketersediaan ruang yang sesuai dengan standar minimal operasional perpustakaan. Dalam dokumen tersebut dinyatakan bahwa setidaknya perpustakaan memiliki minimal tiga ruangan yang terbagi atas: &lt;br /&gt;1. Ruangan dokumen/bahan pustaka yang menampung 150 volume/m2.&lt;br /&gt;2. Ruangan staf perpustakaan untuk kegiatan klasifikasi, katalog dan pengadaan memiliki luas minimal 9 m2. Sedangkan ruangan untuk staf administrasi/profesional; yang tidak bertugas dibidang jasa seluas 5 m2.&lt;br /&gt;3. Ruangan pemakai memiliki luas rata-rata per-pembaca seluas 2,33 m2.&lt;br /&gt;    Dan sistem pengukuran yang digunakan dalam penataan ruangan perpustakaan menggunakan sistem modular. Sistem ini menjamin keakurasian tata letak ruang dan perabot karena ukuran ruangan, perabot dan perkakas berbentuk modul/perkalian 10 cm. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;C. Langkah penataan ruangan perpustakaan.&lt;br /&gt;1. Merencanakan sistem pelayanan yang akan dipakai.&lt;br /&gt;Sistem pelayanan pada perpustakaan perlu direncanakan sejak awal. Hal ini akan berpengaruh pada jenis pelayanan dan desain tata letak perpustakaan. Adapun sistem pelayanan terdiri dari 2, yakni : terbuka dan tertutup. Yang membedakan kedua sistem tersebut adalah aksestabilitas. Maksudnya, sistem terbuka memungkin pengguna secara mandiri untuk menelusur informasi sekaligus menemukan buku yang diinginkannya dan pustakawan bertindak sebagai fasilitator saja. Berdasarkan pengamatan terhadap luas ruangan dan sumberdaya manusia maka seyogyanya perpustakaan Balai Penelitian Kehutanan Kupang (BPKK) menerapkan sistem terbuka. Keuntungan sistem ini adalah :&lt;br /&gt;a. Pengguna leluasa mengakses, menelusur dan menemukan informasi sesuai kebutuhannya.&lt;br /&gt;b. Tidak banyak memerlukan tenaga pustakawan untuk mengoperasikan sistem ini. Pustakawan dapat fokus melayani sirkulasi dan pengolahan pustaka.&lt;br /&gt;c. Penataan ruang perpustakaan lebih fleksibel karena ruang baca, koleksi dan sirkulasi terintegrasi. &lt;br /&gt;Namun keuntungan tersebut bukan berarti sistem ini tidak memiliki kelemahan. Satu aspek yang perlu diperhatikan adalah sistem keamanan. Peluang hilangnya koleksi relatif besar karena pengguna memiliki akses yang luas terhadap koleksi. Untuk mengantisipasi hal tersebut adalah memberlakukan one gate system, yaitu: arus keluar masuk pengguna hanya melalui satu pintu dengan pengawasan pustakawan.&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi kebutuhan ruangan dan alat.&lt;br /&gt;Kebutuhan Interior ruangan mempertimbangkan aspek :&lt;br /&gt;a. Sirkulasi Udara.&lt;br /&gt;    Ruangan perpustakaan memerlukan sistem sirkulasi udara yang baik. Sirkulasi udara yang buruk menyebabkan tingkat kelembapan tinggi dan merangsang pertumbuhan jamur. Kupang (Nusa Tenggara Timur) yang beriklim semi arida rentan terhadap perubahan suhu yang ekstrim antara siang dan malam. Sehingga penggunaan Air Condationer (AC) diperlukan untuk menjaga kestabilan suhu ruangan.&lt;br /&gt;b. Pencahayaan.&lt;br /&gt;Membaca memerlukan pasokan cahaya yang memadai. Pencahayaan dapat diperoleh melalui 2 (dua) sumber, yaitu: alami (sinar matahari) dan elektrik (lampu). Sumber alami diperoleh dengan cara membuat jendela-jendela berukuran besar dengan menggunakan bahan tembus pandang. Sehingga sinar matahari mampu menjangkau keseluruh ruangan. Sedangkan sumber elektrik diperoleh melalui pemasangan lampu hemat energi pada titik tertentu. Lampu hemat energi memiliki keuntungan daya yang dikeluarkan kecil dan menghasilkan penerangan optimal. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kebutuhan Peralatan&lt;br /&gt;a. Alat penelusuran Informasi.&lt;br /&gt;Pada sistem terbuka maka perlu keberadaaan alat penelusuran baik manual maupun elektonis. Seyogyanya alat penelusuran informasi memiliki criteria : mudah penggunaannya, murah biaya pengadaan dan perawatanya serta akurat hasil penelusurannya. Berdasar criteria tersebut maka alat penelusuran secara manual yang direkomendasikan adalah : catalog, abstrak dan indeks. Sedangkan elektronik menggunakan OPAC versi 1.5.&lt;br /&gt;b. Papan petunjuk.&lt;br /&gt;Keberadaan papan petunjuk diperlukan untuk memandu pengguna perpustakaan. Papan ini memuat informasi tentang jenis koleksi dan nomor kelasnya, jenis dan fungsi ruangan pada setiap bagian ruang perpustakaan. Papan petunjuk dapat dipasang pada sudut kanan atas pada rak dan/atau dipasang menggantung pada langit-langit ruangan.&lt;br /&gt;c. Perabot perpustakaan.&lt;br /&gt; Perabot perpustakaan berupa meja carrel, kursi, rak buku, berfungsi menunjang aktivitas membaca. Adapun criteria perabot perpustakaan adalah fungsional dan ergonomis. Sehingga keberadaan perabot perpustakaan tidak sekedar pemanis namun mempunyai fungsi serta dapat menciptakan penyamanan bagi penggunanya.&lt;br /&gt;d. Alat keamanan &lt;br /&gt;Yang dimaksud alat keamanan disini adalah peralatan yang mampu mencegah kecelakaan/kerusakan yang disebabkan human error maupun sebab lainnya. Potensi kerawanan yang terjadi di perpustakaan adalah kebakaran dan pencurian. Kebakaran bisa disebabkan arus singkat yang akan membakar koleksi buku-buku. Hal ini dapat dicegah dengan memasang double sekring dan alat pemadan kebakaran. Sedangkan pencurian dapat dicegah dengan memasang alat deteksi yang dipasang pada pintu masuk. Alat ini akan bekerja bila mendeteksi logam yang secara sengaja  dipasang pada bagian-bagian tertentu di buku. Biasanya logam kecil berupa kawat pada buku akan diambil oleh pustakawan saat buku tersebut dipinjam secara prosedural. Penggunaan CCTV juga direkomendasikan untuk menekan kehilangan koleksi akibat lemahnya pengawasan pustakawan.&lt;br /&gt;3. Mendesain ruangan dan tata letak peralatan.&lt;br /&gt;Keterbatasan luas ruangan menyebabkan perpustakaan BPK Kupang memiliki tiga ruangan dengan luas minimal. Ketiga ruangan tersebut mengacu pada standar minimal Indian Standard Recommendation Relating to Primary element in The design of Library Building (1977). Demikian halnya perabot penunjang operasional perpustakaan yang berupa : meja resepsionis untuk pelayanan sirkulasi, catalog, seperangkat meja carret dan kursi, rak-rak buku dan koleksi. Ruangan perpustakaan didesain sedemikian rupa sehingga tercipta alur sebagai berikut : &lt;br /&gt;a. Pengguna yang memasuki ruangan akan melapor dan mengisi buku tamu di meja resepsionis. Pengguna dapat sekaligus menelusur secara eletronis menggunakan OPACdi bawah bimbingan pustakawan. Setelah mendapat informasi keberadaaan buku maka pengguna akan langsung menuju ke ruang koleksi. &lt;br /&gt;b. Deretan rak tersebut ditata berdasarkan nomor kelas terkecil sampai nomor terbesar dari kiri ke kanan. Adapun koleksi perpustakaan BPK Kupang terdiri atas 4 buah koleksi, yakni : Koleksi Referensi  berupa : Kamus, Handbook, Abstrak dan Ensiklopedi yang terletak dekat meja Carrel; Koleksi Umun berupa : buku computer, hukum, sosial, murni, kehutanan yang tersimpan pada rak yang berjajar berurutan dari kiri ke kanan dekat  meja sirkulasi, Koleksi Majalah dan Jurnal serta Koleksi Deposit yang berisi terbitan-terbitan khas BPK Kupang,&lt;br /&gt;c. Setelah pengguna berhasil menemukan buku maka dia dapat membaca pada ruang baca yang terletak disebelah kanan dari pintu masuk. Sedangkan jika pengguna berniat meminjam buku tersebut maka dapat menghubungi pustakawan di meja sirkulasi.&lt;br /&gt;Ketiga alur tersebut lebih mudah dipahami melalui gambar desain ruangan yang menjadi lampiran makalah ini.&lt;br /&gt;III. Penutup.&lt;br /&gt;Ruangan perpustakaan yang nyaman dan aman akan menunjang terciptanya konsentrasi baca. Berdasarkan perkembangan organisasi maka perpustakaan BPK Kupang harus merombak ulang ruangan perpustakaan untuk menyesuaikan perubahan tersebut. Dalam menata ulang ruangan perpustakaan BPK Kupang berdasarkan tiga prinsip dasar yakni : Efisien, Fungsional dan Ekonomis. Serta mengacu pada Indian Standard Recommendation Relating to Primary element in The design of Library Building. Dan makalah ini telah menguraikan langkah apa saja yang perlu dilakukan pada proses menata ulang ruangan perpustakaan. Adapun ide-ide desain ruangan perpustakaan BPK kupang disajikan dalam gambar (lampiran).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta. Gramedia, 1991&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-5693336041284055908?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/5693336041284055908/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/tinjauan-dalam-menata-ruangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/5693336041284055908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/5693336041284055908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/tinjauan-dalam-menata-ruangan.html' title=''/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-4250099282703825190</id><published>2011-06-21T04:38:00.000-07:00</published><updated>2011-06-21T04:39:42.105-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'></title><content type='html'>PEMANFAATAN KEPUSTAKAAN KELABU BAGI PENELITIAN&lt;br /&gt;Penyusun :&lt;br /&gt;Rattahpinusa&lt;br /&gt;Balai Penelitian Kehutanan Kupang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pengantar. &lt;br /&gt;Penelitian merupakan proses yang melibatkan 3 komponen yakni: data, metode dan sumberdaya manusia (peneliti). Sebagai kesatuan integral, ketiga komponen tersebut memposisikan peneliti pada letak strategis. Peneliti merupakan brainware yang bertugas mengumpulkan, menganalisis dan mengintepretasi data serta merumuskan hasil ilmiah. Salah satu outputnya berupa dokumen ilmiah, yakni : kertas kerja, proseding, makalah, laporan penelitian. Dokumen-dokumen ilmiah tersebut lebih dikenal dengan istilah pustaka kelabu (grey literature).&lt;br /&gt; Pustaka kelabu dapat dijadikan sumber rujukan alternatif dalam komunitasi ilmiah. Dokumen tersebut memiliki kelebihan, yakni: produksi lebih cepat karena prosesnya efisien. Tetapi proses tersebut tidak mengabaikan prosedur standar ilmiah yakni: melalui peer-review. Merujuk pada produksi publikasi ilmiah di CIFOR yang dilakukan secara berjenjang. Awal produksi dimulai dengan penyusunan working paper untuk mendapatkan masukan dari peneliti lain. Selanjutnya proses beranjak ke peer-review yang dilakukan oleh reviewer diluar CIFOR yang Ahli dibidangnya. Dan pendistribusian dokumen tersebut dapat bersifat formal melalui forum ilmiah maupun informal melalui internet. (Yuan Oktafian &amp; Luluk Suhada; 2005). Proses kerja yang sistematis dan efisien tersebut akan berimbas pada tingginya nilai keterbaruan (currently) informasi dokumen ilmiah. &lt;br /&gt;Namun pemanfaatan pustaka kelabu sebagai rujukan penelitian masih minim. Kendala pertama adalah persepsi peneliti yang menganggap pustaka kelabu tidak melalui prosedur ilmiah. Walaupun kenyataanya bahwa publikasi pustaka kelabu terbitan lembaga penelitian yang kredibel seperti CIFOR, World Bank, FAO, Forest Trends, RECOFTC telah melalui proses peer-review. Kendala kedua adalah keterbatasan akses terhadap sumber-sumber penyedia pustaka kelabu. Sehingga menyulitkan peneliti untuk mendapatkannya. Seyogyanya, pemanfaatan pustaka kelabu di Indonesia harus lebih didorong. Karena hasil penelitian Gibbs (1995) dalam Sulistyo Basuki (2004) menyatakan bahwa Indonesia hanya menghasilkan tulisan ilmiah sebesar 0,012% di antara negara-negara lain penghasil tulisan ilmiah. Diharapkan pemanfaatan pustaka kelabu dapat mendorong produktivitas peneliti dalam menghasilkan karya ilmiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Definisi dan Ciri Pustaka Kelabu. &lt;br /&gt;Peneliti pada umumnya tidak asing dengan istilah kertas kerja, prosiding maupun laporan penelitian. Namun hanya sebagian kecil komunitas ilmiah di Indonesia yang mengenal istilah pustaka kelabu. CP Auger (1989) dalam Adi Prasetyo (2009) mendefinisikan pustaka kelabu sebagai “Bahan pustaka yang tidak tersedia di deretan buku untuk dijual (non commercial printed material), fisik luar (cover) pencetakan &amp; penjilidan sederhana dibuat untuk keperluan khusus atau untuk kalangan terbatas, misalnya: Proseding, disertasi, bibliografi, Laporan dan sebagainya”. &lt;br /&gt;Dari pengertian diatas, setidaknya kita memiliki gambaran bahwa pustaka kelabu memiliki sifat ekslusif dan memiliki nilai informasi yang tinggi. Karena publikasi ini ditujukan untuk melayani komunitas ilmiah dengan menyajikan data yang komprehensif dan topik yang menarik. Ceruk pasar yang terbatas tersebut membuat penerbit tidak tertarik untuk memproduksinya secara massal untuk tujuan komersial. Hal substansial tersebut merupakan garis pembeda antara pustaka kelabu dengan pustaka lainnya. Selain perbedaan tersebut, pustaka kelabu memiliki beberapa ciri antara lain:  &lt;br /&gt;1. Merupakan terbitan dalam bentuk cetak maupun non cetak.&lt;br /&gt;2. Diterbitkan oleh perhimpunan, lembaga, assosiasi dan badan korporasi lainnya yang tidak memiliki kegiatan utama dalam bidang penerbitan.&lt;br /&gt;3. Semua dokumen itu tidak dapat diperoleh melalui saluran terbuka (melalui toko buku).&lt;br /&gt;4. Bahan pustaka hasil seminar, temu ilmiah dan sejenisnya yang tidak dapat dicari melalui perdangangn umum.&lt;br /&gt;5. Literature yang diterbitkan dalam jumlah terbatas dan tidak disebarluaskan kepada umum seperti yang berlaku pada bahan pustaka lain sehingga untuk memperolehnya perlu dilakukan upaya tertentu dan pendekatan kepada lembaga yang menerbitkannya. (KepMenristek dalam Adi Prasetyo (2009))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Bagaimana Memanfaatkan Pustaka Kelabu.&lt;br /&gt;Dalam pemanfaatan pustaka kelabu, kita perlu mengidentifikasi jenis dan sumber informasi yang dibutuhkan serta metode penelusurannya. Sehingga pemanfaatannya bisa optimal. Berdasarkan jenisnya, pustaka kelabu memiliki 2 (dua) bentuk, yakni : tercetak dan non cetak. Bentuk tercetak berupa kertas kerja, proseding, kumpulan rapat kerja. Pustaka kelabu tersebut merupakan hasil dari berbagai forum ilmiah. Kita dapat menelusur informasinya secara manual menggunakan bibliografi yang diterbitkan lembaga penelitian/assosiasi ilmiah/pusat informasi penelitian. Sedangkan bentuk non cetaknya dapat berupa database hasil penelitian. Salah satunya adalah:  CD-ROM AGRIS yang berisi bibliografi hasil penelitian negara anggota FAO. Kebanyakan jenis publikasi dalam bibliografi tersebut berbentuk pustaka kelabu. Pembentukan AGRIS bertujuan memfasilitasi pertukaran informasi bidang pertanian antar negara anggotanya. Database bibliografi ini menyimpan potensi informasi yang besar. Karena memuat publikasi ilmiah dari 116 negara dan 31 pusat internasional/pemerintahan anggota PBB yang ikut ambil bagian dan mengajukan sekitar 14.000 item tiap bulannya. “ekakusmayadi.wordpress.com/learning/kiat penelusuran/ diunduh tanggal 4 Mei 2010”. Selain itu pustaka kelabu non cetak dapat diketemukan melalui internet. Salah satunya adalah GreyLIT Network (www.osti.gov/graylit) yang merupakan portal terhadap 100.000 dokumen Federal. Di Eropa terdapat EAGLE (European Association for Grey literature in Europe, http://www.kb.nl/infolev/eagle/frames.htm) yang merupakan suatu kerjasama untuk mengindentifikasi grey literature dan saat ini sudah berhasil mengidentifikasi lebih dari 550.000 dokumen. (Yuan Oktafian &amp; Luluk Suhada; 2005).&lt;br /&gt;Pada proses penelusuran informasi khususnya pustaka kelabu, Kita seringkali mengalami kendala tentang dimana sumber informasi berada dan bagaimana cara menelusurnya. Indeks dapat kita gunakan untuk menelusur informasi secara manual. Indeks ditetapkan berdasarkan unsur kata kunci dari informasi akan kita telusur. Cakupan informasi pada indeks meliputi : keterangan lokasi tentang nama pengarang, judul karangan dan judul majalah, tahun, nomor serta halaman dimana karangan tersebut berada. (Rattah: 2008). Sedangkan penelusuran otomasi secara Off-line kita akan dibantu dengan alat penelusuran seperti CDS/ISIS. Penggunaanya pun relatif mudah karena software tersebut dilengkapi fasilitas penelusuran berbasis Boolean. Pada penelusuran secara online, kita dapat menggunakan 3 (tiga) Metode yakni: Browsing, Uniform Resources Locator (URL) dan menggunakan mesin pencari. Adapun perbedaan dan teknis kerja dari ketiga metode tersebut menurut Burhan (2003) adalah :&lt;br /&gt;a. Browsing merupakan metode untuk menjelajahi berbagai web dalam internet. Namun cara ini kurang efektif dan efisien. Karena kita menelusur informasi secara bebas tanpa ada pedoman. Dapat diibaratkan kita pergi kesuatu tempat tanpa mengetahui lokasi tempat tersebut berada. Maka hasil penelusurannya pun tidak optimal dan memboroskan waktu.&lt;br /&gt;b. Uniform Resources Locator merupakan tata cara baku dalam menuliskan alamat lokasi tujuan atau sumberdaya dalam internet, seperti newsgroup atau sebuah file. Metode ini efektif menelusur informasi jika kita telah mengetahui alamat world wide web (www) yang menyimpan informasi dimaksud. Lokasi dimaksud dapat diakses dengan mengetikkan alamat dengan format www.alamat situs.nama domain (com, gov, ac.id, org) pada browser.&lt;br /&gt;c. Search Engine merupakan Tehnik pencarian informasi diinternet dengan memakai perangkat lunak yang secara otomatis akan menelusuri semua isi web. Perangkat lunak ini kemudian akan membangun daftar atau indeks dari seluruh halaman informasi yang tersedia dalam internet. Tujuannya adalah mempermudah pengguna dalam melakukan pencarian informasi diinternet. Jenis software yang biasa digunakan sebagai search engine adalah Yahoo, alvista, google. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Pola Sitiran Pada Pustaka Kelabu.&lt;br /&gt; Pada dasarnya karya ilmiah tidak berdiri sendiri. Namun karya tersebut mengacu pada karya ilmiah yang sebelumnya telah ada. Demikian halnya apabila kita mengacu sebuah karya ilmiah yang merupakan jenis pustaka kelabu. Maka sumber tersebut wajib dicantumkan sesuai kaidah dan etika keilmuan. Dan pustaka kelabu sebagai daftar pustaka memiliki beberapa pola.  Adapun pola sitirannya tersebut dalam Budilaksono (2009) sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Susunan sitiran pada prosiding secara berturut-turut terdiri : Nama Penulis, tahun terbit, Judul Artikel, Didalam: Nama editor, Judul Publikasi/nama pertemuan ilmiah atau keduanya, tempat pertemuan, tanggal penemuan, nama penerbit, tempat terbit, halaman terbit.&lt;br /&gt;Contoh : Wery, L.M.I Sudirman &amp; A.W. Gunawan. 1994. Pertumbuhan dan Perkembangan Schizopyllum Commune In Vitro Dan In Vivvo. Dalam: Peranan Mikrobiologi Dalam Industri Pangan. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan, Bogor, 20 Agustus 1994. Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia Cabang Bogor. Bogor. Hlm 170-171&lt;br /&gt;2. Pola sitiran  pada Disertasi/Thesis/Skripsi secara berturut-turut terdiri : Nama Penulis, tahun terbit, Judul Artikel, Jenjang Program pendidikan yang sedang ditempuh, Instiusi pendidikan, tempat terbit. Keterangan publikasi.&lt;br /&gt;Contoh : Nugroho, B. 2003. Kajian Institusi Pelibatan Usaha Kecil Menegah Industri Pemanenan Hutan Untuk Mendukung Pengelolaan Hutan Produksi Lestari. Disertasi Doktor. Program Pasca Sarjana, IPB. Bogor.(tidak diterbitkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pola sitiran  pada internet secara berturut-turut terdiri : Nama Penulis, tahun terbit, Judul Artikel, sumber artikel. Tanggal Akses&lt;br /&gt;Contoh : Nitra. 2002. Sebelum Radikal Bebas Membunuh, Mencegah Kanker Dengan Daun Cereme. Website :http://www.minggupagi.com/article.Diakses tanggal 5 Maret 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pola sitiran  pada CD-ROM edisi tunggal secara berturut-turut terdiri : Nama Penulis, tahun terbit, Judul Artikel, media penyimpanan . lembaga, tempat terbit&lt;br /&gt;Contoh : Sheeby,D. Eds. 1997. Robert Frost: Poems, Life, Legacy. CD RROM. Holt. New York&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Penutup&lt;br /&gt; Kemajuan teknologi yang dinamis menyebabkan ledakan informasi sekaligus momentum bagi pemanfaatan pustaka kelabu. Selama ini, potensi informasi pada pustaka kelabu belum dimanfaatkan secara optimal. Kendalanya adalah aksesnya yang terbatas dan sifatnya ekslusif. Namun peneliti dapat menggunakannya sebagai sumber informasi alternatif. Berbekal pengetahuan yang memadai tentang jenis, sumber informasi, metode maka pemanfaatan pustaka kelabu akan optimal.. Diharapkan hal tersebut akan bermuara pada meningkatnya produktivitas peneliti dalam mengeluarkan publikasi ilmiah. Sekian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Adi Prasetyo. 2009. Pemanfaatan Grey Literature di Perpustakaan. Buletin Perpustakaan Unair Vol, III No.2. Surabaya, Unair Press.&lt;br /&gt;Budilaksono. editor. 2009. Pedoman Penyajian Karya Tulis Ilmiah Lingkupp Badan Penelitian Dan Pengembangan Kehutanan Edisi 2. Jakarta. Departemen Kehutanan.&lt;br /&gt;Burhan. 2003. Kamus Dunia Komputer dan Internet. Suraaya. Arkola.&lt;br /&gt;Ekakusmayadi. 2010. Kiat Menelusur Informasi. Wordpress.com/learning/kiat penelusuran/. Diakses tanggal 4 Mei 2010&lt;br /&gt;Rattahpinusa. 2008. Makalah: Metode Penelusuran Informasi. Kupang. BPKK. Tidak dipublikasikan.&lt;br /&gt;Sulistyo-Basuki. Pengantar Dokumentasi. Bandung. Rekayasa Sains, 2004&lt;br /&gt;Yuan Oktafian &amp; Luluk Suhada. 2005. Layanan Grey literature di Perpustakaan CIFOR. Pada seminar Pemanfaatan E-book dan E- journal untuk Penelitian, Bogor, 26 Juni 2006. Perpustakaan Ardi Koesoema. Bogor, Hlm. 2 &amp; 5&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-4250099282703825190?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/4250099282703825190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/pemanfaatan-kepustakaan-kelabu-bagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/4250099282703825190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/4250099282703825190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/pemanfaatan-kepustakaan-kelabu-bagi.html' title=''/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-4663299354422529314</id><published>2011-06-21T04:37:00.000-07:00</published><updated>2011-06-21T04:38:26.187-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian'/><title type='text'></title><content type='html'>PERAN PERPUSTAKAAN DAERAH KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA BACA &lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;Rattahpinusa HH&lt;br /&gt;Pustakawan Pelaksana Lanjutan&lt;br /&gt;Balai Penelitian Kehutanan Kupang&lt;br /&gt;Jalan Untung Suropati nomor 7 B PO.BOX 69&lt;br /&gt;Abstract&lt;br /&gt;Low illiteracy rate has an impact on the Human Development Index in Timor Tengah Selatan (TTS). This research was carried out to describe public's library role in developing of reading habit. The study was arrange in descriptive kualitatif methods. &lt;br /&gt;The results revealed that public's interest of local community has increased to make use library resources. The results has been shown average visit rate 1.494 person/month and Average loan rate  6.43,5 eksemplar/month. TTS Public Library have several program to developing reading habit. It consist of speeches and reading tale contest also Mobile library service. TTS Public library has been involving public participation. Also cooperation with stakeholder to improving librarian skill and developing collection.&lt;br /&gt;Key words : Developing Reading Habit&lt;br /&gt;Abstrak&lt;br /&gt;Rendahnya tingkat melek huruf di Timor Tengah Selatan (TTS) berdampak rendahnya Indeks Pembangunan Manusia di wilayah tersebut. Tujuan Penelitian ini adalah menggambarkan peran perpustakaan daerah TTS dalam mengembangkan budaya baca. Metode penelitian menggunakan analisis data deskriptif kualitatif. &lt;br /&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya animo masyarakat TTS memanfaatkan Perpusda. Rata-rata tingkat kunjungan masyarakat ke Perpusda TTS mencapai 1.494 orang/bulan dan tingkat peminjaman mencapai 643,5 eksemplat/bulan. Perpusda TTS memiliki beberapa program pengembangan minat baca meliputi: promosi minat baca melalui berbagai lomba, pelayanan mobil perpustakaan keliling. Dalam menjalankan program tersebut, Perpusda melibatkan peran tokoh masyarakat serta menjalin kerjasama dengan Perpustakaan Nasional/Propinsi dalam meningkatkan kapasitas pustakawan dan mengembangkan koleksi.&lt;br /&gt;Kata Kunci : Pengembangan Minat Baca.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Pengantar &lt;br /&gt; Membaca merupakan sarana transfer pengetahuan guna menambah wawasan dan meningkatkan kualitas Sumberdaya Manusia (SDM). Jepang merupakan negara di Asia yang memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2007 mencapai 0,949 (sangat tinggi) dan menempati peringkat ke-10 Dunia memiliki tingkat melek huruf yang tinggi mencapai 99 % pada tahun 2002. Sebaliknya  Indonesia hanya memiliki IPM 0,734 (Wikipedia: 2010). Kondisi tersebut merupakan imbas dari rendahnya tingkat melek huruf dan minat baca. Kondisi tersebut diperparah dengan kesenjangan antara wilayah Indonesia Barat dan Timur dalam akses informasi. Belum mengakarnya budaya baca pada masyarakat propinsi Nusa Tenggara Timur khususnya Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) disebabkan oleh keterbatasan akses informasi, isolasi geografi, rendahnya taraf ekonomi dan pendidikan masyarakat di wilayah ini. Tercatat Indeks Pembangunan Manusia TTS menurut Sensus 2006 mencapai 63,6 yang berada jauh dibawah Indeks Pembangunan Manusia Kota Kupang yang mencapai 74,7 (BPS NTT: 2008). &lt;br /&gt; Pengesahan UU nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan merupakan momentum bagi perpustakaan daerah sebagai agen perubahan di daerah. Pemberlakuan otonomi daerah dan penerapan pasal 20 PP 41 tahun 2007 tentang organisasi perangkat daerah memberikan ruang yang sedikit bagi perpustakaan daerah dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya (tupoksinya). Seringkali perpustakaan dilebur dengan instansi lainnya. Sehingga tupoksi perpustakaan dalam menumbuhkan kembangkan budaya baca di daerah terabaikan. Jika mengacu pada pasal 8 (d) UU nomor 43 tahun 2007 yang berbunyi : ”Pemerintah propinsi/kabupaten berkewajiban menggalakkan promosi gemar membaca dengan memanfaatkan perpustakaan.” Mengacu pada UU tersebut maka perpustakaan daerah memiliki peran yang penting dalam mengembangkan budaya baca di daerah. &lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah :&lt;br /&gt;1.) Apakah perpustakaan daerah TTS telah menjalankan fungsinya ?&lt;br /&gt;2.) Bagaimana Perpustakaan daerah mengembangkan budaya baca di TTS?. &lt;br /&gt;II. METODOLOGI&lt;br /&gt;A. Lokasi dan Waktu&lt;br /&gt; Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2010 di di Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan (Bapusda TTS) jalan Sudirman, SoE. &lt;br /&gt;B. Metode Penelitian&lt;br /&gt;1. Pengumpulan data&lt;br /&gt; Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dengan narasumber kunci (key person). Data yang diperoleh meliputi : kondisi sarana dan prasarana, sebaran pengunjung, sebaran peminjam, sebaran koleksi dan  program pengembangan budaya baca. &lt;br /&gt;2. Analisis data&lt;br /&gt; Data yang diperoleh dari wawancara tersebut selanjutnya dianalisis secara kualitatif menggunakan metode analisis studi kasus.  Metode ini merupakan strategi analisis data yang menekankan pada kasus-kasus khusus yang terjadi pada objek analisis. (Burhan Bungin: 2007 hal. 229). Hasil analisis data tersebut disajikan secara deskriptif naratif guna memperjelas data. &lt;br /&gt;III. ANALISIS DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;A.   Pengunjung.&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu Januari sampai dengan Desember 2009, Bapusda TTS dikunjungi sebanyak 17.933 orang pemustaka.  Rata-rata kunjungan pemustaka  tiap bulannya mencapai 1.494 orang. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat  TTS untuk datang dan membaca buku di perpustakaan. Pengunjung yang datang tersebut berasal dari latar profesi dan pendidikan yang heterogen. Adapun sebaran pengunjung berdasarkan profesi disajikan dalam tabel 1.&lt;br /&gt;Tabel 1. Pengunjung Perpustakaan Daerah TTS Tahun  2009 Berdasar Profesi&lt;br /&gt;No Latar Belakang  Tahun : 2009&lt;br /&gt; Pengunjung 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12&lt;br /&gt;A Profesi                        &lt;br /&gt; 1 Guru 45 25 377 41 40 88 26 36 36 21 32 15&lt;br /&gt; 2 Pelajar 1060 1442 1808 907 1137 1194 452 1063 778 1124 994 484&lt;br /&gt; 3 Mahasiswa 256 266 262 235 160 320 203 155 233 368 302 153&lt;br /&gt; 4 PNS 83 70 81 74 48 120 55 58 58 109 108 63&lt;br /&gt; 5 TNI/Polri 22 5 7 7 4 9 1 6 5 2 1 1&lt;br /&gt; 6 Wiraswasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0&lt;br /&gt; 7 Petani 183 133 135 172 99 161 73 126 140 192 173 129&lt;br /&gt; Jumlah 1649 1941 2670 1436 1488 1892 810 1444 1250 1816 1610 845&lt;br /&gt;Sumber: Data Primer 2009&lt;br /&gt; Frekuensi kunjungan pelajar dan mahasiswa memiliki intensitas tertinggi. Motif mereka mengunjungi perpustakaan adalah mencari buku atau literatur yang mereka butuhkan.  Sebaliknya frekuensi kunjungan terendah adalah TNI/Polri  karena terbentur aktivitas mereka yang padat dan terikat waktu secara ketat. Namun ironisnya, wiraswasta yang memiliki waktu relatif longgar bahkan tidak meluangkan waktu sedikitpun guna mengunjungi perpustakaan. &lt;br /&gt; Antusiasme pengunjung Bapusda TTS turut  mengalami fluktuasi seiring rutinitas yang mereka jalani. Sepanjang tahun 2009 terdapat periode waktu tertentu yang mengalami frekuensi kunjungan tertinggi dan terendah. Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui data statistik diatas. Frekuensi kunjungan tertinggi terjadi pada bulan Maret yang mencapai 2.670 orang. Pengunjung yang datang pada periode tersebut mayoritas adalah Pelajar dan Mahasiswa. Bulan Maret merupakan fase rehat pasca ujian tengah semester bagi pelajar kelas 1 dan 2. Sehingga mereka memanfaatkan waktu luangnya mendatangi Bapusda TTS sekedar membaca buku yang bersifat menghibur. Sebaliknya, pelajar kelas 3 memasuki fase persiapan ujian akhir yang diadakan pada bulan Mei. Fase tersebut menuntut mereka tekun belajar dan menambah pengetahuan baik mengikuti pelajaran tambahan maupun membaca buku.   Sedangkan frekuensi kunjungan terendah terjadi pada bulan Desember. Hal tersebut terkait dengan aktivitas masyarakat TTS yang kesibukan mereka tercurah pada berbagai aktivitas keagamaan menjelang Natal.&lt;br /&gt;B.  Sirkulasi&lt;br /&gt; Sepanjang tahun 2009, Bapusda TTS melayani 1.775 orang peminjam dengan jumlah buku yang dipinjam sebanyak 7.722 eksemplar. Pelajar merupakan peminjam terbesar dan jenis buku yang diminati adalah sastra. Fenomena yang menarik adalah tingginya animo siswa dalam memberdayakan sumber informasi perpustakaan. Namun animo tersebut tidak diiringi oleh antusiasme guru. Selama kurun waktu tersebut, hanya tercatat 75 orang guru yang meminjam buku. Hal tersebut terjadi karena pelajar diarahkan mencari litelatur penunjang di perpustakaan daerah setiap kali mendapat tugas dari gurunya. Sepantasnya guru turut meningkatkan kapasitas pribadinya melalui pendidikan formal/informal maupun menambah wawasan dengan membaca.  Adapun  sebaran peminjam berdasarkan profesi dan jenis buku yang dipinjam pada Perpusda TTS disajikan pada tabel 2.&lt;br /&gt;Tabel 2. Sebaran Peminjam Buku Tahun 2009 Berdasar Profesi&lt;br /&gt;No Latar Belakang Tahun : 2009&lt;br /&gt; Peminjam 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12&lt;br /&gt;I. Profesi                        &lt;br /&gt;  Guru 8 1 4 16 5 9 7 10 7 3 3 2&lt;br /&gt;  Pelajar 100 88 70 71 65 48 38 68 54 62 61 42&lt;br /&gt;  Mahasiswa 10 14 17 11 22 10 14 16 8 14 7 6&lt;br /&gt;  PNS 17 20 25 22 33 20 22 21 14 27 15 19&lt;br /&gt;  TNI/Polri 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0&lt;br /&gt;  Wiraswasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0&lt;br /&gt;  Petani 57 61 52 59 53 32 21 45 37 45 42 23&lt;br /&gt; Jumlah 193 184 168 179 178 119 102 160 120 152 128 92  &lt;br /&gt;Sumber : Data Primer 2009&lt;br /&gt; Jenis buku yang diminati oleh pemustaka di Bapusda TTS secara berturut-turut meliputi: Sastra sebanyak 2.398 eksemplar; Pertanian/kehutanan sebanyak 1.370 eksemplar dan Ilmu murni sebanyak 1.102 eksemplar. Hal tersebut menunjukkan bahwa fungsi rekreatif dan pendidikan merupakan unsur yang menonjol dari fungsi Bapusda TTS. Karena jenis buku yang dipinjam tersebut terdiri atas: novel, cerita pendek, buku teknis pertanian serta buku pelajaran mulai tingkat SD, SMP dan SMA. Sedangkan buku komputer dan ilmu umum kurang begitu diminati pemustaka Bapusda  TTS. &lt;br /&gt;C. Sarana dan Prasarana&lt;br /&gt; Sarana dan prasarana yang dimiliki Bapusda TTS meliputi sebuah bangunan seluas 1.285 m2 yang terdiri dari ruang koleksi; ruang baca, ruang administrasi, ruang pelayanan dan fasilitas umum yang masing-masing memiliki luas 257 m2. Ruang baca yang memiliki luas 257 m2 diproyeksikan untuk menampung 100.000 ribu orang/tahun. Hal tersebut bukan rasio yang ideal jika merujuk pada Indian Standard Recommendation Relating to Primary element in The design of Library Building (1977) dalam Sulistyo Basuki (1991). Dalam dokumen tersebut dinyatakan bahwa setidaknya perpustakaan memiliki minimal tiga ruangan yang terbagi atas : &lt;br /&gt;1. Ruangan dokumen/bahan pustaka yang menampung 150 volume/m2.&lt;br /&gt;2. Ruangan staf perpustakaan untuk kegiatan klasifikasi, katalog dan pengadaan memiliki luas minimal 9 m2.&lt;br /&gt;3. Sedangkan ruangan untuk staf administrasi/profesional; yang tidak bertugas dibidang jasa seluas 5 m2.&lt;br /&gt;4. Ruangan pemakai memiliki luas rata-rata per-pembaca seluas 2,33 m2.&lt;br /&gt; Penelusuran informasi pada Bapusda TTS menggunakan metode manual dengan jumlah katalog sebanyak 7.125 entri. Sedangkan penelusuran informasi secara otomasi menggunakan CDS/ISIS dan internet tidak tersedia. Dari aspek koleksi, Bapusda TTS memiliki koleksi pustaka sebanyak 18.714 eksemplar yang terdiri atas 18.461 judul buku, 35 eks majalah, 3 judul koran, 72 eks jurnal dan 143 buletin. Sedangkan koleksi audio visual sebanyak 54 buah yang terdiri atas 18 buah kaset, 10 buah Compact Disk, 4 buah peta, 19  buah foto dan 3 buah globe. &lt;br /&gt; Bapusda TTS merupakan instansi  eselon II yang memiliki pegawai sebanyak 41 orang.  Adapun sebaran pegawai Bapusda TTS ditampilkan pada tabel 3.&lt;br /&gt;Tabel 3. Sebaran Pegawai Bapusda Berdasarkan Tingkat Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Data Primer 2009&lt;br /&gt; Komposisi pegawai Bapusda TTS kurang proporsional. Data diatas menunjukkan ketimpangan antara pegawai non struktural dan pejabat fungsional pustakawan. Dari 31 pegawai non struktural hanya terdapat dua orang pejabat fungsional pustakawan yang masing – masing berpendidikan Sarjana dan SMA. Adapun kedua jabatan pustakawan tersebut merupakan hasil impassing. Kondisi tersebut menyebabkan tidak proporsionalnya distribusi beban kerja dan tanggunjawab kegiatan kepustakawan. Aspek teknis pengelolaan perpustakaan seperti : pengklasifikasian, pengkatalogan, entri data ke database CDS/ISIS, jasa referens membutuhkan tenaga yang berkompeten. Keterbatasan tenaga pustakawan dan penempatan tenaga yang tidak berkompeten untuk melakukan kegiatan teknis tersebut akan mengakibatkan terganggunya operasional pelayanan perpustakaan. Kalaupun operasional perpustakaan dapat berjalan maka hasilnya tidak akan maksimal.   &lt;br /&gt; Selain itu perlu dikritisi latar belakang pendidikan pejabat struktural dilingkungan Bapusda TTS. Dari data diatas jenjang pendidikan untuk eselon II dan III sudah memenuhi kualifikasi namun eselon IV masih terdapat pejabat yang memiliki jenjang jenjang SMA. Kondisi tersebut cukup menganggu manajerial Bapusda. Mengingat terjadi ketimpangan antara pengambilan kebijakan tingkat eselon II dengan implementasi kegiatan di eselon IV. Perlu dipertimbangkan dalam pengangkatan atau mutasi pejabat struktural tidak hanya mengacu pada Daftar Urutan Kepangkatan (DUK) semata. Namun turut mengacu pada parameter kompetensi, kapabilitas dan prestasi. Setidaknya pejabat struktural di Bapusda TTS berasal dari pejabat fungsional pustakawan yang berprestasi atau pegawai yang memenuhi kualifikasi manajerial dan mendapatkan kursus pengelolaan perpustakaan. Mengingat pejabat strukural Bapusda TTS harus menguasai aspek teknis dan manajerial pengelolaan perpustaaan dalam memajukan organisasi.&lt;br /&gt;D.  Strategi Bapusda TTS dalam mengembangkan budaya baca.&lt;br /&gt; Dalam mengembangkan budaya baca di TTS maka Bapusda TTS memiliki beberapa program. Adapun program tersebut menurut Mahen S. Nevolin, selaku pustakawan Bapusda &lt;br /&gt;TTS : ”Program yang dilakukan Bapusda TTS dalam mengembangkan minat baca meliputi : Promosi, lomba bercerita TK, SD dan berpidato tingkat TK, SMA/SMK; Sosialisasi perpustakan ke TK, Kecamatan/Desa dan disekolah-sekolah; Pelayanan Mobil Perpustakaan Keliling ke titik-titik pelayanan yang telah ditetapkan; Pengembangan koleksi bahan pustaka”. &lt;br /&gt; Program tersebut menjadi agenda tahunan Bapusda TTS dan direspon positif oleh masyarakat. Indikatornya adalah meningkatnya kunjungan masyarakat ke Bapusda TTS. Keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari peran serta tokoh masyarakat, pemuka agama, aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat, Perangkat pemerintah yang berada di kecamatan maupun didesa dalam mendukung program tersebut. Keterlibatan mereka sangat membantu pemasyarakatan minat baca. Mengingat pola patron-klien masih kuat pada masyarakat TTS. Selain itu, Bapusda TTS turut menjalin kerjasama dengan Badan Perpustakaan Propinsi Nusa Tenggara Timur dan Perpustakaan Nasional sebagai bentuk strategi pemasyarakatan minat baca. Bentuk kerjasamanya berupa: 1.) Bantuan penambahan koleksi buku baru untuk perpustakaan sekolah, taman bacaan di desa-desa dan perpustakaan Puskesmas. 2.) Peningkatkan kapasitas pustakawan melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis, Job Training yang rutin dilaksanakan oleh kedua instansi tersebut.&lt;br /&gt; Keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari kekurangan. Hal tersebut terlihat dari pelaksanaan program Mobil Perpustakaan Keliling (MPK) yang kurang optimal. Frekuensi operasionalnya hanya 2 kali dalam setahun yakni : bulan Juli dan September. Dan jangkauan operasionalnya hanya mencakup 18 kecamatan dari 32 kecamatan. Hal tersebut terkait kendala berupa :&lt;br /&gt;1.) Kurangnya dana &amp; fasilitas. Keterbatasan anggaran menjadi persoalan klasik bagi pembiayaan operasional perpustakaan. Hal tersebut berimbas pada terbatasnya alokasi biaya bagi operasional Mobil Perpustakaan Keliling (MPK). Tinggi pengeluaran tersebut terserap pada  pembelian bahan bakar dan  perawatan kendaraan. Hal tersebut terkait kondisi topografi Kab. TTS yang bergunung-gunung dan fasilitas jalan ke pelosok yang masih terbatas. Faktor-faktor tersebut yang menyebabkan frekuensi MPK terbatas dua kali dalam setahun.&lt;br /&gt;2.) Kurangnya kualitas Sumberdaya Manusia. Terbatasnya kuantitas dan kualitas SDM Bapusda TTS menyebabkan tidak tercapai target pengembangan minat budaya baca. Tenaga pustakawan yang ada telah diberdayakan pada pengolahan bahan pustaka. Sedangkan pengembangan budaya baca perlu tenaga ekstra pustakawan guna turun ke lapangan untuk memberikan penyuluhan. Sehingga peran pro aktif pustakawan diperlukan dalam pengembangan minat baca. Dan hal tersebut tidak terjadi di Bapusda TTS.&lt;br /&gt;3.) Minimnya kesadaran dan minat baca masyarakat.  Sasaran program MPK adalah masyarakat yang memiliki keterbatasan akses ke sumber informasi. Mereka kebanyakan  tinggal di daerah pedesaan dan mayoritas petani, pedagang dan pelajar. Dan umumnya operasional MPK dimulai pukul 09.00 WITA dan berakhir 14.00 WITA. Operasional MPK pun terbatas pada titik-titik yang ditentukan seperti : Kantor kecamatan, pasar maupun fasilitas umum lainnya. Namun pelaksanaan MPK di TTS kurang efektif karena rendahnya taraf ekonomi masyarakat pedesaan. Mereka lebih memprioritaskan bekerja dan memanfaatkan waktu luangnya untuk kegiatan produktif lainnya yang menghasilkan uang daripada mendatangi lokasi MPK. Hal tersebut menunjukkan minimnya kesadaran &amp; minat baca masyarakat TTS. &lt;br /&gt;IV.  KESIMPULAN &lt;br /&gt; Dari pemaparan data tentang sebaran pengunjung dan sebaran peminjam maka dapat ditarik kesimpulan bahwa  Bapusda TTS telah menjalankan fungsinya dengan baik. Indikasinya adalah tingginya antusiasme masyarakat mengunjungi perpustakaan. Adapun fungsi rekreasi dan pendidikan lebih menonjol. Indikasinya terlihat dari latar belakang pemustaka yang mayoritas pelajar dan mahasiswa. Selain itu jenis buku urutan teratas yang diminati peminjam adalah koleksi sastra disusul ilmu pertanian dan ilmu murni.&lt;br /&gt;Sedangkan peran perpustakaan daerah dalam mengembangkan budaya baca belum tercapai secara maksimal. Hal tersebut terjadi karena terdapat kesenjangan antara pemustaka yang bertempat tinggal di kota dan di desa. Kondisi tersebut terlihat dari tingginya kunjungan ke Bapusda yang terletak di kota. Sedangkan program Mobil Perpustakaan Keliling kurang diminati di daerah pedesaan. Adapun kendala pengembangan budaya  baca di TTS terdiri dari 3 (tiga) faktor, yaitu : 1.) Kurangnya dana &amp; fasilitas. 2.) Kurangnya kualitas dan kuantitas Sumberdaya Manusia. 3.) Minimnya kesadaran dan minat baca masyarakat.  &lt;br /&gt;V. PENUTUP&lt;br /&gt; Pengembangan budaya baca merupakan agenda lintas sektoral. Mengingat kompleksitas masalahnya. Sehingga sinergi antara pemangku kepentingan di daerah sangat diperlukan. Setidaknya terdapat 2 (dua) rekomendasi berdasarkan ketiga masalah pengembangan budaya baca di Kabupaten Timor Tengah Selatan.  Adapun kedua rekomendasi terdiri atas:&lt;br /&gt;1. Menjalin kerjasama dengan stakeholder dalam hal peningkatan kualitas SDM. Kuantitas pustakawan di Bapusda TTS dapat ditingkatkan dengan melakukan impassing bagi pengelola perpustakaan yang memenuhi kualifikasi. Bapusda dapat mengirimkan mereka mengikuti program pustakawan ahli/terampil di Perpustakaan Nasional. Sedangkan bagi pengelola yang berijazah SMA diberikan kebijakan pemberian tugas belajar swadana pada program D-II Perpustakaan Universitas Terbuka. Dan untuk meningkatkan minat baca masyarakat  maka Bapusda TTS dapat mengadakan Bimtek Penyuluh minat baca yang pesertanya berasal dari intern Bapusda, perwakilan organisasi massa, LSM, kader PKK maupun lembaga keagamaan.&lt;br /&gt;2. Mensinergikan promosi gemar membaca dengan program pemerintah yang relevan. Tentara Nasional Indonesia memiliki agenda rutin Tentara Masuk Desa sebagai wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat yang sasarannya pembangunan dan bakti sosial di pedesaan. Dinas Pendidikan yang memiliki program pengentasan buta aksara. Dinas Sosial memiliki agenda tahunan memperingati Hari Kesetiakawanan Nasional, Dinas Koperasi memiliki program pemberdayaan masyarakat melalui koperasi dan Bapusda memiliki program pengembangan minat baca melalui Mobil Perpustakaan Kelililing (MPK). Alangkah baiknya jika program Bapusda TTS  tersebut  bersinergi dengan program pemerintah lainnya. Karena sasaran program pemerintah tersebut yakni pemberdayaan masyarakat desa merupakan domain yang belum tergarap maksimal oleh promosi minat baca.  Wujud sinergi dapat pembangunan taman bacaan di pedesaan TTS kerjasama TNI dan Bapusda. Ataupun promosi minat baca melalui kader koperasi pada program pendampingan Kredit Usaha Tani yang difasilitasi Dinas Koperasi. Sekian.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---. 2010. 'Jepang'. Website;: http://www. Wikipedia.com. diakses tanggal 3 Juni 2010.&lt;br /&gt;BPS Propinsi NTT. 2008. Nusa Tenggara Timur Dalam Angka 2007. Kupang.&lt;br /&gt;Burhan Bungin. 2009. Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan  Ilmu Sosial lainnya. Jakarta.&lt;br /&gt;---. 2007. UU no 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Website: http://www.kelembagaanfiles.pnri.go.id/pdf. Diakses tanggal 4 Juni 2010&lt;br /&gt;Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-4663299354422529314?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/4663299354422529314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/peran-perpustakaan-daerah-kabupaten.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/4663299354422529314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/4663299354422529314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/peran-perpustakaan-daerah-kabupaten.html' title=''/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-4064507648600956441</id><published>2011-06-21T04:35:00.000-07:00</published><updated>2011-06-21T04:36:23.802-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian'/><title type='text'>Bibliometrika</title><content type='html'>PENGUJIAN PARO HIDUP ARTIKEL KEHUTANAN PADA PROSIDING TERBITAN BALAI PENELITIAN KEHUTANAN KUPANG TAHUN 2004-2007&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Rattahpinusa HH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Komunikasi memiliki konteks yang luas dan mencakup segala lini kehidupan. Kita mengenal istilah komunikasi pemasaran, komunikasi massa, komunikasi politik dan komunikasi organisasi. Luput dari perhatian kita komunikasi ilmiah (scientific communication). Jenis komunikasi yang identik dengan proses pengiriman pesan/informasi dalam komunitas kecendekiawanan. Proses tersebut berkaitan dengan jenis penelitian yang sedang dilaksanakan, kemajuan serta hasil penelitian yang disampaikan melalui forum formal dan informal. Bentuk komunikasi ilmiah secara ilmiah dinyatakan dalam bentuk daftar kepustakaan, rujukan dan kutipan. Pemuatan daftar kepustakaan tersebut merupakan objek penelitian dalam bibliometrika. (Sulistyo-Basuki: 2004).&lt;br /&gt;Penelitian bibliometrika penting dilakukan karena dapat mengungkapkan kekayaan informasi yang dimiliki peneliti maupun sebaliknya. Dengan melihat daftar pustaka maka kita dapat menelusur karya ilmiah yang menjadi acuan. Selain itu, penelitian yang dilakukan sebelumnya menunjukkan terdapat indikasi bahwa literatur yang dirujuk merupakan literatur yang sama dan dirujuk berulang-ulang. Penyebabnya adalah ketersediaan bahan pustaka sangat terbatas dan penambahan koleksi terbaru semakin berkurang karena keterbatasan biaya pengadaan. (Sutardji: 2005). Berdasar hal tersebut, perlu dilakukan pengkajian guna mengetahui usia litelatur kehutanan yang dijadikan rujukan pada Prosiding terbitanBalai Penelitian Kehutanan Kupang (BPKK). Hasilnya dapat dijadikan referensi dalam merumuskan kebijakan pengembangan koleksi di perpustakaan BPKK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. BAHAN DAN METODE&lt;br /&gt;Pengkajian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2011. Tujuannya adalah menguji paro hidup  litelatur yang rujukan karya tulis ilmiah pada Prosiding terbitan Balai Penelitian Kehutanan Kupang. Data diambil dari artikel prosiding terbitan tahun 2004 sampai dengan 2007 sejumlah 143 judul artikel dan 1.236 rujukan. Namun sebanyak 7 rujukan tidak mencantumkan tahun terbit (s.a). Data tersebut merupakan data primer yang bersumber pada daftar pustaka di masing-masing artikel. Usia literatur dikelompokkan dalam rentang 10 tahunan dan ditabulasi. Selanjutnya data tersebut dianalisis secara deskriptif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;A. Paro hidup literatur bidang kehutanan&lt;br /&gt;Definisi paro hidup litelatur adalah usia dari separo litelatur yang digunakan dalam sebuah bidang. Paro hidup menunjukkan kecepatan pertumbuhan litelatur. (Sulitsyo-Basuki: 2004). Semakin rendah usia paro hidup maka semakin tinggi pertumbuhan litelaturnya. Ilmu kehutanan bersifat interdisipliner yang diantaranya meliputi : silvikultur yang mempelajari ilmu tumbuhan, agroforestry yang mempelajari ilmu sosial ekonomi kehutanan. &lt;br /&gt;Selama ini, para peneliti lingkup Balai Penelitian Kehutanan Kupang (BPKK) mempergunakan litelatur kehutanan di perpustakaan untuk menunjang untuk kegiatan penelitian. Selanjutnya hasilnya dipresentasikan dan dipublikasikan dalam bentuk seminar dan  prosiding. Dari serangkaian pengamatan terhadap daftar rujukan yang digunakan peneliti dalam menulis karya ilmiahnya terdapat fakta bahwa masih terdapat litelatur yang berusia 20 tahun keatas yang dipakai sebagai rujukan. Untuk mengetahui kelayakan usia literatur untuk rujukan karya tulis di BPKK maka perlu dilakukan pengukuran paro hidup.&lt;br /&gt;Data usia sitiran ilmu bidang kehutanan yang digunakan untuk rujukan karya ilmiah pada prosiding terbitan BPKK disajikan pada tabel 1. &lt;br /&gt;Tabel 1. Usia Sitiran Prosiding terbitan BPPK tahun 2004-2007 menurut Kelompok tahun.&lt;br /&gt;No Kelompok usia menurut tahun Jumlah sitiran Persentase&lt;br /&gt;1. 2000 (00-10) 606 49,3 %&lt;br /&gt;2. 1990 (11-20) 351 28 %&lt;br /&gt;3. 1980 (21-30) 139 11 %&lt;br /&gt;4. 1970 (31-40) 77 6%&lt;br /&gt;5. 1960 (41-50) 20 1,62 %&lt;br /&gt;6. 1950 (51-60) 31 2,50 %&lt;br /&gt;7. 1940 (61-70) 3 0,24 %&lt;br /&gt;8. 1930 (71-80) 0 0&lt;br /&gt;9. 1920 (81-90) 1 0,08 %&lt;br /&gt;10. 1910 (91-100) 1 0,08 %&lt;br /&gt;Jumlah sitiran 1.229 100 %&lt;br /&gt;(Sumber : Daftar pustaka prosiding 2004-2007)&lt;br /&gt;Dari data diatas, kita dapat mengukur usia paro hidup litelatur kehutanan dengan merujuk pada perhitungan science citation index. Langkah pertama adalah menghitung jumlah kumulatif sitiran dan mencari kelompok tahun sitiran yang sama dengan atau lebih dari 50 %. Dari data diatas maka kelompok sitiran 0 s/d 10 tahun memiliki jumlah sitiran mencapai 606 atau setara dengan 49,3 %. Namun jumlah ini belum mencapai batas minimal 50 %. Maka perlu dicari persentase (%) sitiran yang melampaui batas minimal tersebut. Sehingga persentase kumulatif sitiran antara 0 s/d 20 tahun adalah : (606+351/1.229x 100%= 77, 8 %). Hal tersebut menunjukkan bahwa 50 % berada antara litelatur yang berusia 0 s/d 20 tahun. Dan untuk mengetahui usia paro hidup yang tepat menunjukkan angka 50 % maka &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;dilakukan persamaan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. (50%   - 49,3% = 0,7 %)   ----- Mencari selisih nilai paro hidup&lt;br /&gt;b. (77,8% - 49,3% = 28, 5 %) ---- Mencari nilai pembagi &lt;br /&gt;c. (0.7/28,5 x 10 tahun = 0,245 dibulatkan menjadi 0,2 tahun)&lt;br /&gt;Sehingga usia paro hidup literalatur kehutanan adalah 10 tahun (49,3 % dari seluruh litelatur) ditambah 0,2 tahun (hasil perkalian persamaan c) = 10,2 tahun.  Hal tersebut bermakna separo litelatur kehutanan yang disitir berusia 10,2 tahun atau kurang. Dan 50 % lainnya berusia diatas 10,2 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Sebaran penggunaan usia litelatur berdasarkan status penulisnya&lt;br /&gt;Prosiding merupakan rekaman tertulis yang memuat makalah yang telah disajikan dalam suatu pertemuan ilmiah yang dihadiri oleh 3 instansi atau lebih. (Badan litbanghut: 2009). Prosiding, sebagai publikasi resmi dari sebuah seminar, menghimpun materi yang disampaikan para penyaji. Dan para penyaji memiliki latar belakang kepakaran yang heterogen. Sebagaimana yang dipersyaratkan bahwa peserta/penyaji harus berasal dari berbagai departemen, lembaga non departemen, perguruan tinggi, dunia usaha dan dihadiri minimal tiga instansi. Heteroginitas penyaji akan saling melengkapi perspektif terhadap suatu tema yang diangkat dalam seminar.&lt;br /&gt;Pemateri yang artikelnya termuat dalam prosiding terbitan Balai Penelitian Kehutanan Kupang dari Tahun 2004-2007 berasal dari akademisi, penggiat Lembaga Swadaya Pemerintah (LSM), praktisi kehutanan dan peneliti lingkup BPKK. Masing-masing pemateri memiliki kompetensi yang spesifik terkait tema kehutanan. Menurut bagan klasifikasi Dewey Decimal Clasification (DDC) ilmu kehutanan (634.9) terbagi menjadi sub klas Manajemen kehutanan, silvikultur, agroforestry, ekonomi kehutanan. Dan setiap penyelenggaraaan seminar BPKK senantiasa memiliki tema yang berbeda namun masih dalam lingkup kehutanan. Sehingga isi suatu prosiding terbagi menjadi 2 (dua) bagian yakni: makalah utama (yang mengupas tuntas tema utama suatu seminar) dan makalah penunjang (yang melengkapi pokok bahasan utama).&lt;br /&gt;Keragaman latar belakang profesi dan pendidikan pemateri memberikan warna tersendiri terhadap setiap produk ilmiah karyanya. Masing-masing pemateri memiliki perbedaan preferensi dalam hal jenis pustaka, pengarang serta tahun terbit dari sumber informasi yang menjadi rujukannya dalam menyusun karya ilmiah. Dari hasil pengamatan terhadap  1.236 artikel yang dirujuk, terdapat 2 (dua) buku yang memiliki frekuensi rujukan tertinggi. Keduanya adalah: 1.) Rainfall Types Based On Wet And Dry Periods Rations For Indonesian With Western New Guinea  karya Schimth, Ferguson (1951).  Buku ini seringkali dirujuk pemateri guna memaparkan fakta tentang kondisi agroklimat di Nusa Tenggara Timur. 2.) Santalum Album (Indian Sandalwood) Literature Review karya Barret (1989). Buku ini menjadi rujukan peneliti silvikultur yang memiliki perhatian besar terhadap pembudidayaan tanaman cendana. Selain itu, apabila ditelusur lebih lanjut rentang tahun terbit buku digunakan sebagai rujukan pada makalah prosiding BPKK 2004-2007 sangat lebar. Ditemukan buku yang memiliki tahun terbit 1904 yang digunakan sebagai rujukan pada artikel Tehnik Budidaya Cendana di Masyarakat yang termuat pada Prosiding Denpasar,              19 Desember 2006. Buku rujukan tersebut berjudul Notes Sandal karya Rama Rao (1904). Jika merujuk pada hasil perhitungan paro hidup litelatur kehutanan yakni: 10,2. Maka buku rujukan karya Rama Rao tersebut tergolong kadaluarsa informasinya. Sehingga pemanfaatan buku tersebut menimbulkan berbagai asumsi. Guna melihat kasus tersebut secara obyektif maka kita dapat melihat sebaran paro hidup litelatur  buku yang menjadi rujukan pada tabel 2.&lt;br /&gt;Tabel 2. Sebaran Usia Literatur berdasar status pengguna&lt;br /&gt;No Status Jumlah Artikel Jumlah Rujukan &lt;br /&gt;Rentang Usia Literatur &lt;br /&gt;(0-10 tahun)&lt;br /&gt;    1910 1920 1930 1940 1950 1960 1970 1980 1990 2000 s.a&lt;br /&gt;1. Peneliti 96 733 1&lt;br /&gt;(0,08%) 0&lt;br /&gt;(0%) 0&lt;br /&gt;(0%) 2&lt;br /&gt;(0,16%) 16&lt;br /&gt;(1,2%) 8&lt;br /&gt;(0,6%) 30&lt;br /&gt;(2,4%) 70&lt;br /&gt;(5,6%) 218&lt;br /&gt;(17%) 382&lt;br /&gt;(30%) 6&lt;br /&gt;2. Non Peneliti 52 503 0&lt;br /&gt;(0%)&lt;br /&gt; 1&lt;br /&gt;(0,08%) 0&lt;br /&gt;(0%)&lt;br /&gt; 1&lt;br /&gt;(0,1%) 15&lt;br /&gt;(2,9%) 12&lt;br /&gt;(2%) 47&lt;br /&gt;(3,8%) 69&lt;br /&gt;(5,5%) 133&lt;br /&gt;(10%) 224&lt;br /&gt;(18%) 1&lt;br /&gt;Jumlah 148 1236 1 1 0 3 31 20 77 139 351 606 7&lt;br /&gt;Sumber : Daftar pustaka prosiding tahun 2004-2007&lt;br /&gt;Dari data tersebut diperoleh hasil bahwa peneliti menggunakan rujukan terbitan 2000 keatas sebanyak 30 %. Sedangkan Non peneliti yang menggunakan rujukan terbitan 2000 keatas sebanyak 18 %. Hal tersebut dapat dipahami bahwa dalam setiap penulisan karya ilmiah, peneliti senantiasa mengacu kepada sumber informasi terbaru. Karena dalam dunia ilmiah aspek validitas data, faktual dan aktual berperan penting dalam menentukan bobot keilmiahan suatu karya tulis. Sedangkan pemanfaatan sumber informasi yang kadaluarsa informasi masih diketemukan dari pengguna yang berstatus peneliti. Hal tersebut disebabkan oleh ilmu kehutanan yang bersifat dasar atau teori belum banyak berubah. Sehingga teori tersebut masih relevan dipakai sebagai landasan keilmuan pada karya ilmiah kehutanan. Hal ini dapat menjelaskan alasan asumsi pemakaian buku rujukan terbitan tahun 1904 pada artikel di Tehnik Budidaya Cendana di Masyarakat yang termuat pada Prosiding Denpasar,                            19 Desember 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. PENUTUP.&lt;br /&gt;Berdasarkan dari hasil kajian terhadap paro hidup litelatur kehutanan pada Prosiding terbitan BPKK tahun 2004-2007 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Usia paro hidup kehutanan yang diperoleh berdasarkan penghitungan scientific citation index adalah 10,2. Hasil tersebut  diperoleh dari perhitungan kelompok sitiran 0 s/d 10 tahun memiliki jumlah sitiran mencapai 606 atau setara dengan 49,3 %. Selanjutnya hasil perhitungan tersebut dicari persentase (%) sitiran yang melampaui batas minimal tersebut. Sehingga persentase kumulatif sitiran antara 0 s/d 20 tahun adalah : (606+351/1.229x 100%= 77, 8 %). Hal tersebut menunjukkan bahwa 50 % berada antara litelatur yang berusia 0 s/d 20 tahun. Dan hasil persamaan &lt;br /&gt;a. (50%   - 49,3% = 0,7 %)   ----- Mencari selisih nilai paro hidup&lt;br /&gt;b. (77,8% - 49,3% = 28, 5 %) ---- Mencari nilai pembagi &lt;br /&gt;c. (0.7/28,5 x 10 tahun = 0,245 dibulatkan menjadi 0,2 tahun). Sehingga usia paro hidup literalatur kehutanan adalah 10 tahun (49,3 % dari seluruh litelatur) ditambah 0,2 tahun (hasil perkalian persamaan c) = 10,2 tahun.  &lt;br /&gt;2. Masih dijumpai penggunaan litelatur kehutanan yang kadaluarsa informasi. Sebagaimana ditemukan buku tahun 1904 yang digunakan sebagai rujukan pada artikel Tehnik Budidaya Cendana di Masyarakat yang termuat pada Prosiding Denpasar,  19 Desember 2006. Buku rujukan tersebut berjudul Notes Sandal karya Rama Rao (1904). Penjelasan dari asumsi tersebut adalah ilmu kehutanan yang bersifat dasar atau teori belum banyak berubah. Sehingga teori tersebut masih relevan dipakai sebagai landasan keilmuan pada karya ilmiah kehutanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Litbang Kehutanan. Pedoman Penyajian Karya Tulis Ilmiah Lingkupp Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta. Dephut, 2009&lt;br /&gt;Sulistyo Basuki. Pengantar Dokumentasi. Bandung. Rekayasa Sains. 2004&lt;br /&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-4064507648600956441?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/4064507648600956441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/bibliometrika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/4064507648600956441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/4064507648600956441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/06/bibliometrika.html' title='Bibliometrika'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-7148873099371282945</id><published>2011-05-10T21:06:00.000-07:00</published><updated>2011-05-10T21:07:37.069-07:00</updated><title type='text'>MAKALAH</title><content type='html'>I. Teknik Searching Efektif di Internet &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memanfaatkan search engine, seperti , pengguna internet dapat mencari informasi yang dibutuhkan. Untuk  memperluas, atau membatasi hasil pencarian yang diperoleh, dapat digunakan kode-kode, dan operator Boolean, proximity, atau adjacency.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• +sejarah +batik +pekalongan&lt;br /&gt;Mencari dokumen yang di dalamnya terdapat sekaligus semua kata Sejarah Batik Pekalongan.&lt;br /&gt;• +magister +degree +scholarship+abroad –Africa –Asia&lt;br /&gt;Mencari dokumen yang di dalamnya terdapat informasi beasiswa program magister luar negeri, tetapi bukan di Afrika dan bukan di Asia&lt;br /&gt;• “digital divide”&lt;br /&gt;Mencari dokumen yang di dalamnya terdapat teks yang urutan katanya persis seperti berikut: “digital divide”&lt;br /&gt;• +definition +”information literacy”&lt;br /&gt;Mencari dokumen yang di dalamnya terdapat sekaligus teks berikut: “definition” dan “information literacy” terdapat dimana saja dalam  dokumen, dengan urutan apa saja&lt;br /&gt;www.yahoo.com www.ask.com www.google.com &lt;br /&gt;• “jumlah penduduk Indonesia” +2008-Jawa&lt;br /&gt;Mencari dokumen yang di dalamnya terdapat informasi mengenai jumlah penduduk Indonesia tahun 2008 dikurangi penduduk pulau Jawa.&lt;br /&gt;• host:kompas.com&lt;br /&gt;Mencari halaman situs yang terdapat atau berasosiasi dengan situs www.kompas.com  &lt;br /&gt;• perpustakaan host:maranatha.edu&lt;br /&gt;Mencari berita perpustakaan yang ada di host&lt;br /&gt;www.maranatha.edu &lt;br /&gt;• +artikel +”creative writing” host:edu&lt;br /&gt;Mencari artikel mengenai “creative writing” di seluruh&lt;br /&gt;host:EDU (pendidikan) &lt;br /&gt;• inurl:psycho&lt;br /&gt;Mencari berbagai situs yang nama URLnya  mengandung kata “psycho” &lt;br /&gt;• +”Indonesian Studies” +software filetype:ppt&lt;br /&gt;Mencari dokumen mengenai “Indonesian Studies” dalam format PPT (file MS.PowerPoint)&lt;br /&gt;• psycho*&lt;br /&gt;Mencari dokumen yang mengandung variasi kata “psycho”,&lt;br /&gt;misalnya psychology, psychologist, psychotherapy, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• +”andrea bocelli” +mp3 +”free download”&lt;br /&gt;Mencari lagu Andra Bocelli format MP3 yang dapat didownload secara gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operator Boolean: AND, Or, AND NOT&lt;br /&gt;• Web 2.0 AND library 2.0&lt;br /&gt;Mencari dokumen yang di dalamnya terdapat sekaligus kata&lt;br /&gt;“web 2.0” dan “library 2.0”.&lt;br /&gt;• Web 2.0 OR library 2.0&lt;br /&gt;Mencari dokumen yang di dalamnya terdapat teks“perpustakaan” atau “library”.&lt;br /&gt;• Web 2.0 AND NOT library 2.0&lt;br /&gt;• Mencari dokumen yang memuat kata pertama, tetapi tidak memuat kata kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• AND ; +    -&gt; mempersempit&lt;br /&gt;Advanced search : ALL&lt;br /&gt;bricks AND wood&lt;br /&gt;Bricks +wood&lt;br /&gt;Bricks wood&lt;br /&gt;kadang tanpa kata AND diantara 2 kata &lt;br /&gt;dianggap ada, walau tdk tertulis &lt;br /&gt;• OR -&gt; memperluas&lt;br /&gt;Advanced search : AT LEAST ONE&lt;br /&gt;“wood building” OR bricks&lt;br /&gt;AND NOT ; -    -&gt; membatasiAdvanced search : WITHOUT&lt;br /&gt;Wood AND NOT brick&lt;br /&gt;      Wood –bricks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operator Proximity dan Adjacency: WITHIN, PRE&lt;br /&gt;• Library 2.0. W/3 academic&lt;br /&gt;Mencari dokumen yang memuat kata pertama, dan jaraknya tidak lebih tiga kata dari kata kedua.&lt;br /&gt;• Library 2.0. PRE/3 academic&lt;br /&gt;Mencari dokumen yang memuat kata pertama, dan terletak&lt;br /&gt;tidak lebih dari tiga kata di depan kata kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Strategi Menelusur  Informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rumuskan informasi/topik/problem&lt;br /&gt;contoh:  menyusun rancangan pembelajaran untuk  matematika kelas 3 sekolah dasar &lt;br /&gt;2. Cari kata kunci (key-word) /penggalan kalimat (key-phrase) yang menggambarkan subyek yang dicari&lt;br /&gt;contoh : rancangan pembelajaran, mathematics, grade 3, elementary school&lt;br /&gt;3. Cari sinonim, istilah lain, akronim, singkatan,  bahasa lain, kata yang tidak lengkap ( jamak/tunggal) dsb. Untuk tiap key word(cari di  kamus, glosari, thesaurus&lt;br /&gt;contoh :lesson plan(s); instructional design, elementary school, primary school, sekolah dasar &lt;br /&gt;4. Tentukan pendekatan penelusuran yang akan dilakukan      dengan memilih alat penelusuran yang tepat  &lt;br /&gt;5. mis :  katalog, buku referensi, search engine, search directory dsb. ) &lt;br /&gt;6. Tentukan strategi penelusuran yang akan dipakai Bila menggunakan alat penelusuran online, al:&lt;br /&gt;7. boolean : ( mathematics OR arithmetic) &lt;br /&gt;                         AND children&lt;br /&gt;8. Phrase   : “lesson plan”&lt;br /&gt;9. Lakukan pelbagai pendekatan strategi dan alat penelusuran dan pelajari hasilnya &lt;br /&gt;10. Evaluasi hasil &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Search engine ( info tidak terseleksi)&lt;br /&gt;       http://google.com , http://www.searchability.com/children.htm &lt;br /&gt; Meta search engine ( mencari dlm beberapa search engine sekaligus)  http://metacrawler.com &lt;br /&gt; Subject directory ( daftar subyek, dipilih) &lt;br /&gt;http://www.yahoo.com, http://yahooligans.com &lt;br /&gt; Specialized database/invisible web ( katalog online, database) http://bigchalk.com , &lt;br /&gt; Digital/Virtual Library/ Information Center (http://www.awesomelibrary.org/ ,  http://ericir.syr.edu/, http://askeric.org/ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Starate&lt;br /&gt; Newsgroup (http://teachers.net/&lt;br /&gt; Key-word based ( tidak bisa membedakan kata sama arti beda atau kata beda arti sama. contoh: google, altavista)&lt;br /&gt; Concept based ( istilah bisa lain tapi arti sama. Contoh : excite, katalog perpustakaan)&lt;br /&gt; Boolean logic strategy&lt;br /&gt;Evaluasi KEseuaian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Otoritas URL&lt;br /&gt; Lihat kesesuaian isi dengan jenis domain&lt;br /&gt; .Edu; ac   : pendidikan (petra.ac.id; berkeley.edu)&lt;br /&gt; .gov, .mil  : pemerintah  (bppt.gov.id)&lt;br /&gt; .org          : non profit organisasi ( &lt;br /&gt; .com         : komersial/ISP (geocities.com)&lt;br /&gt; Tilde (`) ; (%) ; users; members; people&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Otoritas Penerbit/Pengarang (pendidikan, pengalaman)&lt;br /&gt; Lihat link “about us” ; “philosophy”; “background”, biography dsb &lt;br /&gt; Mundur langkah per langkah (sebelum “/ “) jika link tidak diketemukan &lt;br /&gt; Ada alamat email ( dapat dikontak ) ?&lt;br /&gt; Cari nama melalui kamus biografi, search engine, search directory&lt;br /&gt; Otoritas Penerbit/Pengarang (pendidikan, pengalaman)&lt;br /&gt; Lihat link “about us” ; “philosophy”; “background”, biography dsb &lt;br /&gt; Mundur langkah per langkah (sebelum “/ “) jika link tidak diketemukan &lt;br /&gt; Ada alamat email ( dapat dikontak ) ?&lt;br /&gt; Cari nama melalui kamus biografi, search engine, search directory&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;III. Direktory Elektronik Jurnal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 NAMA : Garuda (Garba Rujukan Digital)&lt;br /&gt; ALAMAT URL : http://jurnal.dikti.go.id/&lt;br /&gt; DESKRIPSI : Garuda (Garba Rujukan Digital) adalah portal penemuan referensi ilmiah dan umum karya bangsa Indonesia, yang memungkinkan akses e-journal dan e-book domestik, tugas akhir mahasiswa, laporan penelitian, serta karya umum. Portal ini dikembangkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Dikti - Kemdiknas RI. &lt;br /&gt; PEMAKAIAN  1. Ketikkan : ‘Garba’ pada kolom pencarian Google.&lt;br /&gt;2.  Ketikkan kata kunci (keyword)  berdasarkan subjek pada kolom Penelusuran. Klik Telusur.&lt;br /&gt;3. Jika kata kunci tersebut ‘Hit’ dengan informasi yang terkandung pada database penelitian. Maka Garba akan menampilkan subjek-subjek yang dimaksud. Adapun informasinya meliputi : Judul artikel, Pengarang, Subjek, Abstrak, Permalink/Hyperlink. &lt;br /&gt;4. Klik Hyperlink pada artikel maka Garba akan menampilkan informasi lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi Hasil Penelurusan Subjek Gewang,. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 NAMA : Directory Open Acces Journal&lt;br /&gt; ALAMAT URL : http://www.doaj.org/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DESKRIPSI : Situs ini merupakan pangkalan data bagi situs jurnal elektronik dari berbagai subyek. Pemakai dapat memilih subjek jurnal yang dikehendaki. Berdasarkan penelusuran terdapat 31 alamat open jurnal kehutanan yang dapat diakses. &lt;br /&gt;Adapun alamat jurnal kehutanan tersebut meliputi :  &lt;br /&gt;1. Agrociencia &lt;br /&gt;ISSN: 14053195 &lt;br /&gt;Subject: Agriculture (General) --- Forestry --- Animal Sciences &lt;br /&gt;Publisher: Colegio de Postgraduados &lt;br /&gt;Country: Mexico &lt;br /&gt;Language: Spanish, English &lt;br /&gt;Keywords: animal science, livestock, agriculture, forestry &lt;br /&gt;Start year: 2000 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bartin Orman Fakultesi Dergisi  &lt;br /&gt;ISSN: 13020943 &lt;br /&gt;EISSN: 13085875 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: University of Bartin &lt;br /&gt;Country: Turkey &lt;br /&gt;Language: Turkish, English, German, French &lt;br /&gt;Keywords: environmental science, forests, landscape planning &lt;br /&gt;Start year: 2001 &lt;br /&gt;License:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. BC Journal of Ecosystems and Management &lt;br /&gt;ISSN: 14884666 &lt;br /&gt;EISSN: 14884674 &lt;br /&gt;Subject: Biology --- Forestry &lt;br /&gt;Publisher: FORREX Forest Research Extension Society &lt;br /&gt;Country: Canada &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: conservation biology, forest dynamics, natural resource extension, science-based information, socio-economics, sustainable ecosystem management, watershed management &lt;br /&gt;Start year: 2001 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bosque (Valdivia) &lt;br /&gt;ISSN: 03048799 &lt;br /&gt;EISSN: 07179200 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Universidad Austral de Chile &lt;br /&gt;Country: Chile &lt;br /&gt;Language: English, Spanish &lt;br /&gt;Keywords: agricultural sciences &lt;br /&gt;Start year: 1975 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Časopis Beskydy  &lt;br /&gt;ISSN: 18032451 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Mendel University, Brno &lt;br /&gt;Country: Czech Republic &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: European mountain forests, forest management, ecosystems &lt;br /&gt;Start year: 2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Cerne  &lt;br /&gt;ISSN: 01047760 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Universidade Federal de Lavras &lt;br /&gt;Country: Brazil &lt;br /&gt;Language: Portuguese, English, Spanish &lt;br /&gt;Keywords: forestry, silviculture, forest ecology, forest management, wood-technology &lt;br /&gt;Start year: 1996 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ciência Florestal &lt;br /&gt;ISSN: 01039954 &lt;br /&gt;EISSN: 19805098 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Departamento de Ciências Florestais &lt;br /&gt;Country: Brazil &lt;br /&gt;Language: Portuguese, English, Spanish &lt;br /&gt;Keywords: forestry, silviculture, forest ecology, forest management, wood-technology &lt;br /&gt;Start year: 1991 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Croatian Journal of Forest Engineering  &lt;br /&gt;ISSN: 18455719 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: University of Zagreb &lt;br /&gt;Country: Croatia &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forestry, forest engineering, timber harvesting, forest operations &lt;br /&gt;Start year: 2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Drvna Industrija &lt;br /&gt;ISSN: 00126772 &lt;br /&gt;EISSN: 18471153 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: University of Zagreb &lt;br /&gt;Country: Croatia &lt;br /&gt;Language: Croatian, English &lt;br /&gt;Keywords: wood properties, wood products, wood processes &lt;br /&gt;Start year: 2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Floresta &lt;br /&gt;ISSN: 00153826 &lt;br /&gt;EISSN: 19824682 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Fundação de Pesquisas Florestais do Parana &lt;br /&gt;Country: Brazil &lt;br /&gt;Language: Portuguese, Spanish, English &lt;br /&gt;Keywords: silviculture, forest management, forest products, forest economics, forest politics, conservation, ecology &lt;br /&gt;Start year: 1969 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Forest Systems &lt;br /&gt;ISSN: 21715068 &lt;br /&gt;EISSN: 21719845 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Instituto Nacional de Investigación y Tecnología Agraria y Alimentaria &lt;br /&gt;Country: Spain &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forests, forestry, forest products, forest ecology, silviculture, breeding and genetics, management &lt;br /&gt;Start year: 2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Forest@  &lt;br /&gt;ISSN: 18240119 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Italian Society of Silviculture and Forest Ecology - SISEF &lt;br /&gt;Country: Italy &lt;br /&gt;Language: Italian, English &lt;br /&gt;Keywords: silviculture, forest ecology, ecophysiology, conservation genetics, forest biodiversity, forest management &lt;br /&gt;Start year: 2004 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Forestry Studies &lt;br /&gt;ISSN: 14069954 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Estonian University of Life Sciences &lt;br /&gt;Country: Estonia &lt;br /&gt;Language: English, Estonian &lt;br /&gt;Keywords: silviculture, dendrology, tree physiology, forest products  Start year: 1999 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Forests  &lt;br /&gt;ISSN: 19994907 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: MDPI AG &lt;br /&gt;Country: Switzerland &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forest engineering, forest science, woodlands, forest entomology, forest ecology, forest economics, tropical forest &lt;br /&gt;Start year: 2010 &lt;br /&gt;License:   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Glasnik Šumarskog Fakulteta  &lt;br /&gt;ISSN: 03534537 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Faculty of Forestry, Belgrade &lt;br /&gt;Country: Serbia &lt;br /&gt;Language: Serbian &lt;br /&gt;Keywords: wood processing, landscape architecture &lt;br /&gt;Start year: 2002 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. iForest : Biogeosciences and Forestry  &lt;br /&gt;ISSN: 19717458 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Italian Society of Silviculture and Forest Ecology - SISEF &lt;br /&gt;Country: Italy &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forest, biogeoscience, forestry &lt;br /&gt;Start year: 2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. International Journal of Forestry Research  &lt;br /&gt;ISSN: 16879368 &lt;br /&gt;EISSN: 16879376 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Hindawi Publishing Corporation &lt;br /&gt;Country: United States &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forestry research &lt;br /&gt;Start year: 2009 &lt;br /&gt;License:   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Investigación Agraria &lt;br /&gt;ISSN: 11317965 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Instituto Nacional de Investigación y Tecnología Agraria y Alimentaria &lt;br /&gt;Country: Spain &lt;br /&gt;Language: English, Spanish &lt;br /&gt;19. Keywords: forest, plant production, plant health, breeding and genetics &lt;br /&gt;Start year: 1998 &lt;br /&gt;End year: 2009 Continued by Forest Systems &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Mathematical and Computational Forestry &amp; Natural-Resource Sciences &lt;br /&gt;ISSN: 19467664 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: University of Georgia &lt;br /&gt;Country: United States &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forest biometrics, modeling, growth and yield, mensuration, simulations &lt;br /&gt;Start year: 2009 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Nova Mehanizacija Sumarstva &lt;br /&gt;ISSN: 18458815 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: University of Zagreb &lt;br /&gt;Country: Croatia &lt;br /&gt;Language: Croatian &lt;br /&gt;Keywords: forestry, forest engineering, timber harvesting, forest operations &lt;br /&gt;Start year: 2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Open Forest Science Journal &lt;br /&gt;ISSN: 18743986 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Bentham open &lt;br /&gt;Country: United States &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forest ecology, tree genetics, wood quality, wood production, silviculture &lt;br /&gt;Start year: 2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Revista Árvore  &lt;br /&gt;ISSN: 01006762 &lt;br /&gt;EISSN: 18069088 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Sociedade de Investigações Florestais &lt;br /&gt;Country: Brazil &lt;br /&gt;Language: Portuguese, English, Spanish &lt;br /&gt;Keywords: agricultural sciences &lt;br /&gt;Start year: 2002 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Revista Forestal Venezolana &lt;br /&gt;ISSN: 05566606 &lt;br /&gt;Subject: Forestry --- Environmental Sciences &lt;br /&gt;Publisher: Universidad de Los Andes (Venezuela) &lt;br /&gt;Country: Venezuela &lt;br /&gt;Language: Spanish &lt;br /&gt;Keywords: forest sciences, vegetal physiology, forest pathology, entomology, plantations, genetics, forest improvement, river basins &lt;br /&gt;Start year: 1997 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Revista Geografica Venezolana &lt;br /&gt;ISSN: 10121617 &lt;br /&gt;Subject: Environmental Sciences --- Geography --- Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Universidad de Los Andes (Venezuela) &lt;br /&gt;Country: Venezuela &lt;br /&gt;Language: Spanish, English, French, Portuguese &lt;br /&gt;Keywords: forest sciences, geographic sciences, conservation of natural resources &lt;br /&gt;Start year: 1999 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Revista Quebracho &lt;br /&gt;ISSN: 03280543 &lt;br /&gt;EISSN: 18513026 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Universidad Nacional de Santiago del Estero &lt;br /&gt;Country: Argentina &lt;br /&gt;Language: Spanish &lt;br /&gt;Keywords: forestry, environment, Latin America region &lt;br /&gt;Start year: 1994 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Rocznik Dendrologiczny  &lt;br /&gt;ISSN: 08602646 &lt;br /&gt;Subject: Forestry --- Biology &lt;br /&gt;Publisher: Polish Botanical Society &lt;br /&gt;Country: Poland &lt;br /&gt;Language: English, Polish &lt;br /&gt;Keywords: dendrobiology, trees, dendrological collections, horticultural taxonomy &lt;br /&gt;Start year: 2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Silva Fennica &lt;br /&gt;ISSN: 00375330 &lt;br /&gt;Subject: Forestry --- Ecology --- Botany &lt;br /&gt;Publisher: Finnish Society of Forest Science, Finnish Forest Research Institute &lt;br /&gt;Country: Finland &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: forest science &lt;br /&gt;Start year: 1998 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Silva Lusitana &lt;br /&gt;ISSN: 08706352 &lt;br /&gt;Subject: Forestry --- Environmental Sciences &lt;br /&gt;Publisher: Estação Florestal Nacional &lt;br /&gt;Country: Portugal &lt;br /&gt;Language: Portuguese, English, Spanish &lt;br /&gt;Keywords: forestry, environmental sciences &lt;br /&gt;Start year: 2001 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Studia Universitatis Vasile Goldis Arad : Seria Stiinte Ingineresti si Agroturism  &lt;br /&gt;ISSN: 18420508 &lt;br /&gt;EISSN: 20676034 &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Vasile Goldis Western University, Arad &lt;br /&gt;Country: Romania &lt;br /&gt;Language: Romanian, English &lt;br /&gt;Keywords: enviromental sciences, agrotourism &lt;br /&gt;Start year: 2009 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. Turkish Journal of Agriculture and Forestry Sciences &lt;br /&gt;ISSN: 1300011X &lt;br /&gt;EISSN: 13036173 &lt;br /&gt;Subject: Agriculture (General) --- Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Scientific and Technical Research Council of Turkey &lt;br /&gt;Country: Turkey &lt;br /&gt;Language: English &lt;br /&gt;Keywords: agriculture, forestry &lt;br /&gt;Start year: 1998 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. Zbornik gozdarstva in lesarstva &lt;br /&gt;ISSN: 03513114 &lt;br /&gt;EISSN: 1581162X &lt;br /&gt;Subject: Forestry &lt;br /&gt;Publisher: Slovenian Forestry Institute &lt;br /&gt;Country: Slovenia &lt;br /&gt;Language: Slovenian, English &lt;br /&gt;Keywords: wood science, wood technology &lt;br /&gt;Start year: 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PEMAKAIAN  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Jurnal Elektronik Kehutanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 NAMA : International Journal of Forestry Research&lt;br /&gt; ALAMAT URL : http://www.hindawi.com/journals/ijfr/ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DESKRIPSI : International Journal of Forestry Research is a peer-reviewed, open access journal that publishes original research articles as well as review articles in all areas of forestry research. &lt;br /&gt; PEMAKAIAN  1. Ketikkan : ‘alamat url pada kolom Addres&lt;br /&gt;2.  Ketikkan kata kunci (keyword)  berdasarkan subjek pada kolom Penelusuran. Klik Telusur.&lt;br /&gt;3. Jika kata kunci tersebut ‘Hit’  Maka tampilan hasil penelusuran akan Nampak. &lt;br /&gt;4. Klik Full Texk Pdf untuk  menampilkan informasi lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 NAMA : Mathematical and Computational Forestry &amp; Natural-Resource Sciences (MCFNS)&lt;br /&gt; ALAMAT URL : http://mcfns.com/index.php/Journal/index&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DESKRIPSI : The mission of MCFNS is to publish peer-reviewed basic and applied research in Mathematical and Computational Forestry and Natural-Resource Sciences. This research can include theoretical solutions, proofs, derivations, software developments, and simulations, in forest management, growth and yield modeling, and other natural resource related studies. Journal items will be published collectively as part of an issue with its own Table of Contents biannually on the 28th. &lt;br /&gt; PEMAKAIAN  &lt;br /&gt;1. Ketikkan : ‘alamat url pada kolom Addres&lt;br /&gt;2.  Ketikkan kata kunci (keyword)  berdasarkan subjek pada kolom Penelusuran. Klik Telusur.&lt;br /&gt;3. Jika kata kunci tersebut ‘Hit’  Maka tampilan hasil penelusuran akan Nampak. &lt;br /&gt;4. Klik Full Texk Pdf untuk  menampilkan informasi lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--.Garba Rujukan Digital. http: jurnal dikti.go.id. Diakses tanggal 1 Februari 2011.&lt;br /&gt;Anis Hariri. Trial Akses Proquest untuk Warga Negara Indonesia.&lt;br /&gt;Mustafa, B., “Prinsip Pencarian dan Pemanfaatan Informasi&lt;br /&gt;via Internet dan Evaluasi Web”,Makalah tidak dipublikasikan, 2008&lt;br /&gt;Advanced Searching Technique,&lt;br /&gt;http://www.lib.washington.edu/business/tlc/archive/advsearch.html&lt;br /&gt;Tips Pencarian, http://proquest.umi.com/istd/in/pri/searchtips/searchtips.htm&lt;br /&gt;Info Widya Info Widya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-7148873099371282945?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/7148873099371282945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/05/makalah_10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/7148873099371282945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/7148873099371282945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/05/makalah_10.html' title='MAKALAH'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-2562041772269729628</id><published>2011-05-10T21:03:00.000-07:00</published><updated>2011-05-10T21:05:10.883-07:00</updated><title type='text'>Info</title><content type='html'>Tips Menembus Jurnal Ilmiah &amp; Internasional&lt;br /&gt;Dr.Eng.Mikrajudin Abdullah, M.si&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri paper ilmiah :&lt;br /&gt;1. Merupakan laporan hasil riset&lt;br /&gt;2. Isinya orisinal&lt;br /&gt;3. Meyajikan temuan baru atau penyempurnaan temuan yang sudah ada.&lt;br /&gt;4. Mengandung Infomasi sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;5. Menggunakan kata-kata sedikit mungkin.&lt;br /&gt;Definisi paper ilmiah sebagai berikut:  publikasi pertama hasil riset yang orisinil dan disajikan dalam bentuk yang memungkinkan pengulangan eksperimen dan pengecekan kesimpulan. Serta dimuat didalam jurnal ilmiah atau sumber dokumen lain yang tersedia dalam komunitas ilmuwan.&lt;br /&gt;Format paper ilmiah menurut Day (Day:1993) and Riggar (Matkin and Riggar, 1991) terdiri atas:&lt;br /&gt;1. Judul&lt;br /&gt;2. Nama&lt;br /&gt;3. Institusi/Alamat&lt;br /&gt;4. Abstrak&lt;br /&gt;5. Pendahuluan&lt;br /&gt;6. Material dan Metode&lt;br /&gt;7. Hasil&lt;br /&gt;8. diskusi&lt;br /&gt;9. Kesimpulan&lt;br /&gt;10. Ucapan terimakasih&lt;br /&gt;11. Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUDUL: Hal yang perlu DIINGAT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Judul adalah bagian paper yang paling banyak dibaca orang.&lt;br /&gt;2. Judul adalah abstraksi tertinggi suatu paper&lt;br /&gt;3. Judul harus hemat kata tapi cukup menjelaskan isi paper.&lt;br /&gt;4. Pembaca harus mengetahui esensi paper hanya dengan membaca judulnya. Jika tidak, berrati anda gagal membuat judul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABSTRAK : abstrak harus menyajikan informasi yabg cukup agar pembaca dapat mengambil keputusan apakah dia perlu membac secara keseluruhan isi paper atau tidak.&lt;br /&gt;Abstrak harus memuat informasi tentang :&lt;br /&gt;1. Tujuan penelitian&lt;br /&gt;2. Metode/Pelaksanaan penelitian&lt;br /&gt;3. Hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian.&lt;br /&gt;4. Signifikasi/nilai manfaat penelitian.&lt;br /&gt;Jangan ragu meminta kolega anda untuk membaca dan mengoreksi abstrak paper anda.&lt;br /&gt;PENDAHULUAN, Batasi pendahuluan hanya pada hal-hal yang berkaitan langsung dengans studi yangsbdeang anda lakukan dan kontribusi khas yang anda hasilkan.&lt;br /&gt;Pendahuluan yang baik harus mampu menjawab:&lt;br /&gt;1. Mengapa penelitian anda lakukan.&lt;br /&gt;2. Sampai dimana pemahaman orang tentang bidang ini sekarang.&lt;br /&gt;3. Apa permasalahan yang masih muncul hingga pemahaman yang ada saat ini.&lt;br /&gt;4. Apa hipotesis anda sehingga memotivasi anda untukl melakukan riset.&lt;br /&gt;5. Apa yang ingin anda tunjukkan pada pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menyusun bagian MATERIAL DAN METODE:&lt;br /&gt;Secara umum penyusunan metode mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:&lt;br /&gt;1. Material apa yang digunakan?&lt;br /&gt;2. Bagaimana penggunaannya dalam eksperimen?&lt;br /&gt;3. Dimana dan Kapan pekerjaan dilakukan?&lt;br /&gt;Bagian matrial dan metode memuat eksperimen yang anda lakukann atau teori yang anda susun&lt;br /&gt;Penyajiannya harus jelas dan tepat agar peneliti lain bias mengulang pekerjaan anda and mendapatkan kseimpulan yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaiman menyusun BAGIAN HASIL?&lt;br /&gt;1. BAgian hasil hanya memeuat apa yang anad ukur dalam eksperiemn atau yang anda hitung berdasarkan teori.&lt;br /&gt;2. Bagian hasil tidak mendiskusikan hasil etrsebut.&lt;br /&gt;3. Tabel dan grafik disajikan secara menarik tanpa memanipulasi data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menyusun bagian DISKUSI?&lt;br /&gt;Dibagian diskusi anda bias menonjolkan:&lt;br /&gt;1. Temuan anda yang orisinil.&lt;br /&gt;2. Hasil penelitian anda yang lebih baik daripada penelitian orang lain.&lt;br /&gt;3. Inti kekuatan paper anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca paper nada dan posisikan anda sebagai kritikus paper anda.&lt;br /&gt;Hindari uraian yang memunculkan keraguan atau salah pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaiman membuat keismpulan?&lt;br /&gt;Kesimpulan harus mengandung informasi bahwa anda telah membuktikan hipotesis anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-2562041772269729628?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/2562041772269729628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/05/info.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/2562041772269729628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/2562041772269729628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/05/info.html' title='Info'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-7101897271666641227</id><published>2011-05-04T00:13:00.000-07:00</published><updated>2011-05-07T01:24:33.758-07:00</updated><title type='text'>MAKALAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Y17wOKw8l-8/TcUBqaaO-gI/AAAAAAAAAFI/ipalKhy6mBI/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 124px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Y17wOKw8l-8/TcUBqaaO-gI/AAAAAAAAAFI/ipalKhy6mBI/s200/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603887139487939074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMBANGUN PERPUSTAKAAN RISET&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Rattahpinusa&lt;br /&gt;A. PENGANTAR&lt;br /&gt;Perpustakaan perguruan tinggi berperan menunjang kegiatan pembelajaran dan penelitian. Hal tersebut terkait fungsi dokumentasi dan fungsi informasi dari perpustakaan, yakni: menyimpan berbagai sumber informasi dan mengolahnya serta menyajikannya dalam bentuk: abstrak, bibliografi serta indeks. Berdasarkan kedua fungsi tersebut maka Udin Saripudin Winata Putra (1999; 65) dalam Syaiful Bahri Djamarah (2002) mengkategorikan manusia; buku/perpustakaan, media massa, alam lingkungan dan media pendidikan sebagai sumber pembelajaran. Sehingga sumber belajar dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk bahan ajar.&lt;br /&gt;Kebijakan pemerintah terhadap sektor pendidikan turut berdampak pada eksistensi perpustakaan. Pengesahan UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) menjadi dasar bagi penyelenggaraan otomomi pendidikan. Pihak rektorat dituntut inovatif mengatasi masalah pendanaan operasional perguruan tinggi. UU BHP telah mengatur masalah pendanaan  pada pasal 33 sampai dengan pasal 38. Maka pihak rektorat dituntut ’jeli’ melihat peluang untuk menggali sumber-sumber pendanaan. Salah satu ’peluang’ sumber pendanaan adalah kegiatan penelitian. Data dari Unesco menyebutkan bahwa pada tahun 1996 dana yang dihabiskan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) di dunia mencapai 547 milyar dollar Amerika. Dana tersebut tersebar 38% di Amerika Utara (Amerika Serikat sebagai pengguna terbesar di Amerika Utara), 30 % di Eropa, 30 % di Asia (Jepang menggunakan 50 % dana yang beredar di Asia), 2 % di Amerika Latin dan Afrika (Media Kerja Budaya, edisi 09/2002). Jika peluang tersebut dapat dimanfaatkan dan diimplentasikan dalam bentuk Research University. Maka perguruan tinggi akan mendapatkan manfaat ganda, yakni: 1.) Terpenuhinya sumber pendanaan bagi operasional perguruan tinggi tanpa membebani mahasiswa; 2.) Para dosen dan mahasiswa dapat meningkatkan kompetensi keilmuan melalui kegiatan-kegiatan penelitian; 3.) Bekembangnya ilmu pengetahuan sebagai dampak dari kegiatan penelitian. Sehingga Tri Darma perguruan tinggi tidak menjadi jargon semata. Dengan otonomi yang dimilikinya maka pihak rektorat dapat mengambil kebijakan-kebijakan strategis terkait fungsi penelitian. Karena penelitian merupakan katalisator kemajuan.&lt;br /&gt;Konsekuensi logis dari perubahan status menjadi Research University akan melecut perpustakaan perguruan tinggi untuk  mengakselerasi dirinya dari tahap gudang buku (Store House Period) ke tahap pendidikan dan penelitian (Educational and Research Period). Pada tahapan tersebut, perpustakaan perguruan tinggi tidak sebatas tempat simpan pinjam buku saja. Namun perpustakaan berperan sebagai katalis bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Perpustakaan perguruan tinggi dapat membentuk forum-forum diskusi yang bermuara pada pemikiran-pemikiran kritis. Dan membebaskan para penggunanya dari illiteracy information.  Mengacu pada pentahapan tersebut maka perpustakaan perguruan tinggi bertansformasi menjadi perpustakaan riset. &lt;br /&gt;B. KONSEP PERPUSTAKAAN RISET.&lt;br /&gt;Untuk melangkah dari tahap gudang buku ke tahap pendidikan dan penelitian maka ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Jika merujuk pada definisi pada situs Online Dictionary of Library and Information Science (ODLIS) maka  Perpustakaan riset (research library) : “A library containing a comprehensive collection of materials in a specific field, academic discipline, or group of disciplines, including primary and secondary sources, selected to meet the information needs of serious researchers”. (http://blog.360.yahoo.com; diunduh 29/12-08). Berdasarkan definisi tersebut maka setidaknya ada 3 (tiga) aspek yang harus dipersiapkan, yakni:&lt;br /&gt;1. Sumberdaya Manusia (SDM).&lt;br /&gt; Aspek SDM berperan penting dalam organisasi. Sistem tidak akan berjalan jika aspek brainware-nya  tidak berfungsi. Perpustakaan riset membutuhkan pustakawan berkualifikasi subject spesialis. Karena spesialisasi dibidang ilmu tertentu akan sangat membantu pustakawan memahami kebutuhan penggunanya. Pustakawan subjeck spesialis dapat direkrut melalui metode impassing, yakni: sarjana bidang non perpustakaan direkrut dan diberikan pelatihan dibidang perpustakaan. Atau sebaliknya, pustakawan berlatar belakang pendidikan perpustakaan khususnya jenjang D-III didorong untuk melanjutkan strata 1 diluar bidang perpustakaan. Jenis subject spesialis disesuaikan dengan cakupan kerja perpustakaan riset. Maksudnya, perpustakaan riset yang bergerak dibidang pertanian dan melayani kebutuhan penelitian pertanian akan sangat membutuhkan subject spesialis dibidang agronomi, pertanian lahan kering dan sosek pertanian.&lt;br /&gt; Keahlian teknis bidang teknologi informasi mutlak dimiliki para pustakawan di perpustakaan riset. Kemajuan teknologi telah memicu ledakan informasi sekaligus mempermudah akses informasi. Sedangkan informasi yang terbarukan sangat dibutuhkan oleh peneliti.  Sangat ironis jika saat ini pustakawan tidak mampu mengoperasikan internet sehingga dia terjebak dalam belantara informasi. Padahal tugas pustakawan adalah mencari, mengorganisasikan dan menyajikan informasi untuk kebutuhan penelitian.&lt;br /&gt;2. Sarana &amp; Prasarana.&lt;br /&gt;Sarana prasara yang menunjang konsep perpustakaan riset terbagi menjadi 2 (dua), yakni: koleksi &amp; sarana penelusuran. Perpustakaan riset bercirikan: tersedianya koleksi yang komprehensif dan spesifik menyangkut disiplin ilmu yang relevan dengan kajian penelitian tertentu. (semisal: pertanian lahan kering, ilmu kelautan dan pengelolaan wilayah pesisir). Jenis koleksinya merupakan buku, jurnal maupun e-jurnal yang memuat informasi yang terbarukan. Aspek keterbaruan informasi menjadi aspek penentu bagi arah kebijakan pengadaan koleksi. Hendaknya koleksi jurnal lebih mendominasi daripada buku. Keunggulan jurnal adalah hasil-hasil penelitian lebih cepat didesiminasikan melalui jurnal penelitian. &lt;br /&gt;Disamping koleksinya yang spesifik, Jasa penelusuran pada perpustakaan riset menggunakan fasilitas elektronis yakni: Online Public Katalog Acces (OPAC) maupun menggunakan CD-ROM. Perangkat tersebut menjamin keakurasian serta efisiensi waktu penelusuran.  Ketersediaan fasilitas internet mutlak ada sehingga pengguna dapat menelusur informasi secara mandiri.&lt;br /&gt;3. Layanan.&lt;br /&gt;Kerjasama antar beberapa perpustakaan perguruan tinggi dalam jejaring informasi akan   mempertajam fungsi referensi perpustakaan riset. Bentuk kerjasama berupa: layanan silang layan.  Keuntungan dari layanan ini adalah: perpustakaan A dapat  bertukar koleksi &amp; informasi dengan jaringan perpustakaan lainnya terkait suatu informasi tertentu yang tidak dimiliki oleh perpustakaan tersebut. Perpustakaan A dapat merujuk informasi yang tidak dipunyainya kepada salah satu perpustakaan yang mempunyai informasi tersebut. Sehingga kebutuhan informasi pengguna yang dapat dipenuhi oleh perpustakaan. &lt;br /&gt;C. PENUTUP.&lt;br /&gt;Keberadaan perpustakaan riset menjadi wahana bagi pendidik dan peneliti untuk menyalurkan informasi sekaligus sebagai sumber inspirasi. Mengingat pentingnya fungsi perpustakaan riset dalam menunjang kegiatan penelitian. Maka kombinasi ideal antara kebijakan anggaran, pengadaan koleksi dan layanan akan memuluskan terwujudnya perpustakaan riset. Setidaknya 3 (tiga) unsur yang patut dipersiapkan untuk membangun perpustakaan riset, yakni: aspek sumberdaya  manusia yang bercirikan ketersediaan subjek spesialis; aspek koleksi yang spesifik terhadap bidang keilmuan tertentu dan aspek layanan yang terwujud kedalam format silang layan.&lt;br /&gt;Daftar Bacaan.&lt;br /&gt;Djamarah, Syaiful Bahri; Aswan Zain (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta&lt;br /&gt;(http://blog.360.yahoo.com; diunduh 29/12-08).&lt;br /&gt;Media Kerja Budaya, edisi 09/2002.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-7101897271666641227?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/7101897271666641227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/05/makalah_04.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/7101897271666641227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/7101897271666641227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/05/makalah_04.html' title='MAKALAH'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Y17wOKw8l-8/TcUBqaaO-gI/AAAAAAAAAFI/ipalKhy6mBI/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-1251275766175888384</id><published>2011-05-04T00:12:00.000-07:00</published><updated>2011-05-07T01:27:54.817-07:00</updated><title type='text'>MAKALAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-uCyP6uVkG8c/TcUB5pjbW9I/AAAAAAAAAFQ/dDELTu6iA34/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 124px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-uCyP6uVkG8c/TcUB5pjbW9I/AAAAAAAAAFQ/dDELTu6iA34/s200/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603887401251068882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MENUMBUHKAN MINAT BACA PELAJAR MELALUI METODE MULTILEVEL READING&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Rattahpinnusa HH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB. I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENGANTAR.&lt;br /&gt;Membaca merupakan salah satu komponen penilaian indeks pembangunan manusia pada suatu negara. Hampir 99 % penduduk negara Jepang, Inggris, Jerman dan Amerika telah melek huruf. Sedangkan angka melek huruf di Indonesia hanya mencapai 65,5 % dari total jumlah penduduknya. Terlebih laporan Bank Dunia dan Studi Internasional Assosiation for the Evaluation of Education Achievement di Asia Timur merilis bahwa tingkat membaca dan keterpahaman baca anak-anak di Indonesia merupakan yang terendah dengan skor 51,7. Kondisi tersebut muncul karena beberapa faktor antara lain sistem pendidikan, ketersediaan bahan bacaan serta kemajuan teknologi. Sebuah wacana berkembang tentang  rendahnya minat baca pelajar, yakni: kemajuan teknologi disinyalir menghambat minat baca para pelajar. Merebaknya penggunaan handphone (Hp) dikalangan pelajar merupakan fenomena yang menarik dicermati. Hal yang wajar jika penggunaan Hp sebatas alat telekomunikasi. Namun merupakan penyimpangan jika  penggunaanya bertentangan dengan norma–norma yang berlaku dimasyarakat. Berbagai bentuk penyimpangannya berupa: adegan mesum yang direkam dengan kamera Hp maupun  maraknya istilah “Gaul” semisal: Tq (Terima kasih), Aq (Aku) pada penggunaan short message. Istilah-istilah tersebut menyalahi kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Murahnya tarif layanan bicara turut menyubur budaya tutur. Kemajuan teknologi menyebabkan “culture shock” pada pelajar. Sebagian besar pelajar mengidentikkan Hp sebagai simbol sosial bagi komunitasnya.  Berdasar kondisi tersebut maka pelajar  menempatkan Hp sebagai kebutuhan primer di banding alat penunjang belajar. Mereka rela menyisihkan uang sakunya untuk membeli pulsa daripada buku. Jika kondisi tersebut terus berlarut maka dikhawatirkan  lambat laun mereka menjadi pembaca pasif.&lt;br /&gt;Semakin bertambahnya angka pembaca pasif dan buta aksara merupakan ancaman bagi eksistensi suatu negara. Terlebih jikalau kondisi tersebut menjangkiti para pelajar. Sebab populasi remaja usia produktif (pelajar) mendominasi piramida populasi penduduk Indonesia.  Buta aksara identik dengan kebodohan dan kebodohan penyebab kemiskinan. Dan meningkatnya jumlah pembaca pasif menyebabkan rendahnya daya saing sumber daya manusia. Kebodohan, kemiskinan dan rendahnya daya saing menjadi  gerbang masuknya faham neo-kolonialisme. Yakni menjadikan ekonomi sebagai alat menaklukkan suatu negara atau dengan kata lain menjadikan suatu negara bergantung pada negara lain secara ekonomi, sosial dan politik. &lt;br /&gt;Membudayakan minat baca merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa tak terkecuali perpustakaan. Membaca indentik dengan buku dan tugas perpustakaan adalah memberikan literasi informasi. Sedikit disinggung tentang kendala-kendala menumbuhkan minat baca khususnya dikalangan pelajar. Pada prinsipnya bahwa rendahnya minat baca berkaitan dengan motivasi. Hal inilah yang menggerakkan seseorang melakukan sesuatu. Motivasi dalam dirilah yang mampu mendorong keingintahuan untuk mencari informasi. Demikian halnya dengan motivasi untuk membaca. Dawson dan Bamman (1960) dalam Fundamentals of Basic Reading Instruction menyatakan bahwa: “Seseorang dapat menemukan kebutuhan dasarnya lewat bahan-bahan bacaan jika topik, isi, pokok persoalan, tingkat kesulitan dan cara penyajiannya sesuai dengan kenyataan individunya“. Konsepsi tersebut dapat dipakai oleh pihak terkait untuk menumbuhkan minat baca pada pelajar. Literasi informasi pada pelajar menjadi merupakan lahan garapan perpustakaan sekolah. Hal tersebut berdasarkan pertimbangan efektivitas perpustakaan sekolah dalam meliterasi informasi. Usaha tersebut dapat disinkronkan dengan kegiatan belajar mengajar disekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. TUJUAN&lt;br /&gt;1. Memberikan alternatif pembinaan minat baca pada siswa melalui konsep pembelajaran kelompok.&lt;br /&gt;2. Menjelaskan fungsi perpustakaan sekolah dalam pembinaan minat baca siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB. II&lt;br /&gt;LANDASAN TEORI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KURIKULUM 2004 (KBK) DAN KETRAMPILAN MEMBACA.&lt;br /&gt;Penerapan kurikulum 2004 atau disebut juga Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang merupakan penyempurnaan kurikulum 1994 (Cara Belajar Siswa Aktif),  diharapkan membawa perubahan pada sistem pendidikan di Indonesia. KBK bertujuan membekali pelajar dengan kecakapan hidup dan belajar sepanjang hayat melalui pengalaman belajar. Untuk mencapai tujuan tersebut maka perlu strategi pembelajaran yang tepat. Dan pembelajaran tematik mampu menunjang penerapan KBK. Sebab pembelajaran ini memberdayakan kualitas pembelajaran KBK dengan metode pembelajaran yang inovatif dan berdaya guna dengan berorientasi pada siswa. Konsep pembelajaran tematik adalah kegiatan mengajar dan memadukan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap pembelajaran serta pemikiran kreatif dengan menggunakan tema (Sutirjo: 2005). Pembelajaran terpadu ini yang menekankan pada keterlibatan pelajar dalam kegiatan belajar mengajar sehingga membuat pelajar aktif dalam proses belajar, mampu memberdayakan sumber daya yang ada serta memecahkan masalah berdasarkan kreativitas para pelajar. Sehingga guru dan pelajar terkondisikan dengan suasana yang serba inovatif. &lt;br /&gt;Membaca berperan penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Proses ini akan menemui hambatan jika guru dan murid sama-sama melalaikan aktivitas baca. Sebab membaca bermanfaat untuk mengetahui informasi, menimbulkan ide serta membentuk suatu pola pikir terhadap sesuatu hal. Selain itu, membaca merupakan bagian dari bahasa sedangkan bahasa adalah ketrampilan. “Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa maka semakin jelas jalan pikirannya. Ketrampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih ketrampilan berbahasa berarti melatih ketrampilan berpikir” (Tarigan, 1980: 1, 1981: 2, Dawson (et.all), 1963: 27). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB. III&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. MODEL PENGEMBANGAN MINAT BACA&lt;br /&gt;Rendahnya motivasi baca pelajar dan strategi pembelajaran yang tidak tepat menjadi hambatan proses pengajaran. Hal pertama muncul akibat persepsi yang salah tentang membaca. Membaca identik dengan aktivitas individu yang membosankan. Menilik kondisi tersebut maka guru bidang studi Bahasa Indonesia pada jenjang sekolah menengah dapat memanfaatkan KBK untuk merangsang dan meningkatkan ketrampilan membaca para pelajar. Strategi pembelajaran yang sesuai untuk memotivasi pelajar untuk gemar membaca adalah pendekatan pembelajaran kelompok.&lt;br /&gt;Ide pembentukan kelompok belajar (Kejar) ini berdasar atas sifat manusia yang homo social. Manusia saling membutuhkan satu dengan lainnya untuk mencukupi kebutuhannya. Demikian pula dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM), guru akan menghadapi berbagai jenis sifat, karakter, kemampuan serta minat siswa-siswi yang berbeda. KBM menjadi semakin tidak ideal jika melihat rasio antara guru dan siwa-siswi yang tidak berimbang. Kelompok belajar merupakan strategi guru untuk mengelola KBM secara efektif. Pengelompokkan anggota Kelompok Belajar berdasar atas kesamaan minat dan kemampuan. Setelah kelompok belajar terbentuk maka guru menerapkan pembelajaran tematik dengan memberikan serangkaian tugas secara kontinyu, terarah dan terukur. Tugas tersebut dapat berupa permasalahan lintas bidang studi yang tengah terjadi dilingkungan sekitar siswa. Hal tersebut dimaksudkan memotivasi kelompok belajar untuk menemukan akar permasalahan dan solusinya melalui penelusuran pada sumber-sumber informasi dan diskusi. Diharapkan dalam proses tersebut terjadi dinamika kelompok yang merangsang anggota-anggotanya untuk berpikir kritis dan melahirkan ide-ide inovatif. Proses tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(Gambar 1. Proses Dinamika kelompok. Sumber: A.Surjadi: 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran pemimpin dalam proses tersebut sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Membagi kelompok kedalam sub-sub kelompok dan mengarahkan mereka kepada sumber-sumber material baik berupa buku, majalah atau koleksi audio visual.&lt;br /&gt;2. Membantu menentukan bidang-bidang perhatian yang berhubungan dengan masalah atau isu itu yang dapat menolong kelompok untuk memahami masalah itu lebih baik atau untuk melakukan fungsi yang berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;3. Menjelaskan kepada sub-sub kelompok tentang penyelesaian tugas-tugas mereka.&lt;br /&gt;4. Mempersilahkan sub-sub kelompok untuk melaporkan tahap penyelesaian tugas mereka.&lt;br /&gt;5. Menyarankan tindak lanjut, penelitian lebih lanjut atau cara untuk memanfaatkan pengalaman sebagai dasar kegiatan dimasa depan.&lt;br /&gt;6. Mengevaluasi kelompok belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran anggota kelompok belajar sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Mendengarkan baik-baik penjelasan tentang proyek penugasan yang akan dikerjakan secara berkelompok&lt;br /&gt;2. Ikut secara aktif mengerjakan tugas yang dipercayakan atau yang mereka pilih itu dengan mempergunakan sumber-sumber yang tersedia&lt;br /&gt;3. Melaporkan penemuan-penemuan daripada tugas-tugas yang telah diselesaikan.&lt;br /&gt;4. Ikut menanggapi penemuan-penemuan kelompok lain&lt;br /&gt;Presentasi merupakan bentuk umpan balik dari penugasan tersebut. Presentasi merupakan interaksi antara kelompok belajar satu dengan lainnya dan kelompok belajar dengan guru.  Dari hasil umpan balik tersebut maka guru dapat memberikan penilaian seberapa jauh efektivitas penyampaian sebuah materi dan berapa besar pengayaan materi dari masing-masing kelompok. Belajar kelompok merupakan metode efektif untuk menumbuhkan minat baca. Karena pada metode tersebut akan terbangun suasana kompetisi antar anggota dalam hal menelaah berbagai sumber informasi termasuk buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PERPUSTAKAAN SEKOLAH DAN SUMBER BELAJAR.&lt;br /&gt;  Belajar mengajar  merupakan proses transfer informasi yang bermuatan nilai-nilai kepada peserta didik. Dan pola umum interaksi kegiatan belajar mengajar melibatkan unsur tenaga kependidikan, bahan dan alat didik serta siswa. Ketiganya merupakan unsur yang integral. Proses KBM kurang efektif jika tanpa tersedianya sumber belajar yang memadai. Yang menjadi pertanyaan adalah apa itu sumber belajar? Sebenarnya sumber belajar terdapat disekeliling kita. Semisal guru bidang studi biologi hendak menerangkan struktur daun maka guru dapat membawa dedaunan asli. Sehingga daun dapat digolongkan sebagai alat bantu dan pohon sebagai sumber belajar. Sumber belajar dikelompokkan menjadi lima menurut Udin Saripudin Winata Putra (199; 65) dalam Syaiful Bahri Djmarah (2002), yakni: manusia; buku/perpustakaan, media massa, alam lingkungan dan media pendidikan. Sehingga sumber belajar dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk bahan ajar.&lt;br /&gt;Perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar untuk mendukung efektivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) disekolah. Dalam penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) maupun Kurikulum berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah maka pengajaran diarahkan pada pembekalan keterampilan pada siswa dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Sehingga siswa tidak terjebak dalam hutan literasi informasi. Pengelola perpustakaan harus tanggap terhadap hal tersebut. Karena kemampuan siswa dalam mengenali informasi yang dibutuhkan, mencari, menseleksi, mengevaluasi dan menyampaikannya kepada orang lain merupakan kemampuan yang dibutuhkan seumur hidup. Kemampuan tersebut akan mempermudah anak meningkatkan pengetahuannya baik pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun pada saat ia bekerja. Untuk dapat melaksanakan program tersebut perlu ditunjang oleh:&lt;br /&gt; Pertama,kebijakan kepala sekolah dalam mengkaitkan perpustakaan sekolah dengan program kurikuler maupun ekstra kurikuler. &lt;br /&gt; Kedua, kompetensi pengelola perpustakaan sekolah.&lt;br /&gt; Ketiga, koleksi perpustakaan yang memadai.&lt;br /&gt; Keempat, sarana dan prasarana perpustakaanyang menunjang layanan perpustakaan sekolah termasuk sarana teknologi informasi. &lt;br /&gt;Masalah yang dihadapi oleh sebagian besar perpustakaan sekolah di Indonesia adalah kurang/tiadaannya tenaga perpustakaan sekolah yang memadai baik jumlah maupun kompetensinya, kurangnya koleksi sarana dan prasarana, tidak adanya sarana teknlogi informasi di sekolah. Untuk mengatasi hal itu, sudah ada upaya yang dilakukan pemerintah, diantaranya memberikan pelatihan, block grant dalam pengadaan ruangan perpustakaan, pembelian buku, penyusunan berbagai pedoman dan standar untuk perpustakaan sekolah, serta pengembangan sistem layanan terpadu perpustakaan sekolah.&lt;br /&gt;Terlepas dari segala masalah yang membelit perpustakaan sekolah maka pengelola perpustakaan haruslah inovatif dalam pengembangan literasi informasi. Berkaitan pada pembahasan diatas yakni: metode pembelajaran kelompok sebagai sarana menumbuhkan minat baca maka pengelola perpustakaan dapat memodifikasi konsep multilevel marketing (penjualan berjaringan) dalam menunjang program tersebut. Penjelasan teknisnya sebagai berikut: Guru bidang studi Bahasa Indonesia menugaskan kelompok belajar yang telah terbentuk untuk mendalami sebuah tema tertentu. Guru turut mengarahkan siswa untuk mencari sumber-sumber material pendukungnya diperpustakaan sekolah. Selanjutnya terjadi serah terima antara guru dan pengelola perpustakaan sekolah yang bertugas membimbing kelompok-kelompok tersebut dalam hal literasi informasi yang meliputi: mencari, menseleksi, mengevaluasi dan menyampaikannya. Selama proses ini, pengelola perpustakaan turut menyediakan bahan ajar yang menunjang dan berkoordinasi dengan guru yang bersangkutan untuk menentukan strategi pengayaan. Tiap-tiap anggota kelompok dibebani kewajiban meresume satu buku yang berlainan judul dengan anggota lain. Namun buku-buku tersebut mempunyai kesesuaian topik penugasan. Hasil resume tersebut  didiskusikan terlebih dahulu pada tingkat kelompok. Jika diskusi telah selesai maka antar anggota kelompok saling menukarkan buku yang telah dibacanya dan begitu seterusnya. Jika satu kelompok beranggotakan 10 orang maka kesepuluh orang tersebut telah membaca sepuluh buku dengan judul yang berbeda. Selanjutnya hasil diskusi tingkat kelompok tersebut dipresentasikan dalam forum pada waktu yang telah ditentukan. Konsep tersebut  disebut juga multilevel reading atau membaca berjaringan. Konsep tersebut dapat dijalankan jika terjalin koordinasi antara guru, murid dan pustakawan. Serta penerapan konsep multilevel reading terintegrasi dengan konsep belajar kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB. IV&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Rendahnya motivasi membaca dan strategi pembelajaran yang tidak tepat merupakan hambatan proses KBM. Membaca identik dengan aktivitas individual yang membosankan. KBK memberikan peluang kepada siswa dan guru bidang studi Bahasa Indonesia untuk meningkatkan ketrampilan membaca. Strategi pembelajaran yang sesuai adalah pendekatan pembelajaran kelompok.&lt;br /&gt;Pembentukan kelompok belajar (Kejar) berdasar atas sifat manusia sebagai mahluk sosial. Selain itu, KBM menjadi tidak ideal jika melihat ketidakseimbangan rasio antara guru dan murid. Kelompok belajar merupakan strategi guru untuk mengelola KBM secara efektif. Pengelompokkan anggota kejar dapat berdasar kesamaan minat dan kemampuan. Setelah kelompok belajar terbentuk maka guru menerapkan pembelajaran tematik dengan memberikan serangkaian tugas secara kontinyu, terarah dan terukur. Tugas tersebut dapat berupa permasalahan lintas bidang studi yang tengah terjadi dilingkungan sekitar siswa. Hal tersebut dimaksudkan memotivasi kelompok belajar untuk menemukan akar permasalahan dan solusinya melalui penelusuran pada sumber-sumber informasi dan diskusi. Diharapkan dalam proses tersebut terjadi dinamika kelompok yang merangsang anggota-anggotanya untuk berpikir kritis dan melahirkan ide-ide inovatif.&lt;br /&gt;Perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar untuk mendukung efektivitas (KBM) disekolah. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Pengelola perpustakaan harus tanggap terhadap hal tersebut dengan cara membimbing penggunanya untuk mengenali informasi yang dibutuhkan, mencari, menseleksi, mengevaluasi dan menyampaikannya. Pengelola perpustakaan haruslah inovatif dalam  pengembangan literasi informasi di sekolah. Berkaitan pada pembahasan diatas maka pengelola perpustakaan dapat berkoordinasi dengan guru Bahasa Indonesia untuk mengembangkan minat baca dan keterampilan literasi informasi disekolah. &lt;br /&gt;Metode pembelajaran kelompok dapat diintegrasikan dengan multilevel reading  sehingga kedua tujuan tersebut dapat tercapai. &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djamarah, Syaiful Bahri; Aswan Zain (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta.&lt;br /&gt;Sutirjo; Mamik, Sri Istuti. (2005). Tematik: Pembelajaran Efektif dalam Kurikulum 2004. Malang. Bayu Media.&lt;br /&gt;Surjadi, A.(1989.) Membuat siswa aktif Belajar: 65 cara belajar mengajar dalam kelompok.Bandung. Penerbit Mandar Maju.&lt;br /&gt;Tarigan, Henry Guntur. (1986). Menulis: Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung. Angkasa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-1251275766175888384?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/1251275766175888384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/05/makalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/1251275766175888384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/1251275766175888384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2011/05/makalah.html' title='MAKALAH'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-uCyP6uVkG8c/TcUB5pjbW9I/AAAAAAAAAFQ/dDELTu6iA34/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-2940075784076822737</id><published>2010-09-02T19:28:00.000-07:00</published><updated>2010-09-02T19:29:56.947-07:00</updated><title type='text'>Sinematografi</title><content type='html'>Proposal Eagle Award 2010 (REJECTED)&lt;br /&gt;POHON KEHIDUPAN DI TIMOR&lt;br /&gt;(Corypha utan lamarck)&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Rattahpinusa HH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pengantar&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Iklim semiarida di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah memberi corak bagi kehidupan penduduknya. Istilah NTT sering kali diplesetkan menjadi kalimat bernada pesiminis seperti : Nasib Tak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong. Istilah yang terdengar satire ditengah hingar bingar janji-janji politisi yang menjanjikan pemanfaatan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Kondisi alam yang tidak bersahabat dimana musim kemarau lebih panjang dari musim hujan, curah hujan yang rendah, kontur tanah yang berbatu dan berbukit serta terbatasnya vegetasi yang tumbuh menyebabkan hanya ekosistem savana yang mendominasi kawasan tersebut. Walter dan Gillison dalam B Paul Naiola (2007) mendefisikan savana sebagai :”Suatu komunitas berkayu yang penampilan antar komponen tumbuhan parenial jelas dapat dibedakan dari rumput-rumputan (annual)”.&lt;br /&gt;Kerasnya alam tidak serta merta memusnahkan kehidupan di Pulau Timor. Dengan segala keterbatasannya, penduduk pulau ini coba bertahan hidup dengan memanfaatkan potensi yang ada. Ternyata Tuhan masih bermurah hati dengan memberikan pohon kehidupan kepada mereka. Penduduk Timor menyebut pohon tersebut sebagai Gewang yang nama latinnya Corypha utan lamarck (1783). Secara alami, famili Palmae ini tumbuh di daerah pedalaman perbukitan dengan ketinggian 400 m dpl dan memiliki tinggi 20 m tanpa percabangan. Gewang menempati posisi strategis dalam struktur sosial penduduk Timor. Hampir setiap bagian pohon mulai dari batang maupun  daunnya dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. Berbagai produk gewang berupa bahan pangan, minuman, bahan bangunan (atap, dinding, balok) serta barang anyaman (tikar, nyiru). Bahkan turunan produk gewang berupa Sopi (hasil distilasi gula aer) yang mengandung kadar alkohol 30-40 % berpotensi diolah menjadi bio etanol. Serta chip batang gewang dapat diolah menjadi papan partikel.&lt;br /&gt;Namun saat ini, populasi pohon gewang mengalami fluktuasi karena ekspolitasi yang dilakukan penduduk tidak diiringi usaha konservasi. Selain itu, habitat gewang semakin mengalami penyusutan karena desakan pengalihgunaan lahan sebagai kawasan pemukiman dan pengembangan perkotaan/perdesaan. Namun ironisnya, pemerintah daerah setempat seolah tutup mata terhadap permasalahan tersebut. Hal tersebut terlihat dari belum adanya produk hukum yang melindungi habitat gewang sebagai kawasan konservasi. Lambat laun gewang akan menuju kepunahan karena eksploitasi yang dilakukan tidak diiringi usaha konservasi dan budidaya.&lt;br /&gt;Melalui media Eagle Award ini kami mencoba menyadarkan pihak terkait untuk segera mengambil tindakan antisipatif dan strategis untuk mencegah kepunahan gewang. Mengingat tingginya tingkat ketergantungan hidup penduduk Timor yang khususnya di pedalaman terhadap gewang dalam upayanya mempertahankan hidup. Jangan sampai pohon kehidupan ini musnah dan menjadi cerita bagi anak cucu kita.&lt;br /&gt;B. Tujuan Penyusunan Proposal Film Dokumenter.&lt;br /&gt;1. Mendokumentasikan/Memvisualisasikan aktivitas sosial, budaya dan ekonomi penduduk Timor memanfaatkan pohon gewang.&lt;br /&gt;2.  Mempersuasi pengambil kebijakan untuk merumuskan kebijakan eksploitasi pohon gewang dengan mempertimbangkan aspek konservasi dan keberlanjutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Metodologi&lt;br /&gt;A. Waktu dan tempat.&lt;br /&gt;Pengambilan gambar akan mengambil lokasi di  desa Usapisonbai, Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang, NTT. Lokasi berjarak 60 Km dari pusat kota Kupang dengan jarak tempuh + 1 jam. Lokasi dapat dicapai dengan kendaraan carteran.&lt;br /&gt;Sedangkan waktu pengambilan gambar bulan April-Juli. Pada periode tersebut pohon Gewang telah berbunga yang menandakan aktivitas penyadapan nira dimulai. Adapun rincian jadwal pra-produksi, produksi dan pasca produksi dilampirkan.&lt;br /&gt;B. Personil&lt;br /&gt;Pembuatan film dokumenter ini membutuhkan setidaknya 3 personil, &lt;br /&gt;yaitu :&lt;br /&gt;1. Sutradara       . : ...........................&lt;br /&gt;2. Asisten Sutradara        : ...........................&lt;br /&gt;3. Kameramen         : ...........................&lt;br /&gt;C. Rancangan Anggaran Belanja&lt;br /&gt;Rancangan anggaran biaya pembuatan film dokumenter terlampir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;III. Pembahasan&lt;br /&gt;Gewang merupakan jenis tumbuhan multiguna, naik sebagi sumber bahan pangan, minuman, bahan bangunan  maupun industri sederhana rumah tangga. Berikut akan di sajikan data dan fakta pemanfaatan gewang dari beberapa aspek yaitu : &lt;br /&gt;A. Aspek Ekonomi.&lt;br /&gt;Sadapan perbungaan gewang menghasilkan beberapa ragam minuman olahan yang bernilai ekonomis, yaitu : gula air, gula lempang dan sopi. Ketiga hasil olahan tersebut  merupakan komoditi yang laris dipasaran.&lt;br /&gt;B. Aspek Sosial&lt;br /&gt;Pada pemukiman savana maka bahan-bahan konstruksi rumah kebanyakan berasal dari gewang.  Penggunaan daun dari tegakan muda dipakai sebagai atap rumah yang membentuk suasana sejuk jika dibandingkan atap dari seng. Dari daun pula diperoleh tali erat yang kuat. Pelepah tegakan muda yang dikeringkan dan disusun dengan cara ditancapkan pada 2 buah rusuk bambu sehingga membentuk lempengan disebut ’bebak’. Lempengan-lempengan ini digunakan sebagai dinding. Sedangkan batangnya digunakan sebagai balok atau tiang rumah.&lt;br /&gt;Selain itu beberapa peralatan rumah tangga dibuat dari daun gewang. Di pedesaan Usapisonbai terdapat sejenis payung tradisional yang disebut ’seuk’ yang terbuat dari pucuk daun yang masih muda. Daun gewang yang telah kering dapat dianyam menjadi tikar, gayung dan bejana tempat air.&lt;br /&gt;C. Aspek Budaya&lt;br /&gt;Dalam budaya Usapisonbai, tumbuhan gewang merupakan satu bagian dari strategi budaya adaptif masyarakat savana dalam menghadapi kekurangan makanan selama paceklik. Riwu Kaho 2007 menyatakan bahwa: ”Gewang merupakan komoditas yang akan digunakan sebagai cadangan sumberdaya ketika terjadi gangguan dalam sistem reproduksi tanaman pangan tradiosional yang bertumpu pada 2 hal yakni: 1.) Perladangan tumpangsari dan tumpang gilir tradisional dan 2.) corak pertanian savana yang bersifat polivalen, yaitu: sumber-sumber pangan bersala dari tanaman, ternak dan hutan. Bahan bahan gewang yang digunakan sebgai bahan ternak (putak) merupakan salah satu praktek polivanensi tersebut. Putak berasal dari empulur batang gewang yang dicacah halus dan langsung dimasak. &lt;br /&gt;D. Potensi bioetanol&lt;br /&gt;Nila hasil sadapan perbunga gewang merupakan salah satu komoditas penting. Nira yang berupa cairan berwarna putih-keruh keabuan mengandung berbagai komponen gula (fruktosa,glukosa, sakarosa) dan beberapa asama oranik. Adanya komponen ini  dapat memebrikan gambaran bahwa gewang berpotensi sebagai sumber bahan industri dan bahan pangan baru (Naiola et.all,2004). Nira yang berpotensi diproses menjadi bio etanol berasal dari 2 jenis yakni : &lt;br /&gt;1.) Laru adalah nira yang di fermentasikan secara alami langsung memanfaatkan mikroba, yaitu : Saccharomyces cerevisiae, Shizosaccharomyces pombe dan Pitchia spp. Kandungan etonolnya mencapai : 8-15 %.&lt;br /&gt;2.) Sopi adalah hasil proses distilasi dari hasil fermentasi gula aer yang mengandung etanol sebesar 40 %.&lt;br /&gt;Jumlah sel sacchoromyches sp 107 sel/gram adalah jumlah yang cukup banyak fermentasi gula seperti nira gewang dan dapat dikembangkan dalam sistem biorekator yang efisien untuk alkohol pengganti bahan bakar fosil (Najafpour et.all, 2004).&lt;br /&gt;Saat ini telah dilakukan penelitian tentang penggunaan sopi &amp; laru sebagi bahan bio etanol dalam skala kecil. Penelitian ini telah dilakukan oleh B. Paul Naiola dari LIPI dengan hasil yang memuaskan. Adapun hasilnya sebagai berikut :&lt;br /&gt;Dalam uji kelarutan bensin/premium dalam berbagai konsentrasi botanol gewang dan lontar, menunjukkan bahwa konsentrasi 87 % bioetanol dalam air, maka kelarutan premium dalam bio etanol dapat mencapai 17 %. Sementara itu, penyulingan kembali bio etanol dari bahan baku sopi gewang dan lontar hasil penyulingan rakyat di NTT dapat mencapai konsentrasi kemurnian 87-92%, pada suhu 65-67 C pada tekanan 300 milibar. Selanjutnya dalam studi preliminer ini telah dilakukan ujicoba operasi mesin motor (genset 100 watt) pada konsisi laboratorium, menggunakan rich ethanol biogasoline ketimbang rich preminium biogasoline dengan komposisi 85 % dan 15 % premium (E-85). Dengan modifikasi sederhana pada mesin, penampilannya cukup siginifikan. Sehingga gewang dapat dijadikan sumber energi alternatif ditengah krisis energi saat ini.&lt;br /&gt;E. Ancaman terhadap populasi Gewang.&lt;br /&gt;Tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap gewang setidaknya meninggalkan suatu kekhawatiran, yaitu: Populasi gewang yang semakin fluktuatif. Fakta lapangan menunjukkan bahwa vegetasi gewang di NTT dan khususnya P.Timor tidak dapat lagi dipertahankan status alaminya. Vegetasi gewang telah berubah fungsi menjadi kawasan penggembalaan dan usaha tani dalam berbagai intensitasnya. Tingkat ketergantungan yang tinggi menyebabkan eksploitasi berlebihan terhadap tumbuhan ini. Sementara desakan pengalihgunaan lahan sebagai konsekuensi dari pengembangan kota maupun pedesakan semakin menekan luas kawasan habitat gewang. Kedua ancaman tersebut perlu segera diantisipasi sehingga skala kepunahan gewang dapat segera diminimalisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian proposal film dokumenter : Pohon kehidupan. Film yang memuat aspek ekonomi, sosial, budaya dan potensi pohon gewang bagi masyarakat Timor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka.&lt;br /&gt;Najafpour G, H, Younesi, K Syahidah and K Ismail.2004. Ethanol Fermentation in an immobilized cell reactor usin Saccharomyces cerevisae, Bioresource Technology 92.251-26&lt;br /&gt;Naiola, BP.2004. studi awal terhadap potensi gewang (Corpha utan Lamk) savanna NTT sebagai sumber pangan dan minuman baru serta bahan dasar industri alkohol. Berita Biologi.  7 (3). 169-172&lt;br /&gt;Naiola BP, Johanis P Mogea, Subyakto. 2007. Gewang: Biologi, Manfaat, Permasalahan dan Peluang Domestikasi. Jakarta. LIPI&lt;br /&gt;Riwu kaho LM.2007. Studi sosial, Budaya dan Ekonomi Tumbuhan Gewang di desa Usapisonbai, Kecamatan Nekmesa Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Laporan Survai Riset kompetitif DomestikasiKeanekaragaman Hayati Indoensia.Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Indonesia.Tidak dipublikasikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-2940075784076822737?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/2940075784076822737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2010/09/sinematografi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/2940075784076822737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/2940075784076822737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2010/09/sinematografi.html' title='Sinematografi'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-1844062401860497061</id><published>2010-09-02T19:26:00.000-07:00</published><updated>2010-09-02T19:27:32.123-07:00</updated><title type='text'>Sastra</title><content type='html'>TETES AIR KEHIDUPAN&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Rattahpinusa Haresariu Handisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewindu telah berlalu.&lt;br /&gt;Rasa rindu kian menggebu.&lt;br /&gt;Benain Noelmina mengingatkanku&lt;br /&gt;Akan bentangan ngarai yang menghijau.&lt;br /&gt; Gemericik airnya laksana lantunan lagu.&lt;br /&gt; Aliran airnya meliuk diantara batu-batu.&lt;br /&gt; Seolah bebas dari pengganggu.&lt;br /&gt; Sungguh pesonanya memikat kalbu.&lt;br /&gt;Benain Noelmina menjadi hafas kehidupan.&lt;br /&gt;Bagi orang Dawan yang tinggal di bantaran.&lt;br /&gt;Airnya mengairi ladang tanaman.&lt;br /&gt;Endapan pasirnya membuka lapangan pekerjaan.&lt;br /&gt;Sungguh kehadiranya membawa pengharapan.&lt;br /&gt; Sayang debit airnya kini kian berkurang.&lt;br /&gt;Akibat banyak pepohonan yang ditebang.&lt;br /&gt;Tak heran kini kekeringan berkepanjangan.&lt;br /&gt;Apakah ini menjadi akhir bagi air kehidupan ?.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-1844062401860497061?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/1844062401860497061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2010/09/sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/1844062401860497061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/1844062401860497061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2010/09/sastra.html' title='Sastra'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-7943604177571324179</id><published>2010-08-24T19:18:00.000-07:00</published><updated>2010-08-24T19:29:56.363-07:00</updated><title type='text'>Religi</title><content type='html'>MEWUJUDKAN KESALEHAN SOSIAL MELALUI PUASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan 1431 H kembali menyapa umat Islam khususnya yang bermukim di Kupang. Berbagai aktivitas keagamaan tengah giat-giatnya dilaksanakan pada bulan Ramadhon. Setiap hari selama Ramadhan diisi umat Islam dengan berpuasa di siang hari, berinfak dan bersedekah dilanjutkan sholat tarawih dan tahajud dimalam hari. Hal tersebut dilakukan umat Islam guna mencari ridho Allah swt. Kondisi khusyuk menjalankan ibadah puasa akan sulit tercipta jika tidak ditunjang situasi yang kondusif. Maka pemerintah kota beserta masyarakat Kupang yang memiliki toleransi keagamaan yang tinggi saling bahu membahu menciptakan ketenangan di bulan Ramadhan ini.&lt;br /&gt;Ramadhan berasal dari bahasa arab yang berarti bulan  yang panas. Dan secara filosofis, Ramadhan di maknai sebagai bulan membakar dosa-dosa dengan melakukan tobat dan melakukan amal kebajikan. Selain itu, Ramadhan memiliki keistimewaan sebagai bulan penuh maghfiroh (ampunan) dan barokah (Allah swt melipatgandakan setiap amalan hambanya). Maka setiap muslimin dan muslimat giat beribadah guna memanfaatkan momen tersebut. Pada tahun ke-2 Hijriah Allah swt menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad saw untuk menjalankan puasa.  Allah swt berfirman : “Telah diwajibkan atas (kamu) orang beriman untuk berpuasa. Sebagaimana orang-orang terdahulu agar kamu sekalian bertaqwa” (QS. Al Baqoroh: 183). Sehingga setiap bulan Ramadhon umat islam diwajibkan berpuasa.&lt;br /&gt;Puasa merupakan ibadah yang istimewa karena memiliki dua aspek hubungan yang saling memiliki keterkaitan yakni :&lt;br /&gt;a.Habbluminallah yakni: hubungan vertikal antara Allah swt dan hambanya. Puasa sebagai sarana latihan pengendalian hawa nafsu dengan cara menahan lapar dan haus dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari, menghindari perbuatan mengurangi amalan puasa (marah, iri, dengki, berbohong, adu domba). Kenapa hawa nafsu mesti dikendalikan ? Hal tersebut terkait dengan fitrah manusia sebagai mahluk yang memiliki akal (aqli) dan perasaan (nasf). Keduanya merupakan representasi kebaikan dan keburukan yang saling bertolak belakang. Seorang manusia yang dikuasai nafsu akan lebih ‘buas’ dari seorang binatang. Semisal : seorang ibu yang rela membunuh darah dagingnya karena dia malu memiliki anak dari hubungan haram. Padahal hubungan pra-nikah terjadi akibat seorang lelaki dan perempuan yang sama-sama tidak bisa menahan ‘gejolak birahinya’. Dan sebuas-buasnya hewan, dia tidak akan membunuh anaknya. Dan puasa merupakan sarana melemahkan hawa nafsu dan mempertinggi derajat akal. Selain itu, puasa merupakan ibadah istimewa karena pada prakteknya kita tidak dapat membedakan antara orang yang berpuasa dan ‘yang mengaku puasa’. Karena tidak ada ciri yang mencolok diantara keduanya. Namun hanya Allah swt yang Maha melihat dan mendengar mampu membedakannya membedakan. Dari sini, kita dapat menangkap hikmah puasa yakni: kejujuran yang menyuburkan sikap Ikhsan (merasa diawasi Allah swt setiap saat dan waktu tanpa kita melihat keberadaan-Nya). Karena keistimewaanya itulah maka Rasulullah bersabda dalam hadits Qudsi Allah Berfirman : “Semua Amalan Anak Adam Miliknya Kecuali Puasa Ia Adalah MilikKu Dan Akulah Yang Akan Memberikan Pahala Terhadap Puasa Tersebut” (HR Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;b.Habbluminanash yakni: hubungan horisontal antar sesama manusia. Puasa memiliki nilai filsafat yang tinggi jika kita mau berpikir. Salah satu hikmahnya adalah menyuburkan empati dan simpati terhadap sesama dalam lubuk hati yang terdalam. Dalam keadaan lapar dan dahaga maka kita akan dengan mudah merasakan penderitaan saudara kita yang tidak mampu. Hal tersebut terlepas dari strata sosial kita sebagai pejabat, tokoh masyarakat, pegawai, pedagang. Mungkin selama ini, kondisi ekonomi kita dapat mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Namun bagaimana dengan kondisi saudara kita yang hidup dibawah garis kemiskinan ? Belum tentu mereka bisa makan 2 kali sehari. Kondisi tersebut diperparah dengan laju inflasi yang sempat meningkat dan menyebabkan melambungnya harga bahan pokok serta menurunkan daya beli. Dengan  merasakan kondisi yang dialami orang miskin maka hal tersebut akan menumbuhkan empati kita terhadap kaum elit (penulis: ekonomi sulit).&lt;br /&gt;Selain itu, setiap muslimin dianjurkan memperbanyak infak dan sedekah selama menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Potensi tersebut jika dikelola dengan baik akan menjadi alternatif sarana pemberdayaan ekonomi. Perlu inisiasi pendirian lembaga Baitul Maal Tanwil atau semacam lembaga pembiayaan syariah yang mengelola dana umat dan menyalurkannya kepada fakir miskin. Bantuan tersebut dapat berupa hibah modal usaha ataupun pinjaman bersistem bagi hasil. Sehingga kaum fakir memiliki alat produksi guna memenuhi kebutuhannya. Ibaratnya kita memberikan kail kepada mereka. Setidaknya kesenjangan ekonomi dapat mulai dikurangi.&lt;br /&gt;Apabila ibadah puasa senantiasa ditingkatkan kualitasnya, dipahami esensinya dan dipraktekkan oleh segenap umat Islam maka bukan tidak mungkin akan terwujud kesalehan sosial. Konsep kesalehan sosial merupakan kondisi lingkungan yang tercipta pada saat setiap orang baik secara individu dan berkelompok saling berlomba-lomba berbuat kebajikan dan mereduksi keburukan/kejahatan. Kondisi ideal tersebut akan tercipta dengan 2 (dua) prasyarat, yakni: Kesiapan individu dan dukungan lingkungan. &lt;br /&gt;Puasa pada bulan romadhon menjadi titik awal dari penciptaan dua kondisi tersebut. Karena puasa melatih setiap individu untuk senantiasa mengendalikan diri dengan tujuan mencapai kondisi psikologi yang stabil. Mereka yang mampu menahan hawa nafsu akan senantiasa memakai pikiran yang jernih dalam mengambil suatu tindakan. Kondisi emosi yang stabil merupakan kunci dalam meredam terjadinya konflik. Emosi yang terkontrol akan mencegah setiap perbuatan anarkis. Jika individu-individu tersebut melemburkan diri dalam kehidupan bermasyarakat maka budaya kekerasan yang ada selama ini dapat dikikis. Karena setiap individu dalam masyarakat tersebut dapat mengendalikan diri dan selalu mengedepankan rasionalitas dalam menghadapi suatu permasalahan. &lt;br /&gt;Romadhon menciptakan situasi yang kondusif bagi umat Islam yang menjalankan puasa. Mengingat segenap elemen masyarakat yang berasal dari beragam suku dan keyakinan senantiasa mengedepankan toleransi diatas perbedaan. Kondisi kondusif tersebut tergambar dari berkurangnya jam operasional tempat hiburan malam, dibatasinya tayangan yang berpotensi pornoaksi dan diberikan kesempatan umat Islam untuk berpuasa, shalat tarwih berjamaah dan pengajian ilmu keIslaman. Situasi yang damai, toleransi dan saling menghormati antar sesama manusia merupakan kondisi ideal dalam melaksanakan ibadah. Jika kondisi tersebut dapat dipertahankan secara konsisten tanpa terbatas ruang dan waktu. Maka kesalehan sosial yang diimpikan akan semakin mendekat menjadi sebuah kenyataan. Amin.&lt;br /&gt;(by Rattah Kupang 24082010)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-7943604177571324179?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/7943604177571324179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2010/08/religi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/7943604177571324179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/7943604177571324179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2010/08/religi.html' title='Religi'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-3477620019271970629</id><published>2010-05-20T23:27:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T23:33:56.369-07:00</updated><title type='text'>Opini</title><content type='html'>PROSPEK PENGEMBANGAN GAHARU DI KAB. TULUNGAGUNG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat sekitarnya. Karena hutan memiliki potensi ekonomis dan ekologis. Potensi alam berupa, kayu, flora, fauna dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan. Selain itu, hutan berperan dalam daur hidrologi dengan menyediakan sumber-sumber mata air. Namun dilain sisi, tekanan terhadap hutan di pulau Jawa khususnya Tulungagung semakin  tinggi seiring pertambahan penduduknya. Luas hutan Kabupaten Tulungagung mencapai 39.847 km2 atau 37,74 % dari luas wilayahnya (www.pemprovjatim.go.id. 2006). Luasan tersebut lambat laun akan mengalami degradasi baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hal tersebut tidak terlepas dari tekanan terhadap kawasan hutan. Tekanan tersebut berupa illegal logging, perambahan hutan, perladangan berpindah maupun alih fungsi hutan untuk kegiatan pertambangan. &lt;br /&gt;Tekanan yang bermotif ekonomi tersebut muncul akibat disparitas kesejahteraan yang dialami masyarakat sekitar hutan dengan masyarakat yang berdiam di perkotaan. Keterisoliran menyebabkan akses informasi, ekonomi dan transportasi sulit dinikmati masyarakat sekitar hutan. Sehingga menjerumuskan mereka kedalam kemiskinan. Dan pilihan yang termudah adalah mengeksploitasi potensi hutan yang nampak (tangible) nilai ekomonisnya, seperti : menebang pohon untuk mendapatkan kayunya. Padahal hutan bukan merupakan sumberdaya yang terbarukan. Karena untuk mengembalikan kondisi hutan yang rusak ke kondisi semula memerlukan proses yang panjang. Sedangkan hutan memiliki potensi ekonomi yang tidak tampak namun memberikan nilai ekonomis tinggi. Potensi tersebut adalah Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang pemanfaatannya akan tetap melestarikan hutan serta memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas HHBK dan Pola Pengembangannya.&lt;br /&gt;Pengertian HHBK adalah hasil hutan baik nabati maupun hewani beserta turunannya dan budidayanya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Adapun regulasi yang mengaturnya merujuk pada Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.35/Menhut-II/2007 tanggal 28 Agustus 2007 tentang HHBK. Peraturan ini menjelaskan jenis-jenis HHBK yang terdiri dari :&lt;br /&gt;A. Kelompok Hasil Hutan dan Tanaman berupa: kelompok resin; kelompok minyak atsiri, minyak lemak, Pati (karbohidrat), buah-buahan, Tannin (zat penyamak); Bahan pewarna; Getah; Tumbuhan Obat, Tanaman hias, Rotan, Bambu.&lt;br /&gt;B. Kelompok Hasil Hewan berupa: kelompok hewan buru, hewan hasil penangkaran dan hasil hewan seperti wallet, kutu lak dan ulat sutera.&lt;br /&gt; Pemanfaatan HHBK bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan melestarikan hutan. Agar tujuan tersebut tercapai, patut diperhatikan arah pengembangan potensi HHBK. Menurut Budiawan (Kenari:2008) menyebutkan bahwa terdapat 6 (enam) aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan HHBK yaitu: &lt;br /&gt;1. Pengembangan HHBK unggulan lokal yang sesuai dengan karakteristik wilayahnya.&lt;br /&gt;2. Penetapan sentra pengembangan HHBK unggulan.&lt;br /&gt;3. Peran serta pemberdayaan masyarakat.&lt;br /&gt;4. Pengembangan jejaring kerja dan koordinasi.&lt;br /&gt;5. Pengembangan teknologi dan pengolahan hasil.&lt;br /&gt;6. Promosi pemanfaatan yang bertujuan mendorong masyarakat menggunakan produksi yang berasal dari HHBK.&lt;br /&gt;Pola pengembangan tersebut dapat dipergunakan sebagai acuan bagi penentu kebijakan didaerah. Dalam hal ini, pemerintah daerah dapat bertindak sebagai regulator dan fasilitator program pengembangan HHBK dan masyarakat sekitr hutan bertindak sebagai subjeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan Gaharu di Kab. Tulungagung.&lt;br /&gt;Produksi HHBK di Kab. Tulungagung masih mengacu pada satu produk saja yakni: kelompok resin. Data menyebutkan bahwa total produksi getah pinus Kab. Tulungagung mencapai 1.371,90 ton (www.pemprovjatim.go.id. 2006). Kondisi tersebut merujuk pada pola pengembangan HHBK unggulan lokal. Karena wilayah produksinya tersebar berada di kec. Sendang dan Pagerwojo. Berdasarkan kondisi tersebut maka pemerintah daerah dapat menentukan strategi pengembangan HHBK sesuai dengan karakterik sosio-topografisnya tersebut. Strategi intensifikasi dapat diterapkan pengembangan HHBK kelompok resin. Damar, kapur barus, kemenyan dan gaharu  masuk kedalam kelompok ini. Selain pinus yang menghasilkan damar, perlu dikembangkan pula tanaman Aquilaria maiaccensis Lamk yang menghasilkan damar gaharu dengan kualitas paling baik.  Tanaman ini bersinonim dengan jenis Aquilaria agailocha Roxb, Aqailochum secundarium coinemense dan Aquilaria malaicense Rumph, Aquilaria ovaia Cav., Aquiiaria secundaria D.C., Agallochum malaccense O.K, dan Aquilarie  maliacencis van Tiegh. (Wiradinata,1995 dalam Surata, 2001).&lt;br /&gt; Gaharu merupakan komoditas HHBK bernilai tinggi.  Nilai gubal gaharu bervarasi tergantung kelasnya. Sri Ramoan (Kenari, 2008) menyebutkan bahwa harga 1 kg kelas super mencapai Rp. 4.000.000,- s/d 5.000.000,- dan terendah (kemedangan) mencapai Rp. 100.000,- s/d 500.000,- per-kg. Sedangkan untuk pasar ekspornya, gaharu mengalami peningkatan. Menurut data Balai Pusat Statistik menyebutkan bahwa rata-rata nilai ekspor gaharu di Indonesia tahun 1990-1998 mencapai $ 2 juta dan tahun 2000 meningat menjadi $ 2.2 juta.&lt;br /&gt;Selain itu, pohon gaharu dapat dibudidayakan pada kawasan hutan yang memiliki ketinggian 300-700 m dpl berjenis tanah regosol coklat. Dengan tingkat curah hujan rata-rata 1500-2500 mm/tahun, tipe iklim C-D Schmidt dan Ferguson (Surata, 2001). &lt;br /&gt;Proses pembentukan  gaharu harus diperoleh dari batang pohon kayu penghasil gaharu yang terinfeksi oleh hama penyakit karena terluka dan terbentuk gumpalan coklat-hitam. Infeksi disebabkan oleh serangan hama dan penyakit serangga, jamur dan  bakteri Pembentukan gaharu terjadi akibat infeksi jamur Dipiodias Phytium dan Fusarium soloni yang membentuk gubal di batang pohon Aquilaria sp. Proses ini terjadi alami pada tegakan alami. Namun saat ini proses penularan (inkolusi) dapat direkayasa. Pada pohon gaharu usia 2 tahun batang pohon di bor, masukkan jamur tersebut pada lubang tersebut dan tutup lubang tersebut. Biarkan sampai pohon terinkolusi sampai siap panen.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Panen Dan Produksi Gaharu&lt;br /&gt;Secara sederhana, pemanenan gaharu dilakukan oleh pengumpul/petani dengan  melihat ciri-ciri fisik tanaman gaharu yang siap panen. Ciri-cirinya antara lain:&lt;br /&gt;1) Pohon gaharu yang kelihatan meranggas/hampir mati.&lt;br /&gt;2) Untuk mengetahui jumlah produksi gubal yang dihasilkan dapat dilihat dari jumlah daun yang rontok. Semakin banyak daun yang rontok maka semakin banyak gubal yang dihasilkan. &lt;br /&gt;3) Dengan menarik kulit pohon gaharu, apabila kulitnya  ditarik putus maka gubal gaharu siap dipanen. &lt;br /&gt;Pemanenan dilakukan dengan menebang pohon gaharu. Selanjutnya batang pohon dibersihkan dari kulit, cabang dan dipidahkan bagian yang berwarn aputih dan berwarna coklat hitam (yang ada damar gaharunya) dengan cara memotong dengan pisau  yang mengikut bentuk gubal gaharu (Widnyana dan Sinaga, 1998 dalan Surata, 2001). Bentuk gubal gaharu ada 3 yaitu: bentuk lempeng, mangkuk dan bulat. Selanjutnya batang gaharu dibersihkan dari kotoran dan dimasukkan ke dalam karung (wadah). H asil Pengumpulanya kemudian dijemur selama 5 - 6 hari dan selanjutnya di sortir menurut  kelas-kelasnya. Gaharu dimasukkan ke dalam kantung plastik atau karung kain.&lt;br /&gt;Klasifikasi gaharu dilakukan berdasarkan gubalnya yang ditandai oleh warna coklat-hitam. Menuruf Asgarin dalam Surata 2001 berdasarkan analisa pasar maka mutu gaharu dapat dikerompokkan menjadi 16 kelas.Kelas tertinggi sampai terendah sebagai berikut: Super A, super B, AB, AB1, AB2, TG A, TG B, Tri Tenggelam, Tri A, Tri B, Tri C, Kemedangan (MD), MD A, MD B, MD C, MDD, Tri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup.&lt;br /&gt;Pengembangan HHBK merupakan salah satu alternatif pengelolaan hutan secara lestari yang mensejahterakan masyarakat. Pengembangan HHBK harus memerhatikan karakeristik sosio topografi agar tujuannya tercapai. Salah satu jenis HHBK yang dapat dikembangkan di Tulungagung adalah budidaya Gaharu. Komoditi ini memiliki nilai ekonomis tinggi dan kebutuhannya mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Budidaya gaharu diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan menambah Penghasilan Asli Daerah. Sekian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiawan. Hasil Hutan Bukan Kayu: Jenis dan Kemungkinan Pengambangan. Kenari edisi 05. Jakarta. Pusluh, 2008&lt;br /&gt;Sri Ramoan. Gaharu. Komoditi yang Menjajikan. Kenari edisi 05. Jakarta. Pusluh, 2008.&lt;br /&gt;www.pemrovjatim.go.id diunduh tanggal 13 Juni 2009.&lt;br /&gt;I Komang Surata. Tehnik Budidaya Gaharu. Aisuli nomor 14 tahun. BPKK. Kupang, 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-3477620019271970629?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/3477620019271970629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2010/05/opini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/3477620019271970629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/3477620019271970629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2010/05/opini.html' title='Opini'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-7506387927145687863</id><published>2009-12-22T01:10:00.001-08:00</published><updated>2009-12-22T01:10:59.992-08:00</updated><title type='text'>Jurnalistik</title><content type='html'>HANDOUT DASAR-DASAR JURNALISTIK &lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Rattahpinusa HH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. APAKAH JURNALISTIK ?&lt;br /&gt;A. Jurnalistik adalah “Ilmu Yang Mempelajari Tentang Metode Mencari (Hunting); Menyeleksi (Selecting); Mengemas (Packaging), Menyunting (Editing) Dan Menyiarkan (Broadcasting) Sebuah Informasi Yang Punya Nilai Berita (News Value) Melalui Media Massa Secara Periodik”.&lt;br /&gt;B. Obyek formal Jurnalitik adalah  Informasi. Informasi yang mempunyai nilai berita harus memenuhi syarat sebagai berikut: &lt;br /&gt;1. Penting (Significan)&lt;br /&gt;2. Menarik (Magnitude).&lt;br /&gt;3. Aktual (Baru/ hangat).&lt;br /&gt;Cakupan informasi meliputi : &lt;br /&gt;1. Peristiwa (event).&lt;br /&gt;2. Opini (opinions).&lt;br /&gt;3. Masalah hangat (current affairs).&lt;br /&gt;4. Masalah Unik (unique habits).&lt;br /&gt;II. BERITA  :&lt;br /&gt;A. Definisi berita (News) menurut Charnley dalam Djoko (2002) adalah : “Timely report of fact or opinion that hold interest or importance both, for considerable number of people “  atau terjemahan bebasnya adalah : “Fakta atau opini yang  penting bagi banyak orang dan dilaporkan secara kontinyu”.&lt;br /&gt;B. Klasifikasi berita : &lt;br /&gt;1. Berdasarkan waktu,  meliputi : Berita hangat (hard news), Berita berkala (News magazine).&lt;br /&gt;2. Berdasarkan subyek meliputi : berita politik, hukum; ekonomi, luar negeri; hiburan, berita human interest.&lt;br /&gt;3. Berdasarkan segi derajatnya meliputi : Berita Verbal (abstraksi-nalar); Berita Visual (pandang-dengar).&lt;br /&gt;C. BAGAIMANA MENULIS BERITA ?&lt;br /&gt;C.1 Berburu Informasi (Hunting Infomation). Pedoman meliput dilapangan bagi jurnalis.&lt;br /&gt;1. Kenali medan dengan baik (Know your beat). Sebelum kita memutuskan berburu berita maka perlu pertimbangan beberapa hal berikut:&lt;br /&gt; Tentukan tujuan sebelum kita pergi ke Tempak KEjadian PErkara (TKP).&lt;br /&gt; Peristiwa apa yang yang terjadi disana ?&lt;br /&gt; Berita apa yang akan diperoleh disana ?&lt;br /&gt; Apakah berita sudah memenuhi 5 W + 1 H * (rumus dasar berita).&lt;br /&gt; (* ket: Sebuah berita harus memenuhi syarat 5 W + 1 H yakni : What (apa); Who  (siapa); Where (dimana); When (kapan); Why (kenapa) dan How (bagaimana).&lt;br /&gt;2. Pastikan sumber berita dengan cara: menemui sumber berita utama (saksi kejadian baik yang resmi maupun tak resmi) dan berhati-hatilah dengan konflik kepentingan (conflik interest) dengan narasumber karena berakibat mempengaruhi keobjektifan dan keakurasian berita).&lt;br /&gt;3. Hindari narasumber yang menolak namanya disebut sebagai sumber.&lt;br /&gt;4. Hindari kalimat retorik (kalimat Tanya tak bertanya) karena narasumber hanya akan menjawab dengan “ya” sehingga anda tiak akan memperoleh informasi yang diharapkan.&lt;br /&gt;C.2 Menyeleksi  Informasi (Selecting Information). Pedoman menyeleksi informasi dilapangan bagi jurnalis :&lt;br /&gt;1. Check , Re-Check dan Cross-Check setiap informasi yang anda peroleh.&lt;br /&gt;2. Pastikan sumber informasi secara spesifik ( Orang yang kredibel memberikan informasi terkait serta dokumen yang pasti).&lt;br /&gt;3. Data yang diperoleh harus akurat dan realistis.&lt;br /&gt;C.3 Mengemas informasi (Packaging Information). Pedoman menyusun kalimat berita:&lt;br /&gt;1. Ekonomi kata (KISS Formula : Keep It simple and Short) yakni: Kalimat, singkat; jelas dan padat.&lt;br /&gt;2. Akurasi nama dan jabatan harus benar dan jelas.&lt;br /&gt;3. Kata-kata yang positif (direct).&lt;br /&gt;4. HIndari kata-kata yang membingungkan.&lt;br /&gt;5. Gunakan kalimat aktif.&lt;br /&gt;6. Hati-hati mempergunakan kata majemuk karena dapat mengaibatkan salah makna.&lt;br /&gt;7. Kalimat pertama (LEAD) berita harus mengesankan. Aspek LEAD meliputi : What-Who-Where-When).&lt;br /&gt;C. 4 Menyunting (Editing). Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam menyunting berita:&lt;br /&gt;1. Kesalahan ejaan.&lt;br /&gt;2. Kesalahan penulisan kalimat asing.&lt;br /&gt;3. Kesalahan penulisan pada pajemuk sehingga menimbulkan makna ganda.&lt;br /&gt;4. Azas efisiensi bahasa. Seyogyanya berita tidak ditulis secara bertele-tele.&lt;br /&gt;III. PEMBUATAN MADING (Majalah dinding).&lt;br /&gt;Kamu pernah menyaksikan film “Ada Apa Dengan Cinta”? kalau sudah, tentu kamu tahu apa yang dilakukan Dian Sasto “sang cinta” dan kawan-kawannya dalam mengisi ekstra kurikulernya…? Yah kamu benar, mereka menjadi pengelola majalah dinding di sekolahnya. Cerita itu terus berlanjut hingga menampilkan banyak tokoh. Tapi tahukah kamu, bahwa cerita dan skanerio yang hingga membuat film itu begitu sukses di pasaran, ternyata hanya berasal dari “majalah yang ditempel di dinding” alias MADING !?&lt;br /&gt;Jadi apa sich Mading itu, bagaimana tehniknya…? Nah mari kita mulai pembahasan ini hingga selesai pelatihan ini. i kita dapat menulis dan membuat mading yang indah dan enak dibaca&lt;br /&gt;How to start&lt;br /&gt;Yang pertama, kamu harus tahu apa itu majalan dinding itu, kemudian kamu harus tahu cara menggunakan mading itu, tempat kreasi dimana tulisan atau gambar-gambar itu kamu akan publikasikan. Dan itu tidak perlu mewah cukuplah sebuah papan yang kamu bisa hias sehingga enak dipandang.&lt;br /&gt;Kedua, dan ini yang penting, kamu punya kreatifitas yang tinggi, mau berlelah-lelah mengurus dan memeras pikiran untuk bisa menampilkan tulisan, mengisi mading tersebut dengan alat kreatifitas yang tiada henti, menjadi media siswa dan perhatian masyarakat siswa. &lt;br /&gt;Ketiga siapkan alat dan bahannya. Adapun Alat yang diperlukan meliputi : Cutter; Gunting, Penggaris, Alat tullis menulis. Sedangkan bahan yang diperlukan adalah : papan sterofoam, kertas astro, lem khusus sterefoam. Langkah pembuatan mading sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Tentukan tema mading yang akan dibuat. Selanjutnya desain mading tersebut.&lt;br /&gt;2. Potong sterefoam sesuai dengan pola desain yang telah dibuat.&lt;br /&gt;3. Susun materi mading (berita; Teka teki silang dst) pada papan sterefoam.&lt;br /&gt;4. Hiaslah papan tersebut sesuai dengan kreatifitas anda.&lt;br /&gt;5. Mading siap dipasang&lt;br /&gt;How about majalah dinding&lt;br /&gt;Majalah dinding atau mading tiada beda dengan media-media jurnalistik lainnya, sebagai sebuah kekuatan media yang ikut mempengaruhi, itu kalau dapat diberdayakan secara maksimal.&lt;br /&gt;Agar mading yang kamu dapat efektif secara maksimal, lakukan beberapa hal berikut ini :&lt;br /&gt;a. Rutin memelihara dan mempercantik penampilan&lt;br /&gt;b. Rutin dalam mengganti isi mading, yah minimal seminggu sekali&lt;br /&gt;c. Jadikan mading sebagai media informasi guru, osis, atau siswa&lt;br /&gt;Agar mading menjadi media perhatian siswa hingga dapat efektif yang sebagaimana dikatakan di atas, lakukan prosedur berikut in:&lt;br /&gt;a. Tunjuklah beberapa orang, mungkin dari pengurus osis atau siswa, untuk bertanggungjawab terhadap mading sekolah kamu, minimal tiga orang yang bisa bertindak pimpinan redaksi, staf redaksi atau menjadi reporter/wartawan.&lt;br /&gt;b. Buatlah perlombaan antar siswa/kelas/atau angkatan apakah itu perlombaan menulis cerpen, puisi, gambar, atau artikel.&lt;br /&gt;c. Buatlah polling-polling siswa untuk menarik perhatian mereka&lt;br /&gt;d. Dan terakhir, mintalah selalu petunjuk dan dukungan pada gurumu, atau guru bidang kesiswaan agar mading dapat terus berjalan baik.&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Tentu tidak cukup bagi kamu untuk dapat memahami tulisan ini secara sempurna, sebagaimana penulis juga tidak cukup mampu untuk bisa menutupi kekurangannya. Tapi mari kita sama-sama berharap dan berusaha mudah-mudahan menjadi guna adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djoko Setyo Prajitno. (2002). TV Profesional.Surabaya. (s.a)&lt;br /&gt;Ahmad Furqon. http://ahmadpurqon.blogspot.com/2007/09/tehnik-jurnalistik-dan-pembuatan.html. 29 Agustsu 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-7506387927145687863?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/7506387927145687863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/12/jurnalistik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/7506387927145687863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/7506387927145687863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/12/jurnalistik.html' title='Jurnalistik'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-1266837962921192854</id><published>2009-12-03T21:56:00.000-08:00</published><updated>2009-12-03T21:58:41.447-08:00</updated><title type='text'>SOSIAL</title><content type='html'>PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA : PERLUKAH ?&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Rattahpinusa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;”Jum’at (7/11) lalu aparat Kepolisian Pamong Praja (Pol PP) Kota Kupang berhasil meringkus beberapa oknum siswi SMP di kota Kupang yang kedapatan sekamar dengan sopir. Para siswi tersebut kedapatan hanya menggunakan kain dan tiduran diatas tempat tidur, tepatnya disebuah kos-kosan tepatnya di RT 30/RW 10 Kelurahan Fatulili. Kota Kupang sementara menuju Kota Lost Generation ? tulis Longgunus Ulan pada Koran Timor Express, Kamis 12 November 2009. Kutipan berita tersebut membuat saya sebagai warga Kupang turut miris dan prihatin terhadap pola pergaulan remaja di Kota Kupang. Ternyata sebagian remaja kota ini telah terjebak pada pola pergaulan Hedonis. &lt;br /&gt;Pergaulan atau interaksi dengan sesama manusia merupakan hal yang wajar bagi kita selaku mahluk sosial. Namun jika dalam pergaulan tersebut memiliki tendensi tertentu yang mengarah pada hal-hal negatif. Maka sepatutnya kita menghindarinya. Pergaulan bebas memiliki konotasi negatif karena jenis pergaulan ini menjurus kepada aktivitas seks pranikah. Pada mulanya, pergaulan bebas dianut oleh kaum Hippies dan Hedonis yang seringkali berganti-ganti pasangan untuk mengejar kenikmatan dan sensasi seksual semata. Patut disayangkan jika hal tersebut mulai menjangkiti remaja di kota Kupang. &lt;br /&gt;Seks pra-nikah merupakan indikator terjadinya de-moralisasi yang berdampak pada : &lt;br /&gt;a. ) Potensi terjadinya baby booming: Ledakan penduduk dipicu oleh tidak terkendalinya jumlah kelahiran. Sedangkan seks pra-nikah pada rentang usia produktif dan subur akan berpotensi menimbulkan ledakan penduduk. Karena praktek tersebut sulit dikontrol. Dan seks pra-nikah berkorelasi terhadap potensi angka kelahiran yang tidak diharapkan/direncanakan. Dampaknya adalah semakin besar jumlah penduduk akan mengakibatkan kompetisi tidak sehat terhadap sumber-sumber penghidupan. Hal tersebut semakin menyuburkan kemiskinan dan menimbulkan permasalahan-permasalahan sosial seperti : meningkatnya angka kriminalitas.&lt;br /&gt;b. ) Meningkatnya aborsi: Para pelaku seks pra-nikah pada pergaulan bebas bertujuan hanya mencari sensasi dan kenikmatan seksual tanpa ingin terlibat hubungan yang bertanggungjawab. Seandainya terjadinya kehamilan yang tidak diharapkan maka mereka akan bertindak instan dengan melakukan abortus. Hal tersebut dilakukan untuk menutupi aib semata. Namun abortus bukanlah solusi terbaik karena resikonya terlalu tinggi. Nyawa ibu maupun bayi yang dikandungnya dapat melayang akibat abortus. Selain itu, rahim seorang wanita yang pernah melakukan abortus rentan terhadap terinfeksi yang menyebabkan kemandulan.&lt;br /&gt;c. ) Meluasnya penyebaran penyakit menular. Seks pra-nikah merupakan bentuk hubungan seks yang tidak higienis. Karena para pelakunya seenaknya sendiri berganti-ganti pasangan tanpa pernah berpikir terhadap kesehatan organ reproduksi baik dirinya maupun pasangannya. Hal tersebut akan memudahnya penyebaran penyakit seksual menular. &lt;br /&gt;d.) De-sakralisasi perkawinan: Setiap agama mengajarkan bahwa perkawinan merupakan lembaga yang sakral. Perkawinan merupakan penyatuan dua individu dalam ikatan suci. Salah satu tujuannya adalah meneruskan keturunan melalui hubungan seksual yang sah dan bertanggungjawab. Dan seks pranikah merupakan upaya mende-sakralisasi perkawinan. Karena perbuatan tersebut telah menciderai ajaran agama untuk senatiasa menjaga kesucian perkawinan&lt;br /&gt;Terdapat beberapa asumsi yang dapat menjelaskan fenomena seks pra-nikah, yaitu: Jiwa remaja yang labil menyebabkannya mudah terpengaruh oleh pengaruh negatif dilingkungan sekitarnya. Fase pubertas yang dimulai dengan perubahan hormonal dan perubahan fisik akan berpengaruh pada kondisi psikisnya. Secara psikologis, pada fase tersebut remaja cenderung agresif dan memiliki keingintahuan yang besar. Kedua sifat tersebut jika tidak dikendalikan dengan baik maka akan menjerumuskan remaja pada perilaku menyimpang. Banyak perkosaan dan pencabulan yang berawal dari keingintahuan remaja terhadap aktivitas seksual  yang mereka tonton melalui video-video porno. Asumsi kedua adalah rendahnya pengetahuan remaja terhadap Seksologi yakni : Ilmu tentang kelamin atau interaksi di antara jenis kelamin. (Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2002 hal. 1014). Seksologi meliputi: fungsi organ-organ reproduksi, jenis dan penyebab penyakit seksual menular, dampak sosial yang ditimbulkan akibat perilaku seks menyimpang. Rendahnya pengetahuan tersebut disebabkan masyarakat masih menganggap tabu membicarakan hal tersebut. Sehingga remaja dengan keingintahuannya yang besar coba mencari sendiri jawabannya melalui sumber-sumber rujukan dilingkungan pergaulannya.&lt;br /&gt;Menilik kenyataan diatas maka sebaiknya kita perlu memberikan pemahaman yang benar kepada remaja terkait pendidikan seks (seksologi). Namun selama ini masyarakat menganggap tabu terhadap hal tersebut. Mereka beranggapan bahwa pengetahuan tersebut masuk ke area privat dan tidak boleh dibicarakan di area publik. Untuk menembus kebuntuan tersebut maka perlu keterlibatan sekolah untuk meluruskan pemahaman yang keliru tersebut. Sekolah memiliki peran strategis dalam membumikan pengetahuan tersebut. Sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai visi dan misi untuk mendidik siswanya dari aspek kognitif dan afektif. Sedangkan materi seksologi hendak diajarkan meliputi: pengenalan organ reproduksinya dan fungsinya, pengenalan penyakit seksual menular dan cara penyebarannya. Hal tersebut merupakan bentuk materi kognitif. Adapun dari segi afektifnya berisikan materi tentang etika pergaulan, metode mengontrol/mengendalikan diri, menanamkan nilai-nilai relijius maupun konseling BP. Aspek kognitif dan afektif tersebut bertujuan sebagai tindakan preventif menanggulangi seks pranikah. &lt;br /&gt;Pada pelaksanaannya,  program ini hendaknya terintegrasi dengan kurikulum yang telah ada dan melibatkan partisipasi aktif stakeholder. Seksologi dapat disisipkan pada mata pelajaran yang telah ada. Materi kognitif, yakni: reproduksi dan pengenalan penyakit menular pada mata pelajaran biologi. Sedangkan aspek afektif yang terkait tingkah laku dapat disampaikan pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, agama maupun bimbingan konseling. Stakeholder yang perlu dilibatkan adalah orang tua untuk membangun lingkungan aman dan nyaman dirumah. Orangtua disela-sela kesibukannya perlu dikondisikan menyisihkan waktunya untuk membangun komunikasi dengan buah hatinya khususnya yang memasuki fase pubertas. Komunikasi intens antara orang tua dan anak akan dapat menghilangkan sekat-sekat penghalang. Sehingga anak mau terbuka dengan orangtua. Anak tidak akan merasa tabu menceritakan pengalamannya mengalami menstruasi pertama maupun mimpi basah ataupun perasaaan tertarik kelawan jenis. Stakeholder kedua yang perlu dilibatkan adalah elemen masyarakat (dokter, aktivis LSM AIDS, BKKBN, Dinas Kesehatan) yang terkait dengan materi  yang disampaikan. Materi tentang penyakit seksual menular akan lebih berbobot jika disampaikan seseorang yang kompeten dalam bidang itu. Begitu pula materi lainnya. Semoga dengan seksologi yang difasilitasi sekolah dapat menekan terjadinya praktek seks pra-nikah. Hal tersebut tidak terjadi serta merta. Namun dapat terwujud jika segenap elemen masyarakat secara proaktif dan kontinyu ikut terlibat didalamnya. Sehingga ancaman Lost Generation dapat dieliminir. Sekian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-1266837962921192854?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/1266837962921192854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/12/sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/1266837962921192854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/1266837962921192854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/12/sosial.html' title='SOSIAL'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-624492350745708999</id><published>2009-11-24T03:02:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T03:05:45.978-08:00</updated><title type='text'>TEHNIK MENULIS OPINI</title><content type='html'>Rattahpinusa HH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pendahuluan.&lt;br /&gt;    Berkomunikasi merupakan hak azasi yang melekat pada diri setiap manusia sejak dia dilahirkan kedunianya. Karena manusia merupakan mahluk sosial yang menghabiskan hampir 70 % waktunya untuk berkomunikasi. Dan manusia berkomunikasi secara verbal maupun non verbal dalam berinteraksi dengan sesamanya. Perkembangan teknologi berpengaruh signifikan terhadap konsep berkomunikasi. Jika dahulu komunikasi hanya dapat dilakukan 2 orang atau lebih dalam lingkup yang terbatas. Maka pada era revolusi informasi kedua ini, kita dapat berkomunikasi tanpa terhalang jarak dan waktu. Fenomena yang ngetrend saat ini adalah bermunculannya media yang memudahkan kita berinteraksi dengan teman maupun saudara dengan menggunakan sms, facebook, twiiter maupun nge-blog. Media-media tersebut memudahkan kita untuk saling bertukar informasi maupun mengungkapkan pendapat/opini. Saat ini, komunikasi telah berubah menjadi salah satu kebutuhan primer bagi manusia modern.&lt;br /&gt;“Carpe Diem” yang bermakna : “Sesuatu yang tertulis tetap akan dikenang”. Tulisan merupakan jembatan  antara masa lalu dan saat ini. Tak mengherankan jika pemikiran Avirous maupun Avicenna masih hidup, walaupun jasad mereka telah mati. Mereka hadir ketengah-tengah kita melalui kitab-kitab klasik yang mereka tulis.  Tulisan menggambarkan tingkat peradapan suatu bangsa. Melalui tulisan paku (hieroglip) yang tertulis diatas lempeng-lempeng tanah maka kita mengetahui kecanggihan arsitektur bangsa Sumeria dengan taman gantungnya. Dan berkat tulisannya pula, Carl Berstein dan Bob B.Woodland memenangkan Pulitzer karena mereka berhasil membongkar skandal besar water gate. Skandal yang memaksa Presiden Nixon turun dari jabatannya. &lt;br /&gt;Menulis bukanlah monopoli kalangan ilmuwan, cendekiawan maupun wartawan. Hanya saja mereka telah terlatih menuangkan ide yang mereka miliki kedalam tulisan. Pada dasarnya, semua orang bisa menulis karena baca tulis merupakan kemampuan dasar yang diperoleh dari bangku sekolah. Namun ketrampilan menulis masyarakat awam kurang terasah sehingga terkesan menulis sebagai aktivitas ekslusif. Setidaknya terdapat 4 (empat)  faktor penyebab kita sulit menuangkan ide/gagasan kita kedalam tulisan, yaitu : 1. ) Rendahnya motivasi diri untuk menulis; 2.) Rendahnya tingkat melek (literasi) informasi. 3.) Sikap mudah menyerah; 4.) Kondisi politik yang tidak kondusif menghambat tradisi menulis. Dan artikel ini akan membantu anda menuangkan gagasan yang anda miliki kedalam sebuah tulisan yang akan mencerahkan baik bagi diri anda sendiri maupun orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Pembahasan.&lt;br /&gt;      Setidaknya terdapat 3 (tiga) tahap dalam proses penulisan, yaitu :&lt;br /&gt;A. Pra Penulisan&lt;br /&gt;Pada tahap pertama ini terkait erat dengan perencanaan pesan yang hendak kita sampaikan. Acapkali, para penulis pemula mengalami kesulitan pada tahap ini khususnya pada proses pencarian ide/gagasan. Berbagai keluhan yang kerap dilontarkan adalah tidak berbakat menulis ataupun kesulitan berkonsentrasi. Persepsi keliru tersebut patut diluruskan karena menulis adalah sebuah ketrampilan. Ada sebuah kata-kata bijak bahwa : Kesuksesan terdiri dari 1 % bakat dan 99 % usaha. &lt;br /&gt;Kesulitan-kesulitan tersebut dapat diatasi jika para (calon) penulis pro aktif mengeksplorasi ide-ide dalam benak dan lingkungan sekitarnya. Kita perlu sensitif dalam mengidentifikasi informasi yang terserak pada berbagai fenomena sosial yang terjadi disekeliling kita. Ada banyak cara untuk menemukan ide/gagasan, yakni : berdiskusi baik secara formal dan informal dan membaca baik secara tektual maupun konteksual. Sedangkan dari aspek jurnalistik, sebuah ide/gagasan akan menarik khalayak jika memenuhi 2 (dua) aspek yakni : Curiosity dan Controversi.&lt;br /&gt;B. Penulisan&lt;br /&gt;Tahapan penulisan berkutat pada aspek teknis. Ketrampilan mengembangkan pikiran dan menerjemahkannya kedalam tulisan diperlukan pada proses ini. Terdapat beberapa langkah supaya ide/gagasan kita dapat tertuang kedalam sebuah tulisan yang sistematis. Adapun langkah pertama adalah :&lt;br /&gt;1. Buat kerangka karangan. Fungsinya adalah mengorganisir pokok-pokok ide/gagasan serta menjaga kesinambungan antar paragraf. Sistematikanya terdiri dari : pengantar – Isi – Penutup yang mengacu pada konsep What – Why – How. &lt;br /&gt;2. Pilih judul yang mencerminkan isi secara padat dan singkat serta menarik perhatian khalayak. Ada 2 (dua) aspek agar judul menarik perhatian khalayak, yaitu : Curiosty dan Controversi. Namun hindari kata-kata yang bombastis dan hiperbolis. Karena judul merupakan kemasan dari sebuah tulisan.&lt;br /&gt;3. Pengembangan gagasan pokok. Ide dapat dikembangkan menjadi sebuah paragraf dengan menggunakan Induktif (khusus ke umum) dan deduktif (umum-khusus) maupun variasi dari keduanya.&lt;br /&gt;4. Lengkapi tulisan anda dengan data dan fakta yang relevan. Kedua hal tersebut untuk menjadikan opini anda lebih obyektif. &lt;br /&gt;5. Tehnik penulisan. Pergunaan bahasa yang baik dan benar sesuai Ejaan Yang Disempurnakan; Pergunakan bahasa populer yang dipahami khalayak awam karena pembaca koran bersifat heterogen; Hindari kata-kata teknis kecuali jika informasi yang hendak disampaikan harus memakai istilah teknis. Pada umumnya setiap koran mempunyai ketentuan terhadap artikel opini. &lt;br /&gt;• Artikel tersebut setidaknya terdiri dari 1.000 kata.&lt;br /&gt;• Huruf Time New Roman berfont 12 dan spasi 1 (before 0,6 dan after 0,6).&lt;br /&gt;• Terkait dengan tema yang aktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jangan menulis tema-tema yang berpotensi menimbulkan konflik. Karena berkomunikasi merupakan hak azasi setiap manusia. Namun pada pelaksanaanya tidak boleh mengganggu atau merampas hak azasi manusia lannya.&lt;br /&gt;C. Pasca Penulisan.&lt;br /&gt;Tahapan ini terkait dengan proses akhir opini sebelum diterbitkan kemedia massa&lt;br /&gt;dan tehnik-tehnik menembusnya. Setelah selesai menulis maka mintalah rekan atau orang terdekat anda bertindak sebagai Peer-reviewer. Hal ini berguna untuk mengoreksi ejaan, susunan kalimat, keterkaitan antar paragraf dan apakah pesan yang anda sampaikan melalui tulisan telah dipahami khalayak ?. Jika Peer Reviewer memberikan evaluasi terkait kesalahan maka segera perbaiki tulisan. &lt;br /&gt;Setelah kita yakin tulisan tersebut telah layak muat maka kirimkan ke redaksi koran. Ada beberapa ketentuan dalam pengiriman opini ke koran yakni :&lt;br /&gt;1. Artikel orisinil dan belum dipublikasikan dimedia lainnya.&lt;br /&gt;2. Artikel diserahkan dalam format digital (.doc atau pdf) dan bentuk cetak 1 eksemplar untuk proses koreksi oleh editor.&lt;br /&gt;3. Artikel opini dilengkapi dengan Curicullum Vitae penulis dan Foto kopi tanda pengenal yang masih berlaku.&lt;br /&gt;4. Rentang pengiriman dengan pemuatan maksimal 10 hari. Selama rentang tersebut, kita dilarang mengirimkan artikel tersebut kemedia lain. Jika ternyata kita melanggarnya dan artikel tersebut dimuat di 2 (dua) koran yang berbeda maka pihak koran akan memblacklist kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Penutup.&lt;br /&gt;       Sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa:&lt;br /&gt;1. Menulis opini merupakan sebuah ketrampilan. Dan ketrampilan tersebut bukan monopoli segelintir orang sehingga kesempatan kita menulis  opini mempunyai peluang yang sama.  Ketrampilan tersebut linier dengan jam terbang dan perlu diasah.&lt;br /&gt;2. Peluang dakwah melalui masih terbuka lebar. Media Massa penting sebagai media untuk menyampaikan agenda-agenda dakwah yang memerlukan perhatian penentu kebijakan maupun dukungan khalayak.&lt;br /&gt;3. Menulislah mulai sekarang dan pantang menyerah. Sekian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-624492350745708999?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/624492350745708999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/11/tehnik-menulis-opini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/624492350745708999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/624492350745708999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/11/tehnik-menulis-opini.html' title='TEHNIK MENULIS OPINI'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-4722876279043239607</id><published>2009-11-08T02:23:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T02:26:58.815-08:00</updated><title type='text'>SOSIAL</title><content type='html'>OPINI PEMBACA &lt;br /&gt;MENYIKAPI AJARAN SESAT&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Rattahpinusa HH&lt;br /&gt;Publik kembali dikejutkan dengan klaim agama baru di Tulung Agung.  Penganutnya mengatasnamakan ajarannya sebagai Baha’i. Penganut ajaran ini juga menjalankan ibadah sholat dan puasa layaknya umat Islam. Namun yang membedakannya adalah mereka sholat hanya sekali dalam sehari dengan kiblat ke arah Gunung Karmel di Israel. Dan puasa yang mereka jalankan hanya 15 hari di bulan ramadhan. Sepintas, penganut ajaran ini sulit dibedakan dengan umat Islam lainnya karena mereka beribadah secara tidak mencurigakan dan atribut yang mereka kenakan sehari-hari tidak mencolok. Padahal ajaran ini telah dikembangkan secara laten sejak 20 tahun lalu. Keberadaannya selama ini sulit diendus karena mereka bersikap tertutup dan ekslusif terhadap lingkungan sekitarnya. Dan klaim ajaran ini beberapa pekan silam, sontak mengejutkan masyarakat Tulung Agung yang religius.&lt;br /&gt;Era reformasi yang diindentikkan sebagai era kebebasan mendapat informasi, bebas berorganisasi dan menyatakan pendapat serta kebebasan lainnya yang cnderung kebablasan. Rupanya momen tersebut coba digunakan penganut aliran ini untuk menyatakan eksistensinya. Penganut ajaran ini menuntut pemerintah dan masyarakat untuk mengakui eksistensinya sebagai agama yang independen. Namun klaim mereka justru menimbulkan keresahan bagi sebagian besar masyarakat. Berbagai respon penolakan muncul saat kasus tersebut terekspos media massa baik cetak maupun non cetak beberapa pekan silam.  Respon penolakan tersebut didasari penilaian warga bahwa ajaran Bahai’ cenderung ke arah penodaan agama tertentu. Jika isu penodaan agama tersebut dibiarkan berlarut-larut. Maka dikhawatirkan kasus tersebut akan memicu gesekan sosial dan bermuara pada konflik horisontal.&lt;br /&gt;Penodaan agama bukan hal baru lagi. Namun kenapa hal tersebut bisa muncul berulang kali?. Agama jika ditinjau dari perspektif sosiologi berfungsi sebagai integrasi sosial dan kontrol sosial. Namun, tekanan sosial ekonomi yang semakin besar ditambah rapuhnya keimanan dapat menggelincirkan seseorang ke hal-hal yang berbau irasional. Pada kondisi tersebut beragam idiologi yang menyimpang akan mudah meracuni pikiran dan keyakinan seseorang.  Disinilah awal bagi kemunculan aliran menyimpang atau sering disebut sebagai sekte.  Menurut Irwan MH (2004) menyebutkan sekte sebagai : ”Suatu kelompok keagamaan yang memisahkan diri dari suatu agam induk”. Aliran ini merupakan suatu bentuk protes terhadap agama induknya, baik dalam hal ajaran ataupun doktrin agama  maupun  kepemimpinan dalam organisasi agama induk. Tokoh kharismatik berperan sentral dalam sekte karena tokoh tersebut dianggap mampu memberikan penafsiran baru terhadap ajaran sesat tersebut.  Fenomena pergeseran sosial tersebut mengindikasikan gejala ’sakitnya’ sebagian masyarakat dilingkungan  sekitar kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Munculnya aliran sesat seolah menjadi teguran bagi kita baik sebagai individu maupun sebagai sebuah komunitas. Kita perlu mengevaluasi diri apakah selama ini ritual agama yang telah kita jalankan telah mencapai kesalehan diri. Dan apakah kesalehan tersebut telah berimbas pada terwujudnya kesalehan sosial ? Jawabannya tercermin pada realita bahwa masih banyak saudara kita terjerumus kedalam maksiat dan sebagian lainya terjerat aliran sesat. Dan tanggungjawab kita sebagai komunitas untuk lebih peka dan peduli terhadap mereka yang perbuatannya berpaling dari agama.  Sebagai bentuk kepedulian kita terhadap penganut ajaran sesat maka ajak mereka berdialog untuk meluruskan persepsi yang keliru terhadap ajaran yang mereka yakini sekarang. Hindari tindakan anarkhis yang akan menimbulkan masalah baru dan antipati.  Serta  gencarkan amal-amal jama’i yang terkait habluminannas, seperti : saling bersilaturahmi, sholat berjamaah maupun mengeluarkan infaq, sedekah dan zakat. Khususnya pada Rukun Islam keempat ini perlu penekanan kerena ibadah ini mempunyai peran yang strategis. Karena zakat  dapat meredam kecemburuan sosial, membangun ekonomi umat serta  mengentaskan saudara kita dari kefakiran. Kita mahfum jika seringkali tekanan ekonomi membuat sebagian orang berpikir dan bertindak irasional. Bahkan mereka rela menempuh jalan pintas yang dilarang agama demi sekedar bertahan hidup. Ironisnya, ajaran sesat seakan tumbuh subur di masyarakat miskin yang berpendidikan rendah dan termarjinalkan. Dengan pengelolaan zakat  yang profesional maka kita dapat membangun sarana-sarana pendidikan dan kesehatan, membantu modal sekaligus memberikan bimbingan mental spiritual bagi mereka kurang beruntung secara ekonomi. Insya Allah  tercukupinya kebutuhan ekonomi, dan bekal pendidikan agama yang memadai akan mengikis berkembangnya ajaran sesat. Bahkan jika kita berkomitmen untuk menciptakan kesalehan diri dan sosial maka bukan tidak mungkin akan tercipta masyarakat madani, yakni: masyarakat yang hidup makmur, tertib dan rabbani dalam sebuah tatanan kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai religius.  Sekian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-4722876279043239607?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/4722876279043239607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/11/sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/4722876279043239607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/4722876279043239607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/11/sosial.html' title='SOSIAL'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-3713706763311887265</id><published>2009-11-02T02:23:00.001-08:00</published><updated>2009-11-02T02:52:19.722-08:00</updated><title type='text'>PUSTAKA</title><content type='html'>TINJAUAN DALAM MENATA RUANGAN PERPUSTAKAAN&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;Rattahpinusa HH, A.Md&lt;br /&gt;I. Latar Belakang.&lt;br /&gt; Tugas perpustakaan adalah mengumpulkan, mengolah dan menyebarluaskan informasi tercetak dan non cetak kepada pengguna. Perpustakaan sebagai pusat informasi dituntut selalu siap memberikan pelayanan kepada pengguna. Hal tersebut tercapai jika perpustakaan memiliki sarana berupa: gedung, peralatan, tenaga dan biaya yang memadai. Dalam konteks pelayanan prima maka perpustakaan mutlak memberikan kepuasan kepada penggunanya. Karena produk dari perpustakaan adalah jasa. Kepuasan pengguna merupakan hal yang abstrak namun dapat diukur melalui indikator pengukur kepuasan. Salah satu indikatornya adalah minimnya keluhan pengguna terhadap pelayanan perpustakaan. &lt;br /&gt; Infrastruktur yang representatif, aman dan nyaman menjadi kriteria ideal bagi terciptanya kepuasan pengguna. Dapat dibayangkan betapa sulitnya menciptakan suasana yang nyaman untuk membaca jika ruangan perpustakaan memiliki tingkat pencahayaan yang kurang dan tingkat kelembapan yang tinggi serta penataan ruangan yang semrawut. Kondisi tersebut tidak menunjang pengguna dalam membangun konsentrasi membaca. Sebaliknya, apabila ruangan tertata secara rapi dan sistematis dengan pencahayaan dan kelembapan yang cukup sehingga pengguna merasa nyaman. Maka dengan sendirinya kepuasan tersebut tercipta. Untuk mewujudkan hal tersebut maka diperlukan tinjauan yang menelaah beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam menata ruangan perpustakaan.&lt;br /&gt;II. Pembahasan&lt;br /&gt;A. Prinsip Penataan Ruangan Perpustakaan.&lt;br /&gt; Membangun konsentrasi membaca dipengaruhi oleh beberapa aspek baik internal maupun eksternal. Aspek eksternal seperti : ruangan yang nyaman dan suasana yang lengang dapat mempercepat proses terbangunnya konsentrasi membaca. Aspek tersebut terkait erat dengan kepiawaian pustakawan mengelola ruangan perpustakaan yang mencakup desain interior dan eksteriornya. Untuk mencapai tujuan tersebut maka perlu memperhatikan beberapa prinsip dasar penataan ruangan peprustakaan sebagai berikut : &lt;br /&gt;1. Aspek Efisiensi  : &lt;br /&gt;Dalam mendesain interior dan eksterior ruangan perpustakaan maka pustakawan harus mempertinbangkan aspek efisiensi. Hal tersebut akan bermanfaat untuk menekan operasional perpustakaan di masa mendatang. Kita mahfum bahwa perpustakaan merupakan unit pelayanan yang bersifat non profit. Dan anggaran perpustakaan di beberapa organisasi mendapat porsi yang kecil. Sementara beban daya listrik untuk penerangan dan pendinginan menyedot anggaran yang signifikan. Padahal perpustakaan dituntut senantiasa menyisihkan anggarannya untuk pengadaan buku-buku baru.&lt;br /&gt;Maka aspek efisiensi daya akan membantu perpustakaan dalam menekan biaya operasionalnya. Langkah efisensi daya adalah: memperbanyak jendela yang berfungsi mengatur sirkulasi udara sekaligus menambah sumber pencahayaan alami yang bersumber dari matahari. Keuntungan lain dari efisiensi daya dengan memanfaatkan sumber alami adalah lebih ramah lingkungan.&lt;br /&gt;2. Aspek Fungsional :&lt;br /&gt;Hendaknya perabotan yang digunakan dalam perpustakaan mempunyai fungsi menunjang kinerja pelayanan perpustakaan. Hindari barang-barang yang tidak terkait erat dengan kinerja perpustakaan karena akan menyita tempat. Dan disarankan memakai peralatan yang multifungsi seperti : komputer yang dapat digunakan sebagai alat adminstrasi pengelolaan perpustakaan sekaligus difungsikan sebagai sarana penelusuran elektronis. Dan printer yang memiliki fungsi printer, scanner, kopier dan fax.&lt;br /&gt;3. Aspek Ekonomis  :&lt;br /&gt;Hendaknya dalam memilih perabotan perpustakaan mengacu pada aspek ekonomis yang merujuk pada kualitas, aksesbilitas dan perawatanya. Semisal dalam pembuatan rak buku. Secara kualitas bahan baku besi lebih kuat dari pada kayu jati. Namun jika perolehannya (aksesbilitas) dan perawatanya lebih ekonomis bahan baku dari kayu. Maka pilihan rak buku yang terbuat dari kayu merupakan pilihan yan tepat.&lt;br /&gt;B. Standar penataan ruangan perpustakaan.&lt;br /&gt;     Standarisasi diperlukan pada berbagai aspek termasuk pelayanan perpustakaan. Hal ini penting untuk menjamin keseragaman mutu pelayanan perpustakaan. Ilmu perpustakaan memiliki standar minimal pada aspek tata ruang perpustakaan. Standarisasi dalam penataan ruangan perpustakaan mengacu pada Indian Standard Recommendation Relating to Primary element in The design of Library Building (1977) dalam Sulistyo Basuki (1991). Hal ini untuk menjamin ketersediaan ruang yang sesuai dengan standar minimal operasional perpustakaan. Dalam dokumen &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;tersebut dinyatakan bahwa setidaknya perpustakaan memiliki minimal tiga ruangan yang terbagi atas: &lt;br /&gt;1. Ruangan dokumen/bahan pustaka yang menampung 150 volume/m2.&lt;br /&gt;2. Ruangan staf perpustakaan untuk kegiatan klasifikasi, katalog dan pengadaan memiliki luas minimal 9 m2. Sedangkan ruangan untuk staf administrasi/profesional; yang tidak bertugas dibidang jasa seluas 5 m2.&lt;br /&gt;3. Ruangan pemakai memiliki luas rata-rata per-pembaca seluas 2,33 m2.&lt;br /&gt;    Dan sistem pengukuran yang digunakan dalam penataan ruangan perpustakaan menggunakan sistem modular. Sistem ini menjamin keakurasian tata letak ruang dan perabot karena ukuran ruangan, perabot dan perkakas berbentuk modul/perkalian 10 cm. &lt;br /&gt;C. Langkah penataan ruangan perpustakaan.&lt;br /&gt;1. Merencanakan sistem pelayanan yang akan dipakai.&lt;br /&gt;Sistem pelayanan pada perpustakaan perlu direncanakan sejak awal. Hal ini akan berpengaruh pada jenis pelayanan dan desain tata letak perpustakaan. Adapun sistem pelayanan terdiri dari 2, yakni : terbuka dan tertutup. Yang membedakan kedua sistem tersebut adalah aksestabilitas. Maksudnya, sistem terbuka memungkin pengguna secara mandiri untuk menelusur informasi sekaligus menemukan buku yang diinginkannya dan pustakawan bertindak sebagai fasilitator saja. Berdasarkan pengamatan terhadap luas ruangan dan sumberdaya manusia maka seyogyanya perpustakaan Balai Penelitian Kehutanan Kupang (BPKK) menerapkan sistem terbuka. Keuntungan sistem ini adalah :&lt;br /&gt;a. Pengguna leluasa mengakses, menelusur dan menemukan informasi sesuai kebutuhannya.&lt;br /&gt;b. Tidak banyak memerlukan tenaga pustakawan untuk mengoperasikan sistem ini. Pustakawan dapat fokus melayani sirkulasi dan pengolahan pustaka.&lt;br /&gt;c. Penataan ruang perpustakaan lebih fleksibel karena ruang baca, koleksi dan sirkulasi terintegrasi. &lt;br /&gt;Namun keuntungan tersebut bukan berarti sistem ini tidak memiliki kelemahan. Satu aspek yang perlu diperhatikan adalah sistem keamanan. Peluang hilangnya koleksi relatif besar karena pengguna memiliki akses yang luas terhadap koleksi. Untuk mengantisipasi hal tersebut adalah memberlakukan one gate system, yaitu: arus keluar masuk pengguna hanya melalui satu pintu dengan pengawasan pustakawan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi kebutuhan ruangan dan alat.&lt;br /&gt;Kebutuhan Interior ruangan mempertimbangkan aspek :&lt;br /&gt;a. Sirkulasi Udara.&lt;br /&gt;    Ruangan perpustakaan memerlukan sistem sirkulasi udara yang baik. Sirkulasi udara yang buruk menyebabkan tingkat kelembapan tinggi dan merangsang pertumbuhan jamur. Kupang (Nusa Tenggara Timur) yang beriklim semi arida rentan terhadap perubahan suhu yang ekstrim antara siang dan malam. Sehingga penggunaan Air Condationer (AC) diperlukan untuk menjaga kestabilan suhu ruangan.&lt;br /&gt;b. Pencahayaan.&lt;br /&gt;Membaca memerlukan pasokan cahaya yang memadai. Pencahayaan dapat diperoleh melalui 2 (dua) sumber, yaitu: alami (sinar matahari) dan elektrik (lampu). Sumber alami diperoleh dengan cara membuat jendela-jendela berukuran besar dengan menggunakan bahan tembus pandang. Sehingga sinar matahari mampu menjangkau keseluruh ruangan. Sedangkan sumber elektrik diperoleh melalui pemasangan lampu hemat energi pada titik tertentu. Lampu hemat energi memiliki keuntungan daya yang dikeluarkan kecil dan menghasilkan penerangan optimal. &lt;br /&gt;Kebutuhan Peralatan&lt;br /&gt;a. Alat penelusuran Informasi.&lt;br /&gt;Pada sistem terbuka maka perlu keberadaaan alat penelusuran baik manual maupun elektonis. Seyogyanya alat penelusuran informasi memiliki criteria : mudah penggunaannya, murah biaya pengadaan dan perawatanya serta akurat hasil penelusurannya. Berdasar criteria tersebut maka alat penelusuran secara manual yang direkomendasikan adalah : catalog, abstrak dan indeks. Sedangkan elektronik menggunakan OPAC versi 1.5.&lt;br /&gt;b. Papan petunjuk.&lt;br /&gt;Keberadaan papan petunjuk diperlukan untuk memandu pengguna perpustakaan. Papan ini memuat informasi tentang jenis koleksi dan nomor kelasnya, jenis dan fungsi ruangan pada setiap bagian ruang perpustakaan. Papan petunjuk dapat dipasang pada sudut kanan atas pada rak dan/atau dipasang menggantung pada langit-langit ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Perabot perpustakaan.&lt;br /&gt; Perabot perpustakaan berupa meja carrel, kursi, rak buku, berfungsi menunjang aktivitas membaca. Adapun criteria perabot perpustakaan adalah fungsional dan ergonomis. Sehingga keberadaan perabot perpustakaan tidak sekedar pemanis namun mempunyai fungsi serta dapat menciptakan penyamanan bagi penggunanya.&lt;br /&gt;d. Alat keamanan &lt;br /&gt;Yang dimaksud alat keamanan disini adalah peralatan yang mampu mencegah kecelakaan/kerusakan yang disebabkan human error maupun sebab lainnya. Potensi kerawanan yang terjadi di perpustakaan adalah kebakaran dan pencurian. Kebakaran bisa disebabkan arus singkat yang akan membakar koleksi buku-buku. Hal ini dapat dicegah dengan memasang double sekring dan alat pemadan kebakaran. Sedangkan pencurian dapat dicegah dengan memasang alat deteksi yang dipasang pada pintu masuk. Alat ini akan bekerja bila mendeteksi logam yang secara sengaja  dipasang pada bagian-bagian tertentu di buku. Biasanya logam kecil berupa kawat pada buku akan diambil oleh pustakawan saat buku tersebut dipinjam secara prosedural. Penggunaan CCTV juga direkomendasikan untuk menekan kehilangan koleksi akibat lemahnya pengawasan pustakawan.&lt;br /&gt;3. Mendesain ruangan dan tata letak peralatan.&lt;br /&gt;Keterbatasan luas ruangan menyebabkan perpustakaan BPK Kupang memiliki tiga ruangan dengan luas minimal. Ketiga ruangan tersebut mengacu pada standar minimal Indian Standard Recommendation Relating to Primary element in The design of Library Building (1977). Demikian halnya perabot penunjang operasional perpustakaan yang berupa : meja resepsionis untuk pelayanan sirkulasi, catalog, seperangkat meja carret dan kursi, rak-rak buku dan koleksi. Ruangan perpustakaan didesain sedemikian rupa sehingga tercipta alur sebagai berikut : &lt;br /&gt;a. Pengguna yang memasuki ruangan akan melapor dan mengisi buku tamu di meja resepsionis. Pengguna dapat sekaligus menelusur secara eletronis menggunakan OPACdi bawah bimbingan pustakawan. Setelah mendapat informasi keberadaaan buku maka pengguna akan langsung menuju ke ruang koleksi. &lt;br /&gt;b. Deretan rak tersebut ditata berdasarkan nomor kelas terkecil sampai nomor terbesar dari kiri ke kanan. Adapun koleksi perpustakaan BPK Kupang terdiri atas 4 buah koleksi, yakni : Koleksi Referensi  berupa : Kamus, Handbook, Abstrak dan Ensiklopedi yang terletak dekat meja Carrel; Koleksi Umun berupa : buku computer, hukum, sosial, murni, kehutanan yang tersimpan pada rak yang berjajar berurutan dari kiri ke kanan dekat  meja sirkulasi, Koleksi Majalah dan Jurnal serta Koleksi Deposit yang berisi terbitan-terbitan khas BPK Kupang,&lt;br /&gt;c. Setelah pengguna berhasil menemukan buku maka dia dapat membaca pada ruang baca yang terletak disebelah kanan dari pintu masuk. Sedangkan jika pengguna berniat meminjam buku tersebut maka dapat menghubungi pustakawan di meja sirkulasi.&lt;br /&gt;Ketiga alur tersebut lebih mudah dipahami melalui gambar desain ruangan yang menjadi lampiran makalah ini.&lt;br /&gt;III. Penutup.&lt;br /&gt;Ruangan perpustakaan yang nyaman dan aman akan menunjang terciptanya konsentrasi baca. Berdasarkan perkembangan organisasi maka perpustakaan BPK Kupang harus merombak ulang ruangan perpustakaan untuk menyesuaikan perubahan tersebut. Dalam menata ulang ruangan perpustakaan BPK Kupang berdasarkan tiga prinsip dasar yakni : Efisien, Fungsional dan Ekonomis. Serta mengacu pada Indian Standard Recommendation Relating to Primary element in The design of Library Building. Dan makalah ini telah menguraikan langkah apa saja yang perlu dilakukan pada proses menata ulang ruangan perpustakaan. Adapun ide-ide desain ruangan perpustakaan BPK kupang disajikan dalam gambar (lampiran).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-3713706763311887265?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/3713706763311887265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/11/pustaka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/3713706763311887265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/3713706763311887265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/11/pustaka.html' title='PUSTAKA'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-631387996305728115</id><published>2009-07-28T20:11:00.000-07:00</published><updated>2009-07-28T20:12:25.278-07:00</updated><title type='text'>LOMBA BLOG NTT</title><content type='html'>BERWISATA KE  AIR TERJUN OE HALA&lt;br /&gt;               Oleh &lt;br /&gt;Rattahpinusa Haresariu Handisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan dengan rutinitas kerja sehari-hari.?Pengin menikmati  panorama alam yang masih alami beserta keluarga ? Kami sarankan bagi anda yang bermukim di Kupang untuk mengajak serta keluarga berlibur akhir pekan ke obyek wisata alam di So’E. Kota yang berhawa sejuk ini cocok dijadikan tujuan wisata karena aksesnya yang mudah dan banyak memiliki obyek wisata alam maupun budaya. Salah satunya adalah Air Terjun Oehala.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas kerja yang monoton seringkali menyebabkan kita terjebak kedalam kejenuhan. Kejenuhan yang berlarut-larut akan menyebabkan stress yang berimbas pada kesehatan dan produktivitas kerja. Tidak ada salahnya jika kita meluangkan waktu sejenak untuk rileks. Banyak pilihan yang dapat kita lakukan di akhir pekan. Kita dapat berolahraga, bersantai dirumah maupun berwisata. Alangkah menariknya jika kita dapat beraktivitas bersama dengan keluarga. Karena akan mempererat  ikatan emosional antar anggota keluarga. Wisata keluarga dapat dijadikan salah satu pilihan aktivitas di akhir pekan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anda yang berdomisili di Koya Kupang dan sekitarnya, anda  tidak mempunyai banyak pilihan untuk menentukan lokasi berwisata. Anda mungkin jenuh berwisata  ke objek-objek wisata yang bernuansa pantai. Namun jika anda ingin merasakan sensasi berwisata alam yang berbeda. Cobalah berwisata ke So’E. Anda dapat menghabiskan liburan akhir pekan anda dikota yang berhawa sejuk ini. Disekitar Kota So’e bertebaran obyek wisata baik alam maupun budaya. Sebut saja : Pantai Kolbano yang berpasir hitam, Gunung Mutis, Taman Wisata Alam Bu’at maupun air terjun Oe Hala. Sedangkan wisata budaya berupa : situs kerajaan Amanuban dan Mollo. Kota So’e yang berjarak 110 km dari Kupang dan ditempuh selama 2 jam dengan kendaraan umum maupun pribadi.  Sepanjang perjalanan Kupang-Soe, kita akan melihat hamparan pegunungan, lembah dan ngarai nampak indah mempesona.  Bahkan dari desa Benlutu, kita akan melihat aliran sungai Benain Noelmina layaknya ular yang sedang tertidur. Di kota So’E banyak terdapat penginapan kelas melati dengan tarif terjangkau antara 150 ribu sampai 250 ribu per-malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air Terjun Oe Hala menjadi obyek wisata yang patut anda singgahi selama di So’E.  Panorama alamnya yang khas serta kemudahan akses menjadi salah satu kelebihan obyek wisata ini. Oe Hala yang dalam bahasa Dawan berarti Air yang Tidur. Hal tersebut merujuk pada bentuk air terjun yang terdiri dari 4 tingkat dan pada masing-masing tingkat terdapat kolam. Airnya jernih dan mengalir tanpa mengenal musim. Disana kita dapat mandi pada kolam-kolam alami atau sekedar menikmati pemandangan air terjun yang dikelilingi pepohonan yang rindang beserta kicauan burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi air terjun Oe Hala terletak  di sebelah Barat Kota So’E. Persisnya di kilometer 15 jalan jurusan So’E - Kapan. Lama perjalanan mencapai lokasi dibutuhkan waktu 15 menit. Lokasi dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi atau mencarter Ojek dengan tarif  10 Ribu sekali jalan maupun mencarter angkutan pedesaan. Akses jalan So’E-Kapan, yang berlapis hotmix, merupakan poros utama penghubung antara Ibukota kabupaten dan &lt;br /&gt;kecamatan Mollo. Tepat di km 15 terdapat papan penunjuk yang mengarahkan lokasi air terjun Oe Hala.  Lokasi masih berjaraknya 3 km dari jalan utama So’E – Kapan dengan mengambil arah kanan. Selama perjalanan ke lokasi, kita akan disambut senyuman ramah para penduduk yang bermukim disepanjang jalan menuju air terjun. Terdapat pintu gerbang dan loket sebelum memasuki lokasi. Tiket masuknya pun relatif terjangkau dengan tarif 1.500 per/orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyek wisata ini  dilengkapi fasilitas lapangan parkir yang mampu menampung yang 20 mobil dan 50 motor,  Kamar kecil dan beberapa Lopo. Dari lapangan parkir menuju air terjun maka setidaknya kita akan menuruni 246 anak tangga dengan posisi berkelok. Sayangnya sebagian besar anak tangga tersebut dalam kondisi rusak. Kebanyakan lapisan semennya telah terkikis oleh air hujan. Dan dikanan kiri  tangga tidak terdapat pegangan.  Suara deru air terjun sedikit banyak mengobati  kekecewaan tersebut.  Setelah berkeringat menuruni tangga, kita dapat beristirahat sejenak di Lopo-lopo yang tersedia. Lopo merupakan semacam gazebo untur bersantai. Kita dapat beristirahat  maupun mengobrol sembari menikmati snack yang kita bawa.  Setelah tenaga pulih, kita dapat bermain air di sisi-sisi air terjun maupun berendam di kolam-kolam alami. Bagi yang ingin memacu adrenalin maka anda dapat mencoba meloncat indah dari tingkat 3 ke kolam di tingkat 4. Lokasi tersebut tidak terlalu tinggi serta kolamnya  cukup dalam. Puas bermain air maka anda dapat berganti pakaian dikamar kecil yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut menjadi catatan bagi pengelola yaitu: kebersihan obyek wisata senantiasa diperhatikan dengan menempatkan bak-bak sampah dan  menambah wahana bermain yang variatif serta kebersihan dan ketersediaan air pada kamar kecil harus senantiasa dikontrol. Sedangkan bagi pengunjung kami sarankan untuk membawa bekal makanan dan minuman karena dilokasi tidak terdapat penjual makanan. Dan tak kalah pentingnya adalah menjaga kebersihan dan tidak melakukan aksi vandalisme untuk menjaga kealamiahan air terjun Oe Hala. Selepas mengunjungi Oe Hala anda dapat meneruskan perjalanan ke obyek wisata lain maupun kembali ke Kupang. Namun sebelum kembali ke Kupang, ada baiknya anda membeli Lemon So’E sebagai buah tangan bagi kerabat di rumah.  Lemon So’E disukai karena rasanya perpaduan antara masam dan manis. Sedangkan sentra penjualan lemon So’E terdapat di depan terminal So”E  dan dijual  per-kumpul yang berisi antara 5 -6 buah seharga 20 ribu. Pulang berwisata dari Oe Hala Hati riang Pikiran cemerlang dan siap bekerja lagi. Selamat mencoba. Sekian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-631387996305728115?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/631387996305728115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/07/lomba-blog-ntt.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/631387996305728115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/631387996305728115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/07/lomba-blog-ntt.html' title='LOMBA BLOG NTT'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-8431766794391215719</id><published>2009-06-16T22:44:00.000-07:00</published><updated>2009-06-16T22:49:02.850-07:00</updated><title type='text'>SOSIAL</title><content type='html'>MDUKA PAHLAWAN DEVISA&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;Rattahpinusa *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baru saja kasus penganiayaan Siti Hajar masuk proses penyidikan, polisi menemukan Nurul Widayanti tewas tergantung di Kajang Selangor, Malaysia, Sabtu (13/6)” Demikian kutipan berita Kompas tanggal 15 Juni 2009. Berita tentang duka para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kerap kali menghiasi media massa. Dalam kurun waktu 2002 sampai dengan 2009 tercatat 7 kasus pelecehan seksual, penipuan, penganiayaan hingga pembunuhan yang menimpa TKI Informal yang terendus media. Selebihnya tidak ada kabarnya sehingga jika dihitung secara nominal maka kerugian materi dan non materinya mencapai $ 24 milliar (Litbang Kompas, 11 Juni 2009). Hendaknya pemerintah tidak berdiam diri menghadapi kasus tersebut. Mengingat para TKI tersebut berjasa menyumbangkan devisa maupun menggerakkan roda ekonomi didaerahnya masing-masing. &lt;br /&gt; Perlakuan yang tidak manusiawi seringkali dirasakan oleh TKI yang bekerja di sektor informal. Hal tersebut bisa jadi karena mereka tidak memahami regulasi ketenagakerjaan disuatu negara. Mereka tidak paham akan hak-haknya. Ketidaktahuan tersebut dimanfaatkan oleh agen penyalur. Karena TKI sektor informal sebagian besar berasal dari masyarakat miskin, tidak berpendidikan dan minim keterampilan. Mereka termotivasi menjadi TKI karena iming-iming gaji yang besar. Kondisi tersebut dimanfaatkan oknum agen penyalur ilegal yang memfasilitasi keberangkatan dan memperkerjakan seseorang ke luar negari. Namun biaya-biaya tersebut dibebankan sebagai utang. Sebagai kompensasinya maka agen penyalur tersebut memotong gaji TKI yang disalurkannya. Dilain sisi, pihak majikan yang telah memenuhi kewajibannya membayar gaji  TKI melalui agen penyalur merasa berhak atas TKI tersebut. Sehingga mereka memperlakukan TKI semau mereka. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa TKI ilegal merupakan korban kejahatan sistemik antara oknum agen penyalur dan majikan. &lt;br /&gt;Suka tidak suka maka rantai kejahatan sistemik tersebut harus diputuskan. Lalu Bagaimana caranya ?. &lt;br /&gt;Pertama : Pemerintah beserta DPR perlu merancang, merumuskan dan memutuskan UU tentang ketenagakerjaan migran. Regulasi tersebut sebagai jaminan hukum atas hak-hak dan kewajiban TKI selama bekerja diluar negeri. &lt;br /&gt;Kedua : Memperketat izin pendirian agen penyalur tenaga kerja. Hal tersebut untuk menseleki dan menertibkan oknum agen-agen penyalur. Proses memperoleh izin tidak perlu berbelit namun tegas. Sehingga menutup terjadinya KKN dalam pengurusan izin yang berimbas pada cost operasional perusahaan. Diharapkan agen penyalur tenaga kerja yang lolos seleksi lebih kredibel. Jika pada  prosesnya agen penyalur tersebut melakukan pelanggaran maka izin operasionalnya dapat dicabut dan dikenai tuntutan hukum.&lt;br /&gt;Ketiga: Meningkatkan kemampuan calon TKI baik keterampilan teknis dan bahasa. Agen penyalur resmi dapat bekerjasama dengan Balai Latihan Kerja milik pemerintah untuk melatih TKI tersebut. Penguasaan ketrampilan tersebut menjadi syarat mutlak pemberian ijin bagi calon TKI untuk bekerja diluar negeri. Jika calon tersebut tidak lulus uji ketrampilan maka dia dapat mengulangnya. Hal tersebut semata untuk menjamin kualitas TKI kita sehingga mereka mampu berkompetisi dan terserap disektor formal. Sudah saatnya Indonesia mengekspor tenaga terampil dan terdidik. Hal tersebut akan meningkatkan wibawa bangsa ini. Lihatlah India yang pada era 70 an dikenal sebagai negara miskin. Keadaan tersebut berbalik saat ini karena insinyur-insiyur India yang bekerja diluar negeri mampu memberikan kontribusi positif terhadap kemajuan ekonomi dan kewibawaan bangsanya.&lt;br /&gt;Keempat : Memberikan bantuan pendanaan yang terintegrasi dengan program kewirausahaan. Lembaga keuangan formal (Bank) harus berani memberikan bantuan pendanaan bagi calon TKI potensial yang hendak berangkat namun tidak memiliki pendanaan. Hal tersebut semacam bantuan modal kerja. Karena selama ini TKI tetap miskin karena mereka terjebak praktik rente oknum agen penyalur. Serta pola hidup TKI yang serba konsumtif. Teknisnya, calon TKI yang hendak aplikasi kredit harus harus membuka rekening disalah satu bank. Selanjutnya TKI yang telah bekerja tersebut menyicil utangnya dengan mengirimkan uang kerekening tersebut. Dan pihak bank akan mengautodebetnya. Selama proses utang belum lunas maka sejumah nominal tertentu pada rekening tersebut akan diblokir. Setelah masalah utang selesai maka saldo terblokir tersebut dapat diambil dan dijadikan modal usaha.&lt;br /&gt;Kelima : Hendaknya pemerintah melakukan monitoring secara kontinyu terhadap keberadaan TKI selama bekerja diluar negeri. Pemerintah melalui KBRI dapat memfasilitasi pertemuan antar TKI yang sedang bekerja disuatu negara tertentu. Pertemuan tersebut dapat berbentuk acara formal maupun informal, semisal : pertemuan rutin mingguan, bulanan, tahunan. Forum tersebut bertujuan menggali informasi terhadap perlakuan majikan terhadap TKI maupun sarana konseling masalah regulasi ketenaga kerjaan. Masalah-masalah yang muncul kemudian dievaluasi dan dicarikan solusinya.&lt;br /&gt;Perlakuan terhadap TKI yang semena-mena menunjukkan gejala ketidak beresan dalam sistem tenaga kerja migran Indonesia. Permasalahan tersebut harus ditelusuri secara komprehensif dari hulu sampai hilir dengan melakukan kajian-kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Sejauh ini muncul praduga bahwa penyebab seringnya terjadi kekerasan kepada TKI disebabkan mereka menjadi korban kejahatan sistemik oknum agen penyalur tenaga kerja. Sistem tersebut ibarat lingkaran setan yang menyebabkan TKI sulit melepaskan diri dari jeratnya. Sehingga mereka menjadi objek penderita yang senantiasa dieksploitasi segelintir oknum tertentu. Padahal TKI sebagai pahlawan devisa berpotensi mengangkat harkat martabat dan menggerakkan perekonomian bangsa. Saatnya Indonesia mengirimkan duta bangsa yang terampil dan mampu berkompetisi dengan tenaga kerja dari negara lainnya. Sudah terbukti negara India mampu bangkit dari negara miskin menjadi negara maju berkat SDM nya yang handal khususnya di bidang Teknologi Informasi. Sarjana-sarjana India yang bekerja diluar negeri tidak hanya memberikan kebanggaan dan juga kontribusi positif terhadap perekonomian negaranya. Lalu kapan Indonesia mengekor keberhasilan India ? .Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pemerhati masalah sosial.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-8431766794391215719?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/8431766794391215719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/06/sosial_16.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/8431766794391215719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/8431766794391215719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/06/sosial_16.html' title='SOSIAL'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-5797874081632406095</id><published>2009-06-02T18:35:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T18:36:51.679-07:00</updated><title type='text'>SOSIAL</title><content type='html'>RETORIKA BERBUNGKUS SIMBOL AGAMA&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Rattahpinusa HH*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar.&lt;br /&gt;Pemilihan Presiden (Pilpres) tanggal 8 Juli 2009 sudah semakin dekat. Derajat pertarungan antar kandidat semakin meningkat. Perang retorika terbuka antar kubu sulit dihindari. Calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dikenal sebagai politisi “hati-hati,  mulai  mengeluarkan counter statemen terhadap berbagai tudingan terhadapnya. Isu neoliberalisme, tudingan sebagai dalang insiden 27 Juli dan sindiran sebagai pemimpin peragu ditepisnya. Statemen SBY pada tanggal 10 Mei 2009 yakni: “..Kompetitor lain jangan takabur mampu bertindak lebih cepat, lebih hebat, lebih baik. Tidak perlu kita menunjukkan diri kita lebih hebat. Tuhan tidak menyukai seseorang yang Takabur..”(Metro this week. 30 Mei 2009). Sedangkan pada kesempatan yang berbeda, Capres Jusus Kalla memberikan justifikasi bahwa jargon lebih cepat lebih baik  bukan maksud dirinya berbuat Takabur. Namun jargon tersebut merujuk pada ajaran Islam yakni: Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba berbuat kebaikan). Terlepas dari perdebatan diatas, maka kedua pernyataan kedua capres tersebut menyiratkan penggunaan simbol-simbol agama dalam beretorika. Bukan suatu kebetulan jika simbol-simbol agama digunakan untuk mempersuasi calon pemilih. Mengingat mayoritas warga negara Indonesia memeluk agama Islam. Sehingga penggunaan simbol-simbol agama merupakan salah satu strategi mendekatkan sosok capres terhadap citra religius sekaligus menarik simpati massa.&lt;br /&gt;Penggunaan simbol-simbol agama dalam komunikasi dapat dimasukkan kedalam model komunikasi simbolik. Joseph Allardo dalam speaking persuavely mendefinisikan model tersebut sebagai taraf yang lebih tinggi yang mampu menyajikan gambar fisik &amp; realitas sosial yang ditunjukkan melalui tahapan prosesnya. Aristoteles dalam buku Rhetorika menyatakan bahwa proses komunikasi dibangun oleh 3 unsur yang fundamental yakni: (1.) Orang yang berbicara (persuader). (2.) Materi pembicaraan yang dihasilkan dan (3) Orang yang Mendengarkan (audience). Dalam komunikasi persuasi, eksistensi (ethos) dari persuader sangat dipertaruhkan. Hal tersebut terkait dengan nilai dari seseorang yang merupakan panduan dari kognisi, afeksi &amp; konasi. Penggunaan simbol agama dalam retorika bertujuan membangun kepercayaan audience terhadap persuader. Sehingga pesan yang disampaikan persuder akan dengan mudah mempersuasi audience. Pada kasus diatas maka audience akan digiring kedalam situasi yang sulit menentukan pilihan, Karena masing-masing capres menggunakan simbol-simbol agama dalam beretorika. Dan mereka saling memposisikan dirinya sebagai pilihan terbaik. &lt;br /&gt;Bagaimana cara memilih pemimpin ?&lt;br /&gt;Namun kita sebagai umat Islam sudah sepantasnya memilih pemimpin yang mampu melindungi, mengayomi rakyatnya. Dan  Islam telah memberikan 4 kriteria panduan memilih pemimpin. Adapun keempat kriteria tersebut adalah :&lt;br /&gt;1.Amanah/Terpercaya : Jabatan merupakan kepercayaan yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Pemimpin yang amanah akan berhati-hati menjalankan kepemimpinnya. Insya Allah dia tidak akan silau terhadap jabatannya serta terhindar dari godaan yang muncul. Karena dia sadar bahwa setiap jabatan akan dipertanggungjawabkan baik didunia maupun akhirat.&lt;br /&gt;2.Sidiq/Jujur : Sifat jujur merupakan pembeda yang jelas antara yang haq dan bathil. Pemimpin yang jujur akan mudah mengidentifikasi mana kebaikan dan keburukan. Dia akan tegas menentukan kebaikan atau keburukan serta menjauhi wilayah abu-abu (syubhat). &lt;br /&gt;3.Fathonah/Cerdas : Pemimpin mutlak memiliki kecerdasan baik IQ, EQ dan SQ. Kenapa ? Pemimpin merupakan rujukan setiap permasalahan bagi rakyat yang dipimpinnya. Kecerdasan yang dimiliki akan membantunya menyelesaikan berbagai permasalah serta memberikan solusi yang dapat diterima segala lapisan rakyatnya. &lt;br /&gt;4.Tablik/Penyampai : Pemimpin harus berani menyampaikan kebenaran. Walaupun terkadang kebenaran itu membuatnya tidak populis maupun menggirinnya kedalam situasi yang kurang menguntungkan. &lt;br /&gt;Catatan bagi para calon pemimpin.&lt;br /&gt; Tidak ada larangan bagi para Capres untuk beretorika dan berebut simpati massa. Pergunakanlah setiap kesempatan yang ada baik melalui media massa, forum debat capres untuk mensosialisasikan visi-misi dan program kerjanya. Namun sepantasnya praktek saling menghujat dan mengumbar janji-janji dengan menggunakan simbol agama untuk merebut simpati massa patut hindari. Karena penguasa yang kelak terpilih dan tidak dapat menunaikan janji-janjinya akan mendapatkan neraka. Sebagaimana hadis riwayat Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu’anhu: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seorang hamba yang diserahi Allah memimpin rakyatnya mati sebagai penipu rakyatnya pada saat ia mati, maka Allah mengharamkan baginya masuk ke surga-Nya. (Shahih Muslim No.203). Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pengamat Komunikasi Politik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-5797874081632406095?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/5797874081632406095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/06/sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/5797874081632406095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/5797874081632406095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/06/sosial.html' title='SOSIAL'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-8616667592192262196</id><published>2009-05-11T17:37:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T17:39:39.069-07:00</updated><title type='text'>Pengelolaan Terbitan Berseri</title><content type='html'>BAB. I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. PENGANTAR&lt;br /&gt;Perpustakaan merupakan tempat menghimpun sumber informasi. Beragam sumber informasi diorganisasikan, diolah dan disajikan sesuai kebutuhan penggunanya. Pada umumnya, perpustakaan mengkoleksi buku sebagai tulang punggung koleksinya. Seiring perkembangan teknologi maka hal tersebut mengalami pergeseran. Menginjak abad ke-20, kolaborasi antara teknologi  dan informasi membidani lahirnya elektronik book, elektronik journal, elektronik newspaper. Menjamurnya sumber-sumber informasi tersebut mengakibatkan terjadinya ledakan informasi. Majalah mengalami reposisi dan memegang peranan vital sebagai dokumen primer. Zimar (1969) dalam Sulistyo Basuki (2004) menyatakan bahwa: ”Majalah sebagai dokumen primer menjadi peletak Revolusi Industri”. Majalah mempunyai frekuensi terbit yang cepat dan teratur sehingga  artikel yang dimuatnya selalu mutakhir dan menjadi media komunikasi formal antar ilmuwan. Selain itu, majalah telah menjadi ”arsip’ umum. Karena setelah majalah diterbitkan dan disimpan dalam perpustakaan atau pusat dokumentasi maka majalah akan diakses oleh siapa saja. Keunggulan yang dimiliki majalah tersebut yang menyebabkan intensitas penerbitannya semakin tinggi dari tahun ke tahun. Bahkan fenomena tersebut telah diramalkan sebelumnya oleh Derek Price dalam Sulistyo-Basuki (2004) yang menyatakan bahwa: ” Pada tahun 2000 akan ada sekitar 1,000,000 judul majalah”.&lt;br /&gt;Tingginya intensitas penerbitan majalah dari tahun ke tahun lambat laun akan menimbulkan masalah. Jika majalah tidak dikelola dengan baik maka dikhawatirkan koleksi tersebut tidak tertangani untuk diolah. Sehingga substansi informasinya tidak termanfaatkan dengan baik. Maka sepantasnya praktisi informasi khususnya pustakawan untuk membuat petunjuk teknis pengelolaan majalah. &lt;br /&gt;B. TUJUAN.&lt;br /&gt;Penyusunan petunjuk teknis ini bertujuan memberikan cara praktis pengolahan dan penyajian informasi pada majalah. Sehingga koleksi majalah dapat bermanfaat bagi para penggunanya.&lt;br /&gt;BAB. II &lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;A. JENIS MAJALAH.&lt;br /&gt;Majalah merupakan suatu penerbitan berkala yang menyajikan liputan jurnalistik maupun artikel berisi informasi, opini tentang kehidupan sehari-hari manusia. Majalah dapat berfungsi sebagai media informasi, hiburan dan pendidikan. Sistematika penyusunan majalah meliputi : cover depan yang menyajikan judul headline/gambaran ringkas isi majalah, editorial yang memuat tema/isu yang sedang hangat, daftar isi, kolom artikel dan penutup. Selain berisi tulisan, majalah turut memuat foto atau gambar sebagai ilustrasi dari suatu berita atau peristiwa tertentu. Istilah majalah berasal dari bahasa Arab : majallah. Demikian halnya dengan istilah magazine yang berasal dari bahasa Arab: mahazin. Kedua kata tersebut bermakna : gudang. Namun makna tersebut mengalami perluasan arti sebagai gudang pengetahuan. &lt;br /&gt;Majalah dibedakan menjadi 2, yakni: berdasarkan kala terbit dan isinya. Kala terbit masing-masing majalah berbeda tergantung kebijakan redaksi. Kala terbit majalah populer lebih pendek jika dibandingkan majalah ilmiah. Karena redaksi majalah ilmiah kesulitan mencari artikel penelitian yang bermutu dan layak terbit. Perbedaan kala terbit tersebut menyebabkan kita mengenal majalah mingguan, dwi mingguan, bulanan, triwulanan. Sedangkan menurut isinya  maka majalah dibedakan menjadi :&lt;br /&gt;a. &lt;br /&gt;Majalah anak-anak&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Berisi bahan bacaan yang sesuai dengan tingkat kecerdasan anak-anak. Gambar kartun lebih mendominasi majalah ini. Karena pesan yang hendak disampaikan akan lebih mengena menggunakan gambar. &lt;br /&gt;b.&lt;br /&gt;Majalah bergambar&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Memberikan tempat yang dominan kepada foto dan gambar. Reportase tertulis bersifat menjelaskan foto yang terpampang. Segmentasi majalah ini adalah: praktisi fotografi.&lt;br /&gt;c.&lt;br /&gt;Majalah berita&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Memuat reportase dan ulasan tentang suatu peristiwa dan masalah tertentu yang aktual. Contoh majalah ini adalah: Fokus, Tempo, &lt;br /&gt;d.&lt;br /&gt;Majalah bisnis&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Majalah ini terfokus pada reportase dan artikel mengenai masalah-masalah perdagangan, perekonomian dan keuangan. Contoh majalah ini adalah: Swa, Warta ekonomi.&lt;br /&gt;e.&lt;br /&gt;Majalah budaya&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Memuat artikel tentang kebudayaan. Contoh majalah ini adalah: Basis, Budaya jawa dan Poedjangga baru.&lt;br /&gt;f.&lt;br /&gt;Majalah film&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Berisi ulasan dan laporan perkembangan perfilman serta resensi film. Contoh majalah ini adalah: Aneka&lt;br /&gt;g.&lt;br /&gt;Majalah hiburan&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Berisi  karangan&amp; berita ringan yang bersifat mengibur. Contoh majalah ini adalah: Terang, Varia.&lt;br /&gt;h.&lt;br /&gt;Majalah humor&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Berisi tulisan dan ilustrasi jenaka seperti kartun dan komik yang menggelikan. Contoh majalah ini adalah: Astaga, Stop&lt;br /&gt;i.&lt;br /&gt;Majalah ilmiah&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Berisi artikel tentang ilmu pengetahuan berdasarkan hasil penelitian yang tidak jarang mengandung uraian bersifat teknis, biasanya dikelola dan diterbitkan oleh lembaga-lembaga perguruan tinggi dan organisasi profesi. Contoh majalah ini adalah: The Indonesian Quarterly, Jurnal Medika.&lt;br /&gt;j.&lt;br /&gt;Majalah keagamaan&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Berisi artikel yang berkaitan dengan masalah-masalah agama ataupun masyarakat ditilik dari perspektif agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k.&lt;br /&gt;Majalah keluarga&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Berisi karangan yang dapat dibaca oleh seluruh anggota keluarga. Substansi dapat berupa : pendidikan anak, membina hubungan rumah tangga dan konsultasi medik. &lt;br /&gt;l.&lt;br /&gt;Majalah khas&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Menyajikan masalah-masalah bidang profesi tertentu seperti hukum (Pro justicia); Militer (Yudhagama, Telstra); Penerbangan (Angkasa).&lt;br /&gt;m.&lt;br /&gt;Majalah mode&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Menguraikan masalah dan perkembangan mode dan dilampiri lembaran berisi pola pakaian.&lt;br /&gt;n.&lt;br /&gt;Majalah olah raga&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Memuat artikel dan berita tentang olah raga. Contoh majalah ini adalah: Bola.&lt;br /&gt;o.&lt;br /&gt;Majalah remaja&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Memuat artikel tentang permasalahan remaja dan msalah lain yang diminati kaum muda, biasanya menggunakan bahasa populer yang khas berlaku dikalangan mereka. Contoh majalah ini adalah: Gadis, Gaul&lt;br /&gt;p.&lt;br /&gt;Majalah sari tulisan&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Memuat ringkasan karangan dari berbagai penerbitan sebagai petunjuk singkat bagi peminat yang memerlukan bahan bacaan yang luas. Contoh majalah ini adalah: Horizon; Sastra&lt;br /&gt;q.&lt;br /&gt;Majalah umum&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Berisi karangan yang diminati oleh kalangan pembaca seluas mungkin. Contoh majalah ini adalah: Intisari, Liberty dan Vista&lt;br /&gt;r.&lt;br /&gt;Majalah wanita&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Berisi artikel tentang masalah kewanitaan, karir pekerja wanita, konseling dan konsultasi medis, rsep masakan, mode pakaian dan kehidupan keluarga. &lt;br /&gt;l.&lt;br /&gt;Majalah khas&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;Menyajikan masalah-masalah bidang profesi tertentu seperti hukum (Pro justicia); Militer (Yudhagama, Telstra); Penerbangan (Angkasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. UNSUR – UNSUR DALAM  MAJALAH ILMIAH.&lt;br /&gt;1. Halaman judul terdiri atas : &lt;br /&gt;a. International Standart Serial Number : nomor pengenal yang diberikan kepada setiap penerbitan berurutam atau berseri diseluru penjuru dunia untuk mempermudah identifikasi dan pelacakan. ISSN diterbitkan oleh Pusat International pada International Serials Data System (ISDS) yang berkedudukan di Paris, Perancis. Bagi penerbitan-penerbitan serial di Indoensia maka ISSN diterbitkan oleh PDII-LIPI.&lt;br /&gt;b. Judul : nama dari terbitan.&lt;br /&gt;c. Volume : menunjukkan periode penerbitan.&lt;br /&gt;d. Penerbit : lembaga yang bertanggung jawab atas penerbitan tersebut.&lt;br /&gt;2. Daftar isi memuat nama artikel dan penulisnya yang diikuti letak artikel tersebut.&lt;br /&gt;3. Artikel ilmiah :&lt;br /&gt;a. Judul artikel.&lt;br /&gt;b. Susunan nama penulis.&lt;br /&gt;c. Abstrak.&lt;br /&gt;d. Kata kunci.&lt;br /&gt;e. Pendahuluan.&lt;br /&gt;f. Metodolog.&lt;br /&gt;g. Pembahasan.&lt;br /&gt;h. Kesimpulan.&lt;br /&gt;C.   PENGOLAHAN.&lt;br /&gt;1.   Pengolahan secara manual.&lt;br /&gt;a. Setiap majalah yang terkirim akan dilengkapi dengan surat tanda terima.  Kegunaan  surat tersebut adalah sarana umpan balik bagi pengirim untuk mengetahui kiriman majalahnya telah sampai ke tujuan. Unsur-unsur yang terkandung pada surat tanda terima meliputi: Kop lembaga pengirim, tanggal pengiriman, judul dan jumlah majalah yang dikirim serta identitas penerima. Apabila perpustakaan menerima kiriman majalah beserta tanda terimanya maka sepantasnya pustakawan mengisi identitas yang diperlukan dan mengirimkan balik surat tanda terima tersebut kepada instansi pengirimnya.&lt;br /&gt;b. Registrasikan majalah yang baru diterima kedalam buku induk majalah. Kegunaan buku induk majalah adalah sarana inventarisir judul dan jumlah majalah yang menjadi koleksi perpustakaan. Unsur-unsur yang terkandung pada buku induk meliputi: nomor registrasi; judul majalah, ISSN, penerbit dan alamat penerbit serta volume, tahun terbit dan jumlahnya.&lt;br /&gt;c.   Berikan identitas pada majalah. Identitas tersebut berupa stempel perpustakaan serta stempel registrasi. Format stempel registrasi seperti berikut :&lt;br /&gt;TELAH DIPERIKSA&lt;br /&gt;Nomor Inventaris&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;M1320/BPKK/B/2008&lt;br /&gt;Tanggal Terima&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;12/10/2008&lt;br /&gt;Nomor Panggil &lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;B/ H/ T&lt;br /&gt;Kode Rak&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;..................................&lt;br /&gt;Paraf&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;..................................&lt;br /&gt;(Tabel. 1 Stempel Inventaris Majalah)&lt;br /&gt;d.  Klasifikasikan subjek majalah dengan menggunakan UDC. &lt;br /&gt;    Universal Decimal Clasification (UDC) merupakan sistem klasifikasi skema untuk semua bidang ilmu pengetahuan, yang canggih dan berfungsi sebagai media alat pengindeksan. UDC diadaptasi oleh Paul Otlet dan pemenang hadiah Nobel Henri La Fontaine dari Klasifikasi Desimal dari Melvil Dewey, dan pertama kali diterbitkan (di Perancis) 1904-1907. Sejak itu, ia telah direvisi secara menyeluruh dan dikembangkan, dan telah menjadi sangat fleksibel dan efektif untuk mengatur sistem bibliografi record untuk semua jenis informasi di media (baik itu cocok untuk multi-media informasi koleksi). Adalah disusun sedemikian dengan cara yang baru dan perkembangan baru bidang pengetahuan dapat mudah dimasukkan. &lt;br /&gt;Struktur UDC terdiri dari nomor klasifikasi; tanda notasi dan tabel. Simbol yang dipilih untuk UDC notasi tersebut tidak tergantung pada bahasa, dan universal dikenali  dengan angka arab, dilengkapi oleh beberapa tanda-tanda biasa lainnya dari simbol matematika. Pengaturan didasarkan pada sistem desimal: setiap nomor adalah pemikiran sebagai pecahan desimal dengan titik awal diabaikan, dan ini menentukan urutan filing. Dengan demikian, setelah 61 'Kedokteran ilmu' yang datang subdivisi 61 1-61 9; dibawah 61 1 'Anatomy' yang datang subdivisi 61 1,1-61 1,9; di bawah 61 1,1 semua datang dari 611,2 subdivisi sebelum terjadi, dan sebagainya; setelah 619 datang 62. Sebuah keuntungan dari sistem ini adalah bahwa itu sangat jauh lebih bersifat luas, dan ketika subdivisi baru yang diperkenalkan, mereka tidak perlu mengganggu yang sudah ada alokasi nomor. &lt;br /&gt;1.)  Ada dua jenis tabel pada UDC: &lt;br /&gt;a.) Tabel Utama, juga disebut sebagai 'jadwal': ini berisi garis besar dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, diatur dalam 10 kelas dan dibagi secara hirarki (seperti yang dijelaskan dalam 'Struktur' di atas). Mereka diberi nomor dari 0 sampai 9.&lt;br /&gt;b.) Tabel Bantu, juga disebut meja penolong: termasuk tanda-tanda tertentu penolong. Tanda-tanda (misalnya plus, yang stroke, di usus besar) digunakan untuk dua link (atau lebih) nomor, sehingga mengekspresikan berbagai hubungan antara dua (atau lebih) mata pelajaran Enumerative tabel yang menunjukkan karakteristik berulang, berlaku atas berbagai mata pelajaran, yang hanya penolong ditambahkan pada akhir nomor untuk subjek. Yang paling umum di antara mereka, yang disebut alat pembantu umum, yang berlaku di seluruh tabel utama, dan mewakili palen seperti sebagai tempat, bahasa teks dan fisik berupa dokumen, yang mungkin terjadi di hampir semua mata pelajaran. Terdapat juga lebih dibatasi seri, yang disebut alat pembantu khusus, yang menyatakan aspek yang berulang, tetapi yang lebih terbatas perihal jangkauan. Mereka hanya karena itu tercantum di bagian tertentu dari tabel utama. &lt;br /&gt;Keterangan&lt;br /&gt;Tanda/ Simbol&lt;br /&gt;Tanda tambahan &amp; perluasan&lt;br /&gt;+ dan /&lt;br /&gt;Tanda menghubungkan 2 notasi kelas&lt;br /&gt;: atau ::&lt;br /&gt;Tanda yang menunjukkan bahasa&lt;br /&gt;=&lt;br /&gt;Tanda yang menunjukkan bentuk penyajian&lt;br /&gt;(0....)&lt;br /&gt;Tanda yang menunjukkan tampat &lt;br /&gt;(1) s/d (9)&lt;br /&gt;Tanda yang menunjukkan ras atau suku bangsa&lt;br /&gt;(=...)&lt;br /&gt;Tanda yang menunjukkan petunjuk waktu&lt;br /&gt;”...”&lt;br /&gt;Tanda spesifikasi alfabet dan non-UDC untuk mempertajam subjek&lt;br /&gt; A/Z, I, II, III&lt;br /&gt;Tambahan untuk menyatakan sudut pandang subjek&lt;br /&gt;.00&lt;br /&gt;Sub divisi tambahan khusus&lt;br /&gt;-0/-9,.0 dan ’...&lt;br /&gt;(Tabel. 2 Tanda yang digunakan pada tabel bantu UDC)&lt;br /&gt;2. ) Penotasian majalah secara sederhana menggunakan UDC sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.) Tentukan subjek majalah. Analisis subjek berguna untuk memberikan notasi UDC yang akurat sesuai dengan subjeknya. Setiap bahan pustaka menyimpan petunjuk terkait substansi subjek. Kita dapat menelusurnya melalui judul atau daftar isi majalah tersebut.  &lt;br /&gt;b.) Mengalihbahasakan subjek dari majalah yang hendak di klasifikasi. Semisal subjek dari majalah Trubus adalah Pertanian. Sedangkan padanan kata pertanian dalam bahasa Inggris adalah Agriculture. Hal tersebut harus dilakukan karena UDC masih memakai istilah bahasa Inggris. Kemampuan penguasaan bahasa Inggris terutama Vocabulary sangat menunjang kegiatan ini. Namun kita bisa menggunakan kamus bahasa Indonesia-Inggris untuk mencari padanan kata yang lebih akurat. &lt;br /&gt;c.) Menggunakan Indeks. Selanjutnya, subjek yang telah identifikasi dan dialihbahasakan ke bahasa Inggris akan dicarikan indeksnya. Indeks akan merujuk pada notasi subjek berdasarkan UDC. Semisal kita akan mencari nomor indeks untuk subjek majalah + Trubus. Terlebih dahulu kita harus mencari notasi subjek untuk majalah. Indeks untuk majalah akan merujuk pada notasi 050. (Serial Publications, serial publication, periodicals.). Sedangkan subjek Trubus adalah Pertanian yang istilah bahasa Inggrisnya adalah Agriculture. Indeks untuk Agriculture akan merujuk pada notasi 63 (Agricultural Sciences) lebih detailnya pada 631/634 (Farm manajement; Plant Husbandry).&lt;br /&gt;d.) Membentuk Notasi. UDC memberikan fasilitas berupa tanda untuk membentuk notasi baru. Tanda tersebut berupa: (: , ::) colon untuk menghubungkan dua atau lebih notasi yang subjeknya setara atau relevan. (+) untuk menggabungkan dua atau lebih dokumen, bukan subjek berurutan namun masih memiliki keterkaitan atau tidak sama sekali namun berada dalam satu dokumen, (/) untuk menghubungkan serangkaian notasi kelas yang berurutan dan keseluruhannya mencakup dalam suatu subjek besar . Contoh penggunaan :&lt;br /&gt;Notasi Ekonomi Pertanian  dibentuk dari kelas 330 (Ekonomi) dan kelas kelas 631 (Pertanian). Sehingga pembentukan notasi Ekonomi Pertanian 330:631. Tanda (:) colon digunakan untuk menggabungkan kedua notasi tersebut karena kedudukan keduanya setara.&lt;br /&gt;2. Pengolahan secara komputerisasi.&lt;br /&gt;Untuk mempermudah penelusurannya maka perlu dibuat database khusus untuk koleksi majalah. Database tersebut dapat berbasis Win ISIS. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. ) Pembuatan database.&lt;br /&gt;Langkah pertama sebelum membuat database adalah mengaktifkan CDS/ISIS dengan meng-klik ikon CDS/ISIS. Atau secara manual melalui Start &gt; Program &gt; CDS/ISIS.  Selanjutnya klik File-New atau ikon bohlam untuk membuat Database Definition. Tunggu beberapa saat sampai form Data Base Definition New muncul. Pada kolom database name ketikkan ARTIK sebagai nama database u tidak sama sekali. &lt;br /&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar. 1 Tampilan Data Base Definition New)&lt;br /&gt;Langkah Kedua adalah  pembuatan Field Definition Table (FDT). Pada tahap ini kita akan mendefinisikan unsur-unsur Table dalam Database yang akan kita buat. Ada beberapa istilah pada form Database Definition yang harus kita pahami, yakni:&lt;br /&gt;Tag (tenggara) merupakan sistem penomoran yang mengacu pada sistem Indomarc. Acuan tersebut akan memudahkan transfer data (eksport-import) antar database. &lt;br /&gt;Alphanumeric merupakan tipe data yang mengandung unsur kombinasi antara angka dan huruf.&lt;br /&gt;Rep merupakan kependekan dari Repetition (pengulangan). &lt;br /&gt;Pattern/ Subfield merupakan pola data yang ingin dimunculkan dalam database.&lt;br /&gt;Add merupakan instrumen untuk menambahkan elemen database.&lt;br /&gt;Clear entri merupakan instrumen untuk menghapus data pada kolom Name.&lt;br /&gt;Sort entry merupakan instrumen untuk mengurutkan elemen database.&lt;br /&gt;Delete entry merupakan instrumen untuk mengapus elemen database dari Field Table.&lt;br /&gt;Urutan kerja pada pengisian kolom-Field Table sebagai berikut: Kolom tag; Name; dan Subfield mengacu pada pedoman INDOMARC &gt; Tekan tombol Add &gt; unsur-unsur tersebut akan menjadi field Table. Untuk melakukan editing maka kita bisa menggunakan tombol Clear entry; Sort entry dan Delete entry. Setelah selesai semua maka Klik Tanda panah berwarna hijau yang berada kanan bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar. 2 Tampilan Data Base Definition-Field Table).&lt;br /&gt;Langkah Ketiga adalah membuat lembar isian kerja (Data entry worksheet ) yang bisa dibuat lebih dari satu dalam sebuah database. Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap pembuatan Field Definition Table (FDT). Lembar isian kerja berfungsi pada proses input data pada database. Pada proses pembuatan Data entry worksheet maka kita dapat menseleksi field-field database yang akan ditampilkan pada lembar isian kerja. Urutan kerja pada pengisian kolom sebagai berikut: Worksheet menunjukkan nama database yang akan dibuat; Kolom Fields menunjukkan unsur-unsur yang terkandung dalam database ARTIK. Untuk memindahkan unsur-unsur tersebut ke kolom Data Entry Fileds maka tekan tombol &gt; atau &gt;&gt;. Sedangkan untuk memindahkan unsur field dari Data Entry Fields ke kolom Fileds maka tekan tombol &lt;.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar. 3 Tampilan Data Entry Worksheet)&lt;br /&gt;Apabila proses ini telah selesai maka tekanlah tanda panah hijau pada sisi kanan bawah. Maka akan muncul sebuah text Box yang meminta persetujuan anda untuk membuat format tampilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar. 4 Tampilan CDS/ISIS Wizard)&lt;br /&gt;Tekan tombol Yes pada form CDS/ISIS Wizard.  Tunggu beberapa saat sehingga tampil form PFT Wizard. Pada form tersebut terdapat beberapa pilihan tampilan. Kita memilih CDS/ISIS Dos Compatible format sebagai template format tampilan dengan memberikan tanda pada kolom pilihan. Lalu Tekan OK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar. 5 Tampilan PFT Wizard)&lt;br /&gt;Langkah Keempat adalah pembuatan Format tampilan (Display Format) database.&lt;br /&gt;Ketika kita menekan tombol OK pada form PFT Wizard maka secara otomatis akan muncul Form Format dengan format tampilan. Namun pada tag v856  file pdf kita lakukan memodifikasi format baku pada . Kita masukkan rumus sebagai berikut :  'LINK((cl1,fs24,i,'Klik teks lengkap'),if v856='' then 'Belum ada teks lengkap' &lt;br /&gt;else 'OPENFILE ',"\\WINISIS\\DATA\\ARTIK\\TEXT\\"V856 fi)/ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar. 6 Tampilan Form Format)&lt;br /&gt;Rumus tersebut akan menghubungkan elemen dalam database dengan file pdf yang hendak didownload. Letak file pdf ini terletak dalam direktori Data (Winisis). Setelah selesai semua maka Klik Tanda panah berwarna hijau yang berada kanan bawah.&lt;br /&gt;Langkah Kelima adalah Indexing. Tahapan ini bertujuan mendefinisikan unsur-unsur field sebagai bagian dari kamus (dictionary) dan indexing. Hal tersebut berguna dalam mempermudah proses pencarian dalam database. Urutan kerja pada pengisian kolom pada FST Wizard  sebagai berikut:&lt;br /&gt;Klik Combo Box pada kolom techinques . Disana akan terdapat banyak pilihan seperti : 0 - By lines dan seterusnya. Pada data base artikel kita memilih 4 - By word sebagai pendefinisian field dalam dictionary. Hal tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa unsur kata lebih efektif mendeteksi kata yang dicari dalam database artikel.  Selanjutnya beri tanda (X) pada sub-sub field yang hendak didefinikan. Setelah selesai semua maka Klik tombol OK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar. 7 Tampilan FST Format)&lt;br /&gt;Selanjutnya adalah proses mengindeks. Form Field Select Tables berguna untuk mendefinisikan kriteria dan mengekstrak elemen dalam data base sehingga mempermudah proses mengindek, mengurutkan dan memformat ulang master file dalam database. Urutan kerja pada pengisian kolompada FST Wizard  sebagai berikut: &lt;br /&gt;Pilihlah ARTIK pada kolom FST File.&lt;br /&gt;Selanjutnya pilihlah v 100 Entri Utama Orang pada kolom Tag/Name. Lakukan demikian seterusnya untuk tag-tag lain dalam database ARTIK.&lt;br /&gt;Pilihlah 4-By word untuk indexing pada kolom Technique.&lt;br /&gt;Lalu Klik tombol Add maka unsur v 100 akan otomatis masuk kedalam kolom Entries.&lt;br /&gt;Tombol New berfungsi membuat entries baru pada form Extraction Tables. Sedangkan tombol delete berfungsi menghapus entries dari form Extraction Tables. Jika semua telah selesai maka Klik Tombol Terminate ! pada sisi kanan bawah form. Dan pembuatan database ARTIK telah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar. 8 Tampilan Extraction Tables)&lt;br /&gt;b.)  Entri database.&lt;br /&gt;Buka program WINISIS pada start Menu – Program-CDS/ISIS for windows atau pada halaman dekstop. &lt;br /&gt; Untuk membuka file gunakan menu Database lalu klik database artik.mst.  Untuk melakukan entri data maka gunakan fasilitas menu Edit seperti terlihat pada gambar. 9 dibawah ini : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Gambar. 9 Tampilan Menu Edit)&lt;br /&gt; Pada tab entri terdapat berbagai pilihan. Kita dapat memilih create a copy untuk melanjutkan pengentrian. Selanjutnya kita mengisi atau mengganti pada kolom-kolom yang tersedia sesuai dengan data yang akan kita entrikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar. 10 Tampilan kolom pada Data Entri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PENJAJARAN.&lt;br /&gt;Penjajaran majalah ke rak dapat menggunakan sistem kronologis. Sehingga majalah dijajarkan secara berurutan dan sistematis. Ada 2 (dua) jenis sistem kronologis yakni: kronologis waktu dan alfabetis.&lt;br /&gt;1.Kronologis waktu, yakni: Runtutan sesuatu berdasarkan ukuran waktu. Kita mengenal istilah detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya. Istilah tersebut menunjukkan ukuran waktu terkecil sampai terbesar. Pada terbitan berseri bisa menggunakan ukuran waktu dimulai dari harian, mingguan, bulanan. Kita dapat menjajarkan majalah ke rak menyesuaikan waktu terbitnya. Keuntunggannya adalah kita dapat dengan mudah mengotrol keberadaan majalah tersebut. Semisal kita telah berlangganan majalah selama setahun penuh. Suatu ketika kita hendak mencari informasi pada  majalah terbitan bulan Juni. Padalah dirak terjajar majalah bulan Mei dan Juli. Maka dapat dipastikan majalah yang bersangkutan sedang dipinjam atau dibaca penguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Kronologis alfabetis, yakni: Runtutan sesuatu berdasarkan urutan alfabet A sampai Z. Kita dapat menjajarkan majalah menggunakan kronologis alfabetis. Majalah dengan judul alfabet A menempati urutan pertama begitupula seterusnya. Keuntunggannya adalah kita dapat dengan mudah menemukan keberadaan majalah tersebut. Semisal kita telah berlangganan majalah selama setahun penuh. Suatu ketika kita hendak mencari informasi pada  majalah terbitan berjudul Angkasa. Maka kita mencari majalah tersebut pada rak yang beralfabet A.&lt;br /&gt;E. PERAWATAN.&lt;br /&gt;1.  Penjilidan.&lt;br /&gt;   Definisi penjilidan menurut Muhammad Razak et.all (1992) yakni : ”Menghimpun atau menggabungkan lembaran-lembaran lepas menjadi satu, yang dilindungi dengan ban atau sampul”. Tujuannya adalah mendokumentasikan majalah sehingga tidak terjadi tercecernya informasi. Selain itu, penjilidan akan memudahkan penguna menelusur informasi karena beberapa majalah dijadikan sebagai satu kesatuan. Penjilidan memerlukan penguasaan teknis agar majalah dapat menjadi bundel yang estetis, dan fungsional. Adapun langkah-langkah penjilidan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.) Inventarisasi majalah yang hendak dijilid. Hal tersebut berpedoman pada tujuan atau kegunaan penjilidan. Jika tujuannya mendokumentasikan serial majalah agar informasinya tidak tercecer maka pedomannya merujuk pada kronologis waktu.&lt;br /&gt;b.) Susun majalah secara kronologis. Kemudian kateren, yakni: lembaran-lembaran yang telah dilipat dan saling disisipkan dijahit satu dengan yang lain, dan akhirnya membentuk isi buku atau blok buku.&lt;br /&gt;c.) Isi buku  atau blok buku kemudian di press atau dipampatkan, sambil dilem. Pada sistem jilid tanpa benang (perfect binding) maka blok buku dapat dilem pada punggungnya setelah punggung tersebut dipotong dan dikasarkan (dipres).&lt;br /&gt;d.) Lembar pelindung ditempelkan, baik bagian atas maupun bagian bawah atau ditempelkan pada lembaran pertama dan lembaran terakhir isi buku.&lt;br /&gt;e.) Isi buku yang sudah ditempeli lapisan lembar pelindung dapat dipotong/ dirapikan sesuai ukuran yang dikehendaki, baik bagian kedua sisi samping dan sisi depan.&lt;br /&gt;f.) Isi buku dipilung atau dibulatkan atau bisa juga bentuk lurus/siku, sesuai dengan yang diinginkan.&lt;br /&gt;g.) Tempel atau rekatkan  pita kapital. Hal tersebut berfungsi sebagai pemanis sekaligus menambah kekuatan pada bagian kepala dan ekor.&lt;br /&gt;h.) Tempel kain kasa, sebelum digabung dengan sampulnya.&lt;br /&gt;2. Kliping.&lt;br /&gt;Kliping merupakan kumpulan berita / informasi terpilih dari sejumlah surat kabar. Tujuan penyusunan kliping adalah mengemas ulang suatu informasi sehingga mempermudah pengguna dalam menelusur berita-berita yang telah lampau dari sejumlah surat kabar. Belum ada format baku dalam penyusunan kliping. Sehingga format penyusunannya mengikuti kebijakan masing-masing instansi. Format penyusunan kliping di lingkup Balai Litbang Kehutanan Kupang meliputi : Hal Judul, Kata Pengantar, Daftar Isi, Lembar Isi (terdiri atas : nama surat kabar, tanggal/bulan/tahun terbit, subjek, kata kunci), Indeks. Sedangkan format halaman kliping yang digunakan di perpustakaan BPK Kupang sebagaimana gambar berikut dibawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun langkah menyusun kliping adalah :&lt;br /&gt;a.) Langkah pertama adalah menginventarisasi, yakni: mengumpulkan berbagai sumber informasi yang dibutuhkan oleh para pengguna. Pada tahap ini kita sekaligus mengidentifikasi kebutuhan pengguna yang akan menggunakan kliping yang akan kita susun. Semisal : pengguna perpustakaan BPK Kupang adalah para peneliti bidang kehutanan. Sehingga pengguna akan membutuhkan informasi-informasi terbaru terkait dunia penelitian dan kehutanan serta informasi terkait. &lt;br /&gt;b.) Langkah kedua adalah menseleksilah informasi. Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan pengguna terhadap berita-berita dari sejumlah surat kabar. Maka kita akan memilah informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Informasi yang bersifat dangkal, bias dan tanpa didukung validitas data tidak akan kita tampilkan pada kliping yang akan kita susun.&lt;br /&gt;c.) Langkah ketiga adalah mengorganisasikan. Informasi yang tersusun sistematis akan sangat memudahkan pengguna menemu balik informasi tersebut. Maka kelompokkanlah informasi yang sudah terseleksi kedalam subjek-subjek yang telah ditentukan. Semisal: Ilmu kehutanan terdiri dari cabang-cabang ilmu, yakni: silvikultur; ekonomi hasil hutan, manajemen kehutanan, konservasi dan lain sebagainya. Masukkanlah informasi yang telah terseleksi kedalam subjek-subjek tersebut.&lt;br /&gt;d.) Langkah keempat adalah menyusun informasi tersebut secara kronologis. Salah satu ukuran sistematis adalah kronologis, yakni: sesuatu hal disusun secara runtut. Hal ini akan sangat membantu sekali jika sumber informasi yang kita gunakan adalah koran yang terbit setiap hari. Dari skala kronologis tersebut kita akan memahami perkembangan suatu peristiwa secara runtut. Dan lengkapilah kliping yang hendak disusun dengan menyusun indeks yang berdasarkan kata kunci secara kronologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB. III &lt;br /&gt;PENUTUP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan mesin cetak oleh Guttenberg pada abad ke-18 merupakan awal dari revolusi informasi. Salah satu produk dari revolusi informasi adalah majalah. Saat ini majalah memegang peranan vital dalam era informasi. Hal tersebut tidak lepas dari keunggulan yang dimilikinya, yakni: informasinya yang terbarukan. Terlepas dari keunggulannya tersebut, majalah berpotensi menimbulkan ledakan informasi jika tidak dikelola dengan baik. Merujuk ramalan Derek Price dalam Sulistyo-Basuki (2004) yang menyatakan bahwa: ” Pada tahun 2000 akan ada sekitar 1,000,000 judul majalah”.&lt;br /&gt;Perpustakaan yang berfungsi sebagai pusat informasi berkewajiban untuk mengelola dan mendayagunakan majalah sehingga informasinya dapat dimanfaatkan oleh penggunanya. Pengelolaan majalah dapat dilakukan secara manual maupun otomasi dengan menggunakan CDS/ISIS. Adapun langkah-langkah pengelolaan secara manual meliputi: pengiriman kembali lembar terima, meregistrasi majalah kedalam buku induk, memberikan cap/tanda perpustakaan pada majalah, memberikan notasi UDC. Selanjutnya majalah tersebut dijajarkan ke-rak. Penjajaran majalah ke-rak dapat menggunakan sistem kronologis waktu dan alfabetis. Sedangkan majalah yang telah terkumpul dalam kurun waktu tertentu maka majalah tersebut dapat dijilid maupun dikliping. Pengelolaan majalah secara otomatisasi berbasis CDS/ISIS melalui tahapan pembuatan database, entri database serta perawatan data base. Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. (2004).Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 7 I. Jakarta. Delta Pamungkas. &lt;br /&gt;Anonim. (2004). Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 10 M. Jakarta. Delta Pamungkas. &lt;br /&gt;Muhammad Razak.et all. (1992). Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip. Jakarta. Yayasan Ford.&lt;br /&gt;Sulistyo-Basuki.(2004). Pengantar Dokumentasi. Bandung. Rekayasa Sains.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-8616667592192262196?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/8616667592192262196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/05/pengelolaan-terbitan-berseri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/8616667592192262196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/8616667592192262196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/05/pengelolaan-terbitan-berseri.html' title='Pengelolaan Terbitan Berseri'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-3621987675720187595</id><published>2009-04-02T01:16:00.000-07:00</published><updated>2009-04-02T01:21:00.881-07:00</updated><title type='text'>ANCAMAN ELEKTRONIK VANDALISM</title><content type='html'>BAB. I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.PENGANTAR.&lt;br /&gt;Era globalisasi mendorong terciptanya iklim kompetisi antar organisasi diseluruh penjuru dunia. Hal tersebut nyata terlihat pada terbentuknya World Trade Organization (WTO). Konsekuensi dari WTO adalah: negara-negara yang berdaya saing rendah akan menjadi ‘pasar’ bagi negara lainnya yang lebih kuat. Dan WTO memungkinan terjadinya mobilitas barang, jasa dan manusia antar negara. Sehingga tidak mengherankan jika suatu saat para professional (dokter, pengacara, pustakawan dst) atau produk suatu negara tertentu akan mendominasi pasar negara lainnya. Dan hukum yang belaku pada kondisi yang serba permisif tersebut adalah : “ Siapa (organisasi) yang bertindak cepat dengan hasil akurat dan  berbiaya hemat maka dia (organisasi) akan selamat (sukes)”. Hukum tersebut berlaku bagi organisasi laba maupun nirlaba. Adapun kunci bagi setiap organisasi yang ingin eksis adalah adaptif terhadap perubahan.&lt;br /&gt;Pesatnya dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat sesuatu hal yang mustahil menjadi nyata.  Simbiosis antara teknologi dan informasi  serta komunikasi telah menjadikan dunia sebagai sebuah global village. Penemuan internet, yang pada mulanya dikembangkan untuk tujuan militer, telah menandai dimulainya era digital. Internet memungkinkan kita untuk berkorespondensi via email; melakukan pertukaran data secara real time serta melakukan tele conferencing secara online. Bahkan para pecandu internet membentuk komunitas maya lewat friendster maupun blogroll. Disadari ataupun tidak, internet telah berhasil menyingkirkan sekat-sekat geografis, demografis maupun strata sosial. &lt;br /&gt;Pada era globalisasi ini, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dihadapkan 2 (dua) pilihan yakni: eksis dan berkembang menjadi  perpustakaan berkelas dunia atau stagnan. Dan pilihan PNRI untuk menjadi perpustakaan berkelas dunia merupakan pilihan tepat. Kondisi  tersebut diwujudkan dengan penggunaan Online Public Acces Catalog (OPAC  Web dan OPAC LAN ) maupun berbagai jenis koleksi audio visualnya. Kesemuanya itu berbasis Telekomunikasi Informasi Komunikasi (TIK). Beberapa hal yang mendasari perlunya  implementasi TIK pada PNRI, yakni : TIK mempermudah mobilisasi data tanpa terhalang kondisi geografis; meningkatnya kebutuhan akan informasi terbaru; perlunya pelayanan yang efektif efisien dan TIK memungkinkan penerapan sistem pelayanan terbuka (open acces) karena sever mampu bekerja 24 jam dalam 1 minggu.  Adapun tujuan penerapan TIK pada PNRI adalah : memberikan pelayanan kepada pengguna secara efektif dan efisien. Sehingga tercipta kepuasan pengguna dan meningkatkan daya saing organisasi yang kesemuanya itu akan bermuara pada terwujudnya perpustakaan nasional berkelas dunia. &lt;br /&gt;Namun penggunaan TIK tidak serta merta membebaskan PNRI dari berbagai belitan masalah. Perlu perencanaan yang matang sehingga apapun masalah yang timbul akibat implementasi TIK di PNRI maka PNRI telah mampu mengantisipasi masalah tersebut. Ekses negatif penerapan sistem pelayanan terbuka (open acces) yang berbasis TIK khususnya internet adalah munculnya masalah yang berasal dari luar sistem yakni: munculnya kejahatan maya (cyber crime) atau istilah lainnya electronic vandalism. Hal tersebut perlu diwaspadai karena PNRI merupakan organisasi nirlaba yang produknya berupa informasi dan dokumentasi yang menyimpan keragaman dan kekayaan budaya bangsa tersimpan dalam basis data. Disisi lain, PNRI dituntut pro aktif menyebarkan koleksinya tersebut kepada khalayak sebagai bentuk pelayanannya. Sedangkan khalayak merupakan suatu komunitas plural yang mempunyai beragam motif dan kepentingan terhadap koleksi PNRI. Sehingga PNRI perlu selalu waspada untuk menghindari ekses negatif dari implementasi sistem terbuka (open acces) berbasis TIK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.TUJUAN.&lt;br /&gt;1.Mengidentifikasikan jenis ancaman terhadap keamanan data pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.&lt;br /&gt;2.Menguraikan metode penanganan terhadap electronik vandalism.&lt;br /&gt;BAB. II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. DEFINISI ELECTRONIC VANDALISM DAN JENIS ANCAMANNYA.&lt;br /&gt;Electronic vandalism merupakan salah satu bentuk kejahatan maya (Cyber crime). Pengertian electronic vandalism sebagai berikut: “Computer crime is defined as criminal activity directly related to the use of computers, specifically illegal trespass into the computer system or database of another, manipulation or theft of stored or on-line data, or sabotage of equipment and data. Computer viruses are the most prevalent forms of computer crimes”. (http://www.megaessays.com/viewpaper/15513.html). Pengertian tersebut menguraikan berbagai tindakan (berupa : penyusupan data, manipulasi data, pencurian data maupun sabotase pada seperangkat komputer) sebagai sebuah kejahatan maya. Sedangkan metodenya mempergunakan perangkat keras maupun lunak yang bekerja pada sistem computer.&lt;br /&gt;Electronic vandalism muncul sebagai ekses dari menjamurnya komunitas maya dan kemudahan akses berkomunikasi melalui internet. Para hacker secara leluasa melakukan aktivitasnya karena minimnya pengawasan pada dunia maya. Mereka melakukan hacking bermotifkan ekonomi maupun mencari popularitas semata. Modus yang mereka lakukan adalah: masuk ke sebuah database dengan sebelumnya melumpuhkan sistem keamanan database tersebut, lalu menyabotase data yang mereka perlukan dan mereka mempergunakan data yang telah tercuri tersebut sesuai dengan keinginannya. Sehingga para hacker dapat berbelanja online dengan mempergunakan kartu kredit milik orang lain yang telah ia bajak.&lt;br /&gt;Namun hacker merupakan salah satu ancaman dari electronic vandalism karena masih terdapat beberapa ancaman lainnya yakni : beredarnya software illegal yang dapat menyusup dan merusak sistem komputer. &lt;br /&gt;Adapun jenis software tersebut adalah :&lt;br /&gt;1.Ulat (Worm) merupakan program yang mempunyai kemampuan menggandakan diri namun tidak mempunyai kemampuan menempelkan dirinya pada suatu program. Dia hanya memanfaatkan ruang kosong pada memori komputer untuk menggandakan diri. Sehingga memori komputer akan menjadi penuh dan sistem komputer akan terhenti.&lt;br /&gt;2.Bom Waktu merupakan istilah bagi suatu bagian program komputer yang mempunyai kemampuan pengacauan dan perusakan pada suatu sistem komputer berdasarkan kondisi yang telah diprogramkan didalamnya.&lt;br /&gt;3.Pintu Jebakan merupakan program yang mempunyai kemampuan melumpuhkan sistem pengamanan suatu komputer. Sehingga pembuat program dapat keluar masuk sistem tanpa harus melalui sistem pengamanan normal yang ditetapkan pada suatu sistem komputer. &lt;br /&gt;4.Kuda Troya (Trojan Horse) merupakan program yang didalamnya terdapat program lain yang berbahaya. Program Trojan yang berfungsi sebagai kamuflase dari virus tidak merusak. Namun sisipan program didalamnya yang patut diwaspadai. Trojan menyerang FAT, Directory dan boot record.&lt;br /&gt;5.Virus (Komputer) merupakan istilah bagi suatu program kecil yang dapat memperbanyak dirinya sendiri. Virus merusak secara berlahan-lahan boot record, FAT, directory dari suatu media penyimpanan.&lt;br /&gt;Dari kelima ancaman diatas maka Trojan Horse dan Virus merupakan software illegal yang patut diwaspadai. Karena keduanya mempunyai kemampuan menyusup dan merusak pada sistem. Dan keduanya mempunyai penyebaran secara cepat dan senyap (klandestain). Terlebih PNRI yang telah merintis penerapan otomasi perpustakaan sehingga perlu kesiapan ekstra untuk mengantisipasi ancaman tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.MENGENAL VIRUS LEBIH DEKAT.&lt;br /&gt;Istilah virus  pada dunia komputer mengacu pada istilah yang sama pada biologi. Keduanya mempunyai kesamaan pada kemampuan merusak namun berbeda pada objek perusakannya dan metodenya. Karena proses membelah diri virus komputer melibatkan peran manusia sebagai pengguna komputer. Virus komputer menyerang software namun tidak secara langsung merusak hardwarenya. Kerusakan sistem operasi yang disebabkan virus komputer akan berakibat fatal. Karena kerusakan tersebut membuat hilangnya data yang tersimpan pada sistem operasi tersebut. Virus komputer dapat digolongkan berdasarkan karakteristiknya. Penggolongan virus menurut  Tri Amperiyanto. (1992), sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.Berdasarkan sifat perusaknya maka virus digolongkan menjadi 3, yaitu: virus tidak berbahaya karena hanya memperlambat sistem komputer dan mengeluarkan pesan sponsor; virus ganas karena virus ini memperlambat dan merusak sistem komputer namun kerusakannya masih bisa diperbaiki; virus mematikan karena menyerang sistem komputer sehingga menyebabkan kerusakan permanen.&lt;br /&gt;2.Berdasarkan tujuannya maka virus digolongkan menjadi 3, yaitu: Popularitas karena pembuatan virus ini bertujuan mencari ketenaran bagi pembuatnya namun tidak membahayakan sistem; Sabotase karena pembuatannya bertujuan memanipulasi data secara kejam seperti: merusak disk atau menghapus data; Proteksi karena pembuatannya bertujuan melindungi suatu software tertentu dari upaya peng-copy-an secara illegal dari pihak lain. Virus ini berbahaya namun lambat penyebarannya.&lt;br /&gt;3.Berdasarkan sistem operasinya maka virus terbagi menyesuaikan sistem operasi komputer yang saat ini tengah beredar dipasaran. Contohnya adalah: Virus Ms.Dos, virus  Macintos dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Ancaman 10 Besar Internet Global. Vendor keamanan Bit Defender merilis peringkat 10 besar program jahat yang paling umum dan paling menganggu berinternet. Seperti dikutip dari detik Net, Minggu (17/8) berikut 10 besar ancaman komputer yang paling umum pada bulan Juli 2008 beserta presentasenya :&lt;br /&gt;1.Trojan&gt;Clicker.Cm ............................. 6,63%&lt;br /&gt;2.Trojan&gt;Downloader.WMA.Wimad.N..4,49 %&lt;br /&gt;3.Trojan.downloader.Wimad.A.............. 2,91%&lt;br /&gt;4.Trojan&gt;Qhost.AKR ........................... 2,57%&lt;br /&gt;5.Exploit&gt;SWF.Gen ............................ 2,39%&lt;br /&gt;6.Trojan.Swizzor.1 ............................... 2,02%&lt;br /&gt;7.Trojan.HTML.Zlob.W ..................... 1,92 %&lt;br /&gt;8.Trojan.HRML&gt;Zlob&gt;AA1............... 73 %&lt;br /&gt;9.Trojan&gt;Autorun.TE ....................... 1,72 %&lt;br /&gt;10.Trojan.FakeAlert.PP ..................... 1,67 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lainnya 71,97 %. Sembilan dari sepuluh ancaman adalah program jahat trojan dengan kelebihannya, sudah disamarkan dalam aplikasi yang nampaknya aman. Namun sekali terinstall, trojan bisa menimbulkan sejumlah kerusakan termasuk kemungkinan di ambil alihnya komputer korban oleh penjahat cyber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.CELAH MASUKNYA ELECTRONIC VANDALISM.&lt;br /&gt;Berkomunikasi melalui jaringan internet menjadi sebuah kebutuhan penting saat ini. Fasilitas yang dimiliki berupa teleconference, chatting, email menjadikannya sebagai sarana komunikasi dan pertukaran data yang efektif. Sehingga menarik minat lembaga profit, non profit maunpun individu untuk menggunakannya sebagai saluran komunikasi. Internet menjadi kanal informasi terpadat. &lt;br /&gt;Dibalik keunggulannya tersebut, saluran internet rentan gangguan atau dalam istilah komputer disebut hacking. Karena jaringan internet mempunyai titik kelemahan pada TCP 80 (port Hypertext TransferProtocol) dan TCP 443 (port Hypertext TransferProtocol over SSL). Kedua port tersebut merupakan pintu masuk para Hacker kedalam jaringan internet. Walaupun sistem pengamanan fire wall telah diaplikasikan pada sistem pengamanan jaringan internet. Namun para hacker dapat memanipulasi dan memanfaatkan kedua celah tersebut. Karena aplikasi fire wall telah menjadi bumerang pada sistem keamanan jaringan itu sendiri.  Lalu lintas web wajib melewati fire wall sehingga HTTP dan HTTPS malah membiarkan penyerang-penyerang kebal dari segala efek fire wall. (Stuart McClure. Saumil Shah. Shroeraj Shah (2003)). Adapun penjelasan detailnya sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.Titik Lemah HTTP.&lt;br /&gt;Worl Wide Web (www) merupakan susunan protokol-protokol yang bertindak sebagai polisi lalu lintas untuk internet. HTTP menjadi protokol yang paling banyak digunakan di internet. Setiap browser dan server saling berhubungan dan bertukar  informasi pada protokol ini. HTTP merupakan protokol request/respon yang memampukan komputer untuk saling berkomunikasi secara efisien. Spesifikasi HTTP versi 1.1 merupakan perkembangan lebih lanjut dari spesifikasi asli yang ditemukan oleh Tim Bernerr Lee pada Maret 1990. Struktur umum URL HTTP 1.1 yang diluncurkan pada tahun 2001 sebagai berikut: http://host [”:” port][absolute.path[”?”query]]. Parameter– parameter yang melewati query (“:”) merupakan inti dari semua aplikasi web. Dan merupakan salah satu jalan utama kesemua ruang. Script (”:”) merupakan kunci proses-proses script dan sasaran serangan para hacker.&lt;br /&gt;2.URL (Uniform Resources Locator).&lt;br /&gt;URL merupakan sebuah mekanisme untuk mengenali sumber-sumber pada web, yakni: SSL dan server ftp termasuk layer aplikasi yang memuat request ke server web. Struktur URL adalah : protokol://server/path/to/resources ? parameter. Arsitektur protocol http menciptakan pen encode-an URL agar karakter-karakter non alfanumerik bisa dipakai pada string URL. Sehingga karakter-karakter alfanumerik dan simbol-simbol pada keyboard bisa digunakan. Namun pada web server tertentu bisa dimanipulasi dengan metode non standar dan pengkode-an karakter pada string URL. Dan 2 (dua) kelemahan web server yang paling signifikan menghasilkan kesalahan-kesalahan pada proses penguraian sandi (decode) URL. Pada bulan Oktober 2000, IIS microsoft menemukan kelemahan pada jaringan internet yang disebut ”Bug Unicode”. Kelemahan tersebut merupakan ketidak mampuan peng-encode-an unicode legal dari karakter ”/”. Tanda tersebut memperbolehkan pengguna (user) untuk membuat URL meloncat dari salah satu direktori ke direktori lainnya dalam web dan memanggil perintah shell command (cmd.exe) didalam direktori sistem windows. Sehingga web server mengarahkan karakter-karakter unicode sebagai back slash. Selanjutnya melemahkan filltering web server yang normal dan memudahkan pengguna melewati 2 (dua) tingkat dierektori script. Pada kondisi normal, web server tidak akan memperbolehkan URL mengakses lokasi diluar direktori web. Singkatnya, kesalahan dalam penerapan mekanisme penguraian sandi URL akan membuka peluang bagi masuknya Hacker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PROSES PENULARAN VIRUS.&lt;br /&gt; Pada dasarnya, virus tidak akan aktif sampai pengguna komputer menjalankan program yang telah terinfeksi. Proses penularan virus mempunyai karakteristik tersendiri. Seringkali pada saat kita sedang meng-copy atau mengunduh file tertentu di internet, kita tidak menyadari bahwa terdapat beberapa software illegal yang turut menginfiltrasi kedalam sistem operasi computer kita. Maupun ketika kita mengcopy data dari sebuah disket atau flashdish yang telah terinfeksi virus. Sedangkan pola penyebarannya terbagi atas beberapa cara, yaitu : virus yang menumpangi program yang ditulari (overwrite) dan virus yang tidak menumpangi program yang sedang ditulari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. PENANGANAN ELECTRONIC VANDALISM.&lt;br /&gt;Pola penanganan electronic vandalism terdiri atas 2 (dua) langkah, yakni :&lt;br /&gt;1.Pencegahan masuknya Hacker pada jaringan internet. &lt;br /&gt;       Keamanan database merupakan satu dari sekian banyak metodologi yang digunakan untuk menangkal Hacker. Pertama, administrator jaringan selalu meng-up to date patch. Serta menerapkan aturan fire wall yang ketat dengan memblokade port akses  database pada TCP 1434 (MSQL) maupun TCP 1521-1530 (Oracle). Kedua, administrator jaringan senantiasa memeriksa tipe (Integer) dan string setiap data yang masuk. Ketiga, Membuang Stored Procedure karena script–script yang kelihatannya tidak berbahaya. Ternyata bisa dimanipulasi oleh Hacker sebagai pintu masuk ke database. Keempat, Bila memungkinkan gunakan kode SQL yang sudah seringkali dipakai berulang-ulang ke Stored Procedure. Hal ini akan membatasi kode SQL yang telah diatur dalam file ASP dan mengurangi potensi manipulasi oleh Hacker pada proses validasi input. Selanjutnya, Gunakan enkripsi session built in.&lt;br /&gt;2.Pencegahan masuknya virus pada database.&lt;br /&gt;Terdapat beberapa langkah yang dapat digunakan untuk pencegahan masuknya virus pada database, yaitu : Pertama, Jalankan live up date antivirus secara teratur untuk mendapatkan program antivirus edisi terbaru. Kedua, Jalankan antivirus secara auto protect untuk menghindari virus yang menginfeksi. Ketiga, Berhati-hati dalam menerima email dari seseorang yang tidak dikenal. Keempat, Senantiasa men-scanning setiap kali sebelum menggunakan disket, flash disk ataupun CD. Selanjutnya, senantiasa memback-up file secara teratur pada tempat yang aman. &lt;br /&gt;3. Enam langkah membasmi virus Coolface MP3 yang disarikan dari harian Timor Expres, 11 Agustus  dan Kursor; 6 September 2008&lt;br /&gt;Varians virus “Mr. Coolface’ yang terdeteksi sebagai W32/Smallworm BZH menyebar lewat media Flash disk. Small Worm BZH menghapus file berekstensi MP3, INF dan VBS lalu membuat file duplikat dengan icon Windows Media Player. Berikut langkah-langkah mengatasi virus Smallworm &gt;BZH.&lt;br /&gt;a.Putuskan hubungan komputer yang akan dibersihkan dengan jaringan.&lt;br /&gt;b.Matikan ”system restore”selama proses pembersihan.&lt;br /&gt;c.Matikan proses virus yang aktif dimemori. Untuk mematikan proses virus tersebut anda dapat menggunakan tools ”process explorer”. Silahkan download di www.sysinternals.com.&lt;br /&gt;d.Hapus string registery yang dibuat oleh virus. Untuk mempermudah proses penghapusan, silahkan salin script dibawa ini pada program notepad, kemudian simpan dengan nama repair.inf . &lt;br /&gt;e.Jalankan file tersebut dengan cara:&lt;br /&gt;Klik kanan repair.inf&lt;br /&gt;Klik install.&lt;br /&gt;{version}&lt;br /&gt;Signature=$Chichago$”&lt;br /&gt;Provider=VaksincomOyee&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[DefaultsInstall]&lt;br /&gt;AddReg=UnhookRegkey&lt;br /&gt;DelReg=del&lt;br /&gt;[UnhookRegKey]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, Software\CLASSES\batfile\shell\open\command,,,”””%1’’%*”&lt;br /&gt;HKLM, Software\CLASSES\comfile\shell\open\command,,,”””%1’’%*”&lt;br /&gt;HKLM, Software\CLASSES\exefile\shell\open\command,,,”””%1’’%*”&lt;br /&gt;HKLM, Software\CLASSES\piffile\shell\open\command,,,”””%1’’%*”&lt;br /&gt;HKLM, Software\CLASSES\regfile\shell\open\command,,,”regedit.exe”%1”&lt;br /&gt;HKLM, Software\CLASSES\scrfile\shell\open\command,,,”””%1’’%*”&lt;br /&gt;HKLM, SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\winlogon,Shell,0,”Explorer.exe”.&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\ControlSet001\controlSafeboot.AlternateShell,0,’cmd.exe”.&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\ControlSet002\controlSafeboot.AlternateShell,0,’cmd.exe”.&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\CurrentControlSet\control\Safeboot,AlternateShell,0,’cmd.exe”.&lt;br /&gt;[del]&lt;br /&gt;HKLM,SYSTEM\ControlSEt001\Service\Mr_CoolFace&lt;br /&gt;HKLM,SYSTEM\ControlSEt002\Service\Mr_CoolFace&lt;br /&gt;HKLM,SYSTEM\ControlSEt\Service\Mr_CoolFace&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.Hapus file induk dan file virus yang dibuat oleh virus.Untuk mempermudah proses penghapusan, silahkan gunakan”search windows”&lt;br /&gt;g.Untuk pembersihan optimal dan mencegah infeksi ulang, lindungi komputer dan jaringan anda dengan antivirus yang mampu mendeteksi dan membasmi virus ini dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Lima langkah membasmi virus ‘Gadis Desa’, &lt;br /&gt;Virus W32?Wayrip.A menyebar dengan menyamar sebagai file multimedia. Komputer yang terinfeksi virus ini salah satunya ditandai dnegan munculnya pesan Dari sang pembuat virus yang akan ditampilkan secara acak dalam bentuk pesan pop up. Salah satu aksinya yang dilakukan virus ini adalah mengubah nama penunjuk jam pada pojok kanan bawah komputer, dari nama AM dan PM menjadi riysha. . Berikut langkah-langkah mengatasi virus ‘Gadis Desa’ :&lt;br /&gt;a. Matikan “system restore” selama proses pembersihan (Windows ME/XP).&lt;br /&gt;b. Matikan proses virus. Untuk mematikan proses virus anda dapat menggunakan tools KillVB. Silahkan download tools tersebut dialamat ini: http://www.compactbyte.com.&lt;br /&gt;c. Hapus registrasi yang sudah dibuat/diubah oleh virus. Untuk menghapus registri silahkan download tool Fix Registry berikut : &lt;br /&gt; http://www.4shared.com/file/58560496/cad010c5/FixRegistryhtml?PwdVerified=feea1094&lt;br /&gt;d. Hapus file induk virus dengan ciri-ciri : ukuran 148 Kb; Icon multimedia; Ektensi Exe; Type file Application. Untuk mempermudah proses penghapusan, sebaiknya gunakan search dengan terlebih dahulu menampilkan file yang tersembunyi. Setelah file berhasil diitemukan, hapus file dengan cirri-ciri seperti diatas. Hapus juga file berikut pada root drive (c:atau d:\) : Pesene_seng-gawe. Htm (ukuran 22 Kb).&lt;br /&gt;Xx pesene_seng_gawe.htm (ukuran 1 Kb),xx menunjukkan karakter acak.&lt;br /&gt;Autorun.inf&lt;br /&gt;C:\Puisi.txt&lt;br /&gt;C:\ windows\Taskman.com&lt;br /&gt;Untuk pembersihan optimal dan mencegah infeksi ulang, silahkan scan dengan antivirus yang sudah dapat mendeteksi dan membasmi virus ini. &lt;br /&gt;BAB. III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan layanan berbasis Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) akan memberikan pelayanan yang efektif dan efisien kepada penggunanya. Sehingga tercipta kepuasan pengguna dan meningkatkan daya saing organisasi yang kesemuanya itu akan bermuara pada terwujudnya perpustakaan nasional berkelas dunia. Namun konsekuensinya, PNRI harus siap menghadapi bebagai kendala yang mucul akibat penerapan TIK. Salah satu ancaman yang serius terhadap keamanan data PNRI adalah electronic vandalism.  &lt;br /&gt;Kejahatan maya tersebut merupakan bahaya laten bagi keamanan data pada Perpustakaan Nasional. Sistem kerja electronic vandalism adalah penyusupan ke sistem jaringan internet suatu instansi dan melakukan manipulasi terhadap data-data penting untuk kepentingan tertentu. Adapun jenis electronic vandalism meliputi: hacking dan software illegal (worm, trojan horse, virus). Tindakan preventif merupakan metode efektif untuk menanggulangi ancaman elektronik vandalism. Tindakan tersebut berupa :&lt;br /&gt;1.Pencegahan masuknya Hacker pada jaringan internet. &lt;br /&gt;       Keamanan database  merupakan satu dari sekian banyak metodologi yang digunakan untuk menangkal Hacker. Pertama, administrator jaringan selalu meng-up to date patch. Serta menerapkan aturan fire wall yang ketat dengan memblokade port akses  database pada TCP 1434 (MSQL) maupun TCP 1521-1530 (Oracle). Kedua, administrator jaringan senantiasa memeriksa tipe (Integer) dan string setiap data yang masuk. Ketiga, Membuang Stored Procedure karena script–script yang kelihatannya tidak berbahaya. Ternyata bisa dimanipulasi oleh Hacker sebagai pintu masuk ke database. Keempat, Bila memungkinkan gunakan kode SQL yang sudah seringkali dipakai berulang-ulang ke Stored Procedure. Hal ini akan membatasi kode SQL yang telah diatur dalam file ASP dan mengurangi potensi manipulasi oleh Hacker pada proses validasi input. Selanjutnya, Gunakan enkripsi session built in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Pencegahan masuknya virus pada database.&lt;br /&gt;Terdapat bebarapa langkah yang dapat digunakan untuk pencegahan masuknya virus pada database, yaitu : Pertama, Jalankan live up date antivirus secara teratur untuk mendapatkan program antivirus sedidi terbaru. Kedua, Jalankan antivirus secara auto protect untuk menghindari virus yang menginfeksi. Ketiga, Berhati-hati dalam menerima email dari seseorang yang tidak dikenal. Keempat, Senantiasa men-scanning setiap kali sebelum menggunakan disket, flash disk ataupun CD. Selanjutnya, Senantiasa membac-up file secara teratur pada tempat yang aman.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Http://www.Megaessays.Com/Viewpaper/15513.Html. diunduh tanggal 1 Agustus 2008.&lt;br /&gt;Kursor. Tanggal 6 September 2008.&lt;br /&gt;Stuart McClure. Saumil Shah. Shroeraj Shah. (2003). Web Hacking = Serangan dan Pertahanan. Yogyakarta..Andi Offset. &lt;br /&gt;Tri Amperiyanto. (1992). Cara Ampuh menyelamatkan data. Jakarta. Elexmedia Komputiondo. &lt;br /&gt;TIMEX, Tanggal 11 Agustus 2008&lt;br /&gt;TIMEX, Tanggal 19 Agustus 2008&lt;br /&gt;Wahana Komputer. (2004). Mengenal virus dan penanggulangannya. Jogyakarta. Andi Offset.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-3621987675720187595?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/3621987675720187595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/04/ancaman-elektronik-vandalism.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/3621987675720187595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/3621987675720187595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2009/04/ancaman-elektronik-vandalism.html' title='ANCAMAN ELEKTRONIK VANDALISM'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-7358400054154009979</id><published>2008-12-30T20:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-30T20:44:40.764-08:00</updated><title type='text'>SERBA SERBI</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Who is The Real Terorism State ?.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;By&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Rattahpinusa HH*&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Recently, the &lt;st1:city st="on"&gt;Palestine&lt;/st1:City&gt; people’s received gift from &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. They aren’t being happy but they are suffering. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; attack Gazza as new year’s gift. Those bombs aim to HAMAS but the innocent people’s become victim. Metro TV report that 375 people have been killed during the attack. (Metro TV: 30-12-2008). That attact represent &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;’s policy. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; used to violence&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;to protect their interest. They tought violence a good way to solve the problem. But it looks like a terrorism act. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Terorrism means the use or threat of violence that may be limited in its physical destructiveness but is high in physichological impact because its creates fear and shock. Terorrism’s effectiveness is political rather than military. (Source: Encyclopedia &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Americana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; : 2006; 523 p). while terror refers to government actions to crush resistence. But in practice the distinction between terrorism and terror is not always clear. In 1986 the &lt;st1:placename st="on"&gt;United&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;State&lt;/st1:PlaceType&gt; conducted a retaliatory bombing raid against &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Libya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, a nation accused of sponsoring terrorism. Afganistan became a &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;US&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; target, for same the same reason, in 2001. By the end 2008, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt; attack &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Palestine&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; people’s and killing them. It represent a terrorism state.And we are waiting for US reaction. We hope Mr.Obama could realize his promise. ‘Change we do believe’. Dare him facing &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; and create peace in middle east.? Let’s see.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;* Writer live in Kupang, South East Timor.&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-7358400054154009979?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/7358400054154009979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2008/12/serba-serbi_30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/7358400054154009979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/7358400054154009979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2008/12/serba-serbi_30.html' title='SERBA SERBI'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-4448412510650582389</id><published>2008-12-29T21:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T21:13:51.921-08:00</updated><title type='text'>SERBA SERBI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;FUEL SURCHARGE&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; : AKAL-AKALAN MASKAPAI MENANGGUK UNTUNG BERLIPAT ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rattahpinusa HH&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Harga minyak mentah dunia yang fluktuatif mengakibatkan dampak domino pada multisektoral. Dan sektor tranportasi mengalami ’pukulan’ terberat atas kenaikan harga tersebut. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) senantiasa diiringi kenaikan tarif angkutan karena BBM merupakan komponen operasional utamanya. Namun kondisi tersebut seakan tidak berpengaruh kepada pengguna jasa tranportasi udara. Moda ini masih menjadi primadona bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Moda ini mampu menjangkau keseluruh wilayah Indonesia dengan efektif dan efisien waktu. Keunggulan tersebut menyebabkan industri penerbangan tetap diminati oleh para penggunanya. Keunggulan tersebut sekaligus menaikkan posisi tawar maskapai terhadap konsumennya. Apapun kebijakan maskapai penerbangan khususnya terkait dengan kebijakan tarif maka konsumen akan lebih bersikap ’permisif’ dan ’pasrah’.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seiring berjalannya waktu, &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1230613831_0"&gt;harga minyak dunia&lt;/span&gt; yang bergejolak perlahan-lahan menuju titik stabilitas harga. Tercatat harga per barel &lt;i style=""&gt;crude oil&lt;/i&gt; mencapai $ 35,5&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Metro TV: 25/12-08). &lt;/span&gt;Dan pemerintah pun mengeluarkan kebijakan penurunan harga BBM walaupun tidak signifikan. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Diharapkan penurunan harga BBM tersebut berimbas pada penurunan tarif transportasi. Kejanggalan terjadi pada industri &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1230613831_1"&gt;penerbangan Indonesia&lt;/span&gt;. Kalau kita mencermati komponen biaya yang tertera pada tiket pesawat maka terdapat 2 item yakni: &lt;i style=""&gt;basic fare&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;fuel surcharge&lt;/i&gt;. Namun yang mencolok mata adalah item &lt;i style=""&gt;fuel surcharge &lt;/i&gt;yang rata-rata besarannya mencapai kisaran 30 % s/d 40 % dari &lt;i style=""&gt;basic farenya&lt;/i&gt;. Logikanya, &lt;i style=""&gt;basic fare&lt;/i&gt; telah mengakomodir operasional penerbangan seperti : pembelian bahan bakar, RON, renumerasi awak kabin, IWJR plus profit. Kenyatannya konsumen masih dibebani kewajiban fuel surcharge sehingga membayar lebih mahal tanpa diiringi penambahan fasilitas. Pertanyaannya adalah: Apakah masih relevant &lt;i style=""&gt;fuel surcharge&lt;/i&gt; dibebankan kepada konsumen padahal komponen bahan bakar telah masuk komponen &lt;i style=""&gt;basic fare&lt;/i&gt; ?. Kalaupun, maskapai ingin menangguk untung maka semestinya besaran &lt;i style=""&gt;basic fare&lt;/i&gt; dibesarkan tanpa diiringi pembebanan &lt;i style=""&gt;fuel surcharge.&lt;/i&gt; Kenyataan saat ini adalah: seolah-olah &lt;i style=""&gt;fuel surcharge&lt;/i&gt; menjadi kamuflase bagi maskapai untuk menangguk untung. Sehingga imej&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;low air carrier &lt;/i&gt;tetap melekat pada maskapai penerbangan jika hal tersebut menilik dari rendahnya &lt;i style=""&gt;basic fare&lt;/i&gt; yang ditawarkan. Sekian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-4448412510650582389?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/4448412510650582389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2008/12/serba-serbi_29.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/4448412510650582389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/4448412510650582389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2008/12/serba-serbi_29.html' title='SERBA SERBI'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-6125026787962352990</id><published>2008-12-23T19:29:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T19:30:44.773-08:00</updated><title type='text'>SERBA SERBI</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%;"&gt;JEJAK DAKWAH DI TIMOR .......&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;AYO BANGKIT BERDAKWAH&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;A. Pola Berdakwah &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Periode Tahun 1960 s/d 1990-an&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;Usif (Raja) menjadi tokoh sentral pada perkembangan Islam dipedalaman Timor khususnya Timor Tengah Selatan ( TTS ) pada tahun 1960-an. Pada periode itu, gerakan misionaris tengah gencar-gencarnya mengembangkan ajarannya. Pola mereka sangat rapi, terorganisir dan sistematis jika dibandingkan dengan pola gerakan dakwah para perintis agama Islam di Pulau Timor.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka melakukan pendekatan kepada para Usif (Raja) untuk mengembangkan ajaran Kristen. Pengaruh Usif dalam struktur kemasyarakatan penduduk Timor Tengah Selatan masih begitu kuat. Mengingat wilayah tersebut merupakan bekas daerah swapraja (&lt;i&gt;Perdikan&lt;/i&gt;) Amanuban; Mollo dan Amanatun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sisa-sisa feodalisme tampak pada struktur kemasyarakatan penduduk TTS era-60-an yang masih terikat pada struktur genealogis. Secara umum tingkah laku masyarakat TTS digambarkan Piet Alexander Tallo, S.H (1990) sebagai berikut : &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Taat kepada Pemimpin&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kekompakan kelompok masyarakat tradisonal masih kuat, baik terhadap adat kebiasaan maupun keagamaan. Kesetiaan terhadap kelompok serta ketaatan pada pemimpinnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tertutup.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"&gt;Kelompok-kelompok masyarakat di NTT tidak suka mengungkapkan perasaannya kepada siapa saja yang tidak atau belum dipercayainya. Sikap tersebut terbentuk sejak terjadinya benturan budaya antara pola masyarakat pada jaman Usif ( raja-raja) dengan pola kehidupan bangsa Portugis dan Belanda saat itu. Benturan budaya tersebut memicu kecurigaan terhadap tingkah laku bangsa penjajah tersebut sehingga menyebabkan terjadinya perang Kolbano, perang Niki-niki dan Perang Sonbai. Peristiwa-peristiwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersebut meninggalkan trauma sejarah bagi penduduk TTS terhadap orang asing. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;Karakteristik penduduk TTS diatas sedikit banyak menyulitkan penyebaran agama di Pulau Timor. Namun para misionaris berhasil menggunakan momentum kedekatannya dengan para USif untuk menyebarkan agamanya. Tak mengherankan jika para misionaris mampu mengkristenkan penduduk Timor Tengah Selatan dalam waktu singkat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;Dakwah di TTS&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menemukan titik terang pada saat Usif (Raja) Isu memeluk agama Islam tahun 1967. Kisah tersebut terkuak setelah M.Yusuf Manu menulis artikel Sejarah Islam Masuk Pulau Timor. Kronologis masuknya Usif Isu kedalam agama Islam sebagai berikut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Usif Isu merupakan anak dari Gabriel Isu, seorang Fetor (Raja Lokal) dari kefetoran Noebenu. Ketertarikan Usif Isu terhadap agama Islam diawali ketika dia mendengar kedatangan serombongan mubaliq yang dating ke TTS untuk berdakwah. Di dorong oleh rasa penarasaran dan keingintahuan terhadap maksud kedatangan rombongan tersebut maka beliau mengadakan pertemuan dengan mereka. Dalam pertemuan tersebut terjadi dialog. Usif Isu yang pada saat itu telah memeluk agama Kristen menanyakan tentang hakekat penciptaan kehidupan didunia dalam perspektif Islam. Selanjutnya Usif Isu menjelaskan bahwa dia mempercayai empat hakekat penciptaan manusia yakni: &lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tidak punya ayah dan tidak punya Ibu.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Punya ayah dan tidak punya ibu.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Punya Ibu tapi tidak punya ayah.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Punya ayah dan punya ibu berarti sempurna.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan kedua tentang tulisan Arab dalam Al Qur’an yang menurutnya bentuknya seperti cakar ayam. Pertanyaan tersebut didasari keheranan Usif Isu terhadap kesegaraman bentuknya didaerah manapun. Usif Isu membandingkan tulisan dan bahasa Alkitabnya yang berbeda-beda menyesuaikan bahasa daerah. Para mubaliq tersebut bertanya balik kepada Usif Isu tentang konsep Ketuhanan dalam keyakinannya. Usif Isu menjawab bahwa dia mempunyai 3 Tuhan yakni.: Allah Bapa; Anak Allah dan Rohul Kudus. Lanjut para mubaliq : “Kalau seandainya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tuhan menginginkan sesuatu terjadi hari ini maka harus bermusyawarah dulu dan kalau mencapai kata sepakat baru bisa terjadi. Tapi kalau tidak terjadi kata sepakat maka akan terjadi kekacauan karena masing-masing mempertahankan pendapatnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan dialog terakhir Yesus ketika disalibkan diatas kayu salib, dia berdo’a kepada Tuhannya yang dikenal dengan tujuh perkataan Yesus diatas kayu salaib. Pada perkataan keempat yang berbunyi: ‘&lt;i&gt;ELE-ELE LAMA SABAKTAANI&lt;/i&gt;’ yang berarti :’ Ya Allahku-Ya Allah mengapa engkau tinggalkan daku”. Lanjut para mubaliq: “ Kalau betul dia Tuhan mengapa dia harus berdo’a dan meminta lagi kepada Tuhan ?. Berarti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masih ada Tuhan yang lain.” Atas dasar itulah Raja Gabriel Isu dengan kesadaran sendiri secara sukarela memutuskan untuk masuk Islam, dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah masuk Islam maka Usif Isu berganti nama menjadi Gunawan Isu. Peristiwa inilah yang mengawali berkembangnya agam Islam di TTS. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2"&gt;Masuknya kedua Usif isu keagama Islam kemudian diikuti oleh seluruh keluarga dan beberapa Tamuku (desa) serta seluruh masyarakat yang loyal kepdanya. Gelombang perpindahan dari agama Kristen ke agama Islam sangat pesat hingga mencapai 15.000 jiwa. Hal ini sangat sangat menggemparkan pulau Timor serta menambah kebencian lawan-lawan politik Usif Isu yang sebelumnya sudah tidak menyukainya. Hal ini terkait atas posisi Gunawan Isu sebagai putra tertua sekaligus putra mahkota yang akan menggantikan ayahnya. Posisi tersebut menyebabkan dia bertanggungjawab terhadap setiap permasalahan kerajaan (Sonaf) yang dipimpinnya. Menghadapi berbagai halangan dan rintangan tidak menyebabkan Gunawan Isu patah arang dalam memperjuanghkan dan mengembangkan tegaknya agama Islam di TTS. Konsekuensi dari perjuangannya tersebut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka Usif Isu dan adiknya harus rela melepaskan jabatan sebagai Camat dan anggota DPRD Kabupaten TTS akibat intrik politik dari lawan-lawannya yang membenci dia karena masuk Islam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3"&gt;Sebagai seorang mualaf yang minim pengetahuannya tentang agama Islam maka bukan hal mudah bagi Gunawan Isu untuk memberikan pembinaan kepada para mualaf binaannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menyadari hal tersebut maka Gunawan Isu mengajak bekerjasama para Mubaliq dari Jakarta dalam pembinaan m ualaf di TTS. Beliaupun mengirimkan 17 orang kader pelajar TTS untuk belajar agama Islam yang diharapkan dapat membina para mualaf di pulau Timor.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3"&gt;Tidak adanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pembinaan terhadap para mualaf pada saat itu menyebabkan terjadinya penyusutan sampai 50 persen melalui proses De-Islamisasi dan pemurtadan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak senang terhadap agama Islam. Selain itu, kurangnya Dai turut berpengaruh pada proses tersebut. Peristiwa tersebut sedikit teratasi setelah kembalinya beberapa orang kader dari tujuh belas orang yang pernah dikirim oleh Usif Gunawan Isu ke pulau Jawa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selanjutnya mereka mendirikan Pondok Pesantren Miftahudien di Oe’kam sebagai pesantren pertama di Pulau Timor sekaligus wadah bagi pembinaan muallaf dan umat Islam diTimor. &lt;u&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pasca Reformasi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;B. Siapa mereka ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;B.Siapa Mereka &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Penyebaran agama Islam di Kupang pada abad ke-XIX dibawa oleh beberapa tokoh berikut.&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pangeran Ali Basyah Mahmud Gondokusumo dan Raden      Sutomo&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kedua tokoh ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan pengikut Pangeran Diponegoro. Mereka di buang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke Kupang oleh Belanda karena turut berjuang melawan kekuasaan Kolonialisme di Jawa Tengah pada tahun 1825-1830. Selanjutnya mereka bermukim di Airmata dan turut mengembangan ajaran Islam di daerah tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;KH.Muhammad Arsad bin Alwan ; KH.Abdul Salam dan      Haji Mansyur.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ketiga tokoh ini berasal dari Cilegon yang terlibat perjuangan melawan Belanda di Banten. Ketika Banten berhasil ditaklukan maka ketiganya ditangkap dan dibuang ke Kupang. Selama 25 tahun bermukim di daerah dekat Airmata, mereka aktif menyebarkan Islam di wilayah sekitar Airmata. Setelah masa pembuangannya berakhir maka KH.Muhammad Arsad bin Alwan dan Haji Mansyur meneruskan perjalanan ke Makkah. Sedangkan KH.Abdul Salam menetap di Demak.&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Syarif abdurachman bin Abubakar Al Qadri&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tokoh ini merupakan utusan residen Gronovius ke Sumba pada tahun 1841 untuk merintis perdagangan. Namun jiwa dakwahnya menjadikan beliau sebagai perintis Islam di Waingapu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selama di Sumba, beliau mampu menjalin persahabatan dengan para Raja Sumba. Tokoh ini dianggap berbahaya oleh Belanda setelah beliau ketahuan mensuplai senjata kepada para raja Sumba. Kemudian beliau diasingkan ke Kupang dan bermukim di Airmata. Selama bermukim disana, beliau aktif mengembangkan Islam hingga akhir hayatnya. Beliau wafat tahun 1897 dan dimakamkan di pemakaman Islam Batudera Kupang.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1105203855767992264-6125026787962352990?l=pinusa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pinusa.blogspot.com/feeds/6125026787962352990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2008/12/serba-serbi_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/6125026787962352990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1105203855767992264/posts/default/6125026787962352990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pinusa.blogspot.com/2008/12/serba-serbi_23.html' title='SERBA SERBI'/><author><name>Rattahpinusa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378317047575395407</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-u-pyP-4lMJE/TwulOTj-VgI/AAAAAAAAAIg/Q9dWf92DAEE/s220/rattah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1105203855767992264.post-6015102097823151658</id><published>2008-12-23T19:26:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T19:29:09.976-08:00</updated><title type='text'>PUSTAKA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;APLIKASI PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN BERBASIS MS.ACCES&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;DI BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;BALI DAN NT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Oleh :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Rattahpinusa HH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;BAB I. PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;1. Latar Belakang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lembaga penelitian mempunyai peran strategis dalam memprediksi fenomena yang akan terjadi dan merumuskan tindakan antisipasinya kepada pemegang kebijakan. Masalah rehabilitasi lahan merupakan permasalahan bagi propinsi NTT disebabkan masalah tersebut terkait erat dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aspek hidrologis, struktur tanah, geologis dan geografis. Masalah tersebut dapat diatasi dengan melakukan kegiatan penelitian untuk mencari informasi tentang karakteristik tanah dan metode pengolahan tanah yang tepat. Kegiatan penelitian tersebut, hendaknya dilakukan oleh lembaga penelitian yang kompeten dan kredibel sehingga hasil penelitian memuat informasi yang akurat dan objektif. Lembaga penelitian yang relevan dengan penelitian masalah kehutanan adalah Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Badan Penelitian tersebut terbagi menjadi beberapa UPT dan salah satunya adalah Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan NT yang selanjutnya dikenal dengan BP2KBNT.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tugas pokoknya adalah melaksanakan penelitian dan pengembangan ekosistem semiarid. Usaha merealisasikan tugas pokok tersebut dengan merumuskan beberapa kebijakan, diantaranya: memposisikan dan memfungsikan tenaga fungsional (peneliti dan teknisi) sebagai tulang pungung insitusi yang menentukan kualitas, eksistensi dan kredibilitas BP2KBNT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Peneliti dituntut selalu memperbarui kemampuannya sebagai konsekuensi dari kebijakan tersebut. Peneliti dapat mengikuti pelatihan maupun memperkaya pengetahuan dengan menelusur informasi pada sumber-sumber informasi untuk meningkatkan kemampuannya. Sepatutnya lembaga tempat peneliti bernaung menyediakan sumberdaya informasi yang meliputi buku teks, jurnal, majalah dan fasilitas penunjangnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, kebijakan tersebut belum dapat berjalan semestinya karena terbentur permasalahan yang dihadapi BP2KBNT. Salah satunya adalah perpustakaan dan sumberdaya penelitian lainnya belum berfungsi optimal karena kurang tersedianya dana. Sedangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perpustakaan mempunyai peran penting dalam menunjang kegiatan penelitian. Sebab peran perpustakaan, menurut Lhasa terletak pada aktivitas pengumpulan bahan informasi yang terdiri dari bahan buku/ books material dan bahan non buku/ non books material disusun dengan sistem tertentu dan diperuntukkan kepada pengguna jasa perpustakaan untuk diambil manfaatnya atau pengertiannya (dipelajari) tidak untuk dimiliki sebagian atau seluruhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berdasarkan jenisnya, perpustakaan BP2KBNT diklasifikasikan kedalam kategori perpustakaan khusus. Hal tersebut berdasar pada karakteristik koleksi yang sebagian besar memuat informasi tentang kehutanan dan subjek yang relevan, hasil penelitian kehutanan serta kebutuhan pengguna yang lebih terspesifikasi pada subjek-subjek tertentu. Sehingga pengelolaanya memerlukan metode tertentu pula. Belum adanya basis data koleksi menghambat pelayanan perpustakaan kepada pengguna. Sistem pelayanan perpustakaan BP2KBNT yang terbuka memberi akses kepada pengguna untuk menelusur informasi secara mandiri. Namun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketiadaan alat bantu penelusuran seperti katalog baik secara manual atau online telah menyulitkan pengguna menelusur informasi. Selain itu kegiatan sirkulasi secara manual menyulitkan pengelola perpustakaan untuk merekap data pengguna yang menunggak kewajibannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengingat keterbatasan tenaga. Beban kerja yang tidak proporsional turut menyebabkan pelayanan perpustakaan yang tidak optimal. Sebab pengelola perpustakaan merangkap tugas diluar tugas kepustakawaan sebagai dampak tuntutan organisasi. Hal tersebut menjadi permasalahan dalam pengelolaan perpustakaan BP2KBNT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Otomatisasi pengelolaan perpustakaan menjadi alternatif pemecahan bagi permasalahan yang dihadapi perpustakaan BP2KBNT. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tujuan dari otomasi perpustakaan antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Meningkatkan daya dukung perpustakaan terhadap kebutuhan informasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Meningkatkan dan mengembangkan kinerja perpustakaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Membentuk pangkalan data pada perpustakaan dan pada akhirnya dapat sebagai pendukung penyusunan data profil bagi perpustakaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja perpustakaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Meningkatkan integritas terhadap peran perpustakaan dalam membantu kegiatan instansi terkait.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Adanya kerjasama antar perpustakaan. &lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;(Anjani, Arum: 2001).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kegiatan otomasi perpustakaan memerlukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;alat bantu yakni sebuah aplikasi yang dibuat untuk menunjang kegiatan tersebut. Dalam pembuatan aplikasi perlu mempertimbangkan aspek pendanaan, ketersediaan sumberdaya manusia serta reliabilitas software yang akan digunakan sebagai aplikasi. Berpedoman pada ketiga aspek tersebut maka dipilihlah Ms. Access sebagai software pemrograman untuk aplikasi otomasi pengelolaan perpustakaan BP2KBNT. Dalam makalah ini, pembaca akan dituntun untuk memahami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;proses pembuatan aplikasi pengelolaan perpustakaan berbasis Ms.Acces.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;BAB II. METODE&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kegiatan pembuatan aplikasi pengelolaan perpustakaan dikategorikan sebagai penelitian terapan. Metode perancangan bangun program melalui tahapan sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Penelitian dimulai dengan proses pengumpulan litelatur pendukung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam hal ini berhubungan dengan basis data dan komponen penunjang untuk merancang dan membangun aplikasi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Perancangan dan pembuatan basis data.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pembuatan aplikasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ujicoba dan perbaikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Analisis hasil penelitian dan penyampaian laporan.&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;( Wijaya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;I Gde Perek Suta: 2005)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kegiatan pembuatan aplikasi pengelolaan perpustakaaan dilaksanakan selama 3 bulan selama kurun waktu mei-juli 2003 di perpustakaan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan NT. Hasil kegiatan tersebut dilaporkan secara deskriptif dalam bentuk makalah. Makalah ini menjelaskan proses pembuatan aplikasi mulai dari tahap perancangan sampai pada tahap pengujian. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pada proses pembuatan aplikasi ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menggunakan metode penelitian terapan sebagai pedoman kerja. Hamdani Nawawi menuturkan bahwa penelitian terapan bermaksud mencari cara-cara penyelesain masalah dalam kehidupan secara proaktif dengan menggunakan berbagai teori dari perkembangan teknologi sesuai masalah yang dihadapi. Secara teori, perancangan bangun program setidaknya melewati pentahapan proses pengumpulan litelatur pendukung dalam hal ini berhubungan dengan basis data beserta komponen penunjang, proses perancangan dan pembuatan basis data, proses pembuatan aplikasi dan uji coba serta perbaikan. Tahapan akhir dari rangkaian kerja rancang bagun program adalah analisis hasil penelitian dan penyampaian laporan. (Wijaya, I Gde Pasek Suta: 2005).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kegiatan pembuatan aplikasi ini membutuhkan perangkat keras dan perangkat lunak. Spesifikasi perangkat keras yang diperlukan meliputi: Komputer minimal mempunyai prosesor Pentium II dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memori&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;124 RAM dan hardisk 20 Gigabyte. Kami memakai sistem operasi Microsoft office XP dalam proses pembuatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aplikasi ini dengan pertimbangan fitur Ms. Acces yang terintegrasi dalam Ms.Office Xp lebih interaktif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FR"&gt;A. Profile Ms.Aces&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FR"&gt;Ms.Acces merupakan software pemrograman database sederhana namun mempunyai kegunaan yang memadai dalam menyimpan dan mengolah data. Software ini terus mengalami perkembangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan perbaikan sejak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;direleasenya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sistem operasi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ms.Office versi 95 sampai Ms.Office XP.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;B. Tahap Perancangan Tabel dan Relasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FR"&gt;Database merupakan kumpulan item-item yang saling tergantung satu dengan lainnya dalam struktur tertentu yang tersimpan dalam hardisk dan dengan software tertentu untuk memanipulasi data. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Struktur database berturut turut terdiri dari karakter field, record. Sedangkan media untuk menampung struktur database tersebut memerlukan tabel. Pada perancangan aplikasi ini, kami merancang dan membuat sejumlah tabel dengan fungsi menyimpan data yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan perpustakaan. Pengelolaan perpustakaan mempunyai 3 aktivitas pokok yakni: melakukan pengolahan dan penelusuran informasi, melakukan pelayanan sirkulasi dan pelaporan. Berpedoman pada ketiga aspek tersebut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersebut maka kami membuat tabel pokok dan tabel penunjang dengan total jumlah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;limapuluh tabel. Rincian dari tabel yang dibuat adalah sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;B Perancangan Tabel penanganan pustaka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;B.1 Tabel Pokok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tabel Bentuk Buku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 490.45pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="654"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;IDB &lt;span style="color: red;"&gt;(pk)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 48.65pt;" valign="top" width="65"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Reference&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 35.4pt;" valign="top" width="47"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Nomor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Klas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;C3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;C1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Judul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.75pt;" valign="top" width="57"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Rjudul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.1pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;DL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.65pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Edi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;si&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 34.55pt;" valign="top" width="46"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;ID&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;PT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 48.65pt;" valign="top" width="65"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 35.4pt;" valign="top" width="47"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Memo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.75pt;" valign="top" width="57"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.1pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.65pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 34.55pt;" valign="top" width="46"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Halaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 48.65pt;" valign="top" width="65"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Ilustrasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 35.4pt;" valign="top" width="47"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Book Number&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Stok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Pinjam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.75pt;" valign="top" width="57"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Tersedia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.1pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Periode Pinjam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.65pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Bahasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 34.55pt;" valign="top" width="46"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Lokasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 48.65pt;" valign="top" width="65"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 35.4pt;" valign="top" width="47"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.75pt;" valign="top" width="57"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.1pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.65pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 34.55pt;" valign="top" width="46"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tabel Bentuk Terbitan Berseri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 490.45pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="654"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.7pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.65pt;" valign="top" width="57"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDB &lt;span style="color: red;"&gt;(pk)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 44.9pt;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDPt&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.3pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Nomor klas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.4pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;C3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40.2pt;" valign="top" width="54"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Judul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.45pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Rjudul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Frek/Thn&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.65pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Bahasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 33.85pt;" valign="top" width="45"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;ISSN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt; Terbit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.7pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.65pt;" valign="top" width="57"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 44.9pt;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.3pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.4pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40.2pt;" valign="top" width="54"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.45pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.65pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 33.85pt;" valign="top" width="45"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.7pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.65pt;" valign="top" width="57"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Lokasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none ; padding: 0cm;" colspan="10" width="539"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.7pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.65pt;" valign="top" width="57"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none ; padding: 0cm;" colspan="10" width="539"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tabel Bentuk Artikel&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 209.1pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="279"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.7pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDVol &lt;span style="color: red;"&gt;(pk)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.85pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 34.25pt;" valign="top" width="46"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Ket&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Halaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.7pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.85pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 34.25pt;" valign="top" width="46"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;B.2 Tabel Penunjang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tabel Majalah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 159.55pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="213"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDB &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.1pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDSb&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 33.15pt;" valign="top" width="44"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Ket&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.1pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 33.15pt;" valign="top" width="44"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tabel Artikel&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 292.3pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="390"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDA &lt;span style="color: red;"&gt;(pk)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.1pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Nomor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Klas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;C3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Judul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.75pt;" valign="top" width="57"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Rjudul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.8pt;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Sinopsis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.1pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.75pt;" valign="top" width="57"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.8pt;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Memeo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tabel Serial Artikel&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 159.55pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="213"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDSb&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.1pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 33.15pt;" valign="top" width="44"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Ket&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.1pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 33.15pt;" valign="top" width="44"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tabel Penerbit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 205.6pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="274"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.35pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDPN &lt;span style="color: red;"&gt;(pk)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Penerbit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.75pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Alamat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.5pt;" valign="top" width="51"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Ket&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.35pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.75pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.5pt;" valign="top" width="51"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tabel Pengarang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 292.3pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="390"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDP &lt;span style="color: red;"&gt;(pk)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.1pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Nm Depan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Nm Belakang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Gelar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.75pt;" valign="top" width="57"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Alamat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.8pt;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Ket&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.1pt;" valign="top" width="52"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.75pt;" valign="top" width="57"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.8pt;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tabel Jenis Litelatur Buku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 167pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="223"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.6pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDL &lt;span style="color: red;"&gt;(pk)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Jenis Litelatur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.75pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Ref&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.6pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.75pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tabel Jenis Litelatur Majalah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 126.85pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="169"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.2pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDL &lt;span style="color: red;"&gt;(pk)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Jenis Litelatur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.2pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tabel Subjek&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 167pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="223"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.6pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDSb &lt;span style="color: red;"&gt;(pk)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Subyek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.75pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Ket&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.6pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 40pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.75pt;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;B.3 Inventaris&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tabel Inventaris Buku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 439.15pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="586"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Field Name&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 54.15pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDINV &lt;span style="color: red;"&gt;(pk)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;IDB&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 46.8pt;" valign="top" width="62"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Kode buku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 36.35pt;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;RJudul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 50.95pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Pengarang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Penerbit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 34.55pt;" valign="top" width="46"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;No.Inv&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 48.65pt;" valign="top" width="65"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Tanggal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 43.65pt;" valign="top" width="58"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Datatype&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 54.15pt;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.35pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Numerik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 46.8pt;" valign="top" width="62"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 36.35pt;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 50.95pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Memo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: n
